Dosen Fapet Unpad Ini Gagas Biogas Sampah Domestik

by -17 views

dosen unpadDosen Fakultas Peternakan (Fapet) Universitas Padjadjaran (Unpad), Muhammad Fatah Wiyatna, mengembangkan teknologi pengelolaan sampah organik menjadi energi baru (biogas) bernilai guna. Biomethagreen, namanya. Konsep tersebut digagas Fatah sejak 2007.

“Biogas kan biasanya bersumber dari limbah ternak. Nah, kalau ini biogas dari sampah domestik,” ucap Fatah kepada detikcom di Bank Sampah Induk Hijau Lestari, Jalan Tubagus Ismail XIV No.1, Kota Bandung, Rabu (20/10/2015).

Perjalanannya menyempurnakan konsep Biomethagreen dimulai pada 2013. Dia membuat teknologi fermentasi anaerob atau tanpa udara menjadi sesuatu bermanfaat berupa biogas dan pupuk cair. “Sudah lima kali berganti desain (alat Biomethagreen). Tipe terbaru saya buat pada tahun ini (2015). Tentunya akan terus saya evaluasi,” ujar Fatah.

Persoalan sampah masih menyisakan masalah di negeri ini. Keberadaan sampah yang menumpuk serta tak terkendali dapat membahayakan lingkungan dan kesehatan masyarakat. Maka itu, sambung Fatah, perlu penerapan teknologi guna mewujudkan lingkungan bersih dan menghasilkan keuntungan dari tumpukan sampah.

“Biomethagreen ini konsepnya mengolah limbah domestik organik menjadi gas metan dan bubuk cair. Tentunya gas sebagai sumber energi, sementara cairannya berupa pupuk untuk penghijauan lingkungan,” tutur alumnus Fapet Unpad ini.

“Gas metan yang dihasilkan menjadi bahan bakar generator set untuk mengaliri listrik. Serta dapat memfungsikan mesin pemotong rumput. Bisa juga menyalakan sebuah kompor buat memasak,” kata pria kelahiran Subang 23 Oktober 1969 ini.

Menurut Fatah, konsep Biomethagreen bisa menjadi salah satu solusi agar tidak terjadi penumpukan volume sampah di wilayah perkotaan. Sehingga, dia melanjutkan, sampah-sampah tidak lagi mesti diangkut oleh petugas kebersihan ke TPS lalu ke TPA. Ongkos pengangkutan sampah yang dianggarkan pemerintah daerah bisa menjadi rendah. “Jadi nantinya di TPA tidak terjadi penumpukan sampah,” ujar Fatah.

Produknya berlabel BioMethaGreen (BMG). Dia menyebutkan, konsep pengelolaan sampah ala Biomethagreen ini terbilang sederhana dan mudah. Fatah memamerkan instalasi berupa bak penampungan sampah biodigester hasil karyanya.

“Bahannya terbuat dari PVC plastik. Ini kuat dan antikarat, bisa bertahan seumur hidup. Pemeliharaannya juga mudah. Alat ini didesain untuk di ruang terbuka dan tertutup,” tutur Fatah.

Bak penampung sampah itu berbobot kosong 120 kilogram. Kapasitas penampungannya mencapai satu meter kubik. “Bentuknya portable, gampang dipindah-pindah. Bisa disimpan di taman, dipakai di restoran dan digunakan untuk lingkungan warga atau keperluan pribadi,” kata Fatah.

“Tampilannya modern dan elegan,” ucapnya sambil menambahkan satu unit perangkat tersebut dijual seharga Rp 16 juta.

Bagaimana skema kerja alat ini? “Sampah organik yang sudah dipilah dimasukkan ke dalam bak. Dicampur air untuk membilas. Enggak perlu pencacahan, pembalikan dan pengayakan. Di dalam ruangan penampungan ini sudah ada bakteri anaerob yang sudah saya kembangkan. Peran bakteri itu mengurai sampah menjadi gas metan, sisanya menghasilkan pupuk cair,” tutur Bapak tiga anak ini.

Gas yang terurai ditampung ke dalam balon yang berada di bagian atas alat tersebut. Jika gas dipergunakan, balon perlahan kempes. Kalau tidak dipakai, balon kembali mengembang menampung gas.

Keunggulan sistem Biomethagreen, Fatah menjelaskan, tidak mengandung unsur kimia dalam pengelolaannya serta tidak ada endapan limbah. “Selain itu tidak menimbulkan bau menyengat, sebab alat ini kedap udara. Pokoknya, ramah lingkungan,” kata Fatah.

Dia memberikan ilustrasi dalam satu lingkungan rukun tetangga (RT) terdapat 20 kepala keluarga (KK) yang mengumpulkan sampah organik komunal seberat 25 kilogram perhari. “Nah, 25 kilogram sampah akan diurai untuk menghasilkan satu meter kubik atau seribu liter perhari. Sisanya jumlah tersebut atau 40 persennya pupuk cair sebanyak 10 hingga 15 liter per hari,” kata Fatah.

Biogas yang diproses alat buatan Fatah ini cocok untuk lingkungan di satu RW. Sehingga manfaat biogas bisa dipergunakan untuk dapur umum atau keperluan lainnya.

Dia menuturkan, alat biogas sampah itu sudah menyebar ke seluruh nusantara. Produk bermerek BMG ini, Fatah menerangkan, banyak dibeli kalangan pemerintah, perusahaan swasta untuk program CSR, dan pribadi.

(Detik.com)