Orang – Orang Australia yang Cinta Setengah Mati kepada Indonesia

by -3 views

turisMakin banyak orang Australia yang mencintai Indonesia. Sebagian di antara mereka memosisikan Indonesia sebagai tanah air kedua. Berikut laporan wartawan Jawa Pos DWI SHINTIA IRIANTI yang mengikuti media visit program BRIDGE (Building Relation Through Intercultural Dialogue and Growing Engagement) di Australia.

RAMBUT pirangnya yang panjang diikat dengan karet rambut warna senada. Senyumnya mengembang dengan ramah saat disapa. “Sangat senang bertemu Anda,” kata Charlotte Bowen sambil menjabat tangan Jawa Pos saat dijumpai di Tranby College di kawasan Baldivis, sekitar 45 menit perjalanan dari pusat Kota Perth, Australia Barat, awal pekan lalu

Bowen adalah alumnus Tranby College yang kini sedang menempuh pendidikan S-1 jurusan Asian studies di Universitas Murdock Perth.

Dalam pertemuan itu, Bowen tampak berusaha keras untuk membalas semua pertanyaan yang diajukan dengan bahasa Indonesia. Tapi, dia kemudian menyerah setelah beberapa kali gagal menyelesaikan kalimat.

Mengenakan little black dress yang dilapisi coat batik, Bowen adalah warga Perth yang mengklaim mencintai Indonesia. Lebih spesifik, Surabaya. “Kalau punya kesempatan, saya akan tinggal di sana suatu hari nanti,” katanya berapi-api. Penggemar nasi pecel dengan lauk ayam goreng itu merupakan satu di antara seratus lebih siswa Tranby College yang memulai perkenalan dengan Indonesia lewat program BRIDGE antara Australia dan Indonesia. Memulai program belajar pada Desember 2012, Bowen langsung kembali ke Surabaya pada Maret 2013. Kecintaannya terhadap Surabaya kali pertama muncul gara-gara donat.

“Di dekat hotel tempat saya tinggal kali pertama di Surabaya, ada mal yang menjual donat yang amat sangat lezat. Bila membeli beberapa buah, saya bisa dapat gratis donat lainnya,” ceritanya sambil menyebut salah satu gerai donat berlabel asing, namun dimiliki pengusaha Indonesia tersebut.

Dengan donat itu dan hal-hal seru lain yang dialami selama tiga bulan di Surabaya, Bowen lalu menetapkan diri bahwa Surabaya adalah rumah keduanya.

Untuk itu pula, akhir tahun lalu dia memutuskan kembali ke Surabaya. “Saya menganggap sudah menghabiskan separo persediaan donat di Surabaya. Demikian pula dengan nasi pecel. Saya juga mendapatkan banyak kesenangan dari Surabaya. Karena itu, saya harus membalas kebaikan mereka itu,” katanya dengan gaya bercanda.

Karena itu, pada kedatangannya yang ketiga pada akhir 2013, Bowen memutuskan untuk terlibat dalam salah satu grup sosial yang ditemukannya via jejaring sosial. “Kami mengumpulkan donasi, kemudian donasi itu dibelikan berbagai keperluan untuk anak-anak jalanan. Dari situ, kecintaan saya kepada Surabaya semakin besar. Saya ingin melakukan sesuatu yang lebih,” ulasnya.

Begitu kembali ke Australia, Bowen semakin aktif terlibat dalam berbagai event yang berhubungan dengan budaya dan bahasa Indonesia. Termasuk membantu program BRIDGE yang berlangsung pada Maret ini.

Program BRIDGE yang didukung Kedutaan Besar Australia di Jakarta memang memungkinkan siswa-siswi Tranby Collage mencicipi pendidikan di SMA Negeri 5 Surabaya. Demikian pula sebaliknya, siswa-siswi SMA Negeri 5 Surabaya berkesempatan untuk bersekolah di sana.

“Ke depan saya bergabung dengan AIYA, Australia Indonesia Youth Association, Perth. Dua teman dekat saya, Fiona Bettesworth dan Michael Peck, lebih dulu bergabung,” katanya.

Kecintaan mereka terhadap Indonesia tidak bisa dilepaskan dari campur tangan Vicky Richardson. Richardson yang lebih akrab dipanggil Ibu Vicky adalah guru bahasa Indonesia di Tranby Collage. Sama dengan Bowen, Vicky memulai kecintaannya pada Indonesia sejak pertama menginjakkan kaki di Bali pada 1982 alias 32 tahun silam. “Saya jatuh cinta kepada negara Anda,” katanya dalam bahasa Indonesia yang fasih.

