Pasca Penggrebekan, Saritem Masih Menjanjikan.”Tutup, Engke Weh Peting Kadieu Deui”

by -13 views

saritemPasca jajaran kepolisian dari Polrestabes Bandung melakukan razia terhadap pekerja seks komersial (PSK) pada Rabu (20/5/2015) malam, kawasan Saritem yang berada di Kelurahan Kebon Jeruk, Kecamatan Andir, Kota Bandung, Jawa Barat terlihat warga setempat tidak bersahabat.

Banyak kerumunan orang-orang berbadan kekar di setiap gang area tersebut, penuh curiga terhadap warga asing atau pendatang.

Pantauan di lokasi sejak Kamis (21/5/2015) pukul 09.00 WIB, dengan berjalan kaki gang demi gang yang ditelusuri, tampak segelintir warga yang berada di setiap sela-sela gang menatap dengan penuh kecurigaan yang mendalam terhadap orang asing yang melintas.

Untuk melanjutkan perjalanan penelusuran, sesekali melemparkan senyum menjadi suatu keharusan demi untuk mencairkan suasana kepada beberapa warga.

Namun, mereka hanya terdiam dan memilih tak merespon. Suasana yang tidak nyaman ini pun, membuat pilihan untuk bergegas meninggalkan kawasan.

Namun, selang beberapa jam kemudian, rasa keingintahuan tentang kondisi terbaru lokalisasi Saritem, tepat pukul 15.00 WIB kembali memasuki kawasan.

Kerumunan orang masih saja terlihat di setiap sela-sela gang dengan tatapan sinis, mereka masih memperhatikan dengan penuh kecurigaan terhadap pejalan kaki maupun yang menggunakan kendaraan.

Penelusuran tetap dilanjutkan, terpantau beberapa rumah yang ditenggarai sebagai tempat berkumpulnya para PSK pun, terlihat tertutup rapat baik pintu maupun gorden.

Namun pasca penggrebekan, rumah-rumah yang diduga dijadikan penampuangan PSK itu, tidak terlihat adanya pemasangan garis police line.

Karena rasa ingin tau, lontaran pertaanyaan pun disampaikan kepada salah seorang yang berada di antara kerumanan. Dengan nada pelan. “Bos, buka teu?”

Salah seorang dari kerumunan tersebut itu pun, menjawab dengan cepat sambil tetap memperhatikan orang-orang yang melintas di area tersebut. “Tutup, engke weh peuting kadieu deui (nanti saja malam ke sini lagi),” cetusnya.

Usai bertanya sesaat, penelusuran pun dihentikan dan berbegas kembali meninggalkan area tersebut. Nampak, kerumunan orang-orang tersebut masih memperhatikan orang yang dianggapnya asing ketika bergegas meninggalkan mereka.

Diidentikkan Kota Bandung

Tak bisa dipungkiri, Saritem selalu diidentikkan dengan Kota Bandung. Sama halnya dengan Pasar Kembang di Yogyakarta dan Gang Dolly di Surabaya.

Konon, kawasan ini mulai berkembang sejak awal 1906. Lebih ramai lagi saat zaman pendudukan Jepang. Di sinilah tempat serdadu Jepang dan pria hidung belang melampiaskan hasrat birahinya.

Lokalisasi ini berada di pusaran pusat Kota Bandung, yang dihimpit tiga jalan besar yakni Jalan Gardujati, Jalan Sudirman dan Jalan Kebonjati.

Sejak puluhan tahun yang lalu ratusan perempuan berjejer di sela-sela gang setiap harinya, bisa dibilang 24 jam non stop.

Mereka memperlihatkan kemolekan tubuh yang kemudian dilakukan tawar menawar untuk memuaskan hasrat pria hidung belang.

Ditutup

Kawasan Saritem sebetulnya menurut Perda Kota Bandung No 11/1995, efektif mulai November 2006 semua kompleks lokalisasi akan mulai dihapuskan. Semua kegiatan lokalisasi Saritem akan diakhiri 17 April 2007 pukul 24.00 WIB dan Saritem akan ditutup pada 18 April 2007.

Jelas, ini menjadi PR bersama, biar bagaimana pun disatu sisi berhubungan dengan isi perut seseorang. Alasan tak punya keahlian dan penghasilan yang cukup besar, sudah menjadi hal klise yang membuat mereka para kupu-kupu malam sulit beralih profesi.

Disisi lain? Moralitas manusia tentu dipertanyakan di hadapan Tuhan, bahkan di lingkungan sekitar.

(Galamedia)