Festival Seni Budaya Pesisiran Digelar di Cirebon

10 October 2014   2 views

cirebon 1Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) resmi membuka Festival Seni dan Budaya Pesisiran, dan Haul Sunan Gunung Jati ke-461, di Bangsal Pagelaran, Keraton Kasepuhan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Rabu (8/10/2014). Festival Seni Budaya yang diikuti lima provinsi itu akan berlangsung selama lima hari.

Sebelum pembukaan, rombongan Kemenparekraf, Kesultanan Kasepuhan, perwakilan lima provinsi, serta Pemerintah Daerah Kota Cirebon, diarak dengan genjring Cirebon dari dalam Keraton, ke Bangsal Pagelaran. Mereka disambut dua tarian khas Cirebon, pakung wati, dan Tari Topeng Kelana.

Dalam sambutannya, Sultan Sepuh ke XIV Keraton Kasepuhan Cirebon, PRA Arief Natadiningrat, menyebutkan, Festival Seni Dan Budaya Pesisiran yang diikuti lima provinsi sudah dinanti sejak lama. Festival Seni Budaya digelar untuk terus meningkatkan nilai seni dan budaya di Nusantara.

“Kami berusaha, potensi seni dan budaya yang dimiliki, dijadikan sebagai inspirasi untuk membangun kesatuan bangsa, menciptakan ekonomi kreatif, dan dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat. Dan inilah sebagai tujuan dari bangsa Indonesia ini,” kata Arief.
Di depan hadirin, Arief berharap kepada Kemenparekraf agar Festival Seni dan Budaya Pesisiran dapat dijadikan agenda tahunan.

Dirjen Ekonomi Kreatif Seni Dan Budaya Kemenparekraf, Ahmansyah, menyampaikan pemilihan Cirebon sebagai tuan rumah, lantaran Cirebon memiliki banyak keraton, dan kekayaan seni, budaya, dan juga peninggalan sejarah yang cukup banyak.

Selain itu, beberapa unsur dari 15 kategori ekonomi kreatif juga dimiliki Cirebon. “Jadi kalau wisatawan, datang ke Cirebon, tidak mencoba empal gentong, tahu gejrot, dan terasi khas Cirebon, dijamin, akan menyesal seumur hidup,” katanya disambut riuh hadirin.

Secara esensi, Cirebon sejak dulu menjadi pusat perdagangan, dan asimilasi berbagai macam kebudayaan. Maka dari itu, kekayaaan nilai sejarah di Cirebon, dapat dijadikan parameter dari daerah-daerah lainnya.  Persoalannya adalah, bagaimana meneruskan budaya-budaya ini pada generasi penerus.

cirebon 2
Pertanyaan-pertanyaan tersebut yang akan menjadi bahan pembahasan saresehan Festival Seni Budaya Pesisiran. “Termasuk di dalamnya reinventarisasi untuk memberikan edukasi kepada seluruh pihak, bahwa Cirebon memiliki kekayaan budaya yang tinggi,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu, Ahmansyah menyetujui permintaaan Sultan Kasepuhan untuk menjadikan Festival Seni Budaa Pesisiran sebagai agenda tahunan. Bahkan, tahun mendatang diagendakan lebih dari lima provinsi yang akan turut meramaikan festival seni dan budaya pesisiran.

Festival seni dan Budaya Pesisiran berlangsung selama empat hari, 7–10 Oktober 2014, yang berlokasi di Keraton Kasepuhan Cirebon. Lima provinsi yakni Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, akan menampilkan kesenian, kebudayaan, dan kreatifitas lokal setempat.

Beberapa penampilan Festival Seni Budaya Pesisiran yang dijadwalkan antara lain, Samba Sunda (Jawa Barat), Tari Ngancak Balo (Jawa Tengah), Ngamen Lenggeran (Jawa Timur), Tari Pamanah Rasa Pandeglang (Banten), dan lainnya. Festival pun diisi dengan lomba-lomba tradisional daerah.

