Demam Akik, Sopir Angkot di Bogor ini Tempeli Mobilnya dengan Akik

13 April 2015

angkotakikDemam Akik, Sopir Angkot di Bogor ini Tempeli Mobilnya dengan Akik
Jakarta – Syarif (48), sopir Angkot 08 dengan trayek Citeureup-Ps Anyar Bogor ini boleh dibilang penggemar berat akik. Sudah sejak 10 tahun lalu dia hobi akan batu akik. Tak heran ketika booming akik datang dia ikut memeriahkannya.

“Saya tempelin saja ini Angkot pakai akik,” terang Syarif, Senin (13/4/2015).

Sudah setahun ini dia mengumpulkan aneka macam akik. Dia beli bahannya di dekat Setu Cibinong dan kemudian memolesnya di tukang poles dekat jembatan layang Cibinong. Satu bahan dia beli Rp 50 ribu dan dia poles satu bentuk jadi, baik cincin atau liontin Rp 20 ribu.

“Ya sudah setahun ini ngumpulin,” terang Syarif.

Cukup banyak respons yang datang dari penumpangnya. Ada yang mengajak berbincang soal akik sampai ada yang meminta akik itu.

“Saya cuma senyum saja kalau ada yang minta, saya bilang ini koleksi sudah lama,” urai dia.

Syarif sudah 20 tahun lebih menjadi sopir angkot. Dia pun mengaku bukan mencari sensasi menempeli angkotnya dengan akik. “Ini cuma buat senang-senang saja,” tutup dia.

(detik.com)

Ini Penyebab Bogor Dijuluki “Kota Sejuta Angkot”

4 April 2015

angkot bogorSudah menjadi rahasia publik, Bogor dijuluki “Kota Sejuta Angkot”. Kemacetan terjadi setiap hari, tidak hanya pada jam-jam sibuk, dan di lokasi strategis, melainkan setiap jam dan di seluruh sudut kota.

Jika Anda meelintasi Jl Pulo Empang menuju Jl Ir H Juanda untuk kemudian meneruskan rute ke Jl Kapten Muslihat, dan Jl Merdeka, atau pun terus lurus ke Jl Jalak Harupat, dan Jl Jend Sudirman, maka waktu yang bisa ditempuh bisa mencapai 45 menit hingga 1 jam. Padahal, jaraknya tak lebih dari lima kilometer hingga tujuh kilometer.
Demikian halnya dengan kawasan pusat bisnis baru di Jl Pajajaran hingga Jl Siliwangi, dan Jl Suryakencana, kecepatan kendaraan hanya bisa mencapai 10 kilometer per jam pada jam-jam sibuk dan akhir pekan.

Apa penyebab kemacetan? Selain jumlah angkot yang sudah mencapai 3.412 unit, kapasitas jalan tidak memadai, juga perilaku tidak disiplin dalam berkendara. Banyak supir angkot yang kerap kali “ngetem” di tepi jalan utama, dan tata kota yang buruk.

Tata kota yang buruk bisa dilihat dari terjadinya konversi fungsi kawasan dari sebelumnya hunian menjadi pusat komersial. Setelah Jl Padjadjaran yang kemudian “terpaksa” dijadikan sebagai pusat bisnis, gejala konversi besar-besaran kini merambah Jl Ahmad Yani, Jl Taman Kencana, Jl Taman Malabar, Jl Lodaya, dan sekitarnya.

Wakil Sekretaris Jenderal Urbanisme dan Liveable City Ikatan Ahli Perencanaan Elkana Catur mengatakan, masalah kemacetan, pedagang kaki lima (PKL), dan pasar tumpah, di Kota Bogor ini merupakan tantangan pemerintah kota untuk lebih menata kawasan secara komprehensif.

“Ini tentang bagaimana pemerintah kota mengatur flow atau aliran kota. Sebenarnya, angkot itu bisa diatur alirannya,” ujar Catur kepada Kompas.com, Kamis (2/4/2015).

Ia melanjutkan, mengatur aliran kota bisa dengan cara memastikan agar pasar tidak tumpah. Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor harus mampu juga untuk mengatur PKL. Pasalnya, pasar tumpah, dan PKL inilah yang menyebabkan supir angkot berhenti dan mencari penumpang sembarangan.

