Mengenang Pahlawan Kota Hujan di Museum Perjuangan

by -8 views

pahlawanHari itu kebetulan saya libur dan tidak punya rencana kegiatan apa-apa. Cuaca cukup cerah, tidak hujan seperti biasanya di Bogor. Saya pun memutuskan untuk jalan-jalan pakai motor butut kesayangan tanpa arah dan tujuan.

Saat saya melintasi PGB , tiba-tiba sekilas mata saya menangkap bangunan Museum Perjuangan Bogor yang berada tepat diseberang PGB. Mungkin ada sekitar 10 tahunan saya tidak mengunjungi museum itu, tiba-tiba muncul rasa penasaran saya untuk mengetahui seperti apa museum itu sekarang.

Bukan tanpa alasan juga saya tiba-tiba ingin mengunjunginya, karena sebetulnya sudah ada niatan beberapa kali tapi tidak kesampaian. Akhirnya saya memutuskan untuk mengunjunginya. Tidak lama saya sudah berada di dalam museum perjuangan rakyat Bogor itu, keadaannya ternyata tidak banyak berubah.

Banyak yang membuat hati ini miris saat berada di dalam museum itu. Bukan pada keadaan fisiknya melainkan pada jumlah pengunjungnya. Banyak yang tidak menyadari bahwa di dalam museum itu banyak terdapat serpihan-serpihan perjuangan masa lalu yang dilakukan olek kakek, buyut, atau bahkan bapak-ibu kita.

Kalau saya pikir-pikir lebih dalam, kelihatannya lokasi dan suasananya museum itu mungkin problem utamanya selain memang kesadaran kebangsaan orang kita yang minim. Padahal bangunan itu sudah ada sebelum semua warga Bogor yang hidup sekarang lahir, yaitu tahun 1879!

Tentu saja di tahun 1879, bangunan itu tidak diperuntukkan untuk menjadi museum perjuangan melainkan sebuah gudang komoditas pertanian yang di-pool di bangunan itu untuk kemudian di ekspor (tepatnya dijarah) ke Eropa.

Bukan tanpa alasan Belanda membangun gudang itu, tapi ia didirikan karena Bogor merupakan sentra pertanian yang melimpah yang paling dekat dengan Batavia atau Jakarta sekarang. Gudang ini sempat juga digunakan tentara Jepang untuk menyimpan barang saat negara itu merebut kekuasaan dari tangan Belanda.

Yang paling bersejarah dari bangunan menurut saya adalah ia digunakan untuk menyambut dan mempertahankan kemerdekaan RI pada tahun 1945, luar biasa!

Bangunan itu baru benar-benar menjadi museum di tahun 1957 atau 12 tahun paska kemerdekaan atas prakarsa musyawarah para tokoh Pejuang Karesidenan Bogor yang meliputi Kota dan Kabupaten Bogor, Sukabumi, Cianjur dan Depok. Diprakasai dan diresmikan oleh pejuang Mayor Ishak Djuarsah.

Koleksi museum itu belum berubah dari masa ke masa yang terdiri atas berbagai macam persenjataan yang digunakan para pejuang saat melancarkan pertempuran melawan penjajah. Diantara senjata-senjata itu terdapat pula yang merupakan hasil rampasan dari tentara Jepang maupun tentara sekutu pimpinan Inggris.

Seperti halnya museum perjuangan lain yang berada di Indonesia, museum ini juga memiliki diorama pertempuran di daerah Bogor dan sekitarnya. Saya tertegun memperhatikan diorama itu, membayangkan detik-detik peristiwa itu terjadi, betapa heroik sekaligus menakutkan.

Museum ini juga memiliki koleksi pakaian pejuang yang sebagian di antaranya memiliki noda darah asli. Benar, darah asli pejuang yang tertembak pasukan musuh. Pakaian itu masih tersimpan di dalam kotak kaca. Kalau Anda main ke museum itu dan melihat pakaian pejuang yang bernoda darah itu, jangan lupa mendoakan mereka, perjuangan mereka yang tidak tergantikan hanya dengan ucapan terima kasih.

Diorama pertempuran lain yang layak untuk Anda lihat adalah pertempuran Bojong Kokosan, sebuah ajang pertempuran yang boleh dibilang sangat menentukan arah perjuangan Republik ini dan yang menjadi cikal bakal lahirnya Kodam Siliwangi dan peristiwa Bandung lautan api.

Diorama lainnya adalah pertempuran Maseng, pertempuran di Kota Paris, serta diorama pertempuran di Bantammer Weg (sekarang Jalan Kapten Muslihat) tahun 1945, dan diorama pertempuran Cemplang 1945. Ya benar, di Cemplang juga ternyata sempat terjadi pertempuran heroik, luar biasa bukan?

Ada ritual menarik yang harus dilakukan kalau Anda berkesempatan masuk ke museum ini melalui jasa tur. Pertama, Anda akan diwajibkan menyanyi lagu Indonesia Raya dengan khidmat untuk mengenang jasa para pahlawan dan membangkitkan rasa nasionalisme kita, kedua, membaca doa pembuka Al-Fatihah untuk mendoakan arwah mereka yang telah gugur di medan perang dan para pahlawan yang sudah mendahului kita, dan yang terakhir ialah membaca Surat Yasin langsung dipimpin seorang Mahruf. Luar biasa, ayo ke Museum Perjuangan!

(Heibogor)