(kompas)

Realisasikan Rebo Nyunda, Disbudpar Susun Perwali

10 October 2014   4 views

reboDinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bogor, tengah menyusun Peraturan Walikota (Perwali) untuk merealisasikan Rebo Nyunda atau setiap hari Rabu mengenakan pakaian sunda dan berbahasa sunda.

Kepala Disbudpar Kota Bogor, Shahlan Rasyidi mengatakan, sebelum menuju ke arah penyusunan Perwali yang realisasinya dilaksanakan mulai tahun 2015  mendatang, Disbudpar  akan mengusulkan surat kepada Walikota Bogor agar diterbitkan surat edaran melalui bagian organisasi Sekretariat Daerah Kota Bogor.

“Saat ini kami sedang mengumpulkan masukan dari para seniman dan budayawan serta pihak-pihak yang berkompeten dengan program Rebo Nyunda,” ujar Shahlan. Rencana pada Senin (13/10) mendatang akan ada pertemuan dengan para seniman dan budayawan Bogor guna meminta masukan tentang pakaian yang akan digunakan, apakah semuanya menggunakan baju kampret, celana pangsi dengan totopong, atau ada pakaian Sunda khusus seperti beskap bagi Walikota, Wakil Walikota dan pimpinan SKPD.

Sementara itu, salah seorang pemerhati budaya dan penggagas Rebo Nyunda,  Dadang  HP, mengaku gembira dengan kemajuan program Rebo Nyunda yang digagas berkenaan dengan Harkitnas di Lapangan Sempur beberapa waktu lalu.

“Ini langkah maju, apalagi ada rencana untuk dibuatkan Perwali. Setahu saya yang sudah Perwali adalah Kota Bandung, yang sudah Perda di Kabupaten Purwakarta. Bahkan beberapa waktu lalu program Nyunda inipun sudah diterapkan di Kabupaten Sukabumi namun setiap hari Jumat,”urai  Dadang.

Mengenai pakaian yang digunakan, dia berharap semua menggunakan baju kampret, pangsi dan totopong saja. Hanya mungkin warnanya yang agak berbeda bagi Walikota dan Wakilnya serta eselon 2 warna bajunya putih dengan celana hitam. Sedang bagi eselon di bawahnya bisa bagian atas  dan  bawahnya hitam-hitam.

“Kalau pakai stelan beskap takutnya malah sulit bergerak dan terlihat kaku. Juga dari dahulu Kerajaan Pajajaran egaliter tidak terlalu menonjolkan perbedaan antara raja dengan rakyatnya,”pungkas Dadang.

(bogornews)

Batuan Situs Gunung Padang Hasil Letusan Gunung Api Purba

8 October 2014   20 views

gn padangMisteri situs purbakala Gunung Padang hingga saat ini belum terkuak jelas. Namun, Guru Besar Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjajaran, Prof. Dr. Adjat Sudrajat, memaparkan, Gunung Padang terbentuk dari letusan gunung api purba Karyamukti lebih dari 10.000 tahun lalu.

“Gunung Padang tidak terlepas sebagai rangkaian gunung api-gunung api aktif di Indonesia. Karena sudah istirahat lebih dari 10.000 tahun maka gunung ini tidak akan menimbulkan bahaya,” kata Adjat dalam Seminar Nasional ‘Situs Gunung Padang dan Permasalahannya’ di Aula PSBJ Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran, Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat, Selasa (7/10/2014).

Adjat membantah hasil riset yang dilakukan oleh TTRM (Tim Terpadu Riset Mandiri) Gunung Padang yang menyebutkan batuan di Gunung Padang sengaja dibawa dari luar lokasi dan disusun menjadi piramida yang saat ini masih ditelusuri kebenarannya.

Menurut dia, batuan berjenis basalt dan andesit itu asli dari Gunung Padang yang terbentuk dari hasil letusan gunung api purba.

