Anti Mainstream, Siswa Ini Pilih Menunggang Kuda Untuk Berangkat Sekolah

27 April 2016

KUDABila pelajar pulang pergi dari sekolah menggunakan kendaraan umum atau roda dua, itu memang sudah jamak. Namun bila ada yang menggunakan kuda sebagai alat transportasi ke sekolah di tahun 2016 ini tentu akan membuat kita kaget sekaligus kagum.

Adalah Ulil Albab (14) seorang pelajar kelas IX SMP Islam Terpadu Jember, yang sehari-harinya lebih memilih menunggang kuda beneran, daripada ‘kuda besi’ untuk berangkat dan pulang dari tempatnya menuntut ilmu. Tanpa keraguan Ulil sudah dua tahun terakhir memilih untuk menunggang seekor kuda jantan ke sekolahnya.

“Sudah dua tahun ini ke sekolah dengan kuda,” kata Ulil seperti dikutip dari JPNN.

Alasan Ulil memilih naik kuda, adalah karena sejak kecil dia memang cinta dengan hewan yang dikenal pekerja keras tersebut. Kecintaan Ulil semakin bertambah, ketika akhirnya sang ayah membelikan seeokor kuda pada saat dia lulus dari SD. Sejak itu Ulil pun giat untuk belajar menunggang dan juga menjadi pawang kuda.

“Dari kecil saya memang hobi berkuda, kebetulan keluarga juga sangat mendukung,” jelasnya.

Setiap hari Ulil harus berangkat lebih pagi ke sekolah, karena sebelum berangkat ia harus menyiapkan sang kuda yangdinamai Satrio Pringgodani tersebut. Baik sepatu kuda, dan juga pelana harus dicek dahulu oleh Ulil sebelum berangkat. Ulil selalu menikmati perjalanannya ke sekolah yang berjarak 10 kilometer dari rumah. Untuk mencapai sekolah Ulil membutuhkan waktu sekitar 30 menit, lamannya waktu tempuh, karena kadang di tengah perjalanan Ulil memberikan kesempatan pada Satrio untuk beristirahat atau sekedar makan rumput dan minum.

Lingkungan sekolah rupannya juga sangat mendukung kecintaan Ulil kepada hewan berkaki empat tersebut. Terbukti pihak sekolah bahkan menyediakan lahan parkiran khusus bagi Satria, sehingga bisa bergerak bebas sembari Ulil menyelesaikan jam belajar di sekolah. Kepala Sekolah Abdul Qodir Muchit mengaku sangat mendukung apa yang dilakukan Ulil, karena menunjukkan rasa cinta kepada hewan, selain juga upaya yang baik dalam mengurangi polusi.

Sementara ayah Ulil, Saihu Abadai menyatakan bahwa menggunakan kuda sebagai alat transportasi merupakan bagian dari pendidikan ajaran Islam.

“Kita disunnahkan untuk menunggang kuda, memanah dan berenang sehingga bisa membentuk sikap dan mental anak menjadi lebih positif, daripada diberi kendaraan bermotor untuk berangkat ke sekolah. Selain berbahaya, usiannya belum cukup juga lebih boros,” jelas Saihu.

Nah kira-kira ada tidaknya yang mau meniru Ulil, dengan beraktifitas sehari-hari dengan menunggang kuda?

(suratkabar.co)

Dampak Trayek Baru Transjakarta, Pendapatan Sopir Angkutan Berkurang

27 April 2016

BUSWAY VS ANGKOTSejumlah pengusaha transportasi umum mengaku mengalami kerugian pendapatan pascaujicoba trayek baru Transjakarta di wilayah Bekasi.

“Pendapatan kami menurun hingga 50 persen dari biasanya akibat Transjakarta,” kata salah seorang sopir Bus Mayasari Bhakti, Edi, di Bekasi, Selasa (26/4/2016).

Kondisi serupa juga dialami beberapa sopir lainnya dari Angkutan Perbatasan Terintegrasi Busway (APTB) jalur 08 dan Mayasari Bhakti. “Situasi ini terjadi karena belum adanya ketetapan aturan dan solusi tepat sejak operasional Transjakarta,” ujar dia.

Edi mengatakan, mayoritas penumpang di Kecamatan Bekasi Timur dan Bekasi Barat lebih memilih naik bus Transjakarta ketimbang Mayasari Bhakti atau APTB jalur 08. Hal tersebut dikarenakan harga tiket yang relatif lebih murah dari yang ditawarkan sopir bus reguler.

