web analytics

Seni Berokan Indramayu, Seni Para Wali Untuk Tolak Bala

15 March 2014   23 views

DSCF2345Berokan adalah salah satu seni sebagai sarana syiar islam jaman para wali. Kini seni tersebutsudah berubah pungsi, selain sebagai sarana hiburan trdisional, seni berokan juga masih dipercaya adat sebagai kesenian tolak bala.

Demikian dikatakan Darman(68) warga desa Tanjungkerta kecamatan Kroya kabupaten indramanyu kemarin di rumahnya.

Menurut Darman yang mengaku turunan ke XII dari kake moyangnya sebagai penerus Seni Berokan, mengatakan bahwa kesenian berokan ini adalah sebagai alat sarana Si’ar Agama Islam dari jamaan para wali ( Kanjeng Sunan Kalijaga).

Dijelaskannya, kesenian tersebut dimainkan berpindah pindah dari satu tempat ke tempat lainnya, ketika orang sudah berkumpul, kesenia bisa dimainkan dengan sarat para penontonnya mengucapkan “dua kalimat sahadat” dan seterusnya.

Kesenian yang diciptakan Kajeng sunan Kalijaga tersebut, sekarang menjadi seni tredisional indramayu, selain berfungsi sebagai kesenian, seni tersebut juga dipercaya sebagai seni tolak bala.

Kepercayaan tolak bala melalui seni tersebut, itu dilakukan bila di daerah tertentu lagi banyak musibah,baik penyakit manusia maupun hama tanaman, konon katanya mampu mengusir roh-roh jahat, sehingga kondisi daerah tersebut menjadi tenang kembali.

Berokan ratusan tahun yang mempunyai khodam bernama Ki kuncung atau ki Cuplak,dan dimiliki turunan ke XII tersebut, yang kini menjadi kramat baginya, katanya sewaktu waktu, berokan tua itu berbunyi sendiri, dan itu katanya menandakan, untuk memulai perjalanan tolak bala berpindah pindah dari desa yang satu ke desa yang lainya.

Adapun sebagai imbalannya, masyarakat sudah pada mengerti sendiri, tanpa diminta mereka mau memberi.Rata- rata masyarakat memberinya bukan uang, melainkan ada yang memberi beras dan juga ada yang mengasih padi, itu seikhlasnya yang disampaikan Darman.(mediajabarkita.com)

Para Raja dan Sultan Bakal Kumpul di Bandung

21 February 2014   91 views

safe_image.phpKonvensi Nasional dalam rangka Penyusunan Rekomendasi Adat, Adab, dan Budaya Nusantara 2014 akan digelar di Gedung Merdeka, Jalan Asia-Afrika, Kota Bandung, Minggu (23/2/2014). Konvensi yang dimulai pukul 8.00-17.00 WIB akan dihadiri para raja dan sultan dari wilayah di Indonesia.

Sebelum menggelar konvensi, ‘Mipit Amit’ (mohon izin) diadakan Jumat (21/2/2014). Ketua Umum acara Konvensi Nasional, Setiajaya Satria Rassidy mengatakan mereka berdoa untuk tiga hal yang akan dibahas pada konvensi nasional minggu nanti.

Tiga hal itu adalah menyampaikan kesetaraan tentang adat, istiadat dan budaya, menetapkan hari peradaban nusantara, dan pembuatan payung hukum untuk seluruh organisasi atau lembaga adat, istiadat, dan budaya Indonesia.

Konvensi ini bertujuan meluruskan kerancuan adat, istiadat, dan budaya Indonesia. Raja Samu – Samu VI, sekaligus Sekjen Badan Pengurus Silaturahmi Nasional (BP Silatnas) Raja – Sultan Indonesia YM. Upu Latu M.L. Benny Ahmad Samu Samu mengatakan saat ini banyak sekali kerancuan yang terjadi.

“Contohnya adalah orang jawa menobatkan orang sumatra atau kalimantan sebagai raja, begitu juga sebaliknya. Kan enggak ada hubungan darahnya, jadi ini yang rancu,” katanya.

Dalam konvensi juga, menurut Raja dari Maluku ini akan ada tiga pilar yang dibangun, yaitu menyepakati, membangun, dan menginvetarisasi seluruh adat, istiadat, dan kebudayaan Indonesia. “Makanya nanti kami akan menerbitkan sebanyak 20 ribu buku penyetaraan atau standardisasi tentang adat istiadat nusantara, nantinya buku ini akan disebar ke seluruh Indonesia secara gratis,” ujarnya.

