Kisah 13 Pembaca Alquran Rutan Kelas I Surabaya, Anggap Bukan Penjara tapi Pondok Pesantren

by -6 views

pengajianSENIN siang itu (14/7) Masjid Al Husna tampak ramai. Puluhan jamaah memadati berbagai sudut tempat ibadah tersebut.

Sekilas, tidak ada yang aneh dengan masjid itu. Saat Ramadan, masjid-masjid memang cenderung lebih hidup jika dibandingkan dengan bulan-bulan lain. Yang membedakan, Masjid Al Husna berdiri di dalam Rutan Kelas I Surabaya di Medaeng, Waru, Sidoarjo.

Di bagian tengah masjid, sekelompok orang berbaju koko putih tengah khusyuk membaca Alquran. Saat itu mereka terdengar fasih melafalkan ayat-ayat suci Alquran.

Kegiatan tadarus Alquran siang itu sudah sampai juz 28. Yakni, Surat Al-Hasyr yang berisi tasbih kepada Allah SWT.

Ayat-ayat suci itu mengalun indah, memecah keheningan siang. Suara mereka terdengar jauh hingga ke kampung-kampung sekitar di bawah pengeras suara.

Saat Ramadan, rutan yang identik dengan tempat para pendosa seolah tergerus. Kegiatan di dalam rutan tidak kalah religius jika dibandingkan dengan di luar tembok.

Lalu, siapa pelantun ayat-ayat suci tersebut? Mereka ternyata para narapidana (napi) Rutan Medaeng. Mereka adalah warga binaan yang dipilih untuk mengawal kegiatan ibadah di rutan di Jalan Letjen Sutoyo itu.

Tidak sembarang napi bisa menjadi anggotanya. Hanya mereka yang lancar mengaji dan berperilaku baik selama di dalam rutan yang dipilih.

Dua di antara 13 napi yang terpilih adalah Abdullah Yazid, 49, dan Moh. Hedi, 36. ’’Kami ingin teman-teman yang masuk rutan belum bisa mengaji saat keluar bisa ngaji,” ujar Abdullah.

Harapan itu mungkin terdengar berlebihan. Namun, di balik ungkapan tersebut, tersimpan maksud besar. Yakni, mereka ingin berubah.

Menurut napi yang dipidana 1,5 tahun tersebut, hal itulah yang menggerakkannya untuk menyemangati para tahanan dan napi lain agar giat beribadah.

Setiap hari ayah empat anak tersebut bersama-sama napi lain tadarus Alquran, siang dan malam. Total ada 13 anggota tim pembaca Alquran hasil seleksi tim pengamat pemasyarakatan (TPP).

Mereka adalah napi dengan berbagai perkara. Mulai korupsi, narkotika, pemalsuan, penipuan, perdagangan orang, hingga perlindungan anak. Masa hukumannya pun bervariasi. Mulai satu hingga lima tahun. Bahkan, ada yang baru akan bebas pada 2018.

Dengan latar belakang tersebut, mereka tidak mau menjalani hidup di penjara dengan sia-sia. Apalagi memasuki bulan penuh ampunan saat ini. Karena itu, mereka mengaku bersyukur ditunjuk menjadi tim pembaca Alquran.

Namun, mengubah para tahanan dan napi yang pernah bergelut dengan dunia hitam bukan perkara mudah.

Sebagai langkah awal, mereka berupaya memakmurkan Masjid Al Husna. Caranya banyak mengadakan kegiatan, seperti tadarus dan kuliah tujuh menit (kultum). Karena itu, bisa dibilang mereka adalah takmir masjid.

Selama Ramadan, suasana islami bertambah kental. Setiap hari ada dua jadwal mengaji di dalam rutan. Yakni, pukul 13.00 hingga 15.00 dan usai tarawih sampai pukul 22.00.

Hingga pekan kedua Ramadan ini, mereka sudah khatam Alquran empat kali. Bahkan, setiap pagi pukul 08.00, mereka mengajarkan tajwid dan membaca Alquran bagi para penghuni.

Abdullah menuturkan, setiap hari setidaknya ada 200 orang tahanan yang memadati masjid untuk belajar. Selain itu, mereka mengajak para penghuni untuk salat Tarawih berjamaah.

Setiap pekan pada Kamis, ada pembacaan Yasin dan tahlil. Bahkan, sebagai sarana hiburan, mereka juga bermain rebana.

Berbagai acara itu sebenarnya tidak hanya berlangsung selama Ramadan. Di luar bulan puasa, acara keagamaan juga sering dilaksanakan. Misalnya, saat acara peringatan hari besar Islam.

Abdullah mengungkapkan, mengaji Alquran adalah kewajiban utama timnya. Upaya mendaras ayat-ayat suci itu bertujuan mulia. ’’Biar menjadi lebih baik, tidak dicap orang jahat terus,” katanya.

Pria penghuni blok A16 itu berharap, dengan bekal agama, selepas menjalani hukuman, para napi bisa kembali diterima masyarakat. Paling tidak, dia ingin para tahanan bisa membimbing keluarga, tetangga, atau bahkan warga di tempatnya kembali nanti.