“Harga tiket bus Transjakarta Rp3.500, sedangkan APTB dan Mayansari Bhakti Rp10.000 dengan rute yang sama,” tuturnya.

Menurut Edi, dalam sehari biasanya bisa membawa uang Rp130.000 per orang dengan jumlah setoran harian Rp1 juta. Namun, setelah adanya bus Transjakarta, pendapatan mereka berkurang hingga hanya mampu mengantongi uang Rp50.000 per hari.

Edy berharap, pihak Dinas Perhubungan Kota Bekasi lebih bijak dalam penanganan dan meminta untuk memikirkan nasib para sopir bus lainnya, serta tercipta suasana yang baik dan harmonis.

Sementara, Kepala Dinas Perhubungan Kota Bekasi, Yayan Yuliana, mengatakan, dalam uji coba yang dilakukan selama dua minggu ini, kehadiran Transjakarta hingga ke kota penyangga, bertujuan untuk mengurai kemacetan, serta sebagai moda transportasi aman dan ekonomis.

Setelah masa uji coba selesai, maka akan diadakan pengkajian ulang dengan pihak-pihak terkait, antara lain Dishub DKI, Kasat Lantas Kota Bekasi, dan Dirut Transjakarta, serta pihak Organda Jabar.

Jika semuanya sudah sepaham, maka akan diatur ulang untuk rute dan keseluruhannya, agar tidak terjadi salah paham, baik para sopir angkutan umum, atau pihak-pihak yang berkepentingan.

(Okezone)

Protes Pemotor Naik Trotoar, Bocah SD Ini Hadang Pakai Sepeda, Lihat Fotonya

19 April 2016

BOCAH TROTOARAksi seorang anak dari Kota Semarang, Jawa Tengah, menghebohkan media sosial.
Seperti Elanto Wijaya yang memberhentikan konvoi pengemudi motor gede (moge), anak ini memblokir seorang pengendara motor yang melaju di trotoar.
Anak tersebut bernama Daffa Faros Oktoviarto, siswa kelas IV SD Kalibanteng Kidul, Kota Semarang.
Daffa memalangkan sepeda miliknya di trotoar untuk menghadang laju pengendara sepeda motor yang melanggar itu.
Sang pengendara pun terlihat menghentikan kendaraannya.
Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi menyebut bocah tersebut pemberani. Tidak lupa, ia memberikan pujian kepada anak itu.
“Jos. Begini seharusnya. Mengingatkan satu sama lain, bukan begitu?” kata Hendi melalui akun Instagram-nya, @hendrarprihadi.

Komentar Hendi di Instagram ditanggapi banyak netizen.
Foto anak yang diunggah oleh Hendi pada Senin (18/4/2016) pagi itu menjadi viral di media sosial.
Hingga pukul 15.00 WIB, foto itu mendapat 1.332 like dan 56 komentar. Rata-rata netizen memberikan komentar positif dan memuji aksi anak itu.
“Mari beri apresiasi pada Daffa Faros Oktoviarto,” tulis Hendi.
Foto ini beredar dalam tiga hari belakangan, tepatnya mulai Jumat, 15 April 2016.
Foto pertama diunggah oleh Ronald Kusuma dalam akun Facebook miliknya.
Ia juga menyertakan komentar dalam posting-an itu.

“Ini keren banget anak kecil di Semarang, dia berantem sama pengendara sepeda motor yang naik ke trotoar saat terjadi kemacetan parah di Jalan Sudirman Kalibanteng SMG si anak tetap ga mau kasih jalan buat motor dan akhirnya setelah ribut2 kecil di pengendara motor akhirnya mundur,” tulis dia.

(Tribunnews)

Polisi: Nur Atikah Jalin Hubungan dengan Terduga Pelaku 2 Bulan

19 April 2016

pembunuh mutilasiPolisi masih menyelidiki motif pembunuhan Nur Atikah (33) yang diduga dilakukan oleh Kusmayadi alias Agus (31). Sejauh ini, polisi baru mengetahui hubungan korban dengan terduga pelaku.

“Korban punya hubungan dengan terduga pelaku, tinggal satu rumah tanpa ikatan suami-istri. Mereka sudah berhubungan lebih dari 2 bulan,” ujar Kasubdit Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya AKBP Herry Heryawan kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Jakarta, Senin (18/4/2016).

Herry mengatakan korban dan pelaku pernah bekerja di rumah makan Padang Gumaran, Cikupa. “Korban keluar dari tempat kerjanya pada Desember 2015 karena hamil, lalu pelaku masuk ke situ pada Januari 2016,” katanya.