“Batuan yang dihasilkan bisa batuan lepas atau padat. Di negara kita letusan akan menghasilkan batuan andesit dan tidak akan membentuk lava cair seperti produk gunung api di Hawai karena gunung api kita berada di jalur andesit,” tuturnya.

Dari hasil penelitian, batu-batu balok dan tiang yang terususun di Gunung Padang sebenarnya adalah murni dari alam yang sebagian kecilnya dibentuk oleh masyarakat purbakala setempat yang menghuni lokasi tersebut. Mereka membuat tempat pemujaan berupa punden berundak.

Dalam ilmu geologi, fenomena bentukan batuan tersebut dikenal dengan nama Columnar Jointing. bentuk batu tersebut bukan kubus balok melainkan heksagonal.

“Bentuk kolom-kolom heksagonal pada batuan vulkanik pejal adalah proses alam. Di antara tumpukan lava bisa terdapat endapan abu dan pasir,” ungkapnya.

Pendapat Adjat pun didukung oleh peneliti dari Badan Geologi, Prof. Sutikno Bronto. Menurut dia, batu-batu columnar jointing yang ada di Gunung Padang adalah hasil letusan yang akhirnya mengeras dan menyumbat lava gunung api purba.

“Jadi Gunung Padang adalah undakan yang terususun oleh bongkahan lepas batuan kolom andesit basalt. Batuan gunung padang adalah sumbat leher gunung api purba Karyamukti,” tegasnya.

Bentukan batu tersusun di Gunung Padang bukan satu-satunya di Indonesia. Susunan bongkahan batu-batu columnar jointing yang menyerupai balok-balok hexagonal serupa, tidak sulit ditemui di wilayah lain seperti menhir di Kabupaten Ngada, Bajawa, Flores dan beberapa tempat di Chideung, Lembang, Jawa Barat.

(kompas)

Di Situs Gunung Padang Ditemukan Struktur Unik Diduga Dolmen

25 September 2014   9 views

gn padangTim Nasional (Timnas) Pelestarian dan Pengelolaan Gunung Padang menemukan struktur batuan unik di situs yang berada di Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, itu. Struktur batuan menyerupai jendela itu ditemukan setelah semak-semak yang menutupinya dibersihkan.

Sekretaris Timnas Pelestarian dan Pengelolaan Gunung Padang, Erick Ridzky, mengatakan, struktur batuan itu diduga merupakan dolmen yang terletak di luar situs, tepatnya di sisi barat laut Gunung Padang.

“Jika pengunjung naik ke atas situs melalui sisi barat (tangga baru), sekitar 25 meter sebelum naik ke Teras 1 Gunung Padang di sebelah kiri kita akan temui dolmen seperti itu yang tertutup semak-belukar,” ujar Erick kepada Tribun melalui pesan Blackberry, Rabu (24/9/2014).

Menurut Erick, dolmen seperti yang ditemukan di Gunung Padang biasanya digunakan sebagai pintu, ceruk saluran air, ventilasi sebuah ruangan, atau bahkan digunakan sebagai nisan makam- makam tradisional, seperti di Toraja. Saat ini temuan tersebut sudah didata dan akan segera dikonservasi Timnas yang bekerja sama dengan Balai Cagar dan Pelestarian Budaya (BPCB) Serang.

“Usia batuan sulit untuk diperiksa carbon-dating-nya. Biasanya yang di-carbon-dating adalah material karbon hasil pembakaran aktivitas manusia atau jasad renik pada permukaan di mana dolmen berada. Saat ini kami belum lakukan uji karbon pada permukaan di mana dolmen diletakkan,” kata Erick.

Dari penelusuran, kata Erick, belum ditemukan dolmen serupa di situs yang usianya diperkirakan mencapai 5200 SM itu. Akan tetapi, sebetulnya banyak ditemukan artefak lainnya. Hanya saja, kata dia, Timnas masih melakukan pendataan sehingga belum merilis temuan artefak tersebut.

“Mudah-mudahan Ali Akbar sebagai arkeolog bisa lebih awal merilisnya. Sebagian artefak sedang dalam proses analisis laboratorium multisains,” ujar Erick.

