Rekrut Pengojek Pangkalan, Blu Jek Siap Jadi Pesaing Gojek

by -25 views

blue jakPT Blu-Jek Indonesia (Blu-Jek), perusahaan layanan ride sharing motor mengumumkan mulai beroperasi di Jakarta. Aplikasi Blu-Jek sudah dapat diunduh pada Kamis (17/9/2015) dan layanannya beroperasi efektif mulai hri ini, Jumat (18/9/2015).
Salah satu pendiri Blu-Jek Garrett Kartono mengakui cara kerja operasinya tak berbeda dengan layanan ride sharing sejenis, misalnya Go-Jek atau Grab Bike. Pengguna layanan cukup memasang aplikasi dan memesan Rider, sebutan untuk pengemudi Blu-Jek.
Saat memesan Rider, pengguna mesti menentukan lokasi penjemputan dan daerah yang dituju. Semua itu kemudian akan dihitung dengan tarif per kilometer.
“Cara kerja pakai apps, booking dan nanti langsung cari driver. Bedanya (dengan Go-Jek atau Grab Bike) dari sistem pembayaran berbeda, kita pakai (Bank) Mandiri e-cash,” ujarnya dalam acara peluncuran Blu-Jek di Jakarta Selatan.
“Mungkin kita memang menawarkan layanan sama dengan ojek berbasis aplikasi lain, visi misi sama, untuk menawarkan layanan transportasi yang andal. Tapi kita gak melihat mereka sebagai kompetitor kok,” imbuhnya.
Blu-Jek mematok tarif Rp 20.000 untuk lima kilometer pertama dan Rp 4.000 per kilometer berikutnya. Selama satu bulan sejak peluncuran hari ini, mereka memberikan promo gratis untuk Rp 25.000 pertama. Pengguna harus bayar selisihnya jika biayanya melebihi nilai tersebut. Pembayaran dapat dilakukan dengan tunai atau Mandiri e-cash.
Garrett mengatakan promo yang dia maksud berbentuk voucher, namun belum mengungkap lebih detil kapan akan mulai membagikan atau cara pengguna mendapatkan voucher itu.
Sosialisasi
Garrett yang asal Surabaya ini mengatakan tidak khawatir soal potensi kontroversi Blu-Jek, kendati layanan sejenis yang lebih dulu hadir sempat menjadi bulan-bulanan pengojek tradisional. Rahasianya adalah soal perekrutan Rider Blu-Jek.
“Kita memang sosialisasi langsung ke pangkalan, jadi 98 persen Rider berasal dari pengojek. Kita prioritaskan memang yang pengojek, tapi kalau yang perempuan dari berbagai latar belakang,” terang Garett.
Blu-Jek kemudian mengajarkan mereka cara menggunakan ponsel Android, mendapatkan penumpang menggunakan aplikasi Blu-Boy (aplikasi khusus Rider) dan tata cara pelayanan penumpang.
Saat ini, perusahaan rintisan tersebut sudah memiliki sekitar 1.000 orang Rider. Menurut Garret, masih ada sekitar 5.000 lamaran Rider lain yang menunggu pemrosesan.
“Kami ingin mereka mendapatkan pendapatan yang fix melalui Blu-Jek ini. Kami berharap mereka bisa mendapat sekitar Rp 6 juta per bulan, sementara ini kami juga memberi bonus Rp 50.000 bila mereka berhasil dapat lebih dari lima penumpang sehari,” terangnya.
Bukan Blue Bird
Sekilas melihat jaket pengemudi Blu-Jek yang dominan warna biru itu, pengguna akan teringat pada perusahaan taksi Blue Bird. Bahkan, karena kemiripan ejaan nama itu sempat beredar desas desus yang menyebut Blu-jek sebagai bagian dari perusahaan taksi itu.
Namun, ternyata Blu-Jek tidak terkait sama sekali dengan perusahaan taksi tersebut. “Tidak, kami tidak ada afiliasi dengan Blue Bird. Kita memang dari awal pilih warna biru, dan Blu itu maksudnya dari kata blusukan,” tegas Garret.
“Sekarang ini kami masih self funding, berdua saja. Tapi tidak menutup kemungkinan untuk menerima investasi. Kita masih lokal, tapi punya rencana ekspansi untuk internasional juga, mungkin di Asean dulu, seperti Bangkok atau Filipina,” imbuhnya.
Blu-Jek bekerja sama dengan Bank Mandiri untuk sistem pembayaran, Telkomsel untuk nomor telepon yang dipakai Rider –sebutan untuk pengemudi Blu-Jek– dan ZTE untuk ponsel yang digunakan.
Selain layanan transportasi, Blu-Jek juga menawarkan jasa pengantaran dokumen, bantuan belanjaan dengan nilai maksimal pembelian Rp 1 juta, dan jasa pengantaran makanan.

(Tribunnews)