JABARMEDIA – Negara Kuba, yang selama ini dikenal dunia lewat musik latin, cerutu, dan mobil klasik, ternyata menyimpan berbagai fakta menarik yang jarang terungkap ke publik. Fakta-fakta ini baru diungkap oleh mantan Duta Besar Republik Indonesia untuk Kuba periode 2020–2025, Nana Yuliana.
Pengungkapan tersebut disampaikan Nana Yuliana dalam sebuah siniar di kanal YouTube @newlitics, yang dipandu oleh Helmy Yahya dan Tantowi Yahya. Dalam perbincangan itu, Nana membeberkan sejumlah kebijakan progresif di Kuba, khususnya dalam bidang pendidikan dan kesehatan.
Pendidikan dan Kesehatan Gratis Sepenuhnya
Nana Yuliana menjelaskan bahwa Kuba memiliki sistem pendidikan dan kesehatan gratis. Ini berlaku sepenuhnya bagi seluruh rakyatnya. Kebijakan ini mencakup jenjang pendidikan tinggi. Dari S1 hingga S3, semua gratis.
“Pendidikan S1, S2, sampai S3 gratis,” ujar Nana Yuliana, menegaskan komitmen tinggi negara tersebut. Ia menambahkan bahwa prioritas ini telah menjadi fokus utama sejak era pemerintahan revolusioner di bawah Fidel Castro. Tujuannya membangun literasi masyarakat secara menyeluruh. Angka buta huruf di Kuba disebut-sebut mendekati nol persen, sebuah pencapaian luar biasa.
Parlemen Tanpa Gaji dan Keterwakilan Perempuan Tinggi
Fakta unik lain yang diungkap oleh Nana Yuliana adalah sistem penggajian anggota parlemen Kuba. Anggota legislatif di negara ini tidak menerima gaji khusus. Gaji mereka berasal dari profesi utama di luar parlemen.
“Anggota DPR nya tidak di gaji, mereka digaji dari profesinya masing-masing,” terang Nana. Sebagian besar anggota parlemen berasal dari berbagai kalangan profesional dan masyarakat.
Meskipun menganut sistem satu partai, kebebasan beragama tetap dijamin. Konstitusi Kuba tahun 2019 menjamin hak warga negara untuk memeluk agama, serta jaminan pekerjaan dan kehidupan sosial.
Menariknya, Kuba juga menonjol dengan tingkat keterwakilan perempuan yang sangat tinggi di parlemen. Nana Yuliana mengungkapkan bahwa 52 persen anggota parlemen Kuba adalah perempuan. Angka ini jauh melampaui target kuota keterwakilan perempuan 30 persen, yang masih diupayakan banyak negara lain.
Vaksin Covid-19 Buatan Sendiri
Pada masa pandemi Covid-19, Kuba menarik perhatian dunia. Mereka mampu mengembangkan dan memproduksi vaksin Covid-19 sendiri untuk rakyatnya. Bahkan, vaksin Covid buatan Kuba ini juga didistribusikan ke sejumlah negara lain.
“Waktu itu mereka ditawari vaksin dari luar seperti Sinovac dan Pfizer. Namun, mereka memilih menggunakan vaksin produksi sendiri,” jelas Nana.
Ini menunjukkan kemandirian ilmiah dan medis negara tersebut. Kemampuan ini menjadi bukti nyata investasi Kuba dalam sektor riset dan kesehatan yang telah lama berjalan.









