“Bandung Command Center” Merespons Keluhan Masyarakat

by -21 views

bandungSejak Kamis (26/3/2015) pagi sampai siang, tamu terus berdatangan ke Bandung Command Center di Kantor Pemerintah Kota Bandung. Dini Chris Mulyani (23) dan Melinda Kirana Dewi (24), operator BCC, begitu sibuk melayani tamu yang datang dari luar Jawa Barat itu.

Hari itu ada tiga rombongan tamu dari lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Kalimantan Utara, dan Kalimantan Timur sebanyak 78 orang. Mereka berkunjung ke BCC untuk melakukan orientasi lapangan dalam rangkaian kegiatan pendidikan dan pelatihan kepemimpinan (PIM) Tingkat III yang mereka ikuti.

Decak kagum bercampur rasa tak percaya sempat terlontar dari mulut tamu begitu memasuki ruangan BCC yang bercat putih dan berbentuk oval dengan desain interior mirip sarang lebah. Letak BCC yang dibangun dengan biaya sekitar Rp 30 miliar itu berada di dalam kompleks Balai Kota, Jalan Wastukencana, Kota Bandung, Jawa Barat, persisnya berdekatan dengan ruang kerja Wali Kota.

BCC dilengkapi penyejuk ruangan, pencahayaan cemerlang dihiasi pancaran warna biru tua, juga beberapa kursi putar berbentuk bundar bercorak biru muda. Secara khusus dalam ruang kontrol BCC terdapat ruang pertemuan di lantai atas dengan desain separuh dinding kaca serta terpampang pula di lantai dasar video wall dengan 24 monitor yang menayangkan aktivitas di sejumlah lokasi di wilayah Kota Bandung.

Suasana di dalam BCC yang mulai dioperasikan (soft launching) pada 19 Januari 2015 pun terkesan megah, futuristik, dan modern. Hal itu mengingatkan kita pada film box office Star Trek, khususnya pada desain dan tata letak ruang kontrol Kapten Kirk dan Kapten Spock yang menggunakan teknologi mutakhir.

BCC dirancang oleh Wali Kota Bandung Ridwan Kamil yang berlatar belakang arsitek. Ridwan, atau panggilan akrabnya Emil, adalah juga lulusan Master of Urban Design, College of Environmental Design California, Berkeley, Amerika Serikat. Ridwan juga pemenang Young Creative Entrepreneur tingkat internasional tahun 2006 yang diselenggarakan British Council.

Salah seorang tamu, Dedy Nugraha, Kepala Bidang Ekonomi, Sosial, dan Budaya Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Bontang, sempat terheran-heran, tapi di sisi lain ia mengaku setelah berkunjung ke BCC juga mendapatkan inspirasi baru.

“Di lingkungan Pemkot Bontang sebenarnya sudah memiliki konsep mirip BCC, hanya belum sepenuhnya diterapkan. Setelah melihat langsung, baru saya mengerti, ternyata sistem teknologi dan informasi memang dapat diterapkan untuk menunjang pelayanan publik, bukan hanya di angan-angan,” kata Dedy.

Dedy yang semula ragu bertekad begitu kembali ke Bontang segera menerapkan Sistem Informasi Rumah Tangga Miskin (RTM) Berbasis Geospasial yang telah dirancangnya.

“Sistem ini dimaksudkan akan memudahkan penanganan, pencarian, serta profil RTM dengan data yang akurat, bahkan ditunjang dengan koordinat (peta) letak rumahnya. Hal ini antara lain akan memudahkan pula bagi perusahaan yang akan menyalurkan dana bantuan tanggung jawab sosial kepada RTM,” ujarnya.

Kota kreatif

BCC merupakan gagasan Ridwan Kamil yang digulirkan bukan semata-mata untuk meneguhkan Bandung dengan ikon kota kreatif, melainkan juga sebagai salah satu upaya menjadikan Bandung kota cerdas dengan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi. Di samping bertujuan mewujudkan tata kelola pemerintahan yang baik, juga untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik.

Ridwan menyadari betul sejak dirinya menjadi orang nomor satu di Kota Bandung pada 2013, begitu banyak tantangan pembangunan yang harus dituntaskannya. Setidaknya yang nyata antara lain dari sisi jumlah penduduk.

Bandung yang berjuluk sebagai “Parijs van Java”, kota yang dikenal amat elok, asri, sejuk, dan nyaman pada masa Hindia Belanda, dirancang hanya untuk dihuni 300.000 jiwa. Namun, kini penduduk “Kota Kembang” itu sudah mencapai sekitar 3 juta jiwa. Hal ini membawa konsekuensi permasalahan kota yang makin kompleks.

Ridwan pun pada awal 100 hari pemerintahannya langsung mengidentifikasi masalah pembangunan. Terhimpunlah sekitar 300 masalah yang menjadi prioritas untuk diselesaikannya dalam lima tahun ke depan (2013-2018). Di antaranya persoalan kesemrawutan pedagang kaki lima, sampah, banjir, serta kemacetan lalu lintas.

Untuk mengatasi permasalahan kemacetan lalu lintas, tahun ini akan dibangun angkutan massal berbasis rel, yakni monorel untuk dua koridor dengan 37 stasiun. Estimasi biaya monorel itu Rp 6 triliun.

Ridwan menargetkan, tahun 2014-2015 adalah menggenjot program-program rekonstruksi dan tahun depan (2016) dimulainya transformasi kota untuk membawa perubahan. Dia juga bertekad agar warga Kota Bandung paling bahagia di Indonesia, yakni dengan menggulirkan sejumlah program dan kegiatan peningkatan indeks kebahagiaan.

BCC dirancang menjadi pusat kendali untuk memonitor dan merespons cepat permasalahan kota. BCC juga menjadi salah satu alat untuk memberikan kenyamanan dan kebahagiaan kepada warga.

(Kompas)