web analytics

Bule di Pulau Cubadak Usir Pengunjung Warga Indonesia, Kok Berani?

21 October 2014   3 views

buleSebuah video dokumenter berjudul Onde Mandeh memperlihatkan keindahan dan ironi. Ketika videografer dan fotografer berserta rombongan Joy Sailing 2014 yang berkunjung ke Pulau Cubadak tersebut sehari sebelum acara seremonial, mendapat perlakuan tidak menyenangkan.

Mereka, bule pengelola, seperti menjadikan pulau tersebut terlarang. Terlarang bagi warga Indonesia yang ingin berkunjung ke lokasi.

Salah seorang bule pengelola yang sempat melarang pengunjung yang membawa kamera untuk mengabadikan keindahan lokasi tersebut.

“Hei, jangan foto-foto begitu. Minta izin dulu,” kata ‘bule’ tersebut.

Pulau tersebut terletak di Pesisir Selatan, Sumatera barat. Rencananya pulau tersebut dicanangkan menjadi saingan Raja Ampat di Papua.

Dalam video yang diproduksi Watchdoc Documentary Maker yang telah diupload di You Tube 16 September 2014, itu  terlihat si bule mengusir pengunjung pulau tersebut.

Menurut keterangan warga mandeh, Darpius yang ikut bersama rombongan tersebut, pengelola pulau itu warga negara Italia. Selain melarang mengambil gambar foto, seorang ‘bule’ lainnya juga melarang mengambil gambar video sebelum dia mengusir rombongan dari area itu.

“Saya tidak setuju, tidak. Pergi sekarang,” ujar si bule.

Ini link video tersebut:

 

(republika)

Tidak Diperhatikan Pemerintah, 10 Desa di Kaltim Akan Bergabung dengan Malaysia

18 October 2014   14 views

malaysiaSepuluh desa di Kecamatan Long Apari, Mahakam Ulu, Kalimantan Timur (Kaltim), mengancam akan bergabung dengan negara Malaysia. Pasalnya, sepuluh desa yang berbatasan langsung dengan Serawak, Malaysia, itu merasa dikucilkan oleh Pemerintah Provinsi Kaltim maupun pemerintah pusat.

Dikatakan Batoq Laga, Kepala Desa Long Penaneh I, Long Apari, masyarakat Long Apari tidak pernah mendapat keadilan dari Pemerintah Indonesia sehingga dalam waktu dekat pihaknya akan memasang bendera Malaysia di Kecamatan Long Apari.

“Kami akan memasang bendera Malaysia jika kami terus dikucilkan oleh Pemerintah Indonesia. Kami tidak pernah diperhatikan oleh Pemerintah Indonesia. Jangankan insfratruktur, (untuk) komunikasi saja kami tidak bisa. Kami punya HP, tapi gunanya hanya untuk pamer dan mendengar lagu,” kata dia, (17/10/2014).

Batoq menjelaskan, perekonomian di Long Apari tidak berputar. Batoq juga mengeluhkan masalah bahan pangan di Long Apari. Menurut dia, satu karung beras seberat 25 kg dibanderol seharga Rp 600.000.

“Beras sudah Rp 600.000, bensin sudah Rp 25.000. Semua serba mahal. Semua karena infrastruktur yang menghambat perekonomian kami,” ujarnya. Karena keterbatasan itu, semua kepala desa di Kecamatan Long Apari berulang kali meminta keadilan dari pemerintah, tidak hanya Pemerintah Provinsi Kaltim, tetapi juga Pemerintah Indonesia.

“Kami sudah ke mana-mana, mulai dari pembicaraan dengan Pemprov Kaltim hingga ke pemerintah pusat. Tapi, hasilnya nihil. Kami masih saja dikucilkan,” ketusnya. Karena itu, kata dia, jika Pemerintah Indonesia tidak memberi keadilan dan kesejahteraan, dipastikan 10 desa di Kecamatan Long Apari akan memasang bendera Malaysia.