Tetapi, sejak kapan korban dan pelaku menjalin hubungan belum diketahui secara pasti. Saksi kunci, Erwin yang diamankan karena membantu membawa potongan tubuh korban juga tidak tahu sejak kapan korban dan pelaku berhubungan.

“Temannya itu tidak tahu, tahunya sudah 2 bulan lebih mereka itu dekat,” ujar sumber.

(detik.com)

Jasad Nenek Tunawisma Tergeletak di Trotoar Jalan Raya Bogor

19 April 2016

jasad nenekJasad seorang nenek tampak tergeletak di trotoar Jalan Raya Bogor KM 27, Jakarta Timur. Saat ini jenazah dibawa aparat kepolisian ke Rumah Sakit Polri.

Menurut kontributor pasangmata.com Jamaludin Akmal yang berada di lokasi, Senin (18/4/2016) mayat nenek ditutupi dengan kain sarung. Polisi menduga nenek tersebut merupakan tunawisma.

“Kalau kata polisi nenek itu tunawisma. Kayaknya nenek itu sedang tiduran dialasi kardus di pinggir jalan,” terang Jamal.

Nenek itu ditemukan bersama seorang kakek yang diduga suaminya. “Ada kakek juga bersama nenek itu, tapi dia diam saja,” sambungnya.

Mayat nenek itu tergeletak di pinggir jalan sejak pukul 13.30 WIB. Pihak kepolisian baru mengevakuasinya sekitar pukul 16.00 WIB.

Belum diketahui penyebab meninggalnya nenek tersebut apa. Saat ini polisi masih memintai keterangan kakek yang bersamanya di Polsek Pasar Rebo.

(detik.com)

Di Tabanan, Buang Sampah Sembarangan Kena Denda Rp 50 Juta

13 April 2016

SAMPAH BALIPemerintah Kabupaten Tabanan menerbitkan perda yang mengatur masalah sampah sekaligus sanksi bagi pembuang sampah sembarangan.

Perda itu diterbitkan menyusul musibah banjir yang sempat menerpa beberapa wilayah di Tabanan karena drainase mampet akibat dipenuhi sampah.

Kepala Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP), Wayan Sugatra memaparkan, Perda mengenai sampah tersebut adalah Perda Nomor 6 tahun 2013 tentang Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga.

Menurut Sugatra, perda tersebut mencakup adanya sanksi.

“Sanksi tersebut adalah jika terbukti membuang sampah secara liar akan dikenakan hukuman kurungan tiga bulan atau denda sebesar-besarnya Rp 50 juta,” katanya, Selasa (12/4/2016).

Mengenai masyarakat yang membuang sampah di saluran pembuangan yang berlokasi di Desa Sesandan Tabanan, Sugatra mengakui daerah tersebut belum mendapatkan layanan pengangkutan sampah dari DKP.

Saat ini, layanan pengangkutan sampah baru menyasar daerah Tabanan, Kediri, Pasar Penebel, dan Pasar Baturiti.

“Dalam sehari sampah yang dihasilkan Tabanan rata-rata 200 meter kubik hingga 300 meter kubik, saat ini DKP memiliki 513 personel,” ujarnya.

(Kompas)

Kiai Pesantren Tebuireng Kritik Para Dai Hiburan

7 April 2016

KIAIPakar tafsir Pondok Pesantren Tebuireng, KH. Musta’in Syafi’I mengkritik para dai yang cenderung mengutamakan hiburan dari pada isi materi yang disampaikan dalam ceramahnya. Hal ini ia sampaikan lantaran saat ini banyak dai yang tidak bisa membaca kitab kuning, sebagai kitab klasik umat Islam.

“Di dunia dai saat ini terlalu dekat dengan intertain, dan sangat mudah jika hanya ingin menjadi ustaz-ustaz penceramah seperti itu,” kata dia saat dihubungi Republika.co.id, Rabu (6/2).

Kiai Musta’in mengatakan bahwa para dai tersebut hanya menyerap informasi secara instan, tidak melalui proses pencarian terhadap referensi Islam. Bahkan, kata dia, ada sebagian da’i yang sering tampil di televisi ternyata tidak bisa berbahasa Arab dengan baik. Ia mengaku pernah mendengarkan sendiri ceramah salah satu ustaz yang tidak mau disebut namanya tersebut.

“Mereka (para dai) hanya membaca kisah-kisah dari kitab-kitab yang sudah diterjemah dan tinggal mengolahnya,” ucap dia.

