Nikmatnya Mi Kepiting Ditemani Debur Ombak dan Semilir Angin

by -5 views

LANCOk 1SEJUMLAH pondok mirip rumah panggung berjejer rapi di pinggiran Pantai Lancok, Kecamatan Syamtalira Bayu, Aceh Utara, Aceh, Selasa (27/10/2015). Pondok ini dibangun persis di atas tanggul pemecah ombak pantai.

Jam menunjukkan pukul 15.00 WIB. Sejumlah pengunjung memadati pondok itu. Sebagian pengunjung lainnya lebih memilih bersantai di pondok lainnya yang menyediakan fasilitas hiburan untuk berkaroke ria.

Alunan musik dari pondok itu bisa menjadi hiburan bagi mereka yang bersantai. Dari musik pop lawas, jazz hingga rock terdengar di sana.

Ya, sesuai keinginan pengunjung yang ingin berkaroke ria. Kawasan ini dikenal sebagai penyedia mi kepiting. Lebih khusus lagi, mi dengan kepiting petelur.

Namun, jika buru-buru hendak makan mi kepiting, maka di sini bukan tempat yang tepat. Butuh waktu sekitar satu jam lebih mi kepiting baru disajikan di meja.

“Karena kami harus memastikan kepitingnya matang. Jika tidak, nanti rasanya jadi aneh dan agak bau,” sebut Rasyidah, seorang pemilik warung di lokasi itu.

Kepiting itu dibeli dari petani tambak lokal tak jauh dari lokasi pantai tersebut. Jadi, persediaan kepiting selalu terjamin. Umumnya, pedagang menyiapkan dua jenis mi yaitu mi Aceh dengan kepiting telur atau mi instan dengan kepiting telur.

Bagian atas mi dibalur dengan saos tomat dan dilengkapi acar. Sungguh rasanya luar biasa nikmat. Sembari menikmati mi kepiting, maka debur ombak menghantam tanggul menjadi musik tersendiri.

Semilir angin membuat pengunjung di kawasan itu tak pernah merasa gerah. Di sinilah tempat nyaman untuk bersantai. Namun, menurut Rasyidah, akhir pekan menjadi puncak kepadatan pengunjung di lokasi wisata itu.

“Jika hari Senin sampai Jumat itu pengunjungnya hanya puluhan orang. Jika Sabtu dan Minggu itu bisa ratusan, bahkan sulit mendapatkan tempat parkir,” ujarnya.

LANCOK 2Untuk menuju lokasi wisata itu, maka melintaslah di Jalan Medan-Banda Aceh. Setibanya di Lapangan Sepak Bola Bayu, jika Anda dari Medan menuju Banda Aceh, maka berbeloklah ke kanan.

Ikuti jalan aspal itu dan diujung jalan nyiur kepala melambai seakan mengucapkan selamat datang untuk pengunjung di kawasan wisata tersebut. Kawasan wisata ini dibuka sekitar tiga tahun lalu. Awalnya tiga orang warga lokal mendirikan pondok wisata. Kini berkembang menjadi puluhan.

“Dulu, lokasi ini sedikit sepi. Seiring promosi dari mulut ke mulut, maka lokasi ini semakin ramai,” ujar Rasyidah.

Untuk minuman, silakan memesan kelapa muda atau minuman botol lainnya. Harga mi kepiting terbilang murah hanya Rp 25.000 per porsi, sedangkan kelapa muda sekitar Rp 10.000 per buah.

Harga ini tentu sangat terjangkau dompet pengunjung. Bahkan, pengunjung tidak dikenakan biaya masuk dan biaya parkir seperti obyek wisata lainnya.

Sayangnya, hari itu tidak ada langit nan membiru. Langit Aceh terpapar kabut asap kiriman dari kebakaran hutan di Palembang dan Jambi sejak sebulan terakhir. Sehingga, pengunjung tak bisa menikmati pantai dengan langit nan biru.

Siang mulai merangkak sore. Satu-satu pengunjung mulai meninggalkan lokasi. Esok atau lusa mereka kan berkunjung lagi. Bukan sekadar menghilangkan penat selepas bekerja, namun menikmati mi kepiting sembari mendengar deburan ombak dan semilir angin.

(kompas.com)