“Terutama di salah satu tower yang dibangun pemerintah, ada tower, tapi tidak ada fungsinya. Tower telekomunikasi dibangun sejak 2012. Tapi, hingga sekarang, HP kami tidak bisa dipakai menelepon. Jika kami bergabung dengan Malaysia, pasti bukan hanya telekomunikasi yang akan dipasang, melainkan juga infrastruktur pun akan lancar, selancar perekonomian Malaysia,” pungkasnya.

(Kompas)

Kecelakaan Beruntun Hancurkan Dua Mobil dan Dua Motor di Siliwangi

16 October 2014   3 views

Kecelakaan beruntun terjadi di Jalan Siliwangi, Depok, Kamis (16/10/14) sekitar pukul 12.00 WIB. Kecelakaan terjadi antara mobil Suzuki Splash

B 1648 EKM, mobil Toyota Rush Silver, dan dua unit motor Yamaha Mio.

Saat kejadian terjadi kondisi arus lalu lintas tengah dalam posisi ramai lancar. Tiba – tiba saja Dewi, pengemudi mobil Splash ditabrak kencang dari dari arah belakang.

Dua sepeda motor diduga sedang menyalip ikut terserempet. Dua pengendara motor luka – luka dan dilarikan ke RS Hermina Depok.

“Saya menyetir biasa saja, tiba – tiba dari belakang mobil saya ditabrak hingga mobil saya rusak,” tutur Dewi di lokasi, Kamis (16/10/14).

Dewi yang merupakan warga Depok Timur tersebut berkendara dari arah Terminaal Depok menuju rumahnya. Dewi melaju dalam kecepata standar.

Kondisi mobil Dewi rusak parah hingga bagian belakang mobil penyok dengan kaca pecah. Polisi pun sudah datang ke lokasi kejadian.
(depoknews.com)

Belasan Motor Berknalpot Bising Terjaring Razia di Bogor

16 October 2014   6 views

motord

motord Razia kendaraan digelar di Jalan Raya Pajajaran Kota Bogor. Belasan motor berknalpot bising diamankan. Pemotor mengaku tidak tahu jika knalpot jenis tersebut dilarang.

“Sudah 2 bulan pakai (knalpot bising), tidak pernah terjaring razia,” kata Robi, pemotor yang terjaring razia, Kamis (16/10/2014).

Apakah dia setuju knalpot bising dilarang? “Ya setuju saja, tapi kita kan nggak tahu kalau di sini (Bogor) dilarang,” kata warga Cilendek Bogor Barat ini.

Razia digelar selama 2 jam. Sebanyak 15 motor diamankan. Tak hanya motor berknalpot bising yang diamankan, tapi juga pemotor yang tidak memiliki surat-surat kendaraan dan melanggar lalin. Termasuk beberapa pelajar yang tidak menggunakan helm dan berboncengan tiga.

“Ini instruksi dari Dirlantas Polda Jabar, bahwa di Kota Bogor dilarang menggunakan knalpot bising atau di luar standar,” kata Kanit Patroli Satlantas Polres Bogor Kota, Iptu Subandi.

Motor berknalpot bising ke Polresta Bogor. Pemilik diwajibkan membawa knalpot standar saat mengambil.

Selain melakukan razia, Satlantas Polres Bogor Kota yang bekerjasama dengan Dinas Perhubungan Kota Bogor, Dinas Lalulintas dan Angkuta Jalan (DLLAJ) Kota Bogor juga melakukan uji emisi terhadap kendaraan roda empat yang melintas di lokasi. Uji emisi dilakukan untuk mengendalikan polusi udara di Kota Bogor.

(detik.com)

Gempa Bumi 5,1 SR Guncang Seram Barat, Maluku

16 October 2014   1 views

pulau seramGempa bumi berkekuatan 5,1 Skala Richter mengguncang wilayah perairan Maluku. Gempa tersebut tidak berpotensi tsunami.

Informasi dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebutkan, gempa terjadi pada pukul 01.32 WIB, Kamis (16/10/2014). Titik gempa itu berada pada kedalaman 10 km.