Supir angkot, menurut Catur, selalu berusaha mencari celah saat melihat adanya keramaian seperti pasar tumpah tersebut. Setelah pasar sudah teratur, tambah Catur, baru pemerintah secara fungsional mengatur angkot.

Artinya, pemkot harus membuat peraturan untuk angkot di mana boleh berhenti untuk mencari pnumpang. Kalau pemda bisa mengatur aliran, otomatis kota bergerak dengan sendirinya.

Selain mengatur pasar, Catur menambahkan, Bogor juga dihadapkan pada kebutuhan jalan layang. Meski begitu, membangun jalan layang di kota ini perlu pertimbangan khusus mengingat kondisi topografi, dan geografinya yang cukup menantang.

“Untuk membangun jalan layang, ada batasan-batasan geografis sehingga tidak bisa fleksibel,” kata Catur.

Aliran kendaraan dekat stasiun

Catur menjelaskan, kemacetan di Bogor bisa diatasi dengan menciptakan sarana transportasi yang terintegrasi. Dari segi akses kereta, Bogor memiliki dua stasiun yaitu Stasiun Bogor dan Cilebut.

“Saya melihat Stasiun Bogor, khususnya, sebagai potensi modal pemkot untuk membangun sistem terintegrasi antara kendaraan pribadi, angkot, dan kereta,” sebut Catur.

Pemerintah, tambah dia, harus memastikan aliran kereta antar-stasiun berjalan dengan lancar. Stasiun kereta, harus bisa disatukan dalam satu fungsi kawasan yang utuh. Satu fungsi kawasan yang utuh adalah saat orang-orang beralih dari menggunakan kereta atau commuter ke kendaraan pribadi atau umum.

Jika aliran tidak diperhatikan, maka sudah pasti para supir angkot memanfaatkan kesempatan berhenti sembarangan di dekat pintu masuk dan keluar stasiun.

“Wali kota (Bogor) yang baru, saya nilai cukup progresif, ide-idenya bagus. Kami berharap mudah-mudahan beliau bisa membangun Kota Bogor tanpa harus melupakan fungsi sekitar,” tandas Catur.

Dari pantauan Kompas.com, kawasan Stasiun Bogor sendiri, kini sudah jauh lebih rapi dan teratur dibandingkan beberapa waktu sebelumnya. Pemkot membangun jembatan penyeberangan yang juga merupakan akses bagi pengguna kereta saat memasuki stasiun atau pun sebaliknya.

Selain itu, pintu stasiun lainnya, yang berada di Jalan Mayor Oking, bukan di jalan utama yaitu Jalan Kapten Muslihat. Hal ini bertujuan agar angkot tidak berhenti di pinggir jalan utama
Sementara di Stasiun Cilebut, keadaannya belum sebaik di Stasiun Bogor.

Pintu gerbang stasiun terletak hanya beberapa meter dari persimpangan jalan yang lebarnya tidak seberapa. Dengan demikian, hampir setiap waktu, jalan di sekitar Stasiun Cilebut macet dikarenakan angkot yang berhenti sembarang dan menghalangi kendaraan yang lalu lalang di persimpangan jalan.

(kompas.com)

Hasil Pencarian:

Jalur Kereta Masuk Pelabuhan Diuji Coba, Angkut Peti Kemas dari TPS

26 March 2015

jalurkeretadSempat mati selama 9 tahun, jalur kereta yang menghubungkan antara Pelabuhan Tanjung Perak dan Stasiun Kalimas diaktifkan kembali. Pengaktifan ini sekaligus uji coba kereta barang yang mengangkut peti kemas dari Terminal Petikemas Surabaya (TPS).

“Sebenarnya jalur kereta pelabuhan ini telah dibangun Belanda pada tahun 1903 an dan waktu itu difungsikan. Pada 2006, jalur ini direvitalisasi tetapi tidak pernah digunakan,” ujar Kabid Perkereta Apian Dishub Jatim Isa Anshori kepada wartawan seusai uji coba kereta barang dari Stasiun Kalimas menuju TPS, Rabu (25/3/2015).

