web analytics
indositehost.com

Pembangunan Monumen Cadas Pangeran Harus Ada Kajian Teknis

15 July 2014   3 views

cadas-pangeranRencana pembangunan Monumen Cadas Pangeran (MCP) di kawasan Jalan Cadas Pangeran, Kec. Pamulihan, perlu dilakukan kajian teknis dan Feasibility Study (FS/studi kelayakan). Hal itu dengan pertimbangan, kondisi geografis di kawasan Cadas Pangeran relatif sulit.

Tanahnya labil dengan tingkat kemiringan yang cukup tinggi sehingga rawan longsor. Kalau pun dibangun, perlu ada penyiapan dan pematangan lahan. Pertimbangan lainnya, kebutuhan anggarannya cukup besar karena membangun kawasan dan MCP yang besar dan megah. .

“Namun demikian, rencana pembangunan Monumen Cadas Pangeran ini tetap akan kami laksanakan. Tahun ini, kami akan mengusulkan pembuatan kajian teknis, FS sekaligus pengajuan anggaran dalam APBD tahun 2015,” kata Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga (Disbudparpora) Kab. Sumedang, Endah Kusyaman di kantornya, Senin (14/7/2014).

Ia menyebutkan, rencana pembangunan MCP diakui sudah digulirkan sejak 2005 berupa perencanaan teknis.

Akan tetapi, karena kondisi lahan dan geografisnya relatif sulit ditambah kebutuhan anggarannya cukup besar, sehingga pembangunannya sampai sekarang belum bisa dilaksanakan.

Meski MCP belum bisa dibangun, namun sebelumnya Disbudparpora sudah berusaha melakukan penataan kawasan Cadas Pangeran.

“Penataannya, di antaranya membuat patung Pangeran Kornel dan HW. Deandels yang baru dengan ukuran lebih besar. Kami juga menata tamannya serta membuat huruf Cadas Pangeran yang besar,” ujar Endah didampingi Kabid Kebudayaan Eli Suliasih

Upaya lainnya, kata dia, sebelumnya Disbudparpora sempat akan bekerjasama dengan Bank Jabar dan Banten (BJB) untuk menata kawasan objek daya tarik wisata (ODTW) Cadas Pangeran tahun 2012.

Penataannya menggunakan dana CSR (corporate social responsibility) BJB, seperti membangun 43 kios atau outlet makanan dan kerajinan khas Sumedang, membangun 2 unit gapura dan 1 unit mushola.

“Namun karena saat itu terjadi pergantian pimpinan BJB, sehingga kerjasama itu sampai sekarang belum terlaksana. Namun, kami akan berupaya menjajaki lagi kerjasama dengan BJB, ” ujarnya.

Di tempat terpisah, Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU), Sujatmoko di kantornya mengatakan, pembangunan Bundaran Polres hingga kini masih berjalan.

Kegiatan tahun ini, diantaranya melanjutkan pembebasan lahan, bangunan dan tegakan (tanaman) di lokasi bundaran, membersihkan berbagai utilities PLN, Telkom, PDAM dan operator ponsel.

Selain itu, pemindahan saluran air serta membangun kantor pelayanan SIM di Mapolres Sumedang yang baru di Jln. Prabu Gajah Agung/Bypass senilai Rp 4,15 miliar.

“Jadi, sebelum pembangunan fisik, lokasi pembangunan Bundaran Polres sudah clear and clean dulu. Setelah di lokasi bersih, baru tahun depan kami akan melangkah pada pembangunan fisik,” ujarnya.

Dikatakan, Balai Besar Pelaksanaan Jalan (BBPJ) Wil. IV/DKI Jakarta, Jabar dan Banten, sudah menyiapkan anggaran kisaran Rp 7-8 miliar untuk pembangunan jalan di Bundaran Polres.

Sementara Pemkab Sumedang sudah menganggarkan Rp 6 miliar untuk membangun bundarannya, trotoar, saluran air, tembok penahan tebing (TPT), dll.

“Pak Bupati H. Ade Irawan dan saya optimis dan yakin, pembangunan fisik Bundaran Polres akan terwujud tahun depan. Sampai-sampai Pak Bupati sempat mendatangi langsung ke kantor BBPJ. Jadi, Pak Bupati tidak berwacana, tapi sudah tataran implementasi. Bahkan Pak Bupati akan melaksanakan satu per satu, 9 program unggulan termasuk membangun Bundaran Polres, Jalan Sukasari-Lembang dan Bendung Rengrang,” ujar Sujatmoko.

Sementara itu, Kabag Humas Pemkab Sumedang, Asep Tatang mengatakan, rencana pembangunan Bundaran Polres memerlukan lahan seluas 8.497 meter persegi.

Lahan seluas itu, dibagi menjadi 35 bidang yaitu milik masyarakat 27 bidang, instansi 7 bidang dan yayasan 1 bidang.