Sebelum acara konvensi nasional dimulai, para raja – sultan akan melakukan memorial walk Asia Afrika dari Hotel Savoy Homan ke Gedung Merdeka. Menurut Humas Konvensi Nasional Asti (30) saat memorial walk, jalan Asia Afrika tidak akan ditutup, hanya akan ada pengawalan dari pihak kepolisian saja. (pikiran-rakyat.com)

Perangko, Bertahan di Tengah Gempuran Zaman

2 October 2013   132 views

perangko indonesiaDi masa jayanya kegiatan surat-menyurat menjadi andalan masyarakat untuk berkomunikasi. Seiring perkembangan zaman hingga tahun 1996, perangko jadi primadona khususnya saat hobi mengoleksi perangko alias filateli marak di Indonesia.

Gempuran teknologi dengan masuknya telepon genggam mengalahkan kegiatan berkirim surat yang identik dengan penggunaan perangko. Tak ayal anak muda sekarang ini ogah mengumpulkan perangko. Berbagai upaya pun kembali digairahkan agar dunia filateli kembali berjaya.

Salah satunya pameran filateli yang digelar di Kota Bandung. Untuk membangkitkan minat kawula muda pada filateli, Perkumpulan Filatelis Indonesia (PFI) Jawa Barat menggelar pameran filateli. Lebih dari 5.000 lembar perangko dari seluruh Indonesia dipamerkan pada Pameran Filateli Nasional di Wahana Bakti Pos, Jalan Banda, Kota Bandung. Dalam kegiatan tersebut, berbagai jenis perangko dipajang mulai dari perangko tema flora, fauna, hingga perangko bersejarah.

Ketua PFI Jabar Goenawan Wanaradja mengatakan, sejak datangnya teknologi informasi perkembangan filateli jadi stagnan. Orang tidak lagi memakai perangko. Ucapan Hari Raya Idul Fitri tidak lagi menggunakan kartu Lebaran, tapi cukup mengirim short message service(SMS). “Teknologi ini jelas memadamkan filateli khususnya untuk pemula. Adapun penambahan filatelis muda itu dalam jumlah yang sedikit. Itu pun hanya anak-anaknya filatelis saja. Dulu kami punya slogan sejuta filatelis, sekarang 1% saja masih untung,” ujarnya.

Secara global, filateli menjadi hobi yang kena imbas cukup besar dengan kehadiran handphone. Di Jabar, jumlah filatelis kurang dari 1% dari jumlah penduduk. Apalagi senior-senior penggila filateli sudah banyak yang meninggal. Di masa jayanya, filateli amat diminati hingga PFI pernah mengadakan pameran dunia remaja. Dia mengatakan, perangko tak hanya sebatas kelengkapan surat. Meski perangko hanya kertas bergambar yang ukurannya kecil, tapi ada banyak makna yang terkandung di dalamnya. Perangko adalah bagian dari sejarah.

Filateli juga tak hanya memuaskan hobi, perangko dimiliki bisa menjadi investasi. Karena semakin langka perangkonya, maka harganya makin melangit. Bahkan, ada perangko yang harga satu lembarnya mencapai Rp1,5 miliar. Perangko tersebut adalah perangko yang dikeluarkan Pos Militer Surakarta pada tahun 1946. Perangko ini hanya tersisa 50 lembar saja di dunia. Untuk merawat berbagai koleksi perangko butuh perlakuan khusus dan ketekunan pemiliknya.

Misalnya, menghindari kerusakan perangko harus dilapisi plastik khusus sebelum disimpan di dalam buku sejenis album. Untuk menjaga kelembabannya perangko disimpan di ruangan yang memiliki pendingin. Bahkan, perangko mahal disimpan di dalam lemari besi. “Tapi, kalau mau memulai hobi filateli nggak usah yang mahal-mahal,” ujar Goenawan. Sayangnya, upaya menggairahkan filateli belum disokong sektor pendidikan. Tidak ada dukungan kurikulum yang disahkan pemerintah daerah. Padahal, hingga tahun 2000 filateli menjadi ekstrakurikuler di sekolah.

Menurutnya, filateli bisa mengembangkan kreativitas anak dan mencegah anak melakukan hal negatif. “Saya berharap lewat pameran filateli, para remaja memiliki wawasan ke-Indonesiaan, karena melalui perangko kita bisa belajar banyak tentang sejarah,” tuturnya.(koran-sindo.com)

Tradisi Sisingaan

28 September 2013   139 views

sejumlah siswa SLTP memainkan sisingaan dalam kegiatan West Java Tea Festival 2013, Sabtu (21/9/2013)/Jabarmedia.com

Sejumlah siswa SLTP memainkan sisingaan dalam kegiatan West Java Tea Festival 2013, Sabtu (21/9/2013)

Sisingaan atau Gotong Singa (sebutan lainnya Odong-odong) merupakan salah satu jenis seni pertunjukan rakyat Jawa Barat, khas Subang (di samping seni lainnya seperti Bajidoran dan Genjring Bonyok) berupa keterampilan memainkan tandu berisi boneka singa (Sunda: sisingaan, singa tiruan) berpenunggang.