Dengan demikian, kesan buruk terkait para mantan napi akan hilang. ’’Jadi, kami anggap ini bukan penjara, tapi pondok pesantren,” ujar Hedi menimpali.

Menurut dia, para tahanan adalah warga teraniaya. Mereka jauh dari keluarga. Banyak juga yang hingga berbulan-bulan tidak dibesuk kerabat. Jika dibiarkan, mereka bisa stres.

Karena itu, dia mengutip Surat Ar-Ra’du: 28 yang bunyinya, ’’Hanya dengan mengingat Allah, hati menjadi tenteram.’’ Karena itu, mengaji menjadi jalan terbaik untuk menenangkan diri.

Belum lagi banyak waktu luang yang dimiliki para tahanan dan napi. Karena itu, mereka membangkitkan gairah warga binaan untuk beribadah. Mereka mengaku bersyukur karena banyak napi yang menanggapi positif kegiatan keislaman di rutan.

’’Orang di penjara itu tidak ada lain selain waktu untuk ibadah. Jadi, bisa salat Tasbih, Hajat, dan Duha,” kata napi kasus penipuan dan penggelapan tersebut.

’’Di penjara jangan rudoksing. Turu, mbadok, ngising (tidur, makan, BAB, Red). Sudah kehilangan banyak waktu malah nggak dapat apa-apa. Tapi, kalau ibadah, kan dapat pahalanya. Jadi, rasanya tidak susah,” ujar Abdullah.

Selama menjadi pionir kegiatan keagamaan, banyak hal menarik yang dialami keduanya. Misalnya, banyak warga binaan yang menjadikan mereka tempat curhat. Tidak sedikit yang mengadu sedang galau dan sedih karena jarang bertemu keluarga.

Lalu, ada satu peristiwa yang paling melekat di memori mereka. Yakni, sebuah kejadian lucu saat tarawih. Biasanya, sang bilal atau orang yang bertugas menyerukan pergantian antarsalat menyerukan salawat Nabi, ”Allahummasholli alaih,”.

Nah, lazimnya sang makmum juga menjawab dengan salawat yang sama. Namun, yang terjadi malah mereka mengucapkan, ’Ayo mulih, ayo mulih,’ dengan suara nyaring.

Itulah ungkapan hati para tahanan. Mereka hanya punya satu keinginan. Yaitu, pulang ke rumah.

Ada juga warga binaan yang masih mengantuk, namun memaksa berzikir. Akhirnya, tasbih yang dipegang sampai jatuh. Bacaannya pun salah-salah. Yang awalnya istigfar berubah menjadi salawatan.

Kemudian, di Rutan Medaeng, ada satu istilah terkenal. Yaitu, njebles. Terjemahan bebasnya adalah down alias semangat beribadahnya turun drastis.

’’Jadi, bahasa sini njebles itu, misalnya, sebelum divonis salatnya kenceng. Lha setelah putus, blas nggak salat,” ujar Abdullah, lantas tergelak.

Menurut dia, hal itulah yang menjadi tugas mereka. Karena itu, dalam setiap kultum, mereka selalu mengingatkan agar menjauhi perilaku njebles.

’’Biar vonis, nggak vonis, salatnya harus tetap kenceng. Berapa pun putusannya, itu yang terbaik,” kata Abdullah.

Namun, ada suka. Ada juga dukanya. Dia menuturkan, ada tahanan yang memang sulit berubah. Sebab, mereka menjadikan kejahatan sebagai profesi. Akibatnya, tidak ada rasa penyesalan. Meski begitu, dia tetap mengajak semua penghuni rutan untuk menganggap semuanya sebagai masa lalu.

’’Ada yang bilang nggak tahu harus kerja apa lagi selain sabung ayam atau togel. Ya, harus sering dinasihati,” ujar pria asli Kediri itu.

Abdullah mengatakan, pihaknya bersyukur karena rutan sangat memfasilitasi kegiatan mereka. Sebab, menurut napi perkara pidana pasal 266 KUHP tersebut, semua lapas atau rutan yang pembinaan keimanannya kurang pasti tidak kondusif. Berbeda dengan Rutan Medaeng yang menurut dia lebih aman.

Abdullah dan Hedi menyatakan, penjara membawa banyak hikmah untuk mereka. Salah satunya bisa memahami karakter orang.

Dia bermimpi suatu saat setelah keluar dari rutan akan mengadakan pertemuan dengan sesama tahanan. ’’Semoga jalinan silaturahmi ini tidak terputus. Bisa bertemu lagi dalam kondisi lebih baik,” ujar keduanya serempak.

Teguh Hartaya, kepala seksi pelayanan tahanan Rutan Medaeng, menuturkan, tim pembaca Alquran ditunjuk dengan menggunakan surat keputusan (SK) resmi. Mereka adalah para aktivis masjid yang selama keseharian aktif di masjid. ’’Mereka ini berhasil menyemangati tahanan lainnya,” katanya.

(jpnn)