web analytics

Setelah 10 Hari Kabur, 4 Tahanan Polsek Pondok Gede Dibekuk

23 September 2014   0 views

sel4 Dari 6 tahanan kabur dari Mapolsek Pondok Gede pada Jumat 12 September lalu, dibekuk tim Reskrim Polsek Pondok Gede di 3 tempat berbeda. Sedangkan 2 tahanan lainnya masih dalam pengejaran.

“4 Dari 6 tahanan Polsek Pondok gede yang kabur kini sudah ditangkap, sedangkan 2 tahanan yang belum tertangkap kini masih diburu petugas,” kata Kasubag Humas Polresta Bekasi Kota AKP Siswo kepada Liputan6.com di Mapolresta Bekasi Kota, Senin (22/9/2014).

4 Tahanan tersebut yaitu Edi Saputra alias Aceh dan Andi Ali alias Ketel ditangkap di wilayah Purwakarta, Jawa Barat, saat sedang duduk di warung pada Sabtu 20 September. Arif Setiawan ditangkap di warnet di daerah Pondok Melati, Pondok gede, Bekasi. Sedangkan Fitri alias Petruk ditangkap di Pademangan, Jakarta Utara pada Senin 22 September.

“Keduanya ditangkap di wilayah Kabupaten Purwakarta. Mereka ditangkap tim yang dipimpin Kanit Reksrim Pondok Gede, Iptu Untung Riswaji saat berada di warung,” sambung Siswo.

Hari ini juga, sambung Siswo, tim pemburu tahanan kabur itu juga baru saja menangkap tersangka Arif Setiawan di Warnet Chandra Baru, Pondok Melati, Kota Bekasi. “Tersangka Arif Setiawan ini baru saja ditangkap sekitar pukul 12.30. Satu tersangka lagi, yaitu Fitri alias Petruk di Pademangan Timur, Jakarta Utara ditangkap pagi sekitar pukul 09.00,” terang dia.

Menurut Siswo, 2 tahanan yang masih diburu jajarannya adalah Pandiaman Situmorang dan Alindra alias Hendra. Keduanya merupakan tahanan kasus narkoba. Alindra sempat kabur bertiga bersama Edi Saputra dan Andi Ali.

Setelah Kabur dari Mapolsek Pondok Gede, sambung Siswo, mereka bertiga langsung ke rumah salah satu rekan mereka di wilayah Cikarang, Kabupaten Bekasi. Karena rekannya tidak bersedia ditumpangi, mereka bertiga langsung ke Solo, Jawa Tengah.

Dari Solo, kata Siswo, mereka melanjutkan pelarian ke Purbalingga, Jawa Tengah dan terus ke Purwakarta dengan menumpangi bus. Di wilayah Purwakarta, Hendra memisahkan diri. Sementara Edi Saputra bersama Andi Ali bertandang ke rumah rekannya.

“Tersangka Edi Saputra dan Andi Ali alias Ketel ini ditangkap di warung, di dekat rumah rekannya,” kata Siswo.

Siswo mengimbau kepada keluarga Pandiaman Situmorang dan Alindra alias Hendra, yang kini masih buron, agar segera menyerahkan diri ke kepolisian terdekat.”Hal ini dilakukan untuk tidak menyulitkan proses penyelidikan,” pungkas Siswo.

(liputan 6)

6 Tahanan Kabur Belum Tertangkap, Kapolda Datangi Polsek Pondok Gede

19 September 2014   3 views

polsekKapolda Metro Jaya, Irjen Pol Dwi Priyatno, mendatangi Polsek Pondok Gede, Kota Bekasi, Kamis (18/9/2014) siang. Kedatangan Irjen Pol Dwi Priyatno untuk mengecek kondisi bangunan, pasca kaburnya enam orang tahanan dari sel di Polsek Pondok Gede, Jumat (12/9) lalu.

Kasi Humas Polsek Pondok Gede, Kusnandar membenarkan kedatangan Kapolda sekitar pukul 11.30 WIB. Kapolda juga sempat menanyakan tahun berapa Polsek Pondok Gede dibangun.

Sementara itu Kasubag Humas Polresta Bekasi, AKP Siswo mengakui bahwa setelah kasus kaburnya enam tahanan dari Polsekta Pondok Gede, ruang tahanan kemudian direhab dengan mencontoh kondisi ruang tahanan di Polda Metro Jaya.