Sejarah dan perkembangan

Terdapat beberapa keterangan tentang asal usul Sisingaan ini, di antaranya bahwa Sisingaan memiliki hubungan dengan bentuk perlawanan rakyat terhadap penjajah lewat binatang Singa kembar (Singa kembar lambang penjajah Belanda), yang pada waktu itu hanya punya sisa waktu luang dua hari dalam seminggu. Keterangan lain dikaitkan dengan semangat menampilkan jenis kesenian di Anjungan Jawa Barat sekitar tahun 70-an, ketika Bupati Subang dipegang oleh Pak Atju. Pada waktu itu RAF (Rachmatulah Ading Affandi) yang juga tengah berdinas di Subang, karena ia dikenal sebagai seniman dan budayawan dimintakan kitanya. Dalam prosesnya itu, akhirnya ditampilkanlah Gotong Singa atau Sisingaan yang dalam bentuknya masih sederhana, termasuk musik pengiringnya dan kostum penari pengusung Sisingaan. Ternyata sambutannya sangat luar biasa, sejak itu Sisingaan menjadi dikenal masyarakat.

Dalam perkembangan bentuknya Sisingaan, dari bentuk Singa Kembar yang sederhana, semakin lama disempurnakan, baik bahan maupun rupanya, semakin gagah dan menarik. Demikian juga para pengusung Sisingaan, kostumnya semakin dibuat glamour dengan warna-warna kontras dan menyolok.. Demikian pula dengan penataan gerak tarinya dari hari ke hari semakin ditata dan disempurnakan. Juga musik pengiringnya, sudah ditambahkan dengan berbagai perkusi lain, seperti bedug, genjring dll. Begitu juga dengan lagu-lagunya, lagu-lagu dangdut popular sekarang menjadi dominan. Dalam beberapa festival Helaran Sisingaan selalu menjadi unggulan, masyarakat semakin menyukainya, karena itu perkembangannya sangat pesat.

Dewasa ini, di Subang saja diperkirakan ada 200 grup Sisingaan yang tersebar di setiap desa, oleh karena itu Festival Sisingaan Kabupaten Subang yang diselenggarakan setiap tahunnya, merupakan jawaban konkrit dari antusiasme masyarakat Subang. Karena bagi pemenang, diberi peluang mengisi acara di tingkat regional, nasional, bahkan internasional. Penyebaran Sisingaan sangat cepat, dibeberapa daerah di luar Subang, seperti Sumedang, Kabupaten Bandung, Purwakarta, dll, Sisingaan menjadi salah satu jenis pertunjukan rakyat yang disukai, terutama dalam acara-acara khitanan dan perkawinan. Sebagai seni helaran yang unggul, Sisingaan dikemas sedemikian rupa dengan penambahan pelbagai atraksi, misalnya yang paling menonjol adalah Jajangkungan dengan tampilan manusia-manusia yang tinggi menjangkau langit, sekitar 3-4 meter, serta ditambahkan dengan bunyibunyian petasan yang dipasang dalam bentuk sebuah senapan.

Dalam rangka menumbuhkembangkan seni sisingaan khas kabupaten subang, sanggar seni ninaproduction berupaya untuk melakukan regerasi melaui pembinaan tari anak-anak usia 7 tahun sampai remaja, termasuk tari sisingaan. Nina production beralamat di Jalan Patinggi no 78 Desa buni hayu Jalancagak Subang, sampai saat ini Sanggar Nina Production telah di liput oleh trans 7 dalam acara wara wiri, Daai TV dan pada tangggal 2 Mei 2010 telah diliput oleh ANTV dalam acara anak pemberani.

Pertunjukan

Pertunjukan Sisingaan pada dasarnya dimulai dengan tetabuhan musik yang dinamis. Lalu diikuti oleh permainan Sisingaan oleh penari pengusung sisingaan, lewat gerak antara lain: Pasang/Kuda-kuda, Bangkaret, Masang/Ancang-ancang, Gugulingan, Sepakan dua, Langkah mundur, Kael, Mincid, Ewag, Jeblag, Putar taktak, Gendong Singa, Nanggeuy Singa, Angkat jungjung, Ngolecer,Lambang, Pasagi Tilu, Melak cau, Nincak rancatan, dan Kakapalan. Sebagai seni Helaran, Sisingaan bergerak terus mengelilingi kampung, desa, atau jalanan kota. Sampai akhirnya kembali ke tempat semula. Di dalam perkembangannya, musik pengiring lebih dinamis, dan melahirkan musik Genjring Bonyok dan juga Tardug.