Lokasi gempa itu ada 44 kilometer Barat Laut Seram Bagian Barat, Maluku, atau sekitar 2.385 km di sebelah timur laut Jakarta. Posisinya berada pada 2,92 Lintang Selatan dan 128,05 Bujur Timur.

Belum diketahui apakah ada korban jiwa yang ditimbulkan dalam kejadian ini. Sekedar informasi, dua hari yang lalu, sebuah gempa dengan kekuatan yang hampir sama juga ada di lokasi yang hampir berdekatan.
(detik.com)

Perizinan bagi Pengusaha Kecil di Depok ‘Ribet’ dan Banyak Pungli

15 October 2014   1 views

UMKMProses perizinan bagi pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) di Kota Depok dinilai terlalu berbelit-belit dan penuh pungutan liar (pungli). Akibatnya, dari 1.000 pelaku UMKM di Depok, hanya sekitar 60 UMKM yang terdaftar di Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Depok.

“Proses yang berbelit-belit dan jadi ajang pungli membuat pelaku UMKM kesal dengan para pejabat di instansi terkait,” kata Ketua Asosiasi UMKM Kota Depok, Iwan Agustian, Selasa (14/10).

Iwan mencontohkan saat dia mengurus izin domisili usaha mulai dari tingkat RT sampai kelurahan dan kecamatan. Sejumlah oknum pejabat meminta berbagai retribusi ilegal. “Totalnya bisa habis Rp 500.000 untuk izin domisili usaha. Belum lagi pengurusan selanjutnya ke Disperindag,” kata dia.

Menurutnya, kondisi ini membuat para pelaku UMKM enggan mengurus perizinan resmi sehingga memilih mandiri dengan membuka usaha tanpa izin. Karenanya, Iwan meminta Pemkot Depok mempermudah proses perizinan usaha bagi UMKM dengan lewat pengurusan izin satu atap.

“Jika proses perizinan usaha lebih mudah, dipastikan jumlah UMKM yang terdaftar di Depok semakin banyak, dan bisa membantu memberi masukan kas daerah, dengan pajak usahanya,” tuturnya.

Ia mengatakan, anggota Asosiasi UMKM Kota Depok mencapai 500 lebih. “Belum lagi pelaku usaha yang tidak terdaftar yang diperkirakan mencapai 1.000 lebih,” imbuhnya. Menurut Iwan, berbelitnya proses perizinan UMKM ini akibat penerbitan Perda Kota Depok Nomor 17/2011 tentang Izin Gangguan dan Retribusi Izin Gangguan.

Perda itu menyebutkan setiap pelaku usaha dianggap berpotensi memberikan gangguan ke wilayah domisili sehingga membutuhkan izin gangguan usaha dan memerlukan retribusi tertentu. “Perda ini cukup mengganggu para pelaku usaha kecil. Sebab, dengan Perda, izin jadi ribet dan belum apa-apa sudah harus memberikan retribusi,” pungkasnya.
(depoklik.com)

Proyek Tanggul Raksasa Bakal Gusur Ribuan Warga

11 October 2014   1 views

tanggulRibuan warga yang bermukim di pesisir pantai utara Jakarta bakal tergusur. Menyusul rencana Pemprov DKI dan pemerintah pusat membangun tanggul raksasa bertajuk National Capital Integrated Coastal Development (NCICD).

Walikota Jakarta Utara, Heru Budi Hartono mengatakan, warga yang bermukim di pesisir pantai Jakarta tersebut sebagian besar berasal dari Cirebon. “Warga termasuk yang ada di tambak-tambak kami harus fasilitasi (relokas) termasuk di dekat tembok Samudra Indonesia itu juga ada. Lokasi itu sebenarnya tidak layak jadi tempat huni. Tinggal di atas laut begitu,” kata Heru, kemarin.