Ia menuturkan, sesungguhnya terkait keberadaan para dai instan tersebut sudah diingatkan oleh Rasulullah SAW, bahwa di akhir zaman akan banyak yang pandai pidato tapi sedikit ilmunya. Menurut dia, di zaman modern ini para dai yang lebih suka tampil, masih lebih banyak dari pada dai yang memang menekuni ilmu.

“Jadi, sudah ada peringatan. Makanya saya di Tebuireng ini termasuk yang paling menentang ada dai-dai cilik itu, karena justru tausiyah-tausiyahnya akan jadi merusak,” jelas dia.

Ia menambahkan bahwa kegiatan berdakwah dengan menjadi seorang dai tidak sama dengan prestasi-prestasi lainnnya. Menurut dia, berceramah itu tidak hanya melihat keterampilan dalam hal berceramah saja, tapi membawa misi untuk menasehati orang lan.

(Republika)

Jatuh saat Selfie, Pelajar SMA Jakarta Tewas Tenggelam di Curug Ngumpet Bogor

6 April 2016

curug ngumpetAgung Reynaldi (16), pelajar kelas 1 SMA asal Kelurahan Kapuk RT 08/08 , Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat, tewas tenggelam saat tengah berselfie di lokasi wisata Curug Ngumpet yang berada di kawasan wisata Gunung Salak Endah (GSE), Pamijahan, Kabupaten Bogor.

“Korban ditemukan tadi pagi, kondisinya sudah meninggal. Korban tenggelam sejak kemarin sore, ketika sedang berfoto-foto. Korban, pelajar kelas 1 SMA,” kata Kapolsek Cibungbulang, Kompol Roni Mardiatun saat dikonfirmasi, Rabu (6/4/2016).

Peristiwa tenggelamnya Agung, terjadi pada saat ia dan 8 temannya tengah berkunjung dan berenang di kubangan air terjun Curug Ngumpet. Agung dan teman-temannya sempat berfoto-foto bersama, Selasa (5/4/2016).

“Tapi kemudian, korban minta difoto sendirian di bawah air terjun. Korban berjalan mundur ke arah jatuhnya air terjun. Tapi kemudian korban malah tertarik, dan tenggelam ke bawah air air terjun” terang Kompol Roni.

Seorang rekan Agung bernama Muhammad Rifky Hidayat, yang berusaha menolong, juga sempat tertarik arus ke bawah jatuhnya air terjun. “Tapi kemudian (teman korban) berhasil diselamatkan teman-temannya yang lain. Tapi Agung sendiri tidak bisa diselamatkan. Dia tersedot arus dan tenggelam,” katanya.

Pihak kepolisian dan Tim SAR gabungan langsung melakukan pencarian di sekitar lokasi tenggelamnya Agung. Namun, Agung tidak juga ditemukan hingga malam hari. “Semalam pencarian dihentikan, karena gelap dan dikhawatirkan makin membahayakan. Nah korban ini akhirnya muncul ke permukaan tadi pagi. Langsung kita evakuasi,” kata Roni.

“Jenazahnya langsung dibawa ke rumah duka di Jakarta Barat,” tambahnya.

Menurut Roni, berdasarkan keterangan dari pihak Brimob Kedunghalang yang diikutsertakan dalam pencarian pagi tadi, ada semacam celukan yang ada di bawah air terjun. Diduga , Agung sempat tertahan di celukan tersebut sehingga tidak cepat muncul setelah ia terbawa arus.

“Air terjun Curug Ngumpet itu memang ada semacam kubangan. Airnya tidak mengalir ke sungai besar, makanya banyak pengunjung yang berenang di sekitar air terjun. Tapi ternyata, kata Tim SAR dari Brimob yang tadi pagi sempat datang, ada semacam celukan (cekungan) di bawah air terjun. Jadi itu yang membahayakan, kemungkinan korban tertarik dan tertahan di celukan di dasar air terjun itu,” terang Roni.

(detik.com)

Dishub DKI: Belum Ada Peningkatan Volume Kendaraan yang Signifikan

5 April 2016

penghapusan 3 in 1Uji coba penghapusan 3 in 1 tahap pertama mulai diberlakukan hari ini sampai 8 April 2016 mendatang. Dinas Perhubungan DKI Jakarta menyebut belum ada lonjakan volume kendaraan yang signifikan.