Sebelumnya, sejumlah artefak ditemukan di Gunung Padang setelah penelitian terhadap situs megalitikum itu dilanjutkan. Salah satu benda unik yang ditemukan itu berupa logam yang bentuknya menyerupai koin.

Wakil Ketua Tim Nasional (Timnas) Penelitian Gunung Padang Bidang Arkeologi, Ali Akbar, memastikan logam berbentuk koin merupakan artefak murni lantaran buatan manusia. Namun artefak berbentuk koin yang ditemukan Senin, 15 September 2014, itu diyakini bukan sebagai alat transaksi, melainkan menyerupai amulet.

Selain itu, ditemukan juga batuan yang sudah terpahat di lokasi ekskavasi di Teras Lima bagian luar. Diduga batuan yang sudah terpahat itu merupakan artefak yang terpendam di situs Gunung Padang. Artefak yang menyerupai kujang itu diduga merupakan peninggalan budaya masyarakat di sekitar situs Gunung Padang.

Menurut Ali, artefak itu merupakan buatan manusia lantaran batu tersebut dipangkas dan digosok halus. Teknik tersebut memang sudah dikenal pada masa prasejarah. Akan tetapi, bentuk yang ditemukan itu kemungkinan besar baru ditemukan di Indonesia bahkan di dunia.

(tribunnews)

Disbudpar Akan Mendata Ulang Benda Cagar Budaya

17 September 2014   0 views

gedung kesenianDinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bogor akan melakukan pendataan ulang Benda Cagar Budaya (BCB) yang tersebar di enam wilayah Kecamatan se – Kota Bogor.

“ Prioritas tiga bulan pertama sebagai Kepala Kadisbudpar, saya akan melakukan mendata ulang BCB  yang tersebar di seluruh wilayah  Kota Bogor, “ ujar Kadisbudpar Kota Bogor Shahlan Rasyidi, di Kantornya Selasa (16/9/2014).

Shahlan menyebutkan, pendataan BCB sangat penting , agar kedepannya tidak ada lagi BCB terutama gedung peninggalan tempo dulu khususnya gedung milik Pemerintah dipugar dengan menghilangkan aslinya.

Shahlan menuturkan,  ketika dirinya menjabat Kepala Bidang Kebudayaan pada Disbudpar, pihaknya telah mencatat ada sekitar 24 BCB di Kota Bogor. “ Waktu itu ada 24 BCB dan sudah tercatat di Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar), “ kata Shahlan.

Ditempat  terpisah pengamat Kebudayaan, Rachmat Iskandar membenarkan ada 24 BCB di Kota Bogor yang sudah tercatat di kemenbudpar. “ Betul, emang ada 24 BCB yang tercatat di Kementerian, “ ujar Rahmat.

Rahmat menyebutkan, berdasarkan Permenbudpar No:PM.26/MLP/2017, bahwa BCB yang ada di Kota Bogor antara lain, Istana Bogor, Istana Batu Tulis, Gedung Balaikota Bogor. Gedung Makodim, Gedung Makorem, Gedung Blonong, Gedung RRI, Balai Penelitian Biotek Perkebunan, Kantor Pos, Makam Raden Saleh, Gereja Katedral,Gereja Zebaoth, Kapel Regina Pacis, Stasiun Kereta Api,  Panti Asuhan Bina Harapan, Masjid Empang, Klenteng Danaghun,  dan prasasti Batu Tulis.

Namun, Rachmat menyesalkan Pemerintah Kota Bogor yang telah memugar Gedung SMPN I dan SMAN 1 yang berlokasi di Jalan Ir. Juanda, padahal Gedung Sekolah tersebut sudah tercatat di Kementerian sebagai BCB. “ Mestinya pihak Disbudpar memberikan masukan kepada Dinas Pendidikan untuk tidak memugar secara total Gedung SMPN 1 dan SMAN 1. Silahkan saja kalau direnovasi tapi tidak menghilangkan yang menjadi ciri BCB nya, “ ujar Rahmat.

