Menyaksikan Keindahan Selendang Dayang Sumbi di Tahura

by -38 views

dayang sumbiDI Taman Hutan Raya (Tahura) Djuanda atau dikenal Dago Pakar, ada sebuah objek wisata yang membuat para pengunjung tercengang. Bukan goa Belanda atau goa Jepang yang sudah dikenal luas masyarakat. Atau pun Tebing Karaton yang belakangan ini sangat dikenal dan menjadi objek wisata baru di sana.

Objek ini terbilang sudah lama ditemukan. Bahkan keberadaannya pun sudah lebih dari ribuan tahun. Namun sayang keberadannya kurang dikenal masyarakat. Jaraknya hanya 4 km dari kantor pengelola Tahura.

Lokasinya yang jauh di dalam Taman Hutan Raya, bahkan berada tepat dipinggiran Sungai Cikapundung yang membelah taman hutan raya milik Pemprov Jabar ini. Sehingga untuk mencapainya diperlukan perjuangan yang cukup berat, yakni harus menuruni tebing sedalam kurang lebih 100 meter. Tidak heran, jika objek wisata yang jadi bagian dari Tahura ini tidak dikenal masyarakat.

Objek wisata itu, berupa hamparan batu yang berwarna hitam mengkilat. Warga disana mengenal objek wisata itu dengan sebutan “Selendang Dayang Sumbi” sedangkan kalangan ilmuan menyebutnya situs batu “Pahoehoe”. Karena bentuknya yang unik menyerupai untaian selendang yang terpahat di atas batu basalt. Yakni batuan beku bekas lahar dari letusan gunung Tangkubanparahu, 48.000 tahun lalu.

Keindahan batu Selendang Dayang Sumbi ini akan terlihat apabila dilihat dari jarak dekat, kia-kira 2- 3 meter. Batuan ini tertimbun tanah (humus) dan pepohonan yang tumbuh subur di atasnya. Karenanya diperlukan ketelitian dan kegigihan untuk bisa melihatnya. Kita harus menyingkirkan tanah dan humus serta tumbuhan yang menutup diatasnya.

Keindahan terbentuknya gunung Tangkubanparahu hanya bisa dijelaskan lewat proses ilmiah. Begitu pula dengan proses terbentuknya Selendang Dayang Sumbi tidak kalah indah untuk diceritakan. Bila Tangkuban Parahu lahir akibat kuatnya letusan Gunung Sunda, Selendang Dayang Sumbi adalah lukisan alam dari aliran lava panas sisa letusan Tangkuban Parahu 48.000 tahun yang lalu.

Geograf dari Masyarakat Geografi Indonesia, T. Bachtiar menyebutkan, bentuk jejak lava itu begitu eksotis karena membentuk pola lipatan berulang-ulang dengan ukuran dan jarak yang sama. Ada lipatan yang lancip dan gemuk yang tergambar secara vertikal. Bila dilihat dari atas, sepintas jejak itu mirip motif batik.

Sebagai temuan geologi yang relatif baru ditemukan, situs Selendang Dayang Sumbi belum banyak dikenal pengunjung Taman Hutan Rakyat. Ditemukan oleh pemancing tradisional, lokasinya terletak di dasar tebing sedalam 100 meter yang berada sekitar 4 kilometer dari kantor pengelolaan Tahura. Tepatnya di bantaran Sungai Cikapundung antara Air Terjun Lalai dan Cikidang.

Cukup sulit untuk menemukan lokasinya. Tim Ekspedisi Citarum harus ditemani petugas Tahura untuk menuruni tebing tanah curam sekitar 100 meter dengan kontur tanah licin. Petugas harus memasang alat bantu berupa tali kuat berdiameter 1 sentimeter sebagai pegangan.

Sampai di bawah, rasa penasaran itu tergantikan kekaguman. Jejak itu terekam dalam batuan datar seluas 5 meter x 2 meter. Ada sekitar 5 motif yang terbentuk dengan ukuran yang berbeda. Ada lipatan panjang dengan ujung lancip tapi ada juga yang pendek dengan lipatan yang lebih besar. Keindahannhya dipadukan dengan blok formasi batuan sisa letusan gunung berapi lainnya yang tersebar di atas tebing, dan sepanjang Sungai Cikapundung. Ditemani suara keras air yang menghantam batu vulkanik di Sungai Cikapundung, kekaguman itu bertambah besar karena bila dilihat dari atas, jejak itu terlihat mengkilap seperti kaca saat beradu dengan sinar matahari.