“Fokus rehabnya di kamar mandi, lubang teralis yang semula agak besar, sekarang diperkecil sehingga kalau pun digergaji teralisnya, tahanan nggak bakalan bisa lolos,” ujarnya.

Untu diketahui, kaburnya 6 orang tahanan pada Jumat (12/9/2014) pekan lalu, sampai dengan hari ini, Jumat 19/9/2014, aparat Polsek Pondok Gede dan Polresta Bekasi, belum berhasil menangkap satu pun dari enam tahanan yang kabur.

(radar bekasi)

Korupsi Dana Bos Rp700 Juta, Kepsek Diperiksa Inspektorat

17 September 2014   1 views

DEMO-WALIMURID-1KEPALA SEKOLAH Dasar Negeri Mustikajaya 1 Agus Supriyatna, diperiksa Inspektorat Kota Bekasi untuk pertanggungjawaban penggunaan dana bantuan operasional sekolah sebesar Rp 700 juta lebih.

“Pemeriksaan dimulai pekan lalu, namun karena auditornya sedang ada Bintek (bimbingan teknis-red), pekan depan kami targetkan selesai pemeriksaannya,” ujar Kepala Inspektorat Kota Bekasi, Cucu Syamsudin pada Gobekasi, Rabu (17/9).

Dijelaskan Cucu, laporan awal tentang kasus dugaan penyelewengan dana BOS itu berasal dari UPTD Pendidikan setempat dan dari Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kota Bekasi. Atas laporan tersebut Agus Supriyatna akhirnyadiperiksa Inspektorat.

“Laporan awalnya hanya Rp73 juta, setelah auditor turun, ternyata yang bersangkutan masih belum bisa mempertanggungjawabkan penggunaan dananya senilai Rp 700 juta lebih,” bebernya.

Lebih jauh kata Cucu, pihaknya mencurigai adanya joki Surat pertanggunjawaban (SPJ) dalam kasus pertanggungjawaban dana BOS Agus Supriyatna tersebut.

“Indikasinya, SPJ itu dibuat orang lain, jadi istilahnya semacam joki SPJ. Inspektorat sendiri, masih belum memastikan dana BOS mana yang telah dicairkan. Namun Cucu menyebutkan bahwa dana BOS yang dicairkan Agus Supriyanto adalah untuk tahun 2013 dan sebagian tahun 2014,” tandasnya.

(gobekasi)

Mantan Wabup Bogor Terancam 12 Tahun Penjara

17 September 2014   1 views

borgolMantan Wakil Bupati Bogor, Karyawan Faturahman (Karfat) terancam hukuman maksimal 12 tahun penjara. Ia didakwa telah memerintahkan seseorang untuk menyebarkan video porno dengan pemeran mirip mantan ketua Partai Politik (Parpol) di Jabar, RHT.

Hal itu disampaikan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Nurhidayat, usai sidang di Pengadilan Negeri (PN) Bandung, Jln. L.L.R.E Martadinata, Rabu (17/9/14). Dalam sidang perdana itu, Karfat dihadirkan sebagai terdakwa.

Sidang yang digelar di Ruang V itu digelar secara tertutup. Pasalnya perkara yang disidangkan berbau pornografi. Sidang dipimpin oleh Pranoto dengan agenda pembacaan dakwaan JPU. “Ya, sidangnya tertutup. Jadi wartawan tidak boleh meliput di dalam,” ujar Nurhidayat.

Saat ditanya soal kronologis kejadian, Nurhidayat juga enggan memberikan penjelasan rinci seperti yang tertulis dalam dakwaan.

“Yang jelas, Karfat disidang hari ini (kemarin,red) dengan agenda dakwaan. Dia dijerat dengan dakwaan primer pasal 29 ayat 1 Undang Undang Pornografi dan dakwaan subsider pasal 29 ayat 2 Undang Undang Pornografi,” tuturnya.

Untuk ancaman dalam pasal itu, serendah-rendahnya kurungan 6 bulan penjara dan setinggi-tingginya 12 tahun penjara. Pasal itu juga memuat denda, dengan ancaman denda yang dikenakan minimal Rp 250 juta dan maksimal Rp 6 miliar.

Seperti diketahui, Karfat tersangkut penyebaran video porno. Pada Selasa (2/9/14) lalu Karfat ditahan di rumah tahanan Kebon Waru, Jln. Jakarta, oleh JPU Kejaksaan Tinggi (Kejatil) Jabar, setelah menerima pelimpahan dari Polda Jabar.