Terkait rencana Pemkot Bogor akan membangun Gedung Pusat Budaya dan Kesenian diarea bekas RPH (Rumah Pemotongan Hewan) di Jalan Dadali Kecamatan Tanah Sareal, Rachmat menjelaskan, bahwa gedung RPH di Jalan Dadali Kecamatan Sareal juga termasuk dalam 24 BCB di Kota Bogor.  “ Saya melihat RPH tidak cocok untuk Gedung Pusat Budaya dan Kesenian, “ kata Rachmat yang juga pensiunan dari Disbudpar Kota Bogor.

Selain itu, Rachmat meragukan kemampuan aparat di Disbudpar, apakah mereka nantinya mampu mengelolanya. “Jadi, jangan mimpi dulu. Dari pada membangun Gedung Pusat Budaya dan Kesenian di lokasi bekas RPH, akan lebih baik membangun Saung Budaya di setiap Kecamatan, “ tukasnya.

Oleh karena itu Rachmat berharap dibawah kepemimpinan Kadisbudpar yang baru, akan punya terobosan-terobosan yang baru  dan ide yang cemerlang  untuk bisa memajukan kebudayaan dan pariwisata di Kota Bogor. “ Saya siap membantu memberikan  saran dan masukan untuk kemajuan Kebudayaan dan Pariwisata di Kota Bogor, “ pungkasnya.

(bogornews)

Pembangunan Monumen Cadas Pangeran Harus Ada Kajian Teknis

15 July 2014   3 views

cadas-pangeranRencana pembangunan Monumen Cadas Pangeran (MCP) di kawasan Jalan Cadas Pangeran, Kec. Pamulihan, perlu dilakukan kajian teknis dan Feasibility Study (FS/studi kelayakan). Hal itu dengan pertimbangan, kondisi geografis di kawasan Cadas Pangeran relatif sulit.

Tanahnya labil dengan tingkat kemiringan yang cukup tinggi sehingga rawan longsor. Kalau pun dibangun, perlu ada penyiapan dan pematangan lahan. Pertimbangan lainnya, kebutuhan anggarannya cukup besar karena membangun kawasan dan MCP yang besar dan megah. .

“Namun demikian, rencana pembangunan Monumen Cadas Pangeran ini tetap akan kami laksanakan. Tahun ini, kami akan mengusulkan pembuatan kajian teknis, FS sekaligus pengajuan anggaran dalam APBD tahun 2015,” kata Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga (Disbudparpora) Kab. Sumedang, Endah Kusyaman di kantornya, Senin (14/7/2014).

Ia menyebutkan, rencana pembangunan MCP diakui sudah digulirkan sejak 2005 berupa perencanaan teknis.

Akan tetapi, karena kondisi lahan dan geografisnya relatif sulit ditambah kebutuhan anggarannya cukup besar, sehingga pembangunannya sampai sekarang belum bisa dilaksanakan.

Meski MCP belum bisa dibangun, namun sebelumnya Disbudparpora sudah berusaha melakukan penataan kawasan Cadas Pangeran.

“Penataannya, di antaranya membuat patung Pangeran Kornel dan HW. Deandels yang baru dengan ukuran lebih besar. Kami juga menata tamannya serta membuat huruf Cadas Pangeran yang besar,” ujar Endah didampingi Kabid Kebudayaan Eli Suliasih

Upaya lainnya, kata dia, sebelumnya Disbudparpora sempat akan bekerjasama dengan Bank Jabar dan Banten (BJB) untuk menata kawasan objek daya tarik wisata (ODTW) Cadas Pangeran tahun 2012.

Penataannya menggunakan dana CSR (corporate social responsibility) BJB, seperti membangun 43 kios atau outlet makanan dan kerajinan khas Sumedang, membangun 2 unit gapura dan 1 unit mushola.