Isa mengatakan, kereta masuk pelabuhan melalui jalur sepanjang 2 Km itu adalah yang pertama kalinya di Indonesia. Dalam uji coba tersebut, sebuah lokomotif dengan dua rangkaian yakni sebuah peti kemas dan satu rangkaian tanpa dimuati peti kemas, berjalan melalui jalur rel yang telah dibersihkan.

Perlu waktu sekitar 2,5 bulan untuk membersihkan rangkaian rel tersebut. Selain telah tertutup tanah, di sekitar rel tersebut telah berdiri bangunan liar. Karena keadaan itulah, kereta berjalan cukup lambat dan memerlukan waktu selama 30 menit untuk melalui jalur sepanjang dua km tersebut. Dalam uji coba itu, masih ditemui sejumlah kendala.

“Masih ada kabel yang bergelantungan, masih menabrak ranting pohon, dan masih ada truk yang parkir di jalur rel. Itu menjadi koreksi kami,” lanjut Isa.

Sementara itu, Manajer Pemasaran PT KAI Daops 8 Sujarwo mengatakan, pengaktifan kembali jalur pelabuhan yang akan membawa peti kemas dari pelabuhan tentu saja akan menguntungkan PT KAI dan juga pengusaha.

PT KAI akan mendapat pemasukan dan pengusaha akan mendapat kemudahan dan efisiensi baik waktu dan biaya. Untuk tahap awal, kata Sujarwo, pihaknya akan mengoperasikan satu kereta api per hari untuk mengangkut peti kemas dari TPS.

“Satu kereta (api) terdiri dari 30 rangkaian (gerbong). Satu kereta sama dengan 60 teus atau sama dengan mengangkut menggunakan 60 truk. Dan hingga akhir tahun 2015, kami menargetkan mengoperasikan tiga kereta yang akan mengangkut peti kemas dari TPS,” lanjut Sujarwo.

Uji coba jalur pelabuhan ini akan berlanjut dengan peresmian yang akan dilakukan oleh Menteri Perhubungan Ignasius Jonan. “Direncanakan akan resmi dibuka oleh Menhub 9 April 2015 mendatang,” tandas Sujarwo.

(detik.com)

99 Miniatur Masjid Dunia akan Dibangun di Bogor

25 March 2015

miniatur masjidSebanyak 99 miniatur masjid terkenal di seluruh dunia akan dibangun di Jabar. Tepatnya, di daerah Bogor. Masjid-masjid dengan kapasitas sekitar 300-400 orang ini akan dibangun dalam sebuah kawasan yang kelak menjadi sebuah destinasi wisata religi.

Penggagas ide tersebut adalah Hartono Limin, seorang mualaf yang telah memeluk islam sejak tiga tahun lalu. Miniatur masjid dunia akan dibangun dalam sebuah kawasan bernama ‘Taman Miniatur Masjid Dunia’ di lahan seluas 215 Ha di kawasan Cicariuk, Desa Cibadak, Kecamatan Tanjung Sari, Kabupaten Bogor.

“Akan dibangun 99 masjid miniatur dunia dan satu masjid utama dengan kapasitas 200.000 jemaah,” ujar Hartono kepada wartawan di Gedung Pakuan, Selasa (24/3).

Hartono mengaku, mendapat ide ini usai shalat. Masjid dipilih sebagai unsur utama karena merupakan bangunan yang dijamin tidak akan pernah hancur. “Negara bisa hancur, masjid tidak akan pernah hancur. Shalat akan terus berjalan,” katanya.

Menurut Hartono, Meskipun Ia warga Jakarta, namun dirinya lebih memilih Jabar sebagai lokasi merealisasikan cita-citanya. Cara menentukan lokasi dilakukan dengan melakukan shalat terlebih di lokasi yang akan dipilih.

Menurutnya, para pengunjung juga dipastikan akan terhibur dengan sajian tempat kuliner dan penjualan souvenir negara tempat masjid terkenal tersebut berasal. Selain Masjid, Hartono juga akan membangun Universitas Islam unggulan berkapasitas 20.000 mahasiswa, Rumah Sakit, Museum dan Perpustakaan.