Saat itu, Nurhidayat mengatakan penahanan dilakukan karena dalam perkara yang sama yakni penyebaran video porno mirip mantan pimpinan DPRD Jabar, RHT, dengan terdakwa Indra sudah divonis bersalah. Perkara Karfat ini merupakan splitsing dari kasus tersebut yang sudah terbukti dan ditahan.

Pada saat itu, Nurhidayat juga menuturkan, berdasarkan berkas perkara dan termuat dalam dakwaan, petunjuk dan alat bukti, tersangka merupakan orang yang membiayai, menyuruh dan melakukan untuk menyebarkan video porno tersebut.

(galamedia)

Maraknya Pemerasan yang Mengaku Wartawan dan Jaksa Membuat Kades Gerah

17 September 2014   1 views

Duit_DihitungKepala desa di wilayah Kabupaten Tasikmalaya mengaku gerah dengan maraknya pemerasan oleh orang yang mengaku Jaksa dari Kejaksaan Negeri Singaparna, dan orang yang mengaku sebagai wartawan. Bahkan, korban pemerasan dengan cara seperti ini diklaim telah ratusan orang dan sering terjadi.

Salah seorang kepala desa yang mengaku menjadi korban pemerasan mengatakan, biasanya orang yang mengaku jaksa dan wartawan ini datang ke kantor-kantor kepala desa. Para pelaku membawa surat panggilan atas kasus tertentu. Namun, setelah pengantar surat dari kejaksaan keluar ruangan, orang yang mengaku wartawan tersebut meminta sejumlah uang dengan dalih untuk menutup supaya kasusnya tidak diberitakan.

“Bukan hanya saya saja yang diperas seperti ini. Bahkan si orang yang ngaku wartawan dan jaksa itu suka minta langsung uang supaya pemanggilan oleh jaksa tidak jadi. Ini bukan pertama kali terjadi, saya punya bukti ada ratusan orang kepala desa yang sudah membuat pernyataan sudah diperas oleh oknum jaksa yang bekerjasama dengan wartawan seperti ini,” terang kepala desa yang bertugas di wilayah desa Kecamatan Jatiwaras, tapi namanya enggan disebutkan kepada Kompas.com, Selasa (16/9/2014).

Dengan maraknya kejadian seperti ini, kata kepala desa itu, pihaknya meminta perhatian dari Kejaksaan Agung atau Kejaksaan Tinggi untuk segera menyelidiki oknum pegawainya yang biasa bermain seperti ini di lapangan. Apalagi untuk oknum kejaksaan ini identitasnya sudah diketahui dan sering melakukan pemerasan secara berulang-ulang.
“Kalau saya nama si jaksanya sudah tahu, tapi oknum wartawannya bukan dari media yang terkenal. Saya belum bisa berikan namanya siapa ke bapak sekarang. Saya minta Kejagung, Kejati atau pihak pusat segera turun tangan,” kata dia.

Pemerasan dengan dalih penyelesaian sebuah kasus terhadap pegawai pemerintah seperti ini pun diketahui sering terjadi di tataran para pejabat Pemerintahan Kabupaten Tasikmalaya. Intinya sama, meminta sejumlah uang dari seseorang pejabat yang terkena sebuah kasus tertentu oleh oknum kejaksaan untuk pengamanan. Bahkan, uang pengamanan pun sering mengatasnamakan untuk para pekerja media di Kabupaten Tasikmalaya.

Kejadian seperti ini baru terungkap karena sebelumnya para korban pemerasan enggan membuka suara akibat takut melawan aparat hukum.

“Di kawasan Cigalontang pernah terjadi para kepala desa memberikan sejumlah uang kepada wartawan yang mengaku dari Koran Kompass Indonesia dengan dua SS di belakangnya. Dia mengaku kepada saya sebagai wartawan dari Kompas, begitu mereka setiap mengaku kepada korban saat meminta sejumlah uang untuk menutup pemberitaan sebuah kasus,” kata seorang kepala desa di wilayah Cigalontang, yang juga enggan menyebutkan nama.