Hal tersebut disampaikan Kepala Bidang Manajemen dan Rekayasa Lalu Lintas Dinas Perhubungan dan Transportasi DKI Jakarta Priyanto saat ditemui di kawasan Jl Sudirman, Jakarta Pusat, Selasa (5/4/2016) sekitar pukul 08.00 WIB.

“Menurut pantauan kami disekitar titik Bundaran HI – Dukuh Atas tepatnya di titik Tosari dari arah selatan ke utara maupun utara ke selatan belum ada peningkatan signifikan setelah kurang lebih 30 menit diberlakukan,” ujar Priyanto. 3 in 1 sedianya diberlakukan pada pukul 07.00-10.00 WIB.

Menurut Priyanto, pihaknya akan melakukan analisa selama seminggu ke depan. Selain itu akan dilakukan survey penghitungan lalu lintas setelah uji coba penghapusan diberlakukan selama dua hari.

“Dari survey itu akan diketahui kinerja ruas jalan dan menjadi bahan evaluasi untuk ke depannya,” jelas Priyanto.

Pemantauan yang dilakukan akan ada dua jenis. Pertama bersifat statis yaitu mengamati di titik tertentu yang akan dilakukan oleh 92 petugas, sedangkan pantauan dinamis dilakukan secara mobile.

“Yang statis itu hanya berdiri saja, dari 19 lokasi ada 45 titik pantau dengan jumlah tenaga atau petugas 92 orang. Yang dinamis sifatnya mobile dimulai dari Jalan Merdeka Barat sampai Jalan Sisingamangaraja,” tutur Priyanto.

“Kita bagi jadi 10 segmen, setiap segmen ada 2 petugas yang mengamati secara dinamis. Jadi nanti hasil perhitungan survey lalu lintas dan pengamatan kami secara mobile itu nanti jadi bahan evaluasi kami,” terangnya.

(detik.com)

Longsor di Banjarnegara, 158 Orang Diungsikan

26 March 2016

longsorBencana longsor terjadi di Desa Clapar, Kecamatan Madukara, Banjarnegara, Jawa Tengah, pada Kamis (24/3) malam dan Jumat (25/3). Untuk menghindari adanya korban jiwa dalam bencana alam tersebut, 158 jiwa warga di wilayah yang terkena bencana diungsikan.

“Longsor pada pagi tadi menyebabkan 9 rumah rusak berat, 3 rumah rusak sedang, 2 rumah rusak ringan, dan 29 rumah terancam longsor susulan. Sebanyak 158 jiwa warga RT 3-5 RW 1 mengungsi ke SD 2 Clapar, Madukara,” ujar Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom, Jumat (25/3/2016).

Dia mengatakan wilayah di kabupaten Banjarnegara tersebut memang rawan longsor. Hal ini terjadi akibat kondisi geologi dan topografi secara alamiah memang mudah menyebabkan longsor.

“Longsor terjadi pada area yang cukup luas yaitu 5 hektar tanah bergerak sejauh 1,2 km. Tipe longsoran yang terjadi adalah longsoran merayap (soil creep) yang bergerak secara perlahan-lahan sehingga masyarakat dapat mengantisipasi melakukan evakuasi,” jelasnya.

Sebanyak 300 personel gabungan dari BPBD Kabupaten Banjarnegara bersama Kodim 0704 Banjarnegara, Polres Banjarnegara, Banser, PMI, Tagana, Bela Negara, dan relawan membantu evakuasi warga ke tempat yang aman. Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo, telah memerintahkan BPBD Provinsi Jawa Tengah dan BPBD terdekat seperti BPBD Kabupaten Wonosobo, Banyumas, Purbalingga dan Cilacap membantu evakuasi dan pemenuhan kebutuhan dasar bagi pengungsi.

“Kondisi terkini, tanah terus bergerak, dan hampir seharian hujan turun, listrik dimatikan dan akses jalan utama Kabupaten Banjarnegara Pagentan melalui Madukara terputus total. Daerah di sekitar longsor dikosongkan untuk mengantisipasi longsor susulan mengingat area longsor cukup luas. Dengan kondisi seperti itu sudah tidak layak untuk menjadi permukiman karena tanah sangat labil dan membahayakan,” kata dia.

Atas kondisi ini, masyarakat sekitar diimbau untuk terus meningkatkan kesiapsiagaan. Karena curah hujan berintensitas tinggi masih berpotensi terjadi di beberapa wilayah seperti Jawa, sebagian Sumatera bagian Selatan, Sulawesi dan Papua. Ancaman banjir, longsor dan puting beliung pun juga masih tinggi.

(detik.com)

Next Page »