“Namun karena saat itu terjadi pergantian pimpinan BJB, sehingga kerjasama itu sampai sekarang belum terlaksana. Namun, kami akan berupaya menjajaki lagi kerjasama dengan BJB, ” ujarnya.

Di tempat terpisah, Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU), Sujatmoko di kantornya mengatakan, pembangunan Bundaran Polres hingga kini masih berjalan.

Kegiatan tahun ini, diantaranya melanjutkan pembebasan lahan, bangunan dan tegakan (tanaman) di lokasi bundaran, membersihkan berbagai utilities PLN, Telkom, PDAM dan operator ponsel.

Selain itu, pemindahan saluran air serta membangun kantor pelayanan SIM di Mapolres Sumedang yang baru di Jln. Prabu Gajah Agung/Bypass senilai Rp 4,15 miliar.

“Jadi, sebelum pembangunan fisik, lokasi pembangunan Bundaran Polres sudah clear and clean dulu. Setelah di lokasi bersih, baru tahun depan kami akan melangkah pada pembangunan fisik,” ujarnya.

Dikatakan, Balai Besar Pelaksanaan Jalan (BBPJ) Wil. IV/DKI Jakarta, Jabar dan Banten, sudah menyiapkan anggaran kisaran Rp 7-8 miliar untuk pembangunan jalan di Bundaran Polres.

Sementara Pemkab Sumedang sudah menganggarkan Rp 6 miliar untuk membangun bundarannya, trotoar, saluran air, tembok penahan tebing (TPT), dll.

“Pak Bupati H. Ade Irawan dan saya optimis dan yakin, pembangunan fisik Bundaran Polres akan terwujud tahun depan. Sampai-sampai Pak Bupati sempat mendatangi langsung ke kantor BBPJ. Jadi, Pak Bupati tidak berwacana, tapi sudah tataran implementasi. Bahkan Pak Bupati akan melaksanakan satu per satu, 9 program unggulan termasuk membangun Bundaran Polres, Jalan Sukasari-Lembang dan Bendung Rengrang,” ujar Sujatmoko.

Sementara itu, Kabag Humas Pemkab Sumedang, Asep Tatang mengatakan, rencana pembangunan Bundaran Polres memerlukan lahan seluas 8.497 meter persegi.

Lahan seluas itu, dibagi menjadi 35 bidang yaitu milik masyarakat 27 bidang, instansi 7 bidang dan yayasan 1 bidang.

Pembebasan lahannya, sudah dilakukan sejak 2013 dan hingga kini sudah direalisasikan seluas 4.344 meter persegi atau sebanyak 22 bidang tanah masyarakat.

“Mudah-mudahan tahun ini dapat membebaskan lahan sisanya seluas 4.152 meter persegi atau sebanyak 13 bidang,” tuturnya.

Untuk pengelolaan Tahura (Taman Hutan Rakyat), lanjut dia, dari tahun ke tahun telah dan sedang dilaksanakan berbagai program kegiatan. Dari informasi UPTD Tahura Dishutbun Kab. Sumedang, untuk kegiatan pengelolaan Tahura pada tahun 2013 dilaksanakan kegiatan peningkatan kapasitas Tahura Gunung Kunci dan Gunung Palasari dengan melaksanakan kegiatan rehabilitasi kantor pengelola Tahura Rp 13,7 juta dan pembuatan pagar Rp 95 juta.

“Nah, tahun 2014 dianggarkan Rp 130 juta untuk pengadaan sarana dan prasarana outbound, Rp 100 juta untuk kegiatan pengadaan peralatan dan perlengkapan outbound dan Rp. 100 juta untuk penataan sarana dan prasarana Tahura,” kata Asep Tatang. (pikiran rakyat)

Wayang Golek Bambu Asli Bogor

8 July 2014   33 views

WAYANGTerinspirasi dengan Wayang Golek yang pada umumnya terbuat dari kayu. Namun, Drajat Iskandar warga Cijahe, Semplak Kota Bogor mencoba menciptakan betuk baru wayang golek dengan bahan dasar bambu.