Dikonfirmasi terkait temuan ini, Kepala Kejaksaan Negeri Singaparna Tri Karyono sempat mengatakan, ada laporan seorang pegawai honorer di wilayahnya yang menjadi kurir mengantarkan surat panggilan kepada kepala desa untuk dimintai keterangan terkait dugaan pungutan liar (pungli) oleh pihak desa dalam garapan Proyek Operasi Nasional Agraria (Prona) atau penerbitan sertifikat tanah gratis.

“Sempat ada kepala desa datang ke sini mempertanyakan adanya oknum. Saya tegaskan di internal kami tidak ada oknum yang seperti itu. Bahkan sering kami mendapatkan laporan ada yang mengatasnamakan kejari meminta uang kepada kepala desa. Itu tidak betul,” ungkap Tri.

(tribunnews)

BNN Temukan Ladang Ganja di Bogor

17 September 2014   3 views

ganjaBadan Narkotika Nasional (BNN) berhasil mengungkap keberadaan lahan ganja di kawasan Tapos, tepatnya di Kampung Pasir Pogor, Desa Cileungsi, Kecamatan Ciawi, Bogor, Jawa Barat.

“Petugas BNN melakukan penyelidikan dan berhasil menemukan ladang ganja yang terletak di kawasan kaki gunung Gede-Pangrango, yaitu pada ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut,” kata Kepala Humas BNN Sumirat Dwiyanto seperti dilansir antara di Jakarta, Selasa (16/9/2014)

Menurut dia, penyelidikan tersebut dilakukan BNN setelah mendapatkan informasi dari laporan masyarakat mengenai keberadaan lahan ganja tersebut pada 21 Juli 2014 .

Pihak BNN pusat bekerja sama dengan BNN Kota dan Kabupaten (BNNK) Bogor, Polsek setempat, serta Tim K-9 Direktorat Satwa Kelapa Dua melakukan penelusuran di kawasan kaki gunung Gede-Pangrango. “Kami menemukan beberapa pohon serta biji ganja yang sudah dikeringkan yang disimpan di sebuah saung di area ladang ganja tersebut,” jelas Sumirat.

Ia menyebutkan, dari pengungkapan kasus tersebut petugas berhasil mengamankan pemilik ladang ganja bernama Ajid alias Damir (42), yakni warga Kampung Loji Desa Cileungsi, Kecamatan Ciawi, Bogor.

Menurut Sumirat, tersangka tertangkap tangan pada saat dilakukan pemeriksaan, namun Ajid sempat melarikan diri.
“Kondisi ladang yang berada di tepi jurang terjal dan cuaca yang buruk menyulitkan petugas untuk kembali melakukan penangkapan,” ujarnya.

Akan tetapi, kata dia, pencarian terus dilakukan dan petugas berhasil menangkap kembali Ajid pada Minggu, 14 September 2014. “Selama 52 hari pengejaran, Ajid selalu berpindah-pindah tempat. Pertama, Ajid melarikan diri ke rumah kerabatnya di Desa Padarincang, Banten,” katanya.

Kemudian, tersangka bergeser ke kawasan Dusun Jontor, Desa Werasari Kecamatan Sadananya, Ciamis, Jawa Barat. “Sesampainya di sana, oleh orang tuanya, tersangka dibawa ke salah satu pesantren di kawasan tersebut, hingga akhirnya diamankan oleh petugas,” ujar Sumirat.

Ia lebih lanjut menyampaikan, dalam pemeriksaan, Ajid, yang bekerja sebagai petani sawi, mengaku mendapat bibit ganja dari temannya bernama Heri, saat keduanya bekerja sebagai buruh bangunan di Depok pada 1997.

“Pada saat itu, Ajid hanya memiliki 10 biji ganja, yang kemudian baru ia tanam pada 2013. Dari 10 bibit tersebut, Ajid mendapatkan empat batang pohon yang kembali dijadikan bibit hingga mencapai sekitar 100 batang ganja,” ungkapnya.

Sumirat menyebutkan, Ajid menanam ganja di antara kebun sayuran miliknya, yaitu di atas tanah seluas 1.000 meter persegi, sedangkan kebun ganja itu sendiri memiliki luas sekitar 10 meter persegi.

Dari tangan tersangka, petugas berhasil mengamankan 5,8 kilogram ganja kering, 59 batang ganja, dan 0,11 kilogram biji ganja. “Namun, dalam pemeriksaan, Ajid mengaku sejauh ini hasil panen ganjanya digunakan sendiri sebagai rokok,” katanya.