Pembebasan lahannya, sudah dilakukan sejak 2013 dan hingga kini sudah direalisasikan seluas 4.344 meter persegi atau sebanyak 22 bidang tanah masyarakat.

“Mudah-mudahan tahun ini dapat membebaskan lahan sisanya seluas 4.152 meter persegi atau sebanyak 13 bidang,” tuturnya.

Untuk pengelolaan Tahura (Taman Hutan Rakyat), lanjut dia, dari tahun ke tahun telah dan sedang dilaksanakan berbagai program kegiatan. Dari informasi UPTD Tahura Dishutbun Kab. Sumedang, untuk kegiatan pengelolaan Tahura pada tahun 2013 dilaksanakan kegiatan peningkatan kapasitas Tahura Gunung Kunci dan Gunung Palasari dengan melaksanakan kegiatan rehabilitasi kantor pengelola Tahura Rp 13,7 juta dan pembuatan pagar Rp 95 juta.

“Nah, tahun 2014 dianggarkan Rp 130 juta untuk pengadaan sarana dan prasarana outbound, Rp 100 juta untuk kegiatan pengadaan peralatan dan perlengkapan outbound dan Rp. 100 juta untuk penataan sarana dan prasarana Tahura,” kata Asep Tatang. (pikiran rakyat)

Wayang Golek Bambu Asli Bogor

8 July 2014   2 views

WAYANGTerinspirasi dengan Wayang Golek yang pada umumnya terbuat dari kayu. Namun, Drajat Iskandar warga Cijahe, Semplak Kota Bogor mencoba menciptakan betuk baru wayang golek dengan bahan dasar bambu.

Seniman sunda ini menciptakan sesuatu yang baru untuk memperkaya khasanah budaya Nusantara.

Wayang bambu menurut yang akrab di panggil Ki Drajat ini bisa dikatakan sebuah bentuk pengembangan dari wayang golek pada umumnya. Karena tokoh dan karakteristik wayang ciptaannya sama seperti yang diperankan wayang golek kayu termasuk ornamaen yang dikenakannya.

Namun, menurut Ki Drajat, cerita yang diangkat wayang bambu tidak sama dengan wayang golek. ”Saya ciptakan cerita sendiri, karena saya berkeinginan wayang bambu menjadikannya ikon di kota Bogor ini,” katanya.

Drajat menambahkan, konon, wayang golek baru ada Di Cirebon sejak masa Panembahan Ratu (cicit Sunan Gunung Jati (1540-1650). Di sana (di daerah Cirebon) disebut sebagai wayang golek papak atau wayang cepak karena bentuk kepalanya datar.

Pada zaman Pangeran Girilaya (1650-1662) wayang cepak dilengkapi dengan cerita yang diambil dari babad dan sejarah tanah Jawa. Lakon-lakon yang dibawakan waktu itu berkisar pada penyebaran agama Islam. Selanjutnya, wayang golek dengan lakon Ramayana dan Mahabarata (wayang golek purwa) yang lahir pada 1840 (Somantri, 1988).

“Wayang golek yang ada sekarang adalah merupakan pengembangan wayang golek sebelumnya, baik cerita ataupun bentuk dengan bahasa yang yang disesuaikan dengan jamannya,” tambah lelaki penyandang pemuda pelopor dua tahun berturut itu.

Diakui Ki Drajat, pembuatan wayang bambu cukup sulit karena harus menjalin bilah-bilah bambu yang rumit. Terutama pada saat membuat suvenir wayang bambu dalam botol yang membutuhkan 3 kali eksperimen untuk mendapatkan bentuk yang sempurna.

“Selain wayang bambu utuk di pergelarkan dengan sebuah cerita di atas panggung, saya buat juga dalam bentuk mini sebagai souvenir khas Bogor “ Jelas Ki Drajat.

(berita bogor)

SMA Alfa Centauri: Menggali Kreativitas Anak Dengan Acara Parents Day

12 May 2014   102 views

pertunjukan-parentsdaySekolah yang terletak di Jl. Diponegoro Bandung ini setiap tahunnya mengadakan acara ” Parents Day”. Dalam acara tersebut siswa bisa mengembangkan kreativitasnya dan dilatih mengembangkan sosialisasi serta kepemimpinan dalam proses acara ini. Besarnya animo siswa dalam mengikuti acara “Parents Day” ini membuktikan bahwa siswa-siswi sangat termotivasi untuk belajar mengembangkan kreativitasnya lebih baik lagi. Dalam rangka mengeksplorasi kreativitas siswa sekaligus mengajak orang tua peserta didik untuk melihat kreativitas anak mereka. SMA Alfa Centauri mengadakan acara “Parents Day” sebagai media belajar dan sekaligus diadakan sebagai acara silahturahmi tahunan untuk orang tua murid.

