BLH TURUN TANGAN SOAL DANAU HIJAU DI SUKABUMI

by -13 views

danauFenomena unik kubangan air berwarna hijau di Kampung Danau, Desa Bojongraharja, Kecamatan Cikembar, menjadi bahan penelitian Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Sukabumi. BLH turun tangan untuk memastikan kandungan air kubangan yang sohor disebut Danau Hijau ini.
Dari hasil penelitian yang dilakukan BLH, air hijau yang ramai diperbincangkan itu merupakan air hujan dan tidak ada mata air di dalamnya. Penelitian dilakukan agar kubangan air tersebut tak memunculkan pro dan kontra masyarakat hingga ke media sosial. Sebab, sebagian pihak mengatakan air hijau itu merupakan akumulasi air hujan. Selain itu, ada juga masyarakat yang berasumsi air tersebut berasal dari sumber mata air di bawah danau.
“Tadi kami sudah cek ke lokasi, itu murni air hujan. Tidak ada sumber mata air di bawahnya,” ujar Tim peneliti Danau Hijau, Roni Hermawan. Menurut Roni, terdapat batu berwarna yang berada di bawah air lalu tersinari cahaya matahari. Sehingga terjadi refleksi pancaran warna hijau di kubangan. Alasan tersebut dianggap logis. Sebab sebelum dipenuhi air, tempat itu merupakan area tambang galian batu hijau yang perizinannya telah dikantongi pemilik.
“Kami cek airnya itu jernih, tidak hijau. Warna hijau itu dihasilkan dari batu hijau di bawahnya yang tersinari matahari. Jadi bukan warna bawaan ataupun dari sumber mata air. Kami telah mengambil sampel untuk diteliti di laboratorium dan pemeriksaan,” terangnya.
Sebelumnya, fenomena unik terjadi di Kampung Danau, RT 01/29, Desa Bojongraharja, Kecamatan Cikembar. Sebuah kubangan air berwarna hijau terbentuk di tengah bekas tambang batu. Meski berwarna, air tersebut dimanfaatkan warga sekitar untuk memenuhi kebutuhan air saat kemarau ini. Kini, kubangan yang dinamai Danau Hijau ini banyak dikunjungi warga karena keunikannya.
Sementara itu, salah seorang tokoh masyarakat, Haji Cece (60), meyakini jika air yang ada di kubangan tambang itu murni mata air yang keluar dari bawah tanah. Menurut dia, tempat itu lebih tepat dijadikan tempat wisata ketimbang area pertambangan. “Saya warga asli sini jadi hafal. Masyarakat di sini lebih berharap tempat itu dijadikan lahan wisata saja. Karena selain bermanfaat, juga akan dapat menunjang perekonomian warga setempat,” singkat keduanya.

(Metropolitan.id)