Pihaknya saat ini tengah mendata jumlah warga yang akan direlokasi. Selain itu juga melihat ketersediaan hunian yakni rumah susun sederhana sewa (rusunawa). Dirinya memperkirakan jumlah rusunawa yang ada di Jakarta tidak mencukupi dengan banyaknya warga. “Kalau tunggu rusun kan lama. Makanya kami harus pikirkan. Menkoperekonomian harus bantu pikirkan itu juga dong,” ucapnya.

Dikatakan Heru, pihaknya hanya akan mengakomodir bagi warga yang memiliki KTP DKI. Sementara untuk yang ber-KTP luar DKI akan diserahkan kepada pemerintah pusat. “Kalau itu warganya tidak ber-KTP DKI, pemerintah pusat bantu. Kebanyakan juga tidak ber-KTP DKI. Ini mesti dipikirkan pemerintah pusat juga,” katanya..

Menurut Heru, warga yang bermukim di lokasi tersebut pernah ditertibkan pada tahun 2009-2010. Namun warga kembali menempati lahan tersebut karena daya tariknya bagi nelayan. “Saya sudah pernah tertibkan itu. Tapi muncul lagi karena mereka kan nelayan. Tinggal di situ, kerja juga di deket situ. Ya itu kebutuhan hakiki,” pungkasnya.

(poskota)

9 Orang, Satu Keluarga Melawan Maut Dengan Sebilah Papan Kayu

10 October 2014   1 views

tenggelamSungguh memilukan kisah perjuangan Hamdan (30), warga Dusun Talango Tengah, Desa Brakas, Kecamatan Raas, Sumenep.

Setelah Perahu layar motor (PLM) Jabal Nur yang ditumpangi rombongan penganten tenggelam, Hamdan bersama 9 orang keluarganya berjuang melawan maut dengan berpegang pada sebuah papan kayu ukuran 4 m x 30 cm.

Berkat pecahan perahu itu, Hamdan orang terkhir yang mengabarkan perahunya akan tenggelam, selamat hingga ke daratan bersama 9 orang anggota keluarganya berkat pertolongan nelayan tradisional.

Meski tidak semua anggota keluarganya hidup karena meninggal di tengah laut.  Namun keluarganya tetap terkumpul dalam satu papan termasuk yang meninggal sekalipun.

“Alhamdulillah kami tetap bersama hingga sampai ke daratan  berkat pertolongan papan kayu dan nelayan, ini sebuah anugerah bagi kami,” kata Hamdan (30), korban selamat, Kamis (9/10/2014) sambil terisak.

Dikatakan, dalam perjalanan perjuangannya menantang maut bersama 9 orang keluarganya, Hamdan bersepakat tidak akan melepaskan satu orangpun anggota keluarganya.

Sehingga meski dalam perjalanannya selama tiga hari dua malam di tengah laut, 4 orang anggota keluarganya meninggal, namun mayatnya tetap dipegang hingga ada perahu yang menolong.

Satu persatu anggota keluarga Hamdan mulai berguguran, karena tidak tahan dengan cuaca  laut yang sangat dingin pada malam hari, selain mereka kepayahan karena hanya berpegang pada papan kayu ukuran 4m x 30cm.

Gugurnya keluarga Hamdan dimulai dari Siyatun, yang meninggal pada Senin malam, Hj Asma meninggal pada Selasa pagi, Elok  anak Hamdan meninggal pada Selasa malam, dan Asy’ari  yang meninggal pada Rabu pukul 10.00 Wib, sedangkan 5 anggota keluarga lainnya termasuk dirinya selamat hingga sampai ke daratan.

Disinggung kronologis tenggelamnya PLM Jabal Nur, Hamdan kembali terisak, setelah ia menceritakan awal hingga tengelamnya kapal pengangkut penganten itu.

Menurutnya, saat perahu yang ditumpangi masuk perairan Bali, mesin PLM Jabal Nur mati dan baling-balingnya pecah. Sementara kondisi gelombang diperairan tersebut sangat besar dan anginya sangat kencang.

Karena terus-terus menerus perahunya dihantam ombak, akhirnya perahu tersebut bocor hingga banyak air yang masuk ke dalam kapal.