Dalam acara ini siswa seakan-akan beruji nyali dan membuktikan kepada orang tua dan teman-temannya yang hadir di acara tersebut. “Saya sebenarnya tidak berani tampil di depan umum, tetapi dengan adanya acara ini saya bisa berani dan membuktikan bahwa saya bisa dan berani tampil di depan umum” Ujar salah satu siswa peserta “Parents Day”. Bahkan menurut salah satu orang tua siswa yang hadir sampai terharu dan kagum bahwa ternyata SMA Alfa Centauri memberi peluang kepada siswanya untuk belajar kreatif.
Acara ini berlangsung dua hari mulai tanggal 11 sampai 12 Mei 2014. “Persiapan kami tidak beda jauh dengan tahun sebelumnya, untuk tahun ini kami tidak melibatkan kelas XII yang sedang sibuk Super Intensif di Sony Sugema College persiapan menjelang SBMPTN” Kata salah satu panitia. (az-raxal/jabarmedia)

Pawai Jampana Meriahkan HUT Kab. Bandung

21 April 2014   64 views

kab babdungSOREANG, -Warga masyarakat ikut memeriahkan hari jadi ke-373 Kab. Bandung dengan mengadakan pawai jampana. Pawai berupa miniatur rumah yang diisi dengan berbagai hasil bumi yang ditandu empat orang.

Pawai diawali marching band binaan Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata Kab. Bandung lalu diikuti puluhan mobil hias dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD). Setelah itu, ratusan jampana kreasi dari warga juga ikut pawai melintas di depan panggung kehormatan.

Di panggung Bupati Bandung H. Dadang M. Naser dan Wabup H. Deden Rukman Rumaji menyambut para peserta pawai. Nampak hadir para mantan bupati, Ketua DPRD Kab. Bandung H. Toto Suharto, dan para kepala OPD.

Hal unik ketika Dadang Naser harus meniup obor yang ditempatkan di atas miniatur kue ulang tahun. Jampana yang dibawa masyarakat Kampung Randukurung, Kutawaringin itu sebagai simbol ulang tahun Kab. Bandung.

Dadang Naser membutuhkan waktu cukup lama karena harus berkali-kali meniup obor agar padam. “Saya sempat terbatuk-batuk setelah berhasil meniup obor. Kalau biasanya ulang tahun meniup lilin, tapi ini obor,” katanya sembari tertawa.

(Pikiran Rakyat Online)

Seni Berokan Indramayu, Seni Para Wali Untuk Tolak Bala

15 March 2014   48 views

DSCF2345Berokan adalah salah satu seni sebagai sarana syiar islam jaman para wali. Kini seni tersebutsudah berubah pungsi, selain sebagai sarana hiburan trdisional, seni berokan juga masih dipercaya adat sebagai kesenian tolak bala.

Demikian dikatakan Darman(68) warga desa Tanjungkerta kecamatan Kroya kabupaten indramanyu kemarin di rumahnya.

Menurut Darman yang mengaku turunan ke XII dari kake moyangnya sebagai penerus Seni Berokan, mengatakan bahwa kesenian berokan ini adalah sebagai alat sarana Si’ar Agama Islam dari jamaan para wali ( Kanjeng Sunan Kalijaga).

Dijelaskannya, kesenian tersebut dimainkan berpindah pindah dari satu tempat ke tempat lainnya, ketika orang sudah berkumpul, kesenia bisa dimainkan dengan sarat para penontonnya mengucapkan “dua kalimat sahadat” dan seterusnya.

Kesenian yang diciptakan Kajeng sunan Kalijaga tersebut, sekarang menjadi seni tredisional indramayu, selain berfungsi sebagai kesenian, seni tersebut juga dipercaya sebagai seni tolak bala.

Kepercayaan tolak bala melalui seni tersebut, itu dilakukan bila di daerah tertentu lagi banyak musibah,baik penyakit manusia maupun hama tanaman, konon katanya mampu mengusir roh-roh jahat, sehingga kondisi daerah tersebut menjadi tenang kembali.

Berokan ratusan tahun yang mempunyai khodam bernama Ki kuncung atau ki Cuplak,dan dimiliki turunan ke XII tersebut, yang kini menjadi kramat baginya, katanya sewaktu waktu, berokan tua itu berbunyi sendiri, dan itu katanya menandakan, untuk memulai perjalanan tolak bala berpindah pindah dari desa yang satu ke desa yang lainya.