Perempuan yang sudah dipenuhi keriput di wajah namun tetap semangat itu pun memutuskan akan menghabiskan masa pensiun di Surabaya. ”Tidak butuh waktu lama naik pesawat dari Perth ke Bali. Dalam 45 menit, bahkan kurang, anak dan cucu saya sudah bisa mengunjungi saya di Surabaya,” katanya berbinar.

Sampai sekarang Vicky sudah 60 kali melakukan perjalanan ke Indonesia, 12 kali di antaranya ke Surabaya. “Surabaya adalah rumah kedua saya. Saya punya sahabat di sana. Di sana pula nanti saya akan tinggal,” ujarnya, kemudian menyebut nama Ibu Anis sebagai sahabatnya. Anis adalah mantan wakil kepala SMA Negeri 5 Surabaya.

Kedekatan Vicky dengan Anis juga terjalin lewat program BRIDGE. Lewat program itu, dia mengenal dengan baik Abdul Latif, guru bahasa Indonesia dari SMA Negeri 5. Vicky dan Abdul Latif adalah dua pionir yang membuat program BRIDGE berlangsung sukses sejak 2010.

“Saya melakukan persiapan untuk menjalankan BRIDGE sejak 2008. Pada 2009 saya ketemu Latif. Lewat kerja keras, angkatan pertama BRIDGE SMAN 5 Surabaya-Tranby College berlangsung. Saat itu SMAN 5 yang pertama mengirim siswa ke Australia,” kenangnya. Setahun kemudian, pada 2010, giliran siswa Tranby yang belajar di Surabaya.

Menurut Vicky, tidak sedikit siswa Tranby yang tertarik mengikuti program BRIDGE untuk belajar di Surabaya. Namun, tidak semua diterima. Persyaratan utama yang harus dipenuhi adalah siswa mesti mengikuti kelas bahasa Indonesia setelah kelas VIII. Memang bahasa Indonesia sudah masuk kurikulum di sekolah-sekolah Australia. Biasanya bahasa Indonesia diajarkan mulai kelas I sampai kelas VIII. Setelah itu, siswa boleh memilih mengambil bahasa Indonesia lagi atau tidak. Nah, untuk bisa mengikuti BRIDGE, siswa harus tetap mengambil mata pelajaran bahasa Indonesia di kelas IX hingga XII.

Mengapa Vicky begitu mencintai Indonesia? “Kita adalah tetangga yang paling dekat. Kita harus saling mengenal satu sama lain. Kalau tak kenal, maka tak sayang,” ujarnya bersemangat.

Pernyataan senada diucapkan Karen Baily saat menjadi keynote speaker dalam networking event yang diadakan di Konsulat Jenderal Indonesia di Perth. Baily adalah board member di Balai Bahasa Indonesia Perth (BBIP). Jawa Pos yang hadir bersama rombongan international media visit yang dihelat Kedutaan Besar Australia di Jakarta melihat semangat Baily yang menggebu-gebu dalam mengenalkan bahasa Indonesia di Australia.

“Kita adalah negara bertetangga yang paling dekat. Untuk memahami tetangga, kita harus mengenal mereka. Perkenalan itu bisa dimulai dari bahasa,” kata perempuan yang menjabat kepala bagian bahasa di Sekolah Pendidikan Jarak Jauh di Perth itu.

“Perth lebih dekat ke Bali daripada ke Sydney. Jadi, Indonesia adalah tetangga sebenarnya,” lanjutnya. Saking cintanya kepada Indonesia, Baily mengaku pernah dianggap gila.

Saat pemerintah Australia memutuskan untuk mengurangi jam pelajaran bahasa Indonesia yang semula hingga kelas XII sekarang cukup sampai kelas VIII, Baily sangat menyesalkan. Akibatnya, banyak sekolah yang tidak lagi menyelenggarakan kelas bahasa Indonesia untuk siswa kelas VIII ke atas.

“Para kepala sekolah menganggap bahasa Indonesia tidak lagi penting diajarkan. Mereka berhenti mengajarkan bahasa Indonesia pada kelas VIII,” tuturnya.

Untuk meraih simpati para kepala sekolah lagi, Baily bersama BBIP kemudian membawa beberapa kepala sekolah untuk mengunjungi Indonesia. Di Indonesia mereka mengunjungi sekolah-sekolah, lembaga pendidikan, seni, dan kebudayaan yang menunjukkan kekayaan Indonesia.

“Seusai program itu, pikiran para kepala sekolah terbuka. Beberapa di antara mereka akhirnya kembali mengadakan kelas bahasa Indonesia untuk siswa di atas kelas VIII,” katanya.

Baily menambahkan, dengan mengenal satu sama lain, prasangka buruk yang terjadi antara Indonesia-Australia bisa terkurangi. “Kita harus menghilangkan kesan negatif tentang Indonesia. Indonesia pun demikan, harus menghapuskan kesan yang sama tentang kami,” ujarnya.

(JPNN)