Tempat ini, kata dia, bertujuan untuk melestarikan budaya Islam sedunia dalam bentuk arsitektur. Terlebih, Indonesia khususnya Jabar punya penduduk muslim terbesar. “Kami ingin menghapus citra Islam yang kini malah identik dengan kekerasan,” katanya.

(http://www.republika.co.id)

Pembegal Arifin Cs Ditembak Mati, Wilayah Aksi di Tapal Kuda Keok

24 March 2015

begalditembakdArifin alias Rifin (32) warga Dusun Sumberkare Kecamatan Wonomerto, Probolinggo, tewas setelah didor polisi. Tersangka adalah komplotan begal yang wilayah aksinya di daerah tapal kuda (Pasuruan, Probolinggo, Situbondo, Jember, Lumajang, Bondowoso sampai Banyuwangi).

“Komplotannya ada enam orang. Beraksinya di wilayah tapal kuda,” ujar Kanit Bajak Sandera Subdit Jatanras Ditreskrimum Polda Jatim kepada wartawan di kamar mayat rumah sakit umum dr Soetomo, Surabaya, Selasa (24/3/2015).

Catatan kriminal komplotan pelaku ini seperti, curat (pencurian dengan pemberatan) di perumahan di kota Jember dan mendapatkan kendaraan roda empat Pajero.

Pencurian dengan kekerasan (curas) di sebuah pabrik rokok di Kaliwates, Jember. Curas kendaraan roda dua di Tongas, Kabupaten Probolinggo, yang mengakibatkan korban luka bacok.

Bahkan, komplotan ini tak segan-segan melukai korban hingga mengakibatkan meninggal dunia.

“Selain itu, komplotan ini diduga melakukan pencurian hewan, bajak truk di wilayah tapal kuda,” kata Kompol A Jumhur.

Arifin ditembak mati polisi karena menyerang petugas saat digrebek di sebuah rumah yang diduga tempat persembunyiannya di Jalan Raya Desa Sumberkare, Kabupaten Probolinggo, pukul 02.00 wib dinihari.

Sebelum menembak mati Arifin, polisi sudah mengamankan Bayu, rekan beraksinya.

Komplotan pelaku yang meresahkan masyarakat ini sudah diringkus dua orang(Bayu dan Arifin). Tim gabungan dari Cobra Subdit Jatanras Ditreskrimum Polda Jatim dan Jatanras Polres Probolingggo dan Polresta Probolinggo, terus menyelidiki dan mengejar 4 pelaku lainnya.

“Kita masih terus menyelidiki dan mencari pelaku lainnya,” tandas Jumhur.

(detik.com)

Kasus UPS, Ahok: Yang DPRD Maling Ditangkapin, yang SKPD Juga Biar Bersih

18 March 2015

ahokGubernur DKI Jakarta Basuki T Purnama (Ahok) tengah menunggu hasil pemeriksaan dugaan kasus korupsi dalam APBD DKI 2012-2015 dari KPK. Dia pun menyambut baik pihak Polda Metro Jaya yang telah memeriksa sejumlah SKPD terkait pengadaan UPS tahun 2014.

Meski belum mengetahui secara pasti, namun dirinya berkeyakinan ada oknum DPRD yang akan terseret ke meja hukum nantinya.

“Saya nggak tahu laporan polisi kayaknya ada oknum. Kayaknya (ada dari DPRD) yang mau ditangkap siapa. Urusan polisi lah,” tutur Ahok di Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Rabu (18/3/2015).

Mantan Bupati Belitung Timur itu enggan bicara banyak apalagi menduga-duga lebih jauh. Ahok menyerahkan proses hukum sepenuhnya pada pihak kepolisian.

Bahkan dirinya mendengar kabar, laporan kini sudah ditingkatkan penyelidikannya hingga ke Mabes Polri.

“Sudah di Bareskrim, katanya sudah diambil oleh Mabes ini. Jadi sekarang sudah dinaikin ke Mabes katanya, saya nggak tahu,” lanjutnya.