Sementara pompa air yang ada diperau tersebur tidak dinyalakan, sehingga penumpang bergotong-royong menguras air laut yang masuk ke dalam perahu.

Namun karena air yang masukn cukup banyak, penumpang tidak mampu menguras air dalam perahu, dan perahu tersebut semakin lama semakin ke bawah.

Selanjutnya Hamdan menghubungi temannya di Raas dan mengabarkan jika perahunya akan tenggelam.

Waktu kami kontak ke Raas posisi perahu kami sudah di perairan Banyuwangi, karena saking kencangnya angin waktu itu,” bebernya.

Setelah perahunya semakin lama semakin tenggelam, ia berusaha mencari anggota keluarganya, dan mengambil sebilah kayu papan dalam perahu untuk dijadikan pegangan.
“ Ya Alhamdulilla kami sekeluarga  bisa sampai kedaratan, meski tidak semuanya hidup,” mengakhiri pembicaraannya.

Nama-nama anggota keluarga Hamdan yang berjuang melawan maut dengan sebilah papan adalah:

1-      Lutfiyana

2-      Hamdan

3-      Raqil

4-      H. Munif

5-      Hosmaini

6-      Siyatun (meninggal pada malam Selasa)

7-      Hj. Asma (meninggal pada Selasa pagi)

8-      Elok (meninggal pada malam Rabu)

9-      Asy’ari (meninggal pada Rabu pukul 10.00 Wib)

(tribunnews)

Hakim Bansos Terancam 20 Tahun Penjara

8 October 2014   2 views

hakimHakim terdakwa kasus suap bantuan sosial (bansos) Kota Bandung tahun 2009-2010, Ramlan Comel mulai disidang di Pengadilan Tipikor Bandung, Jln. L.L.R.E. Martadinata, Selasa (7/10). Selain Comel, ikut disidang juga Pasti Serefina Sinaga.

Comel merupakan mantan hakim ad hoc di Pengadilan Negeri Bandung, dan Pasti adalah mantan hakim di Pengadilan Tinggi Jabar. Sidang dipimpin oleh majelis hakim Barita Lumban Gaol, Basari Budi, dan Djoko Indiarto.

Sidang berlangsung di ruang sidang I Pengadilan Tipikor. Ruang sidang dipadati oleh pengunjung, yang sebagian besar keluarga terdakwa. Sementara di luar area pengadilan, sejumlah orang dari Gerakan Ganyang Mafia Hukum (GGMH) melakukan aksi unjuk rasa menuntut hakim memberikan hukuman setinggi-tingginya kepada kedua terdakwa.

Sidang tersebut dibagi ke dalam dua sesi. Sesi pertama yaitu sidang untuk terdakwa Ramlan Comel. Pembacaan dakwaan dilakukan secara bergiliran oleh jaksa penuntut umum (JPU) dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang diketuai Dzakiyul Fikri.

Dalam surat dakwaan, Dzakiyul menyatakan, terdakwa Ramlan Comel diancam pidana dalam pasal 12 huruf c Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) jo pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHPidana jo pasal 64 ayat 1 KUHPidana. “Ancaman hukumannya maksimal 20 tahun penjara dan denda Rp 1 miliar,” tuturnya.

Setelah jaksa selesai membacakan dakwaannya, hakim menanyakan apakah terdakwa paham terhadap dakwaan. “Paham Yang Mulia,” jawab Ramlan.

Ketua Majelis Hakim, Barita Lumban Gaol kemudian menanyakan apakah terdakwa akan mengajukan eksepsi atau keberatan. Ramlan kemudian berkonsultasi dengan pengacaranya. “Kami tidak akan mengajukan eksepsi,” ujar pengacara Ramlan.

Dalam persidangan tersebut, Ramlan melalui penasihat hukumnya juga meminta kepada majelis hakim untuk mempertimbangkan usulannya terkait pelaksanaan sidang. Ia meminta agar sidang bisa digelar seminggu dua kali agar proses persidangan cepat rampung.