Adapun sebagai imbalannya, masyarakat sudah pada mengerti sendiri, tanpa diminta mereka mau memberi.Rata- rata masyarakat memberinya bukan uang, melainkan ada yang memberi beras dan juga ada yang mengasih padi, itu seikhlasnya yang disampaikan Darman.(mediajabarkita.com)

Para Raja dan Sultan Bakal Kumpul di Bandung

21 February 2014   126 views

safe_image.phpKonvensi Nasional dalam rangka Penyusunan Rekomendasi Adat, Adab, dan Budaya Nusantara 2014 akan digelar di Gedung Merdeka, Jalan Asia-Afrika, Kota Bandung, Minggu (23/2/2014). Konvensi yang dimulai pukul 8.00-17.00 WIB akan dihadiri para raja dan sultan dari wilayah di Indonesia.

Sebelum menggelar konvensi, ‘Mipit Amit’ (mohon izin) diadakan Jumat (21/2/2014). Ketua Umum acara Konvensi Nasional, Setiajaya Satria Rassidy mengatakan mereka berdoa untuk tiga hal yang akan dibahas pada konvensi nasional minggu nanti.

Tiga hal itu adalah menyampaikan kesetaraan tentang adat, istiadat dan budaya, menetapkan hari peradaban nusantara, dan pembuatan payung hukum untuk seluruh organisasi atau lembaga adat, istiadat, dan budaya Indonesia.

Konvensi ini bertujuan meluruskan kerancuan adat, istiadat, dan budaya Indonesia. Raja Samu – Samu VI, sekaligus Sekjen Badan Pengurus Silaturahmi Nasional (BP Silatnas) Raja – Sultan Indonesia YM. Upu Latu M.L. Benny Ahmad Samu Samu mengatakan saat ini banyak sekali kerancuan yang terjadi.

“Contohnya adalah orang jawa menobatkan orang sumatra atau kalimantan sebagai raja, begitu juga sebaliknya. Kan enggak ada hubungan darahnya, jadi ini yang rancu,” katanya.

Dalam konvensi juga, menurut Raja dari Maluku ini akan ada tiga pilar yang dibangun, yaitu menyepakati, membangun, dan menginvetarisasi seluruh adat, istiadat, dan kebudayaan Indonesia. “Makanya nanti kami akan menerbitkan sebanyak 20 ribu buku penyetaraan atau standardisasi tentang adat istiadat nusantara, nantinya buku ini akan disebar ke seluruh Indonesia secara gratis,” ujarnya.

Sebelum acara konvensi nasional dimulai, para raja – sultan akan melakukan memorial walk Asia Afrika dari Hotel Savoy Homan ke Gedung Merdeka. Menurut Humas Konvensi Nasional Asti (30) saat memorial walk, jalan Asia Afrika tidak akan ditutup, hanya akan ada pengawalan dari pihak kepolisian saja. (pikiran-rakyat.com)

Perangko, Bertahan di Tengah Gempuran Zaman

2 October 2013   152 views

perangko indonesiaDi masa jayanya kegiatan surat-menyurat menjadi andalan masyarakat untuk berkomunikasi. Seiring perkembangan zaman hingga tahun 1996, perangko jadi primadona khususnya saat hobi mengoleksi perangko alias filateli marak di Indonesia.

Gempuran teknologi dengan masuknya telepon genggam mengalahkan kegiatan berkirim surat yang identik dengan penggunaan perangko. Tak ayal anak muda sekarang ini ogah mengumpulkan perangko. Berbagai upaya pun kembali digairahkan agar dunia filateli kembali berjaya.

Salah satunya pameran filateli yang digelar di Kota Bandung. Untuk membangkitkan minat kawula muda pada filateli, Perkumpulan Filatelis Indonesia (PFI) Jawa Barat menggelar pameran filateli. Lebih dari 5.000 lembar perangko dari seluruh Indonesia dipamerkan pada Pameran Filateli Nasional di Wahana Bakti Pos, Jalan Banda, Kota Bandung. Dalam kegiatan tersebut, berbagai jenis perangko dipajang mulai dari perangko tema flora, fauna, hingga perangko bersejarah.

Ketua PFI Jabar Goenawan Wanaradja mengatakan, sejak datangnya teknologi informasi perkembangan filateli jadi stagnan. Orang tidak lagi memakai perangko. Ucapan Hari Raya Idul Fitri tidak lagi menggunakan kartu Lebaran, tapi cukup mengirim short message service(SMS). “Teknologi ini jelas memadamkan filateli khususnya untuk pemula. Adapun penambahan filatelis muda itu dalam jumlah yang sedikit. Itu pun hanya anak-anaknya filatelis saja. Dulu kami punya slogan sejuta filatelis, sekarang 1% saja masih untung,” ujarnya.

Secara global, filateli menjadi hobi yang kena imbas cukup besar dengan kehadiran handphone. Di Jabar, jumlah filatelis kurang dari 1% dari jumlah penduduk. Apalagi senior-senior penggila filateli sudah banyak yang meninggal. Di masa jayanya, filateli amat diminati hingga PFI pernah mengadakan pameran dunia remaja. Dia mengatakan, perangko tak hanya sebatas kelengkapan surat. Meski perangko hanya kertas bergambar yang ukurannya kecil, tapi ada banyak makna yang terkandung di dalamnya. Perangko adalah bagian dari sejarah.