Seniman sunda ini menciptakan sesuatu yang baru untuk memperkaya khasanah budaya Nusantara.

Wayang bambu menurut yang akrab di panggil Ki Drajat ini bisa dikatakan sebuah bentuk pengembangan dari wayang golek pada umumnya. Karena tokoh dan karakteristik wayang ciptaannya sama seperti yang diperankan wayang golek kayu termasuk ornamaen yang dikenakannya.

Namun, menurut Ki Drajat, cerita yang diangkat wayang bambu tidak sama dengan wayang golek. ”Saya ciptakan cerita sendiri, karena saya berkeinginan wayang bambu menjadikannya ikon di kota Bogor ini,” katanya.

Drajat menambahkan, konon, wayang golek baru ada Di Cirebon sejak masa Panembahan Ratu (cicit Sunan Gunung Jati (1540-1650). Di sana (di daerah Cirebon) disebut sebagai wayang golek papak atau wayang cepak karena bentuk kepalanya datar.

Pada zaman Pangeran Girilaya (1650-1662) wayang cepak dilengkapi dengan cerita yang diambil dari babad dan sejarah tanah Jawa. Lakon-lakon yang dibawakan waktu itu berkisar pada penyebaran agama Islam. Selanjutnya, wayang golek dengan lakon Ramayana dan Mahabarata (wayang golek purwa) yang lahir pada 1840 (Somantri, 1988).

“Wayang golek yang ada sekarang adalah merupakan pengembangan wayang golek sebelumnya, baik cerita ataupun bentuk dengan bahasa yang yang disesuaikan dengan jamannya,” tambah lelaki penyandang pemuda pelopor dua tahun berturut itu.

Diakui Ki Drajat, pembuatan wayang bambu cukup sulit karena harus menjalin bilah-bilah bambu yang rumit. Terutama pada saat membuat suvenir wayang bambu dalam botol yang membutuhkan 3 kali eksperimen untuk mendapatkan bentuk yang sempurna.

“Selain wayang bambu utuk di pergelarkan dengan sebuah cerita di atas panggung, saya buat juga dalam bentuk mini sebagai souvenir khas Bogor “ Jelas Ki Drajat.

(berita bogor)

SMA Alfa Centauri: Menggali Kreativitas Anak Dengan Acara Parents Day

12 May 2014   151 views

pertunjukan-parentsdaySekolah yang terletak di Jl. Diponegoro Bandung ini setiap tahunnya mengadakan acara ” Parents Day”. Dalam acara tersebut siswa bisa mengembangkan kreativitasnya dan dilatih mengembangkan sosialisasi serta kepemimpinan dalam proses acara ini. Besarnya animo siswa dalam mengikuti acara “Parents Day” ini membuktikan bahwa siswa-siswi sangat termotivasi untuk belajar mengembangkan kreativitasnya lebih baik lagi. Dalam rangka mengeksplorasi kreativitas siswa sekaligus mengajak orang tua peserta didik untuk melihat kreativitas anak mereka. SMA Alfa Centauri mengadakan acara “Parents Day” sebagai media belajar dan sekaligus diadakan sebagai acara silahturahmi tahunan untuk orang tua murid.

Dalam acara ini siswa seakan-akan beruji nyali dan membuktikan kepada orang tua dan teman-temannya yang hadir di acara tersebut. “Saya sebenarnya tidak berani tampil di depan umum, tetapi dengan adanya acara ini saya bisa berani dan membuktikan bahwa saya bisa dan berani tampil di depan umum” Ujar salah satu siswa peserta “Parents Day”. Bahkan menurut salah satu orang tua siswa yang hadir sampai terharu dan kagum bahwa ternyata SMA Alfa Centauri memberi peluang kepada siswanya untuk belajar kreatif.
Acara ini berlangsung dua hari mulai tanggal 11 sampai 12 Mei 2014. “Persiapan kami tidak beda jauh dengan tahun sebelumnya, untuk tahun ini kami tidak melibatkan kelas XII yang sedang sibuk Super Intensif di Sony Sugema College persiapan menjelang SBMPTN” Kata salah satu panitia. (az-raxal/jabarmedia)

Pawai Jampana Meriahkan HUT Kab. Bandung

21 April 2014   80 views

kab babdungSOREANG, -Warga masyarakat ikut memeriahkan hari jadi ke-373 Kab. Bandung dengan mengadakan pawai jampana. Pawai berupa miniatur rumah yang diisi dengan berbagai hasil bumi yang ditandu empat orang.