Bachtiar yakin fenomena ini baru (Situs batu Pahoehoe/Selendang Dayang Sumbi) ditemukan di Tahura belum ada di tempat lain di Indonesia. Hal yang sama banyak ditemukan di Hawaii, Islandia, dan Kolombia.

Bachtiar mengatakan lava itu adalah tetesan dari lava yang berada di atasnya lantas mengalir secara vertikal. Semakin jauh kekentalannya meningkat dan bagian permukaannya membeku. Namun, karena bagian dalamnya masih encer dan panas maka lava terus bergerak membentuk pola baru. Kejadian itu terjadi berulang-ulang hingga semua bagian lava membeku. Fenomena ini hampir mirip dengan bukti geologi lava pahoehoe di Hawai. Dalam bahasa hawaii, Pahoehoe artinya adalah tali.

Taman Hutan Raya (Tahura) Djuanda adalah kawasan pelestarian alam untuk tujuan koleksi tumbuhan dan atau satwa yang dimanfaatkan bagi kepentingan umum sebagai tujuan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan dan wisata. Lahan ini dikelola oleh Dinas Kehutanan Jawa Barat ini kini luasnya 590 hektar dengan koleksi 2.500 tumbuhan.

Tahura yang dibangun tahun 1912 ini tercatat sebagai yang tertua pernah dibangun Belanda. Pusat taman yang sebelumnya dikenal dengan Taman Rakyat Pulosari atau biasa disebut masyarakat sebagai Palasari terletak di Kampung Pakar, Desa Ciburial, Kecamatan Cimeyan, Kabupaten Bandung.

Akses menuju Tahura juga mudah dijangkau. Bagi pengguna kendaraan pribadi diuntungkan dengan papan penunjuk arah di sepanjang Jalan Bukit Dago. Sedangkan, pengunjung yang menggunakan angkutan umum, dapat naik angkutan kota jurusan Bandung-Terminal Dago. Dari Terminal Dago, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki, atau naik ojek menuju lokasi.

Banyak objek wisata yang bisa dikunjungi wisatawan. Setelah pengunjung hanya mengenal curug Maribaya dan curug Omas, Goa Belanda dan Jepang, kedepan Tahura akan memperkenalkan tiga curug (air terjun) yang letaknya tidak jauh dengan Selendang Dayang Sumbi. Tiga air terjun yang selama ini masih tersembunyi di balik lebatnya hutan Tahura itu adalah Lalay, Kidang, dan Koleang. Ketinggiannya sekitar 15 meter sebelum airnya menyentuh bagian dasar.

Kelebihan Lalay adalah keberadaan gua tempat keluarnya air. Gua ini menjadi tempat berkembangbiaknya kawanan kelelawar (dalam bahasa Sunda disebut lalay). Sedangkan Kidang dan Koleang juga tidak kalah indah karena menawarkan pemandangan turunnya air menerpa batuan di bawahnya. Aktivitas lainnya adalah memperkenalkan pengunjung tentang keberadaan bendungan pembangkit listrik Pakar buatan Belanda yang dibuat awal 1900-an.

Sementara salah seorang petugas di Tahura, Ganjar mengatakan bendungan ini menjadi saksi sejarah pembangkit listrik buatan Belanda di sekitar Tahura, sebelum pembangkit listrik II Pakar II yang dibuat tahun 1910, saluran air Gua Belanda tahun 1918 atau pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air di Dago Bengkok tahun 1922.

Wisata flora dan fauna juga akan mendapat tempat khusus. Setelah menjadi rumah bagi beragam satwa seperti kera ekor panjang (Macaca fascicularis), burung kacamata (Zoeteraps palpebrosus), perenjak Jawa (Lonchura leucogastroides), burung cinenen pisang (Orthotomus sutorius), dan ayam hutan (Galus-galus banriva). Tahura akan membuat konservasi pembiakan rusa yang diambil dari Istana Bogor. Lahan yang sudah disiapkan berada di dalam kompleks Tahura di daerah Bantarawi.

Ganjar berharap penambahan wahana itu akan membuat pengunjung menghabiskan waktu lebih lama di Tahura. Saat ini, di Tahura disediakan fasilitas menginap untuk sekitar 20 orang, sarana flying fox dan outbond, panggung terbuka, dan lapangan tenis. Tempat parkirnya pun mampu menampung puluhan mobil dan motor.

“Kami berharap agar segala sarana pendukung ini bisa menjadi magnet bagi pengembangan kelestarian alam di Tahura,” kata Ganjar.

(Galamedia)