Filateli juga tak hanya memuaskan hobi, perangko dimiliki bisa menjadi investasi. Karena semakin langka perangkonya, maka harganya makin melangit. Bahkan, ada perangko yang harga satu lembarnya mencapai Rp1,5 miliar. Perangko tersebut adalah perangko yang dikeluarkan Pos Militer Surakarta pada tahun 1946. Perangko ini hanya tersisa 50 lembar saja di dunia. Untuk merawat berbagai koleksi perangko butuh perlakuan khusus dan ketekunan pemiliknya.

Misalnya, menghindari kerusakan perangko harus dilapisi plastik khusus sebelum disimpan di dalam buku sejenis album. Untuk menjaga kelembabannya perangko disimpan di ruangan yang memiliki pendingin. Bahkan, perangko mahal disimpan di dalam lemari besi. “Tapi, kalau mau memulai hobi filateli nggak usah yang mahal-mahal,” ujar Goenawan. Sayangnya, upaya menggairahkan filateli belum disokong sektor pendidikan. Tidak ada dukungan kurikulum yang disahkan pemerintah daerah. Padahal, hingga tahun 2000 filateli menjadi ekstrakurikuler di sekolah.

Menurutnya, filateli bisa mengembangkan kreativitas anak dan mencegah anak melakukan hal negatif. “Saya berharap lewat pameran filateli, para remaja memiliki wawasan ke-Indonesiaan, karena melalui perangko kita bisa belajar banyak tentang sejarah,” tuturnya.(koran-sindo.com)

Tradisi Sisingaan

28 September 2013   160 views

sejumlah siswa SLTP memainkan sisingaan dalam kegiatan West Java Tea Festival 2013, Sabtu (21/9/2013)/Jabarmedia.com

Sejumlah siswa SLTP memainkan sisingaan dalam kegiatan West Java Tea Festival 2013, Sabtu (21/9/2013)

Sisingaan atau Gotong Singa (sebutan lainnya Odong-odong) merupakan salah satu jenis seni pertunjukan rakyat Jawa Barat, khas Subang (di samping seni lainnya seperti Bajidoran dan Genjring Bonyok) berupa keterampilan memainkan tandu berisi boneka singa (Sunda: sisingaan, singa tiruan) berpenunggang.

Sejarah dan perkembangan

Terdapat beberapa keterangan tentang asal usul Sisingaan ini, di antaranya bahwa Sisingaan memiliki hubungan dengan bentuk perlawanan rakyat terhadap penjajah lewat binatang Singa kembar (Singa kembar lambang penjajah Belanda), yang pada waktu itu hanya punya sisa waktu luang dua hari dalam seminggu. Keterangan lain dikaitkan dengan semangat menampilkan jenis kesenian di Anjungan Jawa Barat sekitar tahun 70-an, ketika Bupati Subang dipegang oleh Pak Atju. Pada waktu itu RAF (Rachmatulah Ading Affandi) yang juga tengah berdinas di Subang, karena ia dikenal sebagai seniman dan budayawan dimintakan kitanya. Dalam prosesnya itu, akhirnya ditampilkanlah Gotong Singa atau Sisingaan yang dalam bentuknya masih sederhana, termasuk musik pengiringnya dan kostum penari pengusung Sisingaan. Ternyata sambutannya sangat luar biasa, sejak itu Sisingaan menjadi dikenal masyarakat.

Dalam perkembangan bentuknya Sisingaan, dari bentuk Singa Kembar yang sederhana, semakin lama disempurnakan, baik bahan maupun rupanya, semakin gagah dan menarik. Demikian juga para pengusung Sisingaan, kostumnya semakin dibuat glamour dengan warna-warna kontras dan menyolok.. Demikian pula dengan penataan gerak tarinya dari hari ke hari semakin ditata dan disempurnakan. Juga musik pengiringnya, sudah ditambahkan dengan berbagai perkusi lain, seperti bedug, genjring dll. Begitu juga dengan lagu-lagunya, lagu-lagu dangdut popular sekarang menjadi dominan. Dalam beberapa festival Helaran Sisingaan selalu menjadi unggulan, masyarakat semakin menyukainya, karena itu perkembangannya sangat pesat.