“Kami berharap hakim dapat mempertimbangkan sidang dilakukan satu minggu dua kali. Masalahnya kami ada di Riau. Tapi di sisi lain juga bisa memproses percepatan persidangan,” ujar penasihat hukum Ramlan.

Atas permintaan penasihat hukum, majelis hakim menanyakan kesiapan JPU. “Kami belum siap minggu depan (sidang digelar seminggu dua kali). Tapi untuk ke depannya kami bisa,” ujar salah seorang JPU KPK.

Ketua Majelis Hakim, Barita Lumban Gaol kemudian menutup sidang dan atas kesepakatan kedua pihak, sidang akan dilanjutkan pada 14 Oktober mendatang. Agenda sidang mendatang yaitu mendengar keterangan saksi dari jaksa KPK.

Dipecat

Ramlan Comel ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK pada 4 Maret 2014. Sehari setelah ditetapkan sebagai tersangka, ia mengundurkan diri sebagai hakim ad hoc di PN Bandung dan melayangkan surat kepada Mahkamah Agung (MA).

Isi surat pengunduran diri antara lain menyatakan bantahan Ramlan soal keterlibatannya dalam kasus suap hakim yang menangani perkara bansos Kota Bandung. Salah satu poin, Ramlan menyebut dirinya berdasarkan putusan Pengadilan Tipikor Bandung No. 087/Pidsus/TPK/2013/ Pn.Bdg atas nama Setyabudi Tedjocahyono, terbukti tidak terkait kasus korupsi/suap.

Ia juga menyebut soal pembagian uang oleh Setyabudi Tedjocahyono tidak berdasar dan tidak mengandung kebenaran. Sehingga dianggap tidak melanggar kode etik dan pedoman perilaku hakim (PPH). Akan tetapi di satu poin lain, Ramlan mengakui, atas ketidaktahuannya, pernah ke tempat karaoke atas ajakan pimpinan Setyabudi Tedjocahyono.

Beberapa hari kemudian, Ramlan pun diberhentikan tidak dengan hormat sebagai hakim. Selain itu, jabatannya sebagai hakim ad hoc tindak pidana korupsi di PN Bandung pun ikut dicopot. Ia dinilai telah melakukan pelanggaran disiplin berat karena menerima sejumlah uang dan fasilitas dari Toto Hutagalung, orang yang terkait dengan kasus bansos Pemkot Bandung yang sedang disidangkan.

Putusan pemecatan Ramlan itu dibacakan oleh Ketua Sidang Majelis Kehormatan Hakim (MKH), Artidjo Alkostar.

Keberatan

Sementara itu, setelah sidang terhadap Ramlan Comel selesai, Majelis Hakim Pengadilan Tipikor Bandung melanjutkan sidang dengan terdakwa Pasti Serefina Sinaga. Mantan hakim di Pengadilan Tinggi Jabar itu juga terseret kasus suap majelis hakim bansos Kota Bandung tahun anggaran 2009-2010.

Dakwaan terhadap Pasti disampaikan oleh JPU dari KPK. Sama halnya dengan Ramlan Comel, Pasti juga didakwa dengan pasal 12 huruf c Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) jo pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHPidana jo pasal 64 ayat 1 KUHPidana.

Atas dakwaan jaksa, Ketua Majelis Hakim, Barita Lumban Gaol kemudian menanyakan kepada terdakwa apakah akan mengajukan eksepsi (keberatan) atau tidak. Terdakwa kemudian berkonsultasi dengan penasihat hukumnya dan memilih untuk mengajukan eksepsi.

Penasihat hukum Pasti Sinaga secara bergantian membacakan nota keberatannya atas dakwaan yang disampaikan jaksa. Penasihat hukum meminta majelis hakim menjatuhkan putusan sela. Yaitu menerima dan mengabulkan nota keberatan, menilai dakwaan JPU rancu, tidak cermat dan kabur, batal demi hukum atau setidak-tidaknya surat dakwaan JPU tidak dapat diterima.

