Goyang Lidah ala “Pendekar Gurame”

by -3 views

gurameKEBERADAAN tempat berlatih taekwondo UTI Pro, Jeet Kune Do, karate kyokushinkaikan, kursus vokal, senam aerobik, futsal, panggung musik, dan jaringan internet membuktikan Akuarium Resto Pendekar Gurame di Jalan Wibawa Mukti 2 Nomor 81, Jatiasih, Kota Bekasi, jelas bukan sekadar rumah makan.

Namun, seperti gelar yang disandang, yakni ”pendekar gurame”, jagoan restoran bukanlah pelbagai fasilitas itu, melainkan menu masakan, terutama berbahan ikan gurame.

Kamis (27/3/2014) siang, dengan menumpang taksi, kami menuju Akuarium milik Arief Ontowiryo, mantan Kepala Kepolisian Resor Bogor dan Wakil Direktur Samapta Kepolisian Daerah Metropolitan Jakarta Raya. Perjalanan dari Semanggi ke lokasi menghabiskan waktu 30 menit lewat Tol Dalam Kota, Tol Jakarta-Cikampek, dan Tol Lingkar Luar Jakarta (JORR). Akuarium terletak 600 meter dari Gerbang Tol Jatiasih yang terhubung dengan Jalan Wibawa Mukti.

Kami memilih meja di samping kolam yang banyak ikan koi warna-warni. Siang yang terik itu tidak terlalu gerah sebab restoran luas dengan sirkulasi udara terbuka. Deretan akuarium, arena permainan, panggung musik, penataan meja-kursi, dan desain interior restoran amat pas, nyaman, dan resik.

Berdasarkan rekomendasi pramusaji, dipesanlah seporsi gurame goreng jupe (juara pedas) sedang seharga Rp 57.900, seporsi cumi bakar Rp 44.500, seporsi kangkung balacan Rp 17.200, seporsi sirloin steak Rp 43.900, dua porsi nasi Rp 7.800, tiga botol air minum kemasan Rp 15.000, segelas akuotick Rp 15.000, dan dua gelas teh manis Rp 8.000. Bagi kami bertiga, menu itu mewakili masakan Nusantara, masakan Asia, dan masakan Barat.

Dahsyat

Oke, inilah gurame goreng jupe, ikan yang disayat, dilumuri tepung bumbu, digoreng, dan ditaburi irisan cabai rawit. Sudah kondang, daging ikan gurame empuk dan gurih. Apalagi, daging bertepung bumbu dan potongan cabai rawit demi sensasi pedas. Saat menyantapnya, seakan lidah tiada berhenti bergoyang, tarikan napas dan keringat mulai menetes karena pedas membawa kami ke kesimpulan menu ini sungguh juara rasanya.

Bagi yang tidak suka pedas, cicipilah menu andalan yang lain, yakni gurame bakar. Selain dua menu yang disebut amat digemari pengunjung dan pelanggan itu, Akuarium menyediakan masakan gurame dengan sajian sop, tomyam, goreng, goreng saus, goreng asam manis, goreng asam pedas, dan goreng saus padang. ”Menu ikan gurame memang andalan, itulah alasan kami menamakan diri pendekar gurame,” kata Arief dengan tersenyum saat menemani kami bersantap siang.

Cumi bakarnya pun gurih, kenyal, dan bumbu begitu terasa. Steik pun diolah dengan baik sehingga daging tidak alot, saus barbecue gurihnya pas di lidah. Kangkungnya renyah, gurih, sambal kecap akuo pun oke dengan rasa manis, gurih, asin yang seakan berpadu. Kami pun mengiyakan saran Arief agar mencoba kudapan gurame krispi.

Dua porsi kudapan senilai Rp 30.000 merupakan irisan daging ikan gurame dilumuri tepung roti, digoreng, dan disajikan dengan saus mayonnaise, sambal, dan tomat turut tandas. Kudapan ini renyah, daging ikan gurih, ada rasa manis dari tepung roti, dan saus yang agak pedas atau agak asam, benar-benar pas di lidah.

Meski sudah terasa kenyang, kami masih menerima tantangan Arief untuk menikmati seporsi sup buntut kuah Rp 48.500, seporsi kepiting super saus padang Rp 99.700, dan dua porsi es krim stroberi. Sup itu berkuah panas, gurih, daging buntut tidak alot, tulang muda empuk, dan potongan kentang dan wortel yang lembut. Menu kepiting, tidak usah disangkal, bagi penikmatnya, rasanya juara. Kemudian, es krim stroberi dengan potongan biskuit cokelat dan wafer, taburan butir cokelat, hmm, terasa sempurna.

Dari buku menu, Akuarium menyediakan hampir 100 jenis makanan dan hampir 50 jenis minuman. Ada D’ Pendekar Gurame, D’ Sundanese Food (timbel, ayam, daging gepuk, karedok, pesmol, pepes, tahu-tempe, lalapan, sambal), D’ Sea Food (udang, cumi, dan kepiting), D’ Oriental Food (nasi, mi, kwetiau goreng, balacan kangkung dan kacang panjang, capcay, tahu jepang, sapo tahu, sapi lada hitam).

Selain itu, D’ Iga, Buntut, & Steak (sop dan steak), D’ Spaghetti Bolognaise dan Chili Sauce, D’ Iseng atau kudapan (gurame krispi, siomay, calamary, pancake, pisang, dan kentang goreng). Untuk minuman ada D’ Drink, D’ Juice, D’ Coffe, D’ Milkshake & Ice Cream, dan D’ Cold Drink.

Arief mengatakan, pelbagai menu yang disajikan merupakan yang terbaik dan laku di kalangan pengunjung.

”Seperti polisi, menu-menu diteliti, yang enggak diminati tidak akan dibuat lagi,” kata Arief yang menjadi orangtua tunggal bagi anak lelaki semata wayang.

Restoran yang menjadi tempat 40 karyawan tinggal sekaligus Arief mengelola bisnis ini dulu merupakan kolam-kolam budidaya ikan. Orangtuanya membeli lahan luas itu pada 1972, yang direncanakan untuk rumah pensiun. Namun, lahan itu diwariskan kepada Arief.

Untuk memulai usaha rumah makan tersebut, Arief mempersiapkan sejak lama. Mengumpulkan sedikit-sedikit dari yang kecil. Meja dan kursi restoran dibeli dari Pasuruan saat dirinya bertugas di Polda Jatim. Saat ditugaskan ke Polda Jabar lalu Polda Metro Jaya, Arief menjadi punya waktu untuk mengembangkan usaha resto. Apalagi, sejak sakit yang sulit diobati dan mengganggu pekerjaan sebagai perwira menengah, Arief memilih mengundurkan diri dari Polri pada 2010. Sejak itu, Arief kian berkonsentrasi mengembangkan bisnis. Jerih payah terbayar, usaha Arief sekarang semakin berkembang.
(sumber:kompas.com)