Dewasa ini, di Subang saja diperkirakan ada 200 grup Sisingaan yang tersebar di setiap desa, oleh karena itu Festival Sisingaan Kabupaten Subang yang diselenggarakan setiap tahunnya, merupakan jawaban konkrit dari antusiasme masyarakat Subang. Karena bagi pemenang, diberi peluang mengisi acara di tingkat regional, nasional, bahkan internasional. Penyebaran Sisingaan sangat cepat, dibeberapa daerah di luar Subang, seperti Sumedang, Kabupaten Bandung, Purwakarta, dll, Sisingaan menjadi salah satu jenis pertunjukan rakyat yang disukai, terutama dalam acara-acara khitanan dan perkawinan. Sebagai seni helaran yang unggul, Sisingaan dikemas sedemikian rupa dengan penambahan pelbagai atraksi, misalnya yang paling menonjol adalah Jajangkungan dengan tampilan manusia-manusia yang tinggi menjangkau langit, sekitar 3-4 meter, serta ditambahkan dengan bunyibunyian petasan yang dipasang dalam bentuk sebuah senapan.

Dalam rangka menumbuhkembangkan seni sisingaan khas kabupaten subang, sanggar seni ninaproduction berupaya untuk melakukan regerasi melaui pembinaan tari anak-anak usia 7 tahun sampai remaja, termasuk tari sisingaan. Nina production beralamat di Jalan Patinggi no 78 Desa buni hayu Jalancagak Subang, sampai saat ini Sanggar Nina Production telah di liput oleh trans 7 dalam acara wara wiri, Daai TV dan pada tangggal 2 Mei 2010 telah diliput oleh ANTV dalam acara anak pemberani.

Pertunjukan

Pertunjukan Sisingaan pada dasarnya dimulai dengan tetabuhan musik yang dinamis. Lalu diikuti oleh permainan Sisingaan oleh penari pengusung sisingaan, lewat gerak antara lain: Pasang/Kuda-kuda, Bangkaret, Masang/Ancang-ancang, Gugulingan, Sepakan dua, Langkah mundur, Kael, Mincid, Ewag, Jeblag, Putar taktak, Gendong Singa, Nanggeuy Singa, Angkat jungjung, Ngolecer,Lambang, Pasagi Tilu, Melak cau, Nincak rancatan, dan Kakapalan. Sebagai seni Helaran, Sisingaan bergerak terus mengelilingi kampung, desa, atau jalanan kota. Sampai akhirnya kembali ke tempat semula. Di dalam perkembangannya, musik pengiring lebih dinamis, dan melahirkan musik Genjring Bonyok dan juga Tardug.

Penyajian

Pola penyajian Sisingaan meliputi:

Tatalu (tetabuhan, arang-arang bubuka) atau keringan

Kidung atau kembang gadung

Sajian Ibingan di antaranya solor, gondang, ewang (kangsreng), catrik, kosong-kosong dan lain-lain

Atraksi atau demo, biasanya disebut atraksi kamonesan dalam pertunjukan Sisingaan yang awalnya terinspirasi oleh atraksi Adem Ayem (genjring akrobat) dan Liong (barongsay)

Penutup dengan musik keringan.

Musik pengiring

Musik pengiring Sisingaan pada awalnya cukup sederhana, antara lain: Kendang Indung (2 buah), Kulanter, Bonang (ketuk), Tarompet, Goong, Kempul, Kecrek. Karena Helaran, memainkannya sambil berdiri, digotong dan diikatkan ke tubuh. Dalam perkembangannya sekarang memakai juru kawih dengan lagu-lagu (baik vokal maupun intrumental), antara lain: Lagu Keringan, Lagu Kidung, Lagu Titipatipa, Lagu Gondang,Lagu Kasreng, Lagu Selingan (Siyur, Tepang Sono, Awet rajet, Serat Salira, Madu dan Racun, Pria Idaman, Goyang Dombret, Warudoyong dll), Lagu Gurudugan, Lagu Mapay Roko atau Mars-an (sebagai lagu penutup). Lagu lagu dalam Sisingaan tersebut diambil dari lagu-lagu kesenian Ketuk Tilu, Doger dan Kliningan.

Pemaknaan

Ada beberapa makna yang terkandung dalam seni pertunjukan Sisingaan, diantaranya:

Makna sosial, masyarakat Subang percaya bahwa jiwa kesenian rakyat sangat berperan dalam diri mereka, seperti egalitarian, spontanitas, dan rasa memiliki dari setiap jenis seni rakyat yang muncul.

Makna teatrikal, dilihat dari penampilannya Sisingaan dewasa ini tak diragukan lagi sangat teatrikal, apalagi setelah ditmabhakn berbagai variasi, seperti jajangkungan dan lain-lain.

Makna komersial, karena Sisingaan mampu meningkatkan kesejahteraan mereka, maka antusiasme munculnya sejumlah puluhan bahkan ratusan kelompok Sisingaan dari berbagai desa untuk ikut festival, menunjukan peluang ini, karena si pemenang akan mendapatkan peluang bisnis yang menggiurkan, sama halnya seperti seni bajidoran.