Penyajian

Pola penyajian Sisingaan meliputi:

Tatalu (tetabuhan, arang-arang bubuka) atau keringan

Kidung atau kembang gadung

Sajian Ibingan di antaranya solor, gondang, ewang (kangsreng), catrik, kosong-kosong dan lain-lain

Atraksi atau demo, biasanya disebut atraksi kamonesan dalam pertunjukan Sisingaan yang awalnya terinspirasi oleh atraksi Adem Ayem (genjring akrobat) dan Liong (barongsay)

Penutup dengan musik keringan.

Musik pengiring

Musik pengiring Sisingaan pada awalnya cukup sederhana, antara lain: Kendang Indung (2 buah), Kulanter, Bonang (ketuk), Tarompet, Goong, Kempul, Kecrek. Karena Helaran, memainkannya sambil berdiri, digotong dan diikatkan ke tubuh. Dalam perkembangannya sekarang memakai juru kawih dengan lagu-lagu (baik vokal maupun intrumental), antara lain: Lagu Keringan, Lagu Kidung, Lagu Titipatipa, Lagu Gondang,Lagu Kasreng, Lagu Selingan (Siyur, Tepang Sono, Awet rajet, Serat Salira, Madu dan Racun, Pria Idaman, Goyang Dombret, Warudoyong dll), Lagu Gurudugan, Lagu Mapay Roko atau Mars-an (sebagai lagu penutup). Lagu lagu dalam Sisingaan tersebut diambil dari lagu-lagu kesenian Ketuk Tilu, Doger dan Kliningan.

Pemaknaan

Ada beberapa makna yang terkandung dalam seni pertunjukan Sisingaan, diantaranya:

Makna sosial, masyarakat Subang percaya bahwa jiwa kesenian rakyat sangat berperan dalam diri mereka, seperti egalitarian, spontanitas, dan rasa memiliki dari setiap jenis seni rakyat yang muncul.

Makna teatrikal, dilihat dari penampilannya Sisingaan dewasa ini tak diragukan lagi sangat teatrikal, apalagi setelah ditmabhakn berbagai variasi, seperti jajangkungan dan lain-lain.

Makna komersial, karena Sisingaan mampu meningkatkan kesejahteraan mereka, maka antusiasme munculnya sejumlah puluhan bahkan ratusan kelompok Sisingaan dari berbagai desa untuk ikut festival, menunjukan peluang ini, karena si pemenang akan mendapatkan peluang bisnis yang menggiurkan, sama halnya seperti seni bajidoran.

Makna universal, dalam setiap etnik dan bangsa seringkali dipunyai pemujaan terhadap binatang Singa (terutama Eropa dan Afrika), meskipun di Jawa Barat tidak terdapat habitat binatang Singa, namun dengan konsep kerkayatan, dapat saja Singa muncul bukan dihabitatnya, dan diterima sebagai miliknya, terbukti pada Sisingaan.

Makna Spiritual, dipercaya oleh masyarakat lingkungannya untuk keselamatan/ (salametan) atau syukuran.

Sumber:

Ganjar Kurnia. 2003. Deskripsi kesenian Jawa Barat. Dinas Kebudayaan & Pariwisata Jawa Barat, Bandung.

Wikipedia

Olimpiade PAI SMA Alfa Centauri 2013

14 September 2013   249 views

sekelompok group nasyid SMA Alfa Centauri ikut memeriahkan kegiatan Olimpiade PAI Alfa Centauri Bandung Jumat (13/9/2013).

Sekelompok group nasyid SMA Alfa Centauri ikut memeriahkan kegiatan Olimpiade PAI Alfa Centauri Bandung Jumat (13/9/2013).

SMA Alfa Centauri menggelar seleksi siswa berbakat bidang keagamaan

Bandung (Jabarmedia) - Dalam rangka menjalankan visi misi sekolah, Musyawarah Guru Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam ( MGMP PAI) dan Tahfidz al-Qur’an SMA Alfa Centauri menggelar kegiatan seleksi siswa berbakat dalam bidang keagamaan melalui Olimpiade Pendidikan Agama Islam (PAI) Alfa Centauri Tahun 2013 di Jalan Cisangkuy No. 20 Bandung pada tanggal 13 s.d. 14 September 2013.

Selain mengembangkan sistem pembelajaran berbasis teknologi, kurikulum yang mengacu peraturan Dikti, sistem belajar di SMA Alfa Centauri ditambah muatan lokal dalam bidang keagamaan, seperti Tahfidz al-Quran dan lainnya.

Hal ini dimaksudkan agar peserta didik dapat mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) juga dilandasi dengan iman dan takwa (imtak) seperti tercermin dalam 3 misi SMA Alfa Centauri yang sangat strategis yaitu; Taqwa, Cerdas dan Kreatif.

Salah seorang guru bimbingan Alfa centauri, Aminah mengatakan, “kegiatan Olimpiade PAI ini dalam rangka mencari bibit-bibit unggul dari anak-anak didik kami dalam bidang kegamaan”, katanya.