Atas perbuatannya, Ajid terancam pasal 111 ayat (2) dan Pasal 114 ayat (2) UU No. 35 tahun 2009 tentang Narkotika dengan ancaman hukuman maksimal penjara seumur hidup.

(bogornews)

Diduga Aniaya Artis, Seorang Dosen Dilaporkan ke Polisi

16 September 2014   4 views

aniayaDosen tetap Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) Institut Pertanian Bogor (IPB), DR Idwan Sudirman dilaporkan artis layar lebar asal Blora Jawa Tengah, Wiwin Agustina (38) atas dugaan penganiayaan dan perbuatan yang tidak menyenangakan, Jumat (12/09/14).

Informasi diperoleh menyebutkan, peristiwa dugaan tindak penganiayaan itu terjadi sekitar pukul 09.36 WIB, di ruang 6 FKH IPB, Kampus Dramaga, Kabupaten Bogor, Kamis (11/9).

“Awalnya saya mau minta pertanggungjawaban karena mobil saya diserempet mobilnya. Saya kejar ke kantornya (FKH IPB),” kata artis yang sempat bermain di Film Mengejar Setan, Senin (15/9).

Lebih lanjut ia menuturkan, niatnya berbicara baik-baik dengan pelaku agar mau mengganti rugi karena mobilnya lecet akibat diserempet mobil CRV .

“Eh dia malah maki-maki saya dan bersikap arogan, bahkan dia sempat berusaha menampar saya dihadapan Jawira dan Abdillah dua satpam IPB yang mengantar saya,” katanya.

Menurutnya dosen tersebut malah bilang tidak akan mengganti rugi sepeserpun. Bahkan menantang jika mau menempuh jalur hukum. “Saya hanya senyum dan bilang, kalau bapak mau lewat jalur hukum penyelesaiannya, saya minta nomor handphone atau telepon yang bisa dihubungi,” tuturnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan, dosen tersebut malah naik pitam dan mengatakan tidak akan kasih nomor dan balik menanyakan siapa dirinya. “Saya bilang, oke kalau begitu saya minta foto bapak saja, sambil mengeluarkan handphon dan saya foto, pelaku malah mau merebut handphone dan berusaha menampar saya, untung dihalangi sekurity kampus,” ungkapnya.

Tak bisa menampar, pelaku malah berusaha menutup dan membanting pintu. “Saya memaksa masuk karena urusan belum selesai, pelaku mendorong saya, sampai rusuk saya kena filling kabinet dan perut saya kena pegangan pintu,” katanya.

Keesokan harinya, Jumat (12/9) usai bangun tidur badannya sakit. “Bangun tidur saya merasakan nyeri di rusuk kanan, perut dan tangan kanan. Rusuk kanan sakit mungkin karena waktu kejadian kepentok file kabinet saat dia banting pintu mengusir dan perut sakit mungkin karena kena gagang pintu,” tandasnya.

Atas perlakuan sang Dosen, Wiwin segera melaporkan kejadian itu kepada pihak kepolisian sektor Dramaga, Kabupaten Bogor untuk ditindaklanjuti melalui proses hukum. Bahkan pihanya langsung melakukan visum kepada pihak Rumah Sakit terkait dugaan penganiayaan dan perbuatan tidak menyenangkan tersebut.

(inilah bogor)

Kejaksaan Jebloskan Pejabat Bekasi ke Rutan Pondok Bambu

6 September 2014   3 views

selKepala Bagian Telematika Pemerintahan Kota (Pemkot ) Bekasi Sri Sunarwati ditahan Kejaksaan Negeri (Kejari) Bekasi terkait kasus dugaan korupsi proyek pengadaan barang berbentuk software, Jumat (5/9). Sebelum ditahan, pejabat Pemkot Bekasi ini sudah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus tersebut.

Kepala Kejari Bekasi Enen Saribanon mengatakan, usai menjalani pemeriksaan perdana dari pukul 09.00 hingga 14.00 setelah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus kasus dugaan korupsi proyek pengadaan barang berbentuk software Sri Sunarwati langsung ditahan.

“Tersangka ditahan di Rutan Pondok Bambu, Jakarta Timur,” kata Enen Saribanon kepada wartawan, kemarin.

Menurut Enen, penahanan Kepala Bagian Telematika Pemerintahan Kota (Pemkot ) Bekasi ini karena ada dugaan telah melakukan penyimpangan dalam pelaksanaan kegiatan pengadaan barang berbentuk software. Dalam pengadaan itu, tersangka terindikasi melakukan mark up anggaran sehingga merugikan negara.

Dalam penyimpangan itu, kata Enen, terjadi dalam pengadaaan tiga jenis software. Anggaran pengadaan sebesar Rp 771 juta lebih dari APBD 2013.

“Dana itu untuk pengadaan di 12 kecamatan dan Kantor Wali Kota Bekasi,” ujarnya.

Bahkan, soal indikasi mark up tersebut, kata dia, karena harga sofware jenis antivirus satu paket mencapai Rp 410 juta lebih, sedangkan dua software lainnya dengan rincian sebanyak 150 license mencapai Rp 277 juta lebih. Enen mengaku, penyelidikan terhadap kasus tersebut dilakukan sejak Maret lalu. Setelah menemukan cukup bukti, penyidik pidana khusus meningkatkan statusnya menjadi penyidikan, kemudian menetapkan status tersangka.

Bahkan, lanjut dia, penahanan terhadap tersangka sempat mendapatkan penolakan dari Wali Kota Bekasi, Rahmat Effendi. Alasannya, tenaga yang bersangkutan masih dibutuhkan. “Tidak ada alasan untuk tidak ditahan,” tegasnya.

Sri Sunarwati dijerat dengan Pasal 2 ayat 1 atau Pasal 3 atau Pasal 9, UU No 31/1999 jo. Undang – Undang No 20/2001 Tentang Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) dengan ancaman kurungan 20 tahun dan maksimal dihukum seumur hidup.

Sementara itu, Kasi Intel Kejari Bekasi, Ade Hermawan menambahkan, tidak menutup kemungkinan ada tersangka lainya dalam korupsi pengadaan tersebut. “Sudah ada 20 saksi yang kami minta keteranganya, termasuk Sekretaris Daerah (Sekda),” tambahnya.

Menurutnya, selama menjadi tersangka, tersangka Sri baru kali pertama kali diperiksa dan langsung ditahan. “Penahanan Sri ini agar memudahkan penyidikan dan pengembangan. Dan penahanan ini agar tersangka tidak menghilangkan alat bukti,” jelasnya.

Tersangka Sri saat dijegat wartawan sebelum naik mobil tahanan mengatakan, dirinya hanyalah menjadi korban dalam pengadaan tersebut. Menurutnya, yang bertanggungjawab dalam kasus itu adalah pengguna anggaran yakni Sekda Kota Bekasi Rayendra Sukarmadji.

Selain pengguna anggaran, kata dia, yang ikut terlibat dalam kegiatan tersebut adalah anggota DPRD Kota Bekasi Nuryadi Darmawan dari Fraksi PDI Perjuangan.  “Saya akan bongkar, dua orang itu yang terlibat dan korupsi,”  jelasnya.

Sementara itu, anggota DPRD Kota Bekasi dari fraksi PDI Perjuangan, Nuryadi Darmawan saat dikonfirmasi melalui pesan BlackBerry Massenger-nya menjawab tidak mengetahui sama sekali soal kegiatan itu.

“Kok saya terlibat, saya enggak pernah tahu soal masalah itu,” tandasnya.

(jpnn)

Bupati Bogor Akan Diadili di Bandung

4 September 2014   1 views

rahmat yasinBerkas penyidikan Rachmat Yasin dan Muhammad Zairin, dua tersangka suap pengurusan izin lahan di Kabupaten Bogor, rampung. Kedua tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) itu pun akan dipindahkan ke Bandung, Jawa Barat.

“Iya, tahap dua, MZ sama RY juga,” kata Kepala Bagian Pemberitaan dan Publikasi KPK, Priharsa Nugraha seperti dikutif Metro TV News, Rabu (3/9/2014)

Menurut Priharsa, kedua tersangka segera duduk di kursi pesakitan Pengadilan Tipikor, Bandung. Mereka akan mengikuti jejak Yohan Yhap, penyuap mereka. Priharsa pun menerangkan, RY dan MZ ditahan terpisah di Bandung. “RY ke Lapas Kebon Waru, MZ ke Lapas Sukamiskin,” jelas dia.

Diketahui, Bupati Bogor Rachmat Yasin dan Muhammad Zairin ditangkap KPK pada Rabu (7/5/2014). Mereka ditangkap bersama Yohan Yhap dalam operasi tangkap tangan (OTT). Dalam kasus ini, KPK kemudian menetapkan ketiganya sebagai tersangka.

Rachmat Yasin dan Muhammad Zairin sebagai tersangka penyelenggara negara yang menerima hadiah atau janji berdasarkan pasal 12 huruf a atau b atau pasal 5 ayat 2 atau pasal 11 Undang-undang No 39/1999 sebagaimana diubah dengan UU No 20/2001 mengenai pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

Sedangkan FX Yohan Yhap dikenai pasal  5 ayat 1 huruf a atau b atau pasal 13 sebagaimana diubah dengan UU No 20/2001 mengenai pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP tentang orang yang memberikan hadiah atau janji kepada penyelenggara negara.

(bogor news)

Pakar Telematika “Ditipu” ABG yang tak Paham Internet

3 September 2014   34 views

suryoKepala Desa Sumuradem Timur, Kecamatan Sukra, Tisnaya, mengaku kaget warganya diamankan polisi lantaran diduga melakukan penipuan kepada Menpora Roy Suryo. Dikatakannya, Ab alias Gemblo, anak buruh tani yang hanya lulusan Madrasah Tsanawiyah.

“Setelah saya datangi ke rumahnya, pihak keluarganya mengatakan benar bahwa Ab yang akrab dipanggil Gemblo itu diamankan polisi gara-gara diduga menipu menteri. Tapi, keluarganya bilang Gemblo hanya sebagai korban saja, karena dimanfaatkan oleh temannya. Menurutnya, Gemblo tidak paham internet,” ujar Tisnaya.

Diberitakan sebelumnya, Menteri Pemuda dan Olahraga, KRMT Roy Suryo Notodiprojo, melaporkan seorang remaja, Ab alias Gemblo (16) atas kasus penipuan yang dialaminya.

Roy Suryo ditipu, lantaran membeli sepeda fixie kepada Gemblo melalui media online. Namun, setelah dibayar melalui transfer bank, sepeda yang ditawarkan itu tidak ada.

Akibat perbuatannya itu, remaja asal Desa Sumuradem Timur, Kecamatan Sukra, Kabupaten Indramayu itu kini diamankan.

Kasus penipuan tersebut dilaporkan Roy Suryo, ke Polres Indramayu. Sebelumnya, polisi melacak akun tersangka kemudian terungkap bahwa pemiliknya warga Desa Sumuradem, Kecamatan Sukra, bernama Ab alias Gemblo.

Kapolres Indramayu AKBP Wahyu Bintono melalui Kasat Reskrim AKP Wisnu Perdana Putra, membenarkan kasus penipuan tersebut. Aksi penipuan itu terjadi, bermula setelah tersangka memajang foto satu unit sepeda fixie melalui media sosial OLX.co.id. Glembo juga mencantumkan nomor telepon serta nomor pin Blackberry (BB) di foto tersebut.

Sepeda fixie di media sosial itu, kemudian dilihat oleh Roy Suryo, hingga akhirnya berminat untuk membeli. Roy Suryo yang juga pakar telematika itu, kemudian meminta pertemanan sekaligus menginvite pin BB Gemblo. Setelah itu komunikasi melalui media sosial itu berlanjut, hingga akhirnya terjadi transaksi.

Setelah keduanya sepakat dengan harga sepeda fixie yang dijual seharga Rp1 juta itu, Roy Suryo kemudian mentransfer uang ke rekening tersangka. Namun setelah ditunggu beberapa hari, sepeda fixie yang sudah dibelinya itu tak kunjung datang. Roy Suryo akhirnya sadar, bahwa dirinya ditipu, kemudian melaporkannya ke polisi.

“Setelah menerima laporan, kami kemudian melacaknya, hingga akhirnya berhasil mengungkap kasus ini. Ternyata pelakunya seorang remaja, warga yang tinggal di Desa Sumuraden, Kecamatan Sukra,” ujar Wisnu, kepada wartawan, Senin (1/9).

Menurut Wisnu, tersangka dengan sengaja melakukan tindak pidana penyalahgunaan informasi dan transaksi elektronik, sehingga dapat dijerat Pasal 45 Ayat 2 dan  pasal 28 Ayat 1 atau Ayat 2 dengan ancaman penjara paling lama enam tahun atau denda paling banyak satu miliar rupiah.

(jpnn)

Next Page »