Lantas bagaimana jika SKPD yang terlibat bermain dan akhirnya ditangkap?

“Bagus dong, kan target saya itu semua yang maling tangkapin, penjarain. Yang DPRD maling tangkapin, yang SKPD maling tangkapin. Tangkapin semua, biar bersih,” tutup Ahok.

(detik.com)

Warga Pandeglang Diduga Tewas Kena Peluru Nyasar Polisi

14 March 2015

peluruTitin Komariah (35), warga Kampung Ciseket Barat, Desa Mekar Sari, Kecamatan Panimbang, Kabupaten Pandeglang, Banten tewas. Ibu tiga anak itu tewas diduga akibat peluru nyasar polisi saat penggerebekan begal sepeda motor.

Saat penggerebekan itu, sempat terjadi baku tembak antara tim buru sergap (Buser) Polres Jakarta Barat dengan komplotan begal asal Pandeglang, Banten pada Kamis 12 Maret 2015 subuh kemarin.

Kapolres Jakarta Barat Kombes Fadil Imran membenarkan kejadian itu. Kata dia, kasus peluru nyasar itu sedang diselidiki oleh Tim Profesi dan Pengamanan (Propam). Apakah benar peluru nyasar itu berasal dari polisi atau dari pelaku begal.

“Tim Propam sedang investigasi. Apakah berasal dari anggota atau dari pelaku curas. Kejadian terjadi pada pukul 04.00 WIB, subuh di tengah sawah,” terangnya di Jakarta, Jumat (13/3/2015).

Kata dia, pihaknya ke Pandeglang, Banten dalam rangka pengembangan kasus penyidikan dugaan pelaku pencurian dan perampasan kendaraan bermotor di wilayah Kembangan, Jakarta Barat. Namun, saat digerebek pelaku melawan petugas.

“Pelaku saat akan ditangkap melawan dengan menembak anggota dan lari ke sawah. Oleh karena itu sempat terjadi baku tembak antar polisi dan tersangka,” bebernya.

Hingga kini tersangka AR masih diburu petugas. “Malam itu tersangka berhasil kabur,” tutupnya.

(Sindonews)

Heboh, Penemuan Bukit Penuh Batu Akik

11 March 2015

akikBelum lagi hilang hebohnya masyarakat Kerinci terhadap penemuan bukit berbatu akik, penemuan batu akik kembali buat heboh. Kali ini, batu akik tersebut ditemukan di Desa Pungut Hilir, Kecamatan Air Hangat Timur.
Penemuan batu akik tersebut, hanya berjarak beberapa kilo dari lokasi penemuan giok di Desa Sungai Tutung. Menariknya lagi, batu akik yang ditemukan warga tersebut, tidak hanya berupa bongkahan saja, namun satu bukit diduga terbuat dari batu akik.
Sekretaris Desa Pungut Hilir, Aswardi, membenarkan adanya penemuan batu akik di desanya. “Lokasinya hanya 20 meter dari ujung desa kami. Baru ditemukan warga beberapa hari lalu,” jelasnya.
Menariknya lagi kata Aswardi, batu yang ditemukan tersebut jenisnya tidak hanya satu saja, namun di bukit tersebut ditemukan puluhan jenis batu akik, seperti giok, panca warna, sulaiman, dan beberapa batu yang mirip dengan solar aceh.
Batu yang ditemukan tersebut lanjutnya, rata-rata sudah mengkristal. Ini terlihat saat disenter. ”Batu bukit pungut hilir itu rata-rata tembus cahaya kalau disenter. Warganya juga banyak,” beber Aswardi, Selasa (10/3/2015). (Edi Januar)

(Tribunnews)

Hasil Pencarian:

Fitra: Anggaran Siluman Biasanya untuk Kembalikan Dana Kampanye

8 March 2015

dprd-dkiSekretaris Jenderal Forum Indonesia Untuk Transparansi Anggaran (Fitra) Yenny Sucipto mengatakan asumsi terjadi kongkalikong antara eksekutif, legislatif, dan pengusaha “hitam” dalam proses penyusunan anggaran terjadi di hampir semua daerah. Bukan hanya terjadi di Jakarta saja dalam kisruh penyusunan APBD tahun ini.