Perlombaan Olimpiade PAI SMA Alfa Centauri ini diikuti oleh seluruh siswa kelas X dan XI yang mendaftarkan diri ke panitia lomba. Mereka memilih jenis lomba yang akan diikutinya sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing.

Antusiasme peserta didik SMA Alfa Centauri dalam mengikuti lomba terllihat dari kegigihan dan keseriusan mereka dalam mengikuti perlombaan untuk bersaing memenangkan perlombaan.

“Saya senang dapat mengikuti olimpiade ini karena dapat mengembangkan minat bakat kami dalam bidang agama”, ujar Farhan Rijal ditemani Aji Bagus salah seorang siswa Alfa Centauri yang mengikuti jenis perlombaan nasyid.

Adanya kegiatan semacam ini dapat memicu peserta didik untuk belajar agama khususnya al-Qur’an di sekolah. SMA Alfa Centauri sudah menerapkan pembelajaran tahfidz al-Qur’an kepada peserta didiknya saat sebelum pelajaran dimulai.

Pelajaran keagamaan yang diajarkan kepada peserta didik diajarkan oleh guru-guru PAI yang memang sudah berpengalaman, bahkan peserta didik mendapatkan pelajaran agama dari guru yang pernah belajar agama di universitas Timur Tengah seperti Al-Azhar Kairo Mesir.

Di bidang tahfidz al-Quran mereka dibimbing langsung oleh guru-guru SMA Alfa Centauri yang sudah hafal 30 juz al-Qur’an.

“Hafalan al-Qur’an itu dapat mendorong kecerdasan otak peserta didik, karena itu al-Qur’an sangat penting untuk tetap diajarkan di sekolah-sekolah”, ungkap Rahmat Baequni guru PAI SMA Alfa Centauri.

Tahun ini, SMA Alfa Centauri menggelar 6 jenis lomba bidang keagamaan, yaitu; tahfidz al-Qur’an, tahsin al-Qur’an, kaligrafi, cerdas cermat, khitobah/pidato dan nasyid. Setiap pemenang dari masing-masing jenis lomba akan dipilih yang terbaik untuk ditetapkan sebagai juara.

Rencananya panitia perlombaan akan memberikan bingkisan hadiah untuk setiap pemenang juara dalam jenis kategori lomba. “Kami akan mmberikan hadiah kepada mereka yang meraih juara 1, 2 dan 3”, kata Aminah disela-sela kesibukannya mengadakan perlombaan itu.

“Kami sudah mengantongi peserta yang bakal menjadi juara pada tiap-tiap kategori lomba, tapi kami belum mengumumkannya, paling tidak besok sudah ada keputusannya untuk juara 1, 2 dan 3 pada tiap-tiap kategori lomba, katanya.

Photo-photo Kegiatan Olimpiade PAI SMA Alfa Centauri 2013

menyaksikan nasyid

Beberapa siswa/i sedang menikmati pentas seni islami nasyid yang dipentaskan oleh siswa/i SMA Alfa Centauri pada acara Olimpiade PAI di kampus SMA Alfa Centauri Jl. Cisangkuy No. 20 Bandung, Jum’at (13/9/2013)

kaligrafi alfa

Seorang siswi SMA Alfa Centauri memperlihatkan kaligrafi hasil peserta kaligrafi siswa/i Alfa Centauri pada kegiatan Olimpiade PAI SMA Alfa Centauri di Jl. Cisangkuy No. 20 Bandung, Jum’at (13/9/2013)

perolehan suara cerdas cemat

seorang siswi dan dewan juri sedang menghitung nilai peroleh angka dari masing-masing regu dalam lomba cerdas cermat PAI pada kegiatan Olimpiade PAI SMA Alfa Centauri di Jl. Cisangkuy No 20 Bandung, Jum’at (13/9/2013)

kaligrafi

sejumlah siswa Alfa Centauri sedang mengikuti lomba kaligrafi pada kegiatan Olimpiade PAI SMA Alfa Centauri di Jl. Cisangkuy No 20 Bandung, Jum’at (13/9/2013)

salah seorang siswa SMA Alfa Centauri mengancungkan tangan saat hendak menjawab pertanyaan dewan juri dalam lomba cerdas cermat PAI di kampus SMA Alfa Centauri Jl. Cisangkuy No. 20 Bandung, Jum'at (13/9/2013)

Salah seorang siswa SMA Alfa Centauri mengancungkan tangan saat hendak menjawab pertanyaan dewan juri dalam lomba cerdas cermat PAI di kampus SMA Alfa Centauri Jl. Cisangkuy No. 20 Bandung, Jum’at (13/9/2013)

suasana cerdas cermat

tiap-tiap regu lomba cerdas cerat berebut kesempatan untuk menjawab pertanyaan dari dewan juri pada acara Olimpiade PAI SMA Alfa Centauri di Jl. Cisangkuy No 20 Bandung, Jum’at (13/9/2013)