Penasihat hukum juga meminta majelis hakim memerintahkan JPU KPK untuk membebaskan terdakwa dari tahanan Lapas Wanita Sukamiskin setelah putusan diucapkan. Selain itu, juga meminta agar majelis memulihkan harkat martabat dan nama baik Pasti Sinaga dan membebankan biaya perkara kepada negara.

Atas nota keberatan itu, majelis hakim mempersilakan kepada JPU untuk menanggapinya. JPU menyatakan kesiapannya memberikan tanggapan pada sidang yang akan digelar 14 Oktober mendatang.

Nama Ramlan Comel dan Pasti Sinaga disebut-sebut dalam sidang perkara suap majelis hakim bansos Kota Bandung. Perkara itu juga menyeret nama Wakil Ketua PN Bandung, Setyabudi Tedjocahyono yang kini sudah menjadi terpidana. Kasus itu juga menyeret nama mantan Wali Kota Bandung Dada Rosada dan mantan Sekda Kota Bandung Edi Siswadi. Setelah beberapa kali pemeriksaan, KPK akhirnya menetapkan Ramlan dan Pasti sebagai tersangka.

(galamedia)

Ke Cianjur-Sukabumi dengan Ular Besi

7 October 2014   3 views

sukabumi 1mencari lokasi wisata alternatif? Rute kereta Bogor-Sukabumi-Cianjur dapat menjadi pilihan. Apalagi, jika sudah sering ke rute Puncak, Bandung, dan kawasan barat Pulau Jawa. Kawasan Cianjur-Sukabumi ternyata menawarkan petualangan yang berbeda dan mengesankan.

Kami mencoba merasakan perjalanan itu dari Stasiun Paledang di Kota Bogor, akhir September lalu. Ada tiga jadwal keberangkatan kereta dari stasiun itu ke Cianjur dan dua keberangkatan ke Sukabumi. Kami memilih jadwal keberangkatan pukul 07.55 agar dapat menikmati suasana pagi lewat jendela kereta. Setiap keberangkatan kereta tersedia beragam tiket, mulai dari kelas ekonomi Rp 40.000 per orang sampai kelas eksekutif Rp 85.000 per orang.

Pagi itu, suasana Stasiun Paledang yang terletak di sisi selatan Stasiun Bogor tidak terlalu ramai. Kami menunggu di salah satu kedai makan sambil menikmati ketupat sayur dan kopi panas. Di kedai-kedai itu juga tersedia sajian masakan khas Bogor, suasana dan tempat yang pas untuk memulai petualangan kecil.

Kereta Pangrango yang kami tumpangi sudah siap berangkat dari stasiun sebelum pukul 07.55. Penumpang mulai bersiap masuk ke dalam gerbong. Sementara pramugari melempar senyum kepada penumpang yang akan memasuki gerbong. Kami bertiga memilih gerbong eksekutif rangkaian depan kereta setelah lokomotif.

Keramahan itu terasa menyejukkan, sesejuk ruangan dalam gerbong eksekutif dengan kursi empuk. Perjalanan ke Cianjur melintasi 14 stasiun dimulai. Sebenarnya pagi itu kami bertiga mengantuk karena harus berangkat sebelum subuh dari rumah masing-masing. Namun, kantuk itu serasa lenyap karena pemandangan di luar jendela kereta begitu menarik.

Kami memperhatikan setiap tempat yang dilewati dari jendela kanan dan kiri gerbong. Tidak lama setelah meninggalkan Stasiun Paledang, kami melihat punggung gunung-gunung dari jendela kereta. Setelah Stasiun Batu Tulis, Bogor, kami masih bisa menikmati aktivitas petani di ladang persawahan yang menghijau.

Saat berada di punggung gunung di sisi kanan jendela kereta terlihat Gunung Salak (2.211 meter di atas permukaan laut/mdpl) dan Gunung Halimun (1.929 mdpl). Sementara di sisi kiri jendela kereta berdiri kokoh Gunung Gede (2.958 mdpl) dan Gunung Prangrango (3.019 mdpl).