“Kalau ada titipan di luar kebijakan program, itu disebut siluman. Di sini eksekutif, legislatif, dan pengusaha hitam biasa terlibat,” ujar Yenny dalam diskusi di Cikini, Sabtu (7/3/2015).

Yenny memberi contoh mengenai pengadaan uninterruptible power supply (UPS) yang telah ada sejak tahun-tahun sebelumnya. Seharusnya, tidak terjadi kesalahan dalam proses pengadaan ini seperti yang mencuat saat ini.

Akan tetapi, yang terjadi justru adanya dugaan anggaran siluman dalam pengadaannya di APBD tahun ini. Yenny mengatakan itu adalah bukti bahwa terjadi kongkalikong antara eksekutif dan legislatif.

Yenny menegaskan eksekutif dan legislatif sama-sama telah mengeluarkan dana kampanye untuk mencapai posisinya saat ini. Menurut Yenny, dalam beberapa kasus yang diteliti Fitra, kasus korupsi yang terjadi pada tahap perencanaan anggaran oleh eksekutif dan legislatif ini sekaligus upaya untuk mengembalikan dana kampanye masing-masing pihak.

Bisa saja, lanjutnya, pihak eksekutif atau legislatif disponsori oleh perusahaan tertentu saat masa kampanye mereka. Kemudian setelah menang, perusahaan tersebut menuntut untuk menjadi pemenang tender suatu proyek.

Demi membayar “utang” kepada sponsor kampanye mereka, akhirnya perusahaan itu pun mendapat tender. Praktik itu membuat wajar jika ditemukan perusahaan pemenang tender yang tidak jelas.

Hal senada juga disampaikan pengamat ekonomi kebijakan publik, Ichsanudin Noorsy. Hal yang umum terjadi di berbagai daerah ini adalah efek penerapan demokrasi transaksional. Untuk mencapai sebuah posisi politik, diperlukan dana yang besar.

“Ini bagian dari demokrasi transaksional. Tidak ada yang berkampanye tapi tidak pakai uang. Suka tidak suka, dalam demokrasi transaksional, dua-duanya keluar biaya,” ujar Noorsy. (kompas.com)

Hasil Pencarian:

Depok Gelontorkan Rp4 Miliar untuk Urai Kemacetan di Sawangan

6 March 2015

depok-gelontorkan-rp4-miliar-untuk-urai-kemacetan-di-sawangan-JmADinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (Bimasda) Kota Depok mengalokasikan anggaran Rp4 miliar untuk mengurai kemacetan di simpang Kodim Jalan Raya Sawangan, Depok.

Kabid Jalan Dinas Bimasda Kota Depok Hardiman mengatakan, setiap harinya saat peak hour jumlah kendaraan yang melintas di Jalan Raya Sawangan mencapai 11.166 kendaraan bermotor. Jumlah ini sangatlah tinggi, namun tidak diimbangi dengan kepastitas jalan tersebut lantaran lebar jalan sangat sempit dan adanya jalan yang memiliki ketinggian 70 sentimeter sehingga membuat kemacetan tak terhindarkan.

“Kita akan lakukan penataan di simpang Kodim untuk mengurai kemacetan. Anggaran Rp4 miliar telah disiapkan dalam APBD 2015 ini,” kata Hardiman kepada Sindonews, Kamis (5/3/2015). Hardiman menyebutkan, penataan yang dilakukan ialah pelebaran di Jalan Pramuka yaitu jalan masuk ke arah Kodim.

Rencannya ruas jalan ini akan dilebarkan menjadi 16-18 meter. Tidak itu saja, di perempatan simpang Kodim juga akan dilebarkan menjadi 20 meter.

“Kita juga akan menurunkan ketinggian jalan di Jembatan Tamiya dari 70 sentimeter menjadi 40 sentimeter,” paparnya. Menurut hardiman, penataan di simpang Kodim ini akan segera dilakukan sehingga dalam waktu beberapa bulan ke depan kemacetan di lokasi ini dapat terurai.

(http://metro.sindonews.com)

Hasil Pencarian:

Next Page »