Makna universal, dalam setiap etnik dan bangsa seringkali dipunyai pemujaan terhadap binatang Singa (terutama Eropa dan Afrika), meskipun di Jawa Barat tidak terdapat habitat binatang Singa, namun dengan konsep kerkayatan, dapat saja Singa muncul bukan dihabitatnya, dan diterima sebagai miliknya, terbukti pada Sisingaan.

Makna Spiritual, dipercaya oleh masyarakat lingkungannya untuk keselamatan/ (salametan) atau syukuran.

Sumber:

Ganjar Kurnia. 2003. Deskripsi kesenian Jawa Barat. Dinas Kebudayaan & Pariwisata Jawa Barat, Bandung.

Wikipedia

Olimpiade PAI SMA Alfa Centauri 2013

14 September 2013   369 views

sekelompok group nasyid SMA Alfa Centauri ikut memeriahkan kegiatan Olimpiade PAI Alfa Centauri Bandung Jumat (13/9/2013).

Sekelompok group nasyid SMA Alfa Centauri ikut memeriahkan kegiatan Olimpiade PAI Alfa Centauri Bandung Jumat (13/9/2013).

SMA Alfa Centauri menggelar seleksi siswa berbakat bidang keagamaan

Bandung (Jabarmedia) - Dalam rangka menjalankan visi misi sekolah, Musyawarah Guru Mata Pelajaran Pendidikan Agama Islam ( MGMP PAI) dan Tahfidz al-Qur’an SMA Alfa Centauri menggelar kegiatan seleksi siswa berbakat dalam bidang keagamaan melalui Olimpiade Pendidikan Agama Islam (PAI) Alfa Centauri Tahun 2013 di Jalan Cisangkuy No. 20 Bandung pada tanggal 13 s.d. 14 September 2013.

Selain mengembangkan sistem pembelajaran berbasis teknologi, kurikulum yang mengacu peraturan Dikti, sistem belajar di SMA Alfa Centauri ditambah muatan lokal dalam bidang keagamaan, seperti Tahfidz al-Quran dan lainnya.

Hal ini dimaksudkan agar peserta didik dapat mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) juga dilandasi dengan iman dan takwa (imtak) seperti tercermin dalam 3 misi SMA Alfa Centauri yang sangat strategis yaitu; Taqwa, Cerdas dan Kreatif.

Salah seorang guru bimbingan Alfa centauri, Aminah mengatakan, “kegiatan Olimpiade PAI ini dalam rangka mencari bibit-bibit unggul dari anak-anak didik kami dalam bidang kegamaan”, katanya.

Perlombaan Olimpiade PAI SMA Alfa Centauri ini diikuti oleh seluruh siswa kelas X dan XI yang mendaftarkan diri ke panitia lomba. Mereka memilih jenis lomba yang akan diikutinya sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing.

Antusiasme peserta didik SMA Alfa Centauri dalam mengikuti lomba terllihat dari kegigihan dan keseriusan mereka dalam mengikuti perlombaan untuk bersaing memenangkan perlombaan.

“Saya senang dapat mengikuti olimpiade ini karena dapat mengembangkan minat bakat kami dalam bidang agama”, ujar Farhan Rijal ditemani Aji Bagus salah seorang siswa Alfa Centauri yang mengikuti jenis perlombaan nasyid.

Adanya kegiatan semacam ini dapat memicu peserta didik untuk belajar agama khususnya al-Qur’an di sekolah. SMA Alfa Centauri sudah menerapkan pembelajaran tahfidz al-Qur’an kepada peserta didiknya saat sebelum pelajaran dimulai.

Pelajaran keagamaan yang diajarkan kepada peserta didik diajarkan oleh guru-guru PAI yang memang sudah berpengalaman, bahkan peserta didik mendapatkan pelajaran agama dari guru yang pernah belajar agama di universitas Timur Tengah seperti Al-Azhar Kairo Mesir.

Di bidang tahfidz al-Quran mereka dibimbing langsung oleh guru-guru SMA Alfa Centauri yang sudah hafal 30 juz al-Qur’an.

“Hafalan al-Qur’an itu dapat mendorong kecerdasan otak peserta didik, karena itu al-Qur’an sangat penting untuk tetap diajarkan di sekolah-sekolah”, ungkap Rahmat Baequni guru PAI SMA Alfa Centauri.

Tahun ini, SMA Alfa Centauri menggelar 6 jenis lomba bidang keagamaan, yaitu; tahfidz al-Qur’an, tahsin al-Qur’an, kaligrafi, cerdas cermat, khitobah/pidato dan nasyid. Setiap pemenang dari masing-masing jenis lomba akan dipilih yang terbaik untuk ditetapkan sebagai juara.

Rencananya panitia perlombaan akan memberikan bingkisan hadiah untuk setiap pemenang juara dalam jenis kategori lomba. “Kami akan mmberikan hadiah kepada mereka yang meraih juara 1, 2 dan 3”, kata Aminah disela-sela kesibukannya mengadakan perlombaan itu.