Seorang siswi mengacungkan tangan saat mengikuti lomba cerdas cermat dalam kegiatan Olimpiade PAI yang digelar panitia MGMP PAI Alfa Centauri Bandung di Jl. Cisangkuy No. 20 Bandung, Jum'at (13/9/2013)

Seorang siswi mengacungkan tangan saat mengikuti lomba cerdas cermat dalam kegiatan Olimpiade PAI yang digelar panitia MGMP PAI Alfa Centauri Bandung di Jl. Cisangkuy No. 20 Bandung, Jum’at (13/9/2013)

Riset Gunung Padang Sudah Selesai, Ada Temuan Istimewa

13 September 2013   141 views

Kini laporan riset akan dituntaskan untuk dilaporkan ke presiden

gunung padang

gunung padang (photo: google)

Penelitian Tim Terpadu Riset Mandiri (TTRM) di Situs Gunung Padang, Jawa Barat, telah selesai. Danny H. Natawidjaja, koordinator tim itu, mengungkapkan bahwa banyak kemajuan positif dari penelitian ini, yang bisa mengungkap tuntas situs purba tersebut.

“Banyak progres. September ini akan dilanjutkan tapi menunggu keputusan. Karena pemugaran situs perlu instruksi presiden. Mudah-mudahan masih bisa terus berlanjut,” ujar Danny, Rabu 11 September 2013 kepada VIVAnews.

Danny menegaskan bahwa sejauh ini semua temuan mengerucut pada satu kesimpulan bahwa situs Gunung Padang memang sangat istimewa. Keistimewaan itu bisa dilihat dari luas situs dan ketinggian, yang bahkan lebih dari Borobudur. Belum lagi soal bahwa situs itu dibangun lebih dari satu lapis budaya.

“Ada beberapa lapis lapis budaya. Untuk lapisan budaya luar umurnya 2.500 tahun sebelum Masehi, sementara yang di bawah sampai 7.000 tahun sebelum Masehi. Di dalamnya itu sudah istimewa,” kata geolog dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia itu.

Namun ia enggan mengutarakan kemungkinan keistimewaan bagian dalam situs. Danny beralasan lebih baik menunggu hasil pemugaran. “Sementara itu dulu saja. Yang lainnya nanti,” ujar dia.

sumber: news.viva.co.id

Dalang Filipina Meriahkan Festival Wayang Internasional 2013 di Bandung

12 September 2013   139 views

Jennifer1

Jennifer Belen dalang Filipina memainkan boneka saat pentas dalam pertunjukan Festival Wayang Internasional (FWI) 2013 di Bale Rumawat Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung, Kamis (12/9/2013)

Bandung (JABARMEDIA) – Dalang Filipina Jennifer Belen tampil dengan boneka-boneka yang aktraktif dan inovatif pada Festival Wayang Internasional (FWI) 2013 di Bale Rumawat kampus Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung, Kamis (12/9/2013) sore.

Kepiawaiannya dalam mengolah suara (oral) ke dalam karakter boneka berhasil mengandung “aplus” para penonton di Bale Rumawat, Unpad, Bandung, (12/9) yang kebanyakan siswa-siswi SMA, mahasiswa, guru dan orang tua.

Dalam memainkan bonekanya, sesekali Jenifer mengeluarkan kata “bahasa”, “lah”, “terima kasih” dan “gunting” sehingga menambah suasana lebih komunikatif, edukatif dan humanis. Melalui judul “One World One Song” Jenifer memilih jenis boneka yang membawa karakter dan bahasa dari masing-masing negara peserta FWI 2013.

Salah seorang penonton, Hesti Ajeng (16), siswi SMAN 11 Bandung, mengatakan, “sebelumnya saya tidak pernah nonton wayang karena takut, setelah diajak guru sebagai perwakilan kelas saya jadi penasaran, tapi setelah saya menontong acara (FWI 2013) ini saya suka sekali, ujarnya.

Begitupun Erina (15), mengaku bahwa setelah menonton acara (FWI) ini, dirinya merasakan seperti mendapatkan suasana baru.

“Saya tidak suka wayang tapi di acara ini saya seperti mendapat nuansa baru dalam seni, wayangnya perempuan, meski sedikit-sedikit mengerti bahasa Inggris tapi saya (seperti) mengerti karena boneka-boneka (yang dipermainkan Jennifer) itu tidak menakutkan malah lucu” kata Erina.

