Polsek Dramaga Ringkus 2 Pengedar Ganja Siap Edar

25 June 2015

ganjaPolsek Dramaga berhasil membekuk bandar narkotika jenis ganja berinisial YS (23) dan MA (19). Keduanya ditangkap setelah mendapatkan informasi dari masyarakat dan perkembangan penyelidikan.

“Pelaku kami tangkap pada Rabu (24/06/15) pukul 21:30 WIB di rumahnya Kampung Dramaga Tanjakan RT 04 RW 05,” ucap Kapolsek Dramaga AKP Syaifuddin Gayo kepada heibogor.com, Kamis (25/05/15).

Gayo menjelaskan dalam penangkapan pengedar ganja ini, kepolisian berhasil mengamankan barang bukti ganja siap edar. “Barang bukti yang kami amankan adalah 68 paket ganja kecil seharga 20 ribu per paket, dan 1 paket ganja sebanyak 0,5 Kg. Saat ini kami sedang mengembangkan penyelidikan dari mana ganja tersebut berasal,” katanya.

Gayo menambahkan dua pelaku dijerat UU 32 tahun 2009 tentang narkotika pasal 111, dengan ancaman hukuman maksimal 7 tahun penjara.

“Menurut pengakuan tersangka keduanya baru dua bulan menjadi pengedar narkotika jenis ganja dan pengedarannya pun hanya di wilayah Dramaga saja serta orang yang sudah mereka kenal,” jelasnya.

(Heibogor)

Antisipasi Kejahatan, Polretabes Bandung Luncurkan Pos Mobile

25 June 2015

polisiMengantisipasi kejahatan di Kota Bandung, Polrestabes Kota Bandung meluncurkan program Pos Mobile Kamtibmas, Kamis (25/6/2015). Sejumlah polisi akan ditempatkan di titik-titik rawan kejahatan.
Kapolrestabes Bandung, Kombes Pol A.R Yoyol mengatakan, saat ini ada 24 titik yang dianggap rawan kejahatan di Kota Bandung. Sehingga, membutuhkan anggota kepolisian yang ditempatkan dilokasi-lokasi tersebut.
“24 titik itu yang dianggap paling rawan seperti daerah rawan kebut-kebutan, rawan curanmor atau perumahan yang dianggap masyarakat sering kehilangan atau tidak tenang dan terganggu,” ujar Yoyol saat ditemui di Mapolrestabes Bandung, Jalan Jawa Kota Bandung.
Yoyol mengatakan, ada 248 personil kepolisian yang diterjunkan untuk program pos mobile kamtibmas ini. Untuk pelaksanaannya, lanjut Yoyol, selama ini, untuk patroli biasa, para petugas hanya berpatroli menggunakan kendaraan polisi saja. Namun untuk kali ini, nantinya para petugas akan membuat tenda di titik-titik yang telah ditentukan tersebut.
“Jadi ini pos yang berjalan, cuma ditambah payung sehingga masyarakat tahu oh ini ada polisi, selama ini kan hanya mobil, jadi anggota dalam mobil, tapi kalau di kasih payung, anggota akan duduk diluar mengantisipasi kegiatan,” katanya.
Yoyol menambahkan, para petugas akan stand by dititik-titik tersebut selama 24 jam penuh jika kondisi dianggap belum aman. Namun, ketika kondisi dianggap sudah aman, para petugas akan pindah ke lokasi lainnya yang dianggap rawan.
“Mobil ini tidak selamanya disitu kalau dirasa daerah sudah aman, dia bergeser ke daerah yang paling rawan lagi,” katanya.

(Tribunjabar)

Pembunuh Angeline Layak Dihukum Mati

11 June 2015

angelineAngeline ditemukan tewas terkubur di halaman belakang rumahnya di Jalan Sedap Malam, Sanur, Denpasar, Bali, kemarin siang. Penemuan jasad bocah 8 tahun itu sekaligus menjawab teka-teki keberadaannya karena sejak tiga pekan lalu ia dilaporkan hilang.

Angeline selama ini diasuh oleh keluarga angkatnya. Ibu angkatnya bernama Margaretha (55), kini dalam pemeriksaan petugas karena diduga terlibat dalam kematian putri angkatnya itu. Selama berada di rumah keluarga angkatnya, Angeline juga dikabarkan mengalami kekerasan fisik.

Berangkat dari peristiwa tragis yang menimpa Angeline, Ketua Bidang Pelayanan Penegakan Hukum dan Pendampingan, Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kota Denpasar, Siti Sapurah akan melakukan banyak hak untuk keluarga kandung Angeline dalam menyelesaikan kasus itu.

“Akan banyak yang saya lakukan untuk mereka (keluarga Angeline), yang terpenting sekarang adalah menenangkan keluarga anggelina dulu,” ujar Ipung -sapaan Siti Sapurah- saat berbincang dengan Okezone.