Pawai diawali marching band binaan Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Kab. Bandung lalu diikuti puluhan mobil hias dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Setelah itu, ratusan jampana kreasi dari warga juga ikut pawai melintas di depan panggung kehormatan.

Di panggung Bupati Bandung H. Dadang M. Naser dan Wabup H. Deden Rukman Rumaji menyambut para peserta pawai. Nampak hadir para mantan bupati, Ketua DPRD Kab. Bandung H. Toto Suharto, dan para kepala OPD.

Hal unik ketika Dadang Naser harus meniup obor yang ditempatkan di atas miniatur kue ulang tahun. Jampana yang dibawa masyarakat Kampung Randukurung, Kutawaringin itu sebagai simbol ulang tahun Kab. Bandung.

Dadang Naser membutuhkan waktu cukup lama karena harus berkali-kali meniup obor agar padam. “Saya sempat terbatuk-batuk setelah berhasil meniup obor. Kalau biasanya ulang tahun meniup lilin, tapi ini obor,” katanya sembari tertawa.

(Pikiran Rakyat Online)

Seni Berokan Indramayu, Seni Para Wali Untuk Tolak Bala

15 March 2014   53 views

DSCF2345Berokan adalah salah satu seni sebagai sarana syiar islam jaman para wali. Kini seni tersebutsudah berubah pungsi, selain sebagai sarana hiburan trdisional, seni berokan juga masih dipercaya adat sebagai kesenian tolak bala.

Demikian dikatakan Darman(68) warga desa Tanjungkerta kecamatan Kroya kabupaten indramanyu kemarin di rumahnya.

Menurut Darman yang mengaku turunan ke XII dari kake moyangnya sebagai penerus Seni Berokan, mengatakan bahwa kesenian berokan ini adalah sebagai alat sarana Si’ar Agama Islam dari jamaan para wali ( Kanjeng Sunan Kalijaga).

Dijelaskannya, kesenian tersebut dimainkan berpindah pindah dari satu tempat ke tempat lainnya, ketika orang sudah berkumpul, kesenia bisa dimainkan dengan sarat para penontonnya mengucapkan “dua kalimat sahadat” dan seterusnya.

Kesenian yang diciptakan Kajeng sunan Kalijaga tersebut, sekarang menjadi seni tredisional indramayu, selain berfungsi sebagai kesenian, seni tersebut juga dipercaya sebagai seni tolak bala.

Kepercayaan tolak bala melalui seni tersebut, itu dilakukan bila di daerah tertentu lagi banyak musibah,baik penyakit manusia maupun hama tanaman, konon katanya mampu mengusir roh-roh jahat, sehingga kondisi daerah tersebut menjadi tenang kembali.

Berokan ratusan tahun yang mempunyai khodam bernama Ki kuncung atau ki Cuplak,dan dimiliki turunan ke XII tersebut, yang kini menjadi kramat baginya, katanya sewaktu waktu, berokan tua itu berbunyi sendiri, dan itu katanya menandakan, untuk memulai perjalanan tolak bala berpindah pindah dari desa yang satu ke desa yang lainya.

Adapun sebagai imbalannya, masyarakat sudah pada mengerti sendiri, tanpa diminta mereka mau memberi.Rata- rata masyarakat memberinya bukan uang, melainkan ada yang memberi beras dan juga ada yang mengasih padi, itu seikhlasnya yang disampaikan Darman.(mediajabarkita.com)

Next Page »