Jennifer Belen merupakan salah seorang pemain wanita dan performer Filipina dengan Juancho Lunaria’s. Dalam mementaskan permainannya, Jennifer selalu diiringi dengan musik yang dimainkan sang sutradara Danny Liwanag, sehingga pertunjukan yang ditampilkannya dapat menciptakan suatu dunia fantastik yang menyentuh hati baik anak-anak dan orang dewasa.

Dunia yang menyatukan perspektif yang segar dalam kehidupan di samping realita yang pahit. Jennifer yang tergabung dalam Roppets Edutainment Production tidak hanya sebuah pertunjukan, melainkan kehidupan.

Tujuh Negara Ikuti Festival Wayang di Bandung

11 September 2013   114 views

wayang

wayang golek: gambar google

Tujuh negara akan ikut serta dalam Festival Wayang Internasional yang akan dilaksanakan di Bale Rumawat Universitas Padjadjaran (Unpad) Bandung, 12-13 September 2013.

Panitia acara Festival Wayang Internasional Hendra Permana, di Bandung, Senin, menuturkan tujuh negara yang mengirimkan perwakilannya pada acara ini diantaranya Madagaskar, Australia, Belanda, Filipina, Singapura dan Turki. “Dan mereka semuanya akan menampilkan pagelaran wayang dari daerah masing-masing,” kata Hendra.

Ia mengatakan perwakilan Indonesia yang diwakili oleh Studio Pohaci akan menampilkan wayang motekar, yang akan dipentaskan seperti pertunjukan wayang kulit.

“Namun nantinya bukan hanya siluet hitam yang ditampilkan, melainkan berwarna-warni,” ujarnya.

Ia menuturkan, Festival Wayang Internasional ini baru kali pertama dilaksanakan dan diharapkan masyarakat makin mencintai kesenian, terutama wayang.

“Pada saat pelaksanaan nanti, wayang dari masing-masing negara akan tampil dengan bahasa masing-masing. Tapi penonton tidak akan terlalu sulit mencerna cerita yang akan ditampilkan,” katanya.

Menurut dia, perwakilan dari luar negeri pada acara ini akan lebih banyak memperbanyak menampilkan wayang dengan gerakan dan nyanyian serta teksnya juga sebagian mengambil idiom Bahasa Indonesia.

“Untuk sasaran dari pertunjukan tersebut adalah semua kalangan mulai dari anak kecil hingga dewasa. Ada berbagai pesan positif yang akan disampaikan melalui pagelaran wayang nanti,” kata dia.

Bale Rumawat, kata Hendra, mampu menampung sekitar 150 orang dan jika ternyata penonton membludak maka bisa menyaksikan melalui layar lebar di sekitar Bale Rumawat.

“Jadi bagi anda yang ingin menyaksikan pagelaran wayang dari tujuh negara, anda tinggal datang ke Bale Rumawat. Hari pertama berlangsung dari mulai pukul 10.00 WIB hingga malam dengan menampilkan wayang dari empat negara,” ujarnya.

Sementara itu, untuk hari kedua pagelaran akan berlangsung hingga sore dengan menampilkan berbagai wayang dari tiga negara. “Lalu untuk puncak acaranya akan ditutup dengan penampilan wayang motekar dari Indonesia,” kata Hendra.

Sumber: Republika Online

Belajar Sejarah dan Tari Lewat Drama Tari Citraresmi

1 June 2013   513 views

RETNO HY/"PRLM"

RETNO HY/”PRLM”

Lima kali pegelaran drama tari “Citraresmi Labuh Pati” ditonton tidak kurang dari 3.000 orang penonton. Pegelaran drama tari dengan latar belakang sejarah dalam bentuk kolosal merupakan peristiwa langka dan menarik.

Apresiasi masyarakat terhadap pegelaran seni drama tari yang disuguhkan Mahasiswa Pendidikan Seni Tari 2010 Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, masih sangat tinggi.

“Ini dibuktikan dengan pegelaran (drama tari) yang kami suguhkan dalam dua hari (Kamis-Jumat, 30-31/5) ini, setiap pegelaran ditonton tidak kurang dari 500 penonton,” ujar Lestari Cucu Usmanawati, selaku Ketua Pelaksana pegelaran drama tari “Citraresmi Labuh Pati”, di sela-sela persiapan pegelaran terakhir (Jumat,31/5) malam di Teater Tertutup Balai Pengelolaan Taman Budaya Jawa Barat (Dago Tea House) Bandung.

Pegelaran yang didukung 50 orang penari dan 15 orang nayaga dengan cerita tentang terjadinya Perang Bubat yang berakhir dengan kematian Puteri Citraresmi (Puteri Dyah Pitaloka Ratna Citraresmi), terbagi dalam empat babak.

