JABARMEDIA – Sultan Hassanal Bolkiah dari Brunei Darussalam secara resmi mencabut gelar kerajaan atas menantu perempuannya, Pengiran Raabi’atul Adawiyyah Pengiran Haji Bolkiah. Keputusan ini dikeluarkan pada Sabtu (8/8) lalu, menyusul perilaku yang dinilai tidak pantas dan mencoreng nama baik institusi kerajaan.
Pengiran Raabi’atul Adawiyyah merupakan istri dari Pangeran ‘Abdul Malik Hassanal Bolkiah. Pencabutan gelar ini diumumkan secara resmi oleh Kantor Kepala Protokol Kerajaan (Grand Chamberlain), menandakan sebuah langkah serius dari istana Brunei.
Penjabat Kepala Protokol Kerajaan, Pengiran Haji Raffizanna Pengiran Haji Razali. Mengonfirmasi bahwa keputusan ini merupakan titah kerajaan yang dikeluarkan langsung oleh Sultan.
“Pencabutan gelar ini adalah titah kerajaan yang telah dikeluarkan oleh Sultan dan Yang Di-Pertuan Negara Brunei Darussalam,” ujar Pengiran Haji Raffizanna, seperti dilansir dari laporan RTB News.
Laporan tersebut lebih lanjut menjelaskan bahwa pencabutan gelar dilakukan karena perilaku Pengiran Raabi’atul Adawiyyah dinilai tidak sesuai dengan standar etika dan moral yang diharapkan dari seorang anggota keluarga kerajaan. Tindakannya dianggap telah mencoreng reputasi institusi kerajaan dan menunjukkan kurangnya rasa hormat terhadap Sultan Hassanal Bolkiah sebagai kepala negara dan pemimpin monarki.
Meskipun demikian, pihak Kantor Kepala Protokol Kerajaan tidak merinci secara spesifik perilaku apa yang dimaksud. Informasi lebih lanjut mengenai insiden yang memicu keputusan drastis ini juga tidak diberikan kepada publik, menjaga privasi internal keluarga kerajaan.
Implikasi Pencabutan Gelar Kerajaan
Pencabutan gelar kerajaan merupakan tindakan yang sangat jarang terjadi dalam sejarah monarki Brunei, menunjukkan betapa seriusnya pelanggaran yang dilakukan. Langkah ini menegaskan otoritas absolut Sultan dalam menjaga martabat dan integritas keluarga kerajaan serta institusi monarki.
Keputusan ini juga menjadi pengingat akan standar perilaku tinggi yang diharapkan dari setiap individu yang terafiliasi dengan istana. Keluarga kerajaan di Brunei memegang peranan penting dalam struktur sosial dan politik negara. Sehingga setiap tindak-tanduk anggotanya selalu menjadi sorotan dan harus mencerminkan nilai-nilai luhur.