Asyik juga menikmati perjalanan melintasi pegunungan. Namun, sayangnya, akses transportasi ke wilayah ini terbatas. Lamunan penulis terhenti ketika kereta melintasi sisi sekolah dasar di wilayah Sukabumi.

Terowongan Lampegan

Ada ruas penting yang layak diulas di jalur Bogor-Sukabumi-Cianjur, yaitu terowongan Lampegan. Terowongan ini dari arah Bogor berada sebelum Stasiun Lampegan. Terowongan masuk ke perut sebuah bukit di Desa Cibokor, Cianjur, Jawa Barat. Lantaran longsor di terowongan inilah jalur kereta Bogor-Cianjur tidak dapat dibuka
sukabumi 2
Masuk terowongan dengan menggunakan kereta itu sesuatu banget, meminjam ungkapan seorang pesohor. Pengalaman ini bagaikan di film-film fiksi yang sering kami lihat. Adegan yang biasanya kami lihat di film sebentar lagi kami alami. Beberapa saat ketika gerbong kereta memasuki terowongan sepanjang pemandangan di luar jendela menjadi gelap. Walau gelap, tetap saja, kami penasaran mengintip dari balik jendela, tetap saja gelap.

Sesaat kemudian, jendela kembali terang setelah melintasi terowongan sepanjang 415 meter. Terowongan ini sebelumnya lebih panjang, yakni 686 meter. Namun, karena longsor akibat peristiwa tektonik, panjang terowongan terpotong. Terowongan yang dibangun tahun 1882 itu menjadi terowongan kereta tertua di Indonesia.

Masih tentang Lampegan, stasiun tidak jauh dari lokasi situs megalitikum Gunung Padang yang sedang ramai dibicarakan orang. Lokasi Gunung Padang paling tidak sekitar 3 kilometer dari Stasiun Lampegan melewati perkebunan teh.

Menurut Aditya, pemerhati sejarah kereta Indonesia, jalur Sukabumi-Cianjur merupakan bagian jalur utama kereta yang menghubungkan Bogor-Bandung. Jalur ini dibangun tahun 1883-1884 oleh perusahaan kereta Pemerintah Hindia Belanda Staatspoorwagen. Jalur ini menjadi jantung distribusi mengangkut hasil bumi teh, kopi, dan kina ke pelabuhan di Batavia. Jalur ini menjadi jalur utama kereta dari Jakarta-Bogor-Bandung sebelum jalur Cikampek selesai dibangun tahun 1906.

Ditutup bertahun-tahun

Jalur kereta Bogor-Sukabumi-Cianjur pernah tutup selama bertahun-tahun. Lantaran banyaknya permintaan warga, November 2013 PT Kereta Api Indonesia membuka jalur Bogor-Sukabumi. Tiga bulan kemudian, tepatnya Februari 2014, jalur Sukabumi-Cianjur dibuka untuk umum. Rute ini sangat membantu mengurai macet di jalur Ciawi-Sukabumi yang padat dan buruk kondisi jalannya. Pembukaan jalur kereta ini disambut positif warga yang selama ini hanya mengandalkan jalan raya

sukabumi 3

Sebagai warga Sukabumi, Winarto Suharli (31) senang jalur ini dibuka kembali. Perjalanan ke Sukabumi dari Bogor menjadi lebih cepat dan nyaman. Geliat perekonomian di dua daerah ini ikut bergairah. ”Saya merasakan sendiri, Kota Sukabumi semakin hidup. Hotel bertambah banyak, tempat nongkrong pun mulai banyak,” kata Winarto.

Tidak terasa perjalanan kami sudah berakhir di Stasiun Cianjur menjelang pukul 12.00. Udara hangat menyambut kedatangan kami di stasiun. Suasananya mengingatkan kami pada suasana desa di kampung halaman. Kini, saatnya menelusuri kekayaan kuliner.

(kompas)

Next Page »