Selain menenangkan pihak keluarga, lanjut Ipung, pihaknya juga akan mengupayakan langkah hukum bagi pembunuh siswi yang baru kelas dua SD itu. Bahkan Ipung tak segan menuntut pelaku dihukum mati atas perbuatannya tersebut.

“Langkah hukum tetap akan kami lakukan untuk kasus itu, karena kasus itu tragis ya, kalau bisa hukuman mati, karena ini telah terlalu sadis dan lama,” pungkasnya.

Atas kematian Angeline, polisi telah menetapkan satu orang tersangka yakni Agus yang merupakan pembantu merangkap satpam di rumah keluarga angkat Angeline. Selain mengakui telah membunuh Angeline, Agus juga mengaku memerkosa bocah tersebut.

Sementara itu, ibu angkat Angeline, Margareta, yang diduga terlibat dalam kematian putri angkatnya itu, masih berstatus sebagai saksi. Polisi mengaku belum menemukan keterkaitan pembunuhan Angeline dengan Margareta.

(okezone)

Gerebek Gudang Gas Oplosan, Polres Bogor Sita Ratusan Tabung Gas

28 May 2015

gasKasat Reskrim Polres Bogor menggerebek sebuah gudang gas oplosan di Gang Acing Kampug Cibogel RT 03/02 Desa Kota Batu, Kecamatan Ciomas Kabupaten Bogor, Rabu (27/05/15) sekitar pukul 21.00 WIB. Dari penggerebegan tersebut, petugas berhasil menyita barang bukti ratusan tabung gas.

Menurut Ahmad, Ketua RW setempat mengatakan, gudang tersebut baru diisi sekitar 3 bulan lalu, sebelumnya warga sekitar kesulitan mencari gas 3 kg, namun warga curiga dengan seringnya keluar masuk mobil pick up yang mengangkut tabung gas.

“Dari awal warga sudah curiga, kalau tempat tersebut dijadikan gudang pemimbunan gas namun kami tidak tahu kalau tempat itu dijadikan tempat penyuntikan,” kata Ahmad kepada heibogor.com, Rabu (27/05/15).

Kecurigaan warga tersebut dilanjutkan dengan melakukan laporan ke pihak berwajib hingga akhirnya petugas kepolisian melakukan penggerebekan.

Pantauan heibogor.com di tempat kejadian perkara (TKP) dari penggerebekan tersebut polisi berhasil menyita ratusan tabung gas ukuran 3, 12, dan 50 kg. Selain itu, bukti lain berupa selang regulator, gunting, tang, dan sebuah unit mobil pick up bernomor polisi F 8664 GJ juga diamankan polisi.

(Heibogor)

50 Karung Beras Sintetis Ditemukan di Bogor

23 May 2015

berasPolsek Klapa Nunggal menemukan 50 karung beras yang diduga sintetis dari seorang pedagang, Jumat (22/5/2015) siang. Beras sebanyak itu disimpan di sebuah gudang di Kecamatan Klapa Nunggal, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Polisi mengamankan pemilik beras berinisial AR (45) untuk dimintai keterangan.
Kapolres Bogor, AKBP Suyudi Ario Seto saat dimintai konfirmasi membenarkan temuan 50 karung beras yang diduga mengandung bahan plastik dari sebuah gudang di Kecamatan Klapa Nunggal, Kabupaten Bogor.
“Iya betul, tadi siang Polsek Klapa Nunggal menemukan gudang beras yang diduga sintetis dengan jumlah 50 karung. Saat ini, petugas masih melakukan pengembangan dan memeriksa pemilik beras tersebut,” ujar AKBP Suyudi Ario Seto, Jumat (22/5/2015) malam.
Terungkapnya gudang beras tersebut kata Kapolres bermula dari adanya laporan warga yang mengeluh kalau beras yang dimasaknya tidak kunjung matang.
“Anggota kemudian mendatang rumah warga itu untuk melakukan pengecekan dan mengambil sampel beras yang sudah dimasak,” kata AKBP Suyudi Ario Seto.
Setelah melakukan penyelidikan, petugas berhasil menemukan penjual beras berinisial AR. Pria itu kemudian dibawa ke kantor Polsek Klapa Nunggal untuk menjalani pemeriksaan. Kepada petugas AR mengaku, menyimpan berasnya di sebuah gudang.
“Setelah diperiksa, digudangnya terdapat 50 karung beras. Kemudian kita berkoordinasi dengan Dinas Perdagangan untuk mengecek beras tersebut,” ujar Suyudi.
Guna memastikan apakah beras tersebut mengandung bahan plastik, petugas mengambil sampel untuk diperiksa di laboratorium.”Ini masih dugaan awal, untuk membuktikannya, kita menunggu hasil laboratorium,” katanya.

(Tribunnews)

Pencarian Polisi Terhadap Produsen Beras Plastik Masih Gelap

21 May 2015

berasDirektorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Jawa Barat (Jabar) telah menurunkan tim khusus untuk melakukan penyelidikan terkait penyebaran beras sintesis atau yang dