Gasak Sepeda Motor, Tiga Anggota Kelompok ‘Lampung’ Tewas Didor

29 January 2015

curanmorJajaran Satuan Reserse Kriminal Polresta Bekasi Kota, Jawa Barat, terpaksa menembak mati tiga perampok bersenjata api saat beraksi mencuri sepeda motor di Kecamatan Jatisampurna, Selasa (27/1) dini hari.

“Para perampok itu masing-masing bernama Decky Chan (21), Rohim (29) dan Samsudin (25). Mereka tewas saat baku tembak dengan polisi,” kata Kapolresta Bekasi Kota Kombes Pol Rudi Setiawan di Bekasi, Rabu.

Menurut dia, kejadian itu bermula saat ketiga pelaku tengah berusaha mencuri sebuah sepeda motor yang terparkir di Grand Ruko City Walk, Kecamatan Jatisampurna.

Salah satu saksi mata berinisial DS (22) secara tidak sengaja memergoki aksi itu dan langsung menghubungi pihak kepolisian.

Setibanya di lokasi, petugas dengan sigap berupaya menangkap para pelaku, namun salah satu dari mereka yakni Decky Chan melawan dengan melepaskan tembakan ke arah polisi hingga terjadi baku tembak.

“Dalam baku tembak itu Decky Chan tewas seketika. Sedangkan Rohim menyerang, dan tersangka Samsudin sempat melarikan diri,” katanya.

Namun polisi berhasil menangkap Rohim dan membawanya untuk menunjukan lokasi persembunyian Samsudin. Setibanya di lokasi persembunyian Samsudin di Kawasan Cileungsi, Kabupaten Bogor, polisi kembali terlibat baku tembak dengan Samsudin.

“Rohim pun ikut melakukan perlawanan. Kita terpaksa menembak dua tersangka di Cileungsi dan tewas,” katanya.

Menurut Rudi, para pelaku ini berasal dari Kelompok Lampung dan telah terlibat puluhan kali kasus perampokan motor di Jabodetabek.

Dari ketiga pelaku disita barang bukti empat senjata api rakitan, 14 butir peluru, tiga selongsong peluru, dua set kunci letter T, berikut sembilan anak kunci, serta empat unit sepeda motor dan satu telepon genggam.

(tribunnews)

600 Anggota Polres Depok Gelar Razia Besar-besaran

28 January 2015

raziaJajaran Polresta Depok serentak menggelar Operasi Bina Kusuma dengan sasaran pelaku kejahatan jalanan dipimpin Kapolresta Depok Kombes Ahmad Subarkah.

Operasi yang terbagi dua tim dengan titik sasaran rawan kejahatan dan peredaran miras. Kegiatan dengan razia maupun mobile keliling, petugas menyita ratusan botol miras serta puluhan pemuda diduga sedang bermain judi di terminal.

“Tim Jaguar menyita seratus botol miras berbagai merek, 16 kantong miras oplosan yang didapatkan dari pedagang minuman di daerah terminal Depok. Sedangkan sepuluh orang yang sedang main judi di stasiun Depok Lama dibubarkan petugas sedang main judi domino,”ujar Kapolresta Depok didamping Kepala Bagian Operasional (Kabag Ops) Polresta Depok, Kompol Tri Yulianto kepada Pos Kota, selaku penanggung jawab personil yang melakukan kegiatan Operasi Bina Kusuma, Rabu (28/1) dini hari.

Selain itu razia kendaraan dilakukan di Jalan Ir. Juanda, dengan sasaran pemeriksaan kendaraan bermotor.

“Tujuan operasi yang diintruksikan oleh Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol Unggung Cahyono adalah dengan sasaran operasi preman, senjata tajam, senjata api, narkoba, dan pelaku kejahatan,” katanya.

Mantan Kasad Brimob Polda Sumut ini mengatakan operasi digelar di delapan titik yang melakukan razia kendaran dan sebagaian mobile.

“Total keseluruhan anggota yang turun operasi Polres dan Polsek sebanyak 600 orang. Anggota yang dikerahkan berpakaian preman maupun dinas,”ungkapnya.

Beberapa kejadian pembegalan motor yang terjadi di wilayah Depok, diharapkan dengan operasi ini dapat mengurangi aksi kejahatan jalanan yang sudah cukup meresahkan.

“Dengan melakukan razia di jalan setidaknya dapat membuat ruang sempit para pelaku kejahatan jalanan seperti begal motor di jalan protokol seperti Margonda, Juanda, fly over Arif Rahman Hakim, dan Siliwangi,”demikian.

(Poskota)

Korupsi Dana Bansos, Kejagung Tetapkan Wakil Bupati Cirebon Tersangka

20 January 2015

bansos Kejaksaan Agung menetapkan Wakil Bupati Cirebon, Tasiya Soemadi sebagai tersangka kasus dugaan tindak pidana korupsi dan bantuan sosial (bansos) tahun 2009-2012. Selain Tasiya, Kejaksaan Agung juga menetapkan dua orang lainnya sebagai tersangka yakni, Subekti Sunoto dan Emon Purnomo. Keduanya merupakan DPC koordinator penyerahan bansos.

“Naik ke penyelidikan. Salah satu tersangkanya adalah masih aktif sebagai wakil bupati,” ujar Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Jampidsus), R Widyopramono, di Kejaksaan Agung, Senin (19/1/2015).

Widyo mengatakan, ketiganya melakukan praktik korupsi dengan cara tidak mencairkan dana bansos sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan. Para tersangka memotong aliran dana bansos yang dikucurkan dari Anggran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) tahun 2009 hingga 2012. Akibat perbuatan ketiganya, negara menderita kerugian sebesar Rp 1,8 miliar.

“Ada penggunaan misalkan cair Rp 100 juta, sampai ke tujuan Rp 25 juta atau Rp 50 juta,” kata Widyo.

Diberitakan sebelumnya, pemeriksan terhadap sekitar 260 penerima dana bantuan sosial Anggaran Pendapatan Belanda Daerah (APBD) tahun 2009–2012 Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, terus berlanjut. Tak terkecuali istri Tasiya, Hj. Darini, yang dijadwalkan akan diperiksa di Kantor Kejaksaan Negeri Kabupaten Cirebon, Kamis siang (13/11/2014).

Melalui pesan singkat, Kepala Kejaksaan Negeri Cirebon, Dedie Tri Hariyadi menyampaikan jadwal pemeriksaan hari kedua.

“Jadwal hari ini akan diperiksa Hj. Darini, istri Wakil Bupati Cirebon (mantan Ketua DPRD Kabupaten Cirebon periode 2009–2013). Hj Darini, salah satu yang menerima dana aspirasi bansos,” kata dia.

(tribun jabar)

Polisi Bongkar Sindikat Pemalsuan STNK dan BPKB

20 January 2015

stnkAparat Kepolisian Sektor Cengkareng membongkar sindikat pemalsuan Buku Pemilik Kendaraan Bermotor (BPKB) dan Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK). Polisi menangkap tujuh orang tersangkanya.

Tak hanya itu, anggota juga mengamankan sejumlah barang bukti sindikat pemalsu BPKB dan STNK tersebut berupa satu unit mobil Daihatsu Xenia B 1589 BOO bersurat palsu, sejumlah BPKB palsu, satu set mesin cetak, beberapa stempel Polres serta stampel Polda palsu.

Ketujuh tersangka yang ditangkap, yaitu Bayu setiawan, Ajie Wahyu, Dian Purnomo, Gunarto, Syahdu Joni, Hendra Setia, dan Alvian Firman.

Diketahui Bayu Setiawan adalah otak yang merancang dan mengoperasikan seluruh kegiatan tersebut. Kawanan sindikat pemalsu surat-surat kendaraan bermotor ini telah beroperasi di sejumlah daerah di Pulau Jawa dan luar Pulau Jawa seperti Sumatera dan Sulawesi.

Kapolsek Cengkareng Komisaris Sutardjono, menjelaskan pengungkapan kasus ini berawal dari penangkapan Ajie di Cengkareng pada Senin, 12 Januari 2015 lalu. Polisi menagkap tersangka yang hendak menjual mobil Daihatsu Xenia hitam itu.

Polisi menangakap tersangka karena mendapat laporan bahwa mobil yang hendak dijual tak memiliki surat resmi. Kemudian, kepolisian melakukan penyelidikan dan memeriksa surat kelengkapan kendaraan bermotor.

Penangkapan tersebut, lanjut Sutardjono membawanya membongkar sindikat pemalsuan surat-surat kendaraan bermotor. “Kelompok ini sudah beroperasi cukup lama, sudah setahun,” ujar Sutardjono, Senin (19/1/2015).

Sekilas tak ada yang beda antara surat-surat palsu dan asli. Surat-surat buatan Bayu sangat meyakinkan karena terdapat logo Samsat beserta tanda tangan petugas kepolisian.

Bayu mengaku mencetak cap Samsat dan tanda tangan pejabat polisi. “Desain cap ditiru lalu dicetak dipercetakan. Saya buat itu di Mataram,” ucap Bayu.

Untuk pembuatan STNK bayu memasang tarif Rp 500 ribu sedangkan BPKB dihargai Rp 1 juta. Atas perbuatannya, Bayu dan tersangka lainnya akan dijerat Pasal 263 KUHP tentang pemalsuan surat dengan ancaman hukuman maksimal enam tahun penjara.

(kompas)

Polres Bogor Kota Tangkap Tiga Wanita Pengedar Shabu

30 December 2014

selSatuan Narkoba Kepolisian Resor Bogor Kota, Jawa Barat, menangkap tiga orang wanita yang berprofesi sebagai pengedar shabu di wilayah Jabodetabek.  Ketiga tersangka masing-masing Warsih (50) warga Gandaria Utara, Nurjamah (30) warga Cianjur, dan Siti Nuraidah (28) warga Cianjur.

“Ketiganya ditangkap bersama 22 tersangka lainnya yang diamankan dalam operasi yang digelar selama bulan Desember,” kata Kapolres Bogor Kota AKBP Irsan dalam ekspos kasus di Markas Polres Bogor Kota, Senin (28/12/2014)

Salah satu tersangka, Warsih, adalah janda dengan tiga orang cucu. Ia tertangkap petugas berdasarkan hasil pengembangan dari penangkapan tersangka Reza yang menjadi konsumennya.

Warsih mengaku menjual barang haram tersebut karena terdesak untuk mencukupi kebutuhan hidupnya, membayar uang sewa kontrakan yang perbulannya Rp1 juta.

Diakuinya, baru dua kali mengedarkan shabu. Shabu pertama ia beli seberat 5 gram dengan menjual sepeda motor seharga Rp1,3 juta. Barang haram tersebut ia jual kepada Reza senilai Rp1,5 juta.  “Yang kedua saya beli seberat 7 gram. Setelah mengedarkan yang kedua saya ditangkap di rumah saya,” kata Warsih.

Nenek tiga orang cucu tersebut mengenal dunia narkoba dari mantan suami keduanya yang sudah lebih dulu ditangkap oleh petugas dan kini dipenjara di LP Cipinang.

Warsih mengaku, sehari-hari ia tinggal bersama anak pertama dan anak bungsunya yang masih berusia 18 tahun. Sedangkan dua anaknya yang lain tidak pernah lagi memperhatikannya. “Saya tidak punya pekerjaan lain, buat kebutuhan keluarga saya hanya cukup untuk bayar sewa biar bisa tetap punya rumah,” kata ibu empat anak itu.

Warsih mengaku dari menjual barang haram itu ia mendapatkan keuntungan Rp1 juta, tetapi hasil yang ia peroleh tidak bisa dinikmati karena keburu ditangkap petugas.

Kepala Satuan Narkoba Polres Bogor Iptu Maulana Mukarom mengatakan, dari tangan tersangka, petugas mengamankan 2 gram shabu siap edar.  “Dari kontrakan tersangka kami menemukan dua gram shabu,” katanya.

Sementara itu, dua tersangka pengendar shabu lainnya, Nurjamah dan Siti Nuraidah mengaku mendapatkan barang haram dari pacarnya.

Saat ini ketiganya menjalani penahanan di Mapolres Bogor. Mereka dijerat dengan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang narkotika dan obat-obat terlarang dengan ancaman penjara paling singkat empat tahun.

(Bogornews)

Ratusan Liter Miras Oplosan Disita Polsek Cimanggis

5 December 2014

mirasRatusan liter minuman keras (miras) oplosan  disita petugas Polsek Cimanggis, Depok dari hasil operasi cipta kondisi, Jumat dinihari.

Operasi dipimpin Perwira Pengendali (Padal) AKP Ahmad Davis dibantu 20 personil menyisir beberapa wilayah Cimanggis hingga perbatasan Cibinong. Hasilnya berhasil menyita sebanyak 200 liter miras oplosan berbahaya berkadar alkohol tinggi.

“Razia yang kita lakukan ke sejumlah toko warung minuman yang telah menjadi sasaran target operasi,”ucap Kapolsek Cimanggis, Kompol Bambang Irianto kepada Pos Kota di lokasi, Jumat (5/12) dini hari.

Petugas dari warung milik D di pertigaan Curug Sukatani, menyita beberapa jerigen  berisi 25 liter miras oplosan jenis GG. Selain itu di Jalan Perkapuran warung jamu milik AS menyita 20 kantong plastik ciu. Dan toko minuman di Jalan Akses UI.

“Dari hasil lapangan yang kita temukan, penjual miras itu tidak berijin. Selain itu miras yang dioplos kadar alkoholnya tinggi dimasukkan ke botol minuman air mineral untuk mengecoh petugas,”ungkapnya.

Selain itu operasi cipta kondisi dalam antisipasi peredaran miras serta aksi premanisme akan rutin dilakukan. “Akibat minuman keras yang dioplos di beberapa daerah khususnya Depok sudah banyak meminta makan korban jiwa. Untuk itu upaya pencegahan kita adalah melakukan operasi sesuai atensi pimpinan,”demikian.

“Pemilik toko dan warung jamu hanya kita data dan dimintai keterangan. Jika ketahuan akan berjualan kembali akan dikenakan sanksi tegas sesuai Perda yang berlaku.”

Harus terhadap pemilik miras ada tindakan tegas. Sebab sudah ratusan orang tewas akibat menenggak miras tersebut, bahkan terakhir di Depok dua oran nyawanya melayang disambar miras oplosan, dan di Jakarta Timur tujuh orang.

(poskota)

RY Divonis 5,5 Tahun Penjara

28 November 2014

ryPengadilan Tindak Pidana Korupsi Bandung memvonis Mantan Bupati Bogor Rachmat Yasin (RY) selama lima tahun enam bulan penjara terkait kasus suap tukar-menukar kawasan hutan PT Bukit Jonggol Asri sebesar Rp 4,5 miliar.

“Menjatuhkan pidana penjara lima tahun enam bulan dikurangi selama terdakwa ditahan,” kata Hakim Ketua Barita Lumban Gaol SH saat sidang putusan kasus suap di Pengadilan Tipikor Bandung, Jawa Barat, Kamis (27/11/2014), seperti dikutip Antara.

Selain hukuman tahanan, terdakwa juga didenda sebesar Rp 300 juta atau subsider tiga bulan kurungan penjara dan hukuman tambahan pencabutan hak dipilih selama dua tahun.

Terdakwa dinyatakan bersalah melanggar Pasal 12 (a) UU Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001.

“Menyatakan terdakwa terbukti secara sah dan bersalah korupsi secara bersama-sama dan berlanjut,” kata Barita.

Menurut hakim, hal yang memberatkan hukuman terdakwa ialah tidak mendukung program pemerintah atau menyalahgunakan jabatannya. Terdakwa, lanjut dia, sebagai Bupati Bogor tidak memberikan contoh bagi masyarakat dalam pemberantasan korupsi, kolusi, dan nepotisme.

Hal yang meringankan terdakwa, majelis hakim menilai, selama proses persidangan terdakwa mengakui bersalah, menyesal, kemudian tidak pernah dihukum dan sudah menyerahkan uang suap yang diterimanya dari pemilik perusahaan Cahyadi Kumala melalui anak buahnya Johan ke KPK.

“Hal yang meringankan terdakwa menyesal, tak pernah dihukum, dan sudah menyerahkan uang ke KPK,” katanya.

Sementara itu, putusan vonis Rachmat Yasin lebih rendah daripada tuntutan jaksa penuntut umum (JPU) KPK selama tujuh tahun enam bulan penjara.

(bogornews)

Dengar Awing Pembunuh Sisca Yofie Dihukum Mati, Keluarga Depresi

13 November 2014

awingKeluarga Wawan alias Awing, terpidana pembunuh Fransisca Yofie atau Sisca mengalami shock berat begitu mendengar hasil vonis hukuman mati yang diputuskan oleh Majelis Kasasi Mahkamah Agung (MA).

Sebab, harapan mendapat keringanan hukuman setelah vonis penjara seumur hidup yang diputuskan Pengadilan Negeri Bandung, sirna sudah. Bahkan hukuman yang didapat lebih berat.

“Keluarga sangat kecewa dan shock berat. Keluarga ingin mendapat keringanan hukuman, malah ditambah,” kata kuasa hukum Wawan, Dadang Sukma Wijaya saat dihubungi Liputan6.com, Rabu (12/11/2014).

Dadang menyebutkan, pihak keluarga percaya Wawan pantas mendapatkan hukuman yang lebih ringan dari vonis hukuman penjara seumur hidup karena beberapa faktor.

“Harapan keluarga dan kita seperti itu (hukuman diringankan), karena Wawan sudah mengakui perbuatannya kemudian bertobat, bukan penjahat uang bolak-balik penjara dan juga sifatnya spontan bukan sengaja membunuh,” beber dia.

Ke depannya, Dadang akan melakukan evaluasi tentang mekanisme hasil putusan ini. Bila telah dilakukan maka pihaknya akan mengajukan Peninjauan Kembali (PK).

“Pasti kita akan mengajukan PK didukung dengan bukti-bukti yang dapat meringankan,” pungkas Dadang.

Majelis Hakim MA menjatuhkan vonis hukuman mati kepada Wawan alias Awing karena terbukti membunuh Sisca Yofie. Vonis ini mengubah hukuman penjara seumur hidup yang telah diputuskan Pengadilan Negeri Bandung sebelumnya.

“Majelis Kasasi, Pak Artidjo Alkostar, saya, dan Pak Margono kemarin memutuskan perkara pembunuhan Sisca Yovie yang dilakukan Wawan dengan vonis hukuman mati,” ungkap Hakim Agung Gayus Lumbuun saat dihubungi Liputan6.com.

Ia menjelaskan, pertimbangan Majelis Kasasi memperberat hukuman Wawan karena perbuatannya membunuh Sisca Yofie dengan sangat sadis dan tidak berprikemanusiaan. Hukuman ini juga sekaligus untuk menimbulkan efek jera.

Sisca Yofie sempat diseret oleh terdakwa Wawan menggunakan sepeda motor hingga belasan meter. Bahkan, kepala Sisca sempat terkena luka bacok, karena pelaku berusaha memotong rambut Sisca yang menyangkut di roda motor.

(liputan 6)

Bandar Judi Penyuap Perwira Polda Jabar Ditahan

9 October 2014

polisiBareskrim Mabes Polri menunaikan janjinya mengembangkan kasus dugaan suap bandar judi online terhadap oknum perwira Polda Jawa Barat. Kali ini, tersangka yang diduga sebagai pemberi suap terhadap AKP DS, dijebloskan ke sel.

Kepala Subdit II Tindak Pidana Korupsi Bareskrim Polri Komisaris Besar Djoko Poerwanto menjelaskan, pemberi suap itu berinial AI. “Sudah ditahan pada Rabu 1 Oktober 2014,” kata Djoko dalam jumpa pers di Mabes Polri, Rabu (8/10).

Djoko menjelaskan,  AI diduga memberi suap kepada AKP DS, sebagai imbalan agar perwira itu membuka blokir 429 nomor rekening. Nomor rekening ini sebelumnya diblokir penyidik Polda Jabar, terkait pengusutan kasus judi online.

Menurut dia penyerahan uang ratusan juta itu dilakukan secara bertahap. Kata Djoko, pada 24 Juni 2014 terjadi penyerahan sebanyak Rp 240 juta. Kemudian, 14 Juli 2014 Rp 70 juta. “Serta  23 Juli 2014 sebanyak Rp 60 juta,” katanya.

Kini, sudah tiga tersangka yang ditahan terkait kasus tersebut. Yakni AKP DS, AKBP MB serta AI. DS dan MB diduga menerima suap dari bandar judi online hingga total Rp 5 miliar. Bareskrim masih terus mengusut kasus ini.

(jpnn)

Setelah Bupati Sumedang, Kejati Jabar Akan Periksa Anggota DPRD

9 October 2014

gedungKejaksaan Tinggi Jawa Barat akan melakukan pemeriksaan terhadap anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Jawa Barat terkait kasus dugaan korupsi perjalanan dinas DPRD Cimahi tahun 2011 yang merugikan negara sekitar Rp 1,7 miliar.

Hal tersebut disampaikan Kepala Seksi Penerangan dan Hukum (Kasi Penkum) Kejati Jabar Suparman usai pemeriksaan terhadap Bupati Sumedang Ade Irawan di kantor Kejati Jabar, Jalan RE Martadinata, Bandung, Jawa Barat, Rabu (8/10/2014).

Dalam hal ini, Ade diperiksa untuk pertama kalinya sebagai tersangka kasus dugaan korupsi perjalanan dinas DPRD Cimahi tahun 2011 itu. Ade menjalani pemeriksaan selama 9 jam dengan 50 pokok pertanyaan.

“Kemungkinan ada untuk memeriksa anggota DPRD lainnya karena mungkin yang menerima tidak hanya Pak Ade sendiri saja dan Pak Ade juga memberikan keterangan seperti itu,” kata Suparman.

Ia mengatakan, meski demikian sampai saat ini Kejati Jabar belum menjadwalkan pemanggilan untuk pemeriksaan para anggota DPRD Cimahi. “Belum, belum dijadwalkan,” katanya.

Seperti diberitakan sebelumnya, penyelidikan terhadap keterlibatan Ade, dilakukan sejak tanggal 11 Agustus 2014. Kasus ini disidik sejak pertengahan tahun 2013. Kejati menemukan adanya laporan hasil audit BPK tahun 2012 dengan penemuan kelebihan anggaran total pengeluaran perjalanan dinas DPRD tahun 2011 sekitar Rp 1,7 miliar.

Penanganan kasus oleh Kejati Jabar untuk kasus tersebut merupakan bagian daripada pengembangan kasus yang sudah dilakukan penyidikannya oleh kejaksaan Negeri Cimahi. Sebelum politisi Partai Demokrat itu ditetapkan sebagai tersangka, Kejati sudah menetapkan 9 tersangka lainnya.

(kompas)

Next Page »