Cerita diawali dengan tersiarnya kecantikan Puteri Citraresmi puteri dari Linggabuana raja Sunda Galuh, terdengar ditelinga raja Majapahit Prabu Hayam Wuruk dan diakhiri dengan adegan Puteri Citraresmi yang mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri karena melihat kedua orang tua serta pasukan pengiring dibunuh oleh pasukan Majapahi pimpinan Patih Gajah Mada.

“Dalam kemasan pegelaran memang sangat sederhana sekali, baik dari sisi artistik panggung maupun musik pengiring. Namun yang perlu diacungi jempol adalah keberanian dari anak-anak dalam mengangkat sejarah sebagai cerita drama tari,” ujar Toto Amsar, S,Sn. M.Hum, praktisi dan akademisi seni tari seusai menyaksikan pegelaran.

Diungkapkan Toto Amsar, mahasiswa Pendidikan Seni Tari 2010 Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, sudah memberikan jawaban keraguan akan kelangkaan penari pria serta langkanya pegelaran drama tari dalam bentuk kolosal di Jawa Barat umumnya dan Kota Bandung khususnya.

“Pegelaran ini merupakan peristiwa langka, dan patut diapresiasi oleh anak-anak sekolah agar mengenal sejarah sekaligus seni (tari),” ujar Toto Amsar. (A-87/A-88)***

sumber+foto:pikiran-rakyat.com

Kontribusi Budaya Jabar Terhadap Nasional Signifikan

27 May 2013   142 views

ERIYANTI NURMALA DEWI/"PRLM"

ERIYANTI NURMALA DEWI/”PRLM”

Kontribusi budaya Jawa Barat terhadap nasional signifikan. Berbagai jenis budaya asal Jawa Barat membawa nama Indonesia pada dunia. Contohnya angklung dan batik yang telah dinyatakan Unescos sebagai kekayaan milik dunia tak benda.

Kadipasbud Jabar Nunung Sobari menyampaikan hal itu saat membuka “Temu Sastrawan Jawa Barat”, di Hotel Panorama Lembang, Bandung, Senin (27/5/2013). Hadir sejumlah sastrawan dari tiga wilayah bahasa di Jawa Barat, Sunda (Priangan), Cirebon, Melayu Bekasi, dan sastrawan Indonesia asal Jabar.

Nunung mengatakan, angklung diperkenalkan pertama kali oleh Bapak Daeng Sutigna sebagai angklung pentatonik pada penyelenggaraan KAA 1955. Batik di Jawa Barat juga sudah terdapat di berbagai kab/kota dengan ikonnya masing-masing. Batik Tasik, Batik Garutan, maupun Batik Cirebon merupakan batik yang memberi kontribusi pada budaya nasional.

Selain itu, kata Nunung, wayang juga memberi kontribusi besar pada nasional. Seperti adanya wayang golek, wayang beber, wayang cepak, dll. “Itu semua budaya Jabar yang keberadaannya memberi kontribusi pada budaya nasional,” ujarnya.

Selain ketiga hasil budaya tersebut, Nunung juga menamb ahkan, kontribusi seni pertunjukkan dan non pertunjukkan seperti senirupa dan sastra, sangat besar. Sejumlah sastrawan asal Jabar namanya diperhitungkan di pentas nasional.

Termua sastrawan ini pun, kata Nunung, dipastikan akan memberi masukan bagi keberadaan sastra nasional maupun daerah atas prestasi sastrawan di bidang karyanya.

Terlebih Jawa Barat telah memberlakukan Perda No 5 Tahun 2003 tentang bahasa, sastra, dan aksara daerah. Temu sastrawan ini merupakan realiasi pelaksanaan perda tersebut. Di mana para sastrawan duduk bersama membicarakan tentang bagaimana membaca interaksi sastra dan sastra Indonesia di Jawa Barat.

di Jawa Barat, lanjut Nunung, terdapat 3 wilayah bahasa, yakni bahasa Sunda (Priangan), bahasa Cirebon (Cirebon), dan bahasa Melayu Bekasi (Bekasi). Ketiga wilayah ini merupakan potensi budaya besar di Jawa Barat sehingga perlu pertemuan untuk merencanakan keberlangsungan wilayah bahasa tersebut secara masing-masing dan bersama. (A-148/A-147)***

sumber+foto:pikiran-rakyat.com

Next Page »

PERSIB

Sejarah Hari Ini (17 April): Persib Juara Perserikatan Terakhir, 1994

Tepat hari ini, 20 tahun yang lalu digelar laga bersejarah di kompetisi sepakbola... 

Persib Bandung Siap Hadapi Tantangan Ajax Amsterdam

Pelatih Persib Bandung Djadjang Nurdjaman mengaku senang timnya direncanakan akan... 

Hari Ini Bobotoh-The Jack Mania Berdamai di Bogor

Pendukung Persib Bandung (Bototoh) dan suporter Persija Jakarta (The Jack Mania)... 

Informasi Sebelumnya