“Kami sudah mengantongi peserta yang bakal menjadi juara pada tiap-tiap kategori lomba, tapi kami belum mengumumkannya, paling tidak besok sudah ada keputusannya untuk juara 1, 2 dan 3 pada tiap-tiap kategori lomba, katanya.

Photo-photo Kegiatan Olimpiade PAI SMA Alfa Centauri 2013

menyaksikan nasyid

Beberapa siswa/i sedang menikmati pentas seni islami nasyid yang dipentaskan oleh siswa/i SMA Alfa Centauri pada acara Olimpiade PAI di kampus SMA Alfa Centauri Jl. Cisangkuy No. 20 Bandung, Jum’at (13/9/2013)

kaligrafi alfa

Seorang siswi SMA Alfa Centauri memperlihatkan kaligrafi hasil peserta kaligrafi siswa/i Alfa Centauri pada kegiatan Olimpiade PAI SMA Alfa Centauri di Jl. Cisangkuy No. 20 Bandung, Jum’at (13/9/2013)

perolehan suara cerdas cemat

seorang siswi dan dewan juri sedang menghitung nilai peroleh angka dari masing-masing regu dalam lomba cerdas cermat PAI pada kegiatan Olimpiade PAI SMA Alfa Centauri di Jl. Cisangkuy No 20 Bandung, Jum’at (13/9/2013)

kaligrafi

sejumlah siswa Alfa Centauri sedang mengikuti lomba kaligrafi pada kegiatan Olimpiade PAI SMA Alfa Centauri di Jl. Cisangkuy No 20 Bandung, Jum’at (13/9/2013)

salah seorang siswa SMA Alfa Centauri mengancungkan tangan saat hendak menjawab pertanyaan dewan juri dalam lomba cerdas cermat PAI di kampus SMA Alfa Centauri Jl. Cisangkuy No. 20 Bandung, Jum'at (13/9/2013)

Salah seorang siswa SMA Alfa Centauri mengancungkan tangan saat hendak menjawab pertanyaan dewan juri dalam lomba cerdas cermat PAI di kampus SMA Alfa Centauri Jl. Cisangkuy No. 20 Bandung, Jum’at (13/9/2013)

suasana cerdas cermat

tiap-tiap regu lomba cerdas cerat berebut kesempatan untuk menjawab pertanyaan dari dewan juri pada acara Olimpiade PAI SMA Alfa Centauri di Jl. Cisangkuy No 20 Bandung, Jum’at (13/9/2013)

Seorang siswi mengacungkan tangan saat mengikuti lomba cerdas cermat dalam kegiatan Olimpiade PAI yang digelar panitia MGMP PAI Alfa Centauri Bandung di Jl. Cisangkuy No. 20 Bandung, Jum'at (13/9/2013)

Seorang siswi mengacungkan tangan saat mengikuti lomba cerdas cermat dalam kegiatan Olimpiade PAI yang digelar panitia MGMP PAI Alfa Centauri Bandung di Jl. Cisangkuy No. 20 Bandung, Jum’at (13/9/2013)

Riset Gunung Padang Sudah Selesai, Ada Temuan Istimewa

13 September 2013   176 views

Kini laporan riset akan dituntaskan untuk dilaporkan ke presiden

gunung padang

gunung padang (photo: google)

Penelitian Tim Terpadu Riset Mandiri (TTRM) di Situs Gunung Padang, Jawa Barat, telah selesai. Danny H. Natawidjaja, koordinator tim itu, mengungkapkan bahwa banyak kemajuan positif dari penelitian ini, yang bisa mengungkap tuntas situs purba tersebut.

“Banyak progres. September ini akan dilanjutkan tapi menunggu keputusan. Karena pemugaran situs perlu instruksi presiden. Mudah-mudahan masih bisa terus berlanjut,” ujar Danny, Rabu 11 September 2013 kepada VIVAnews.

Danny menegaskan bahwa sejauh ini semua temuan mengerucut pada satu kesimpulan bahwa situs Gunung Padang memang sangat istimewa. Keistimewaan itu bisa dilihat dari luas situs dan ketinggian, yang bahkan lebih dari Borobudur. Belum lagi soal bahwa situs itu dibangun lebih dari satu lapis budaya.

“Ada beberapa lapis lapis budaya. Untuk lapisan budaya luar umurnya 2.500 tahun sebelum Masehi, sementara yang di bawah sampai 7.000 tahun sebelum Masehi. Di dalamnya itu sudah istimewa,” kata geolog dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia itu.

Namun ia enggan mengutarakan kemungkinan keistimewaan bagian dalam situs. Danny beralasan lebih baik menunggu hasil pemugaran. “Sementara itu dulu saja. Yang lainnya nanti,” ujar dia.

sumber: news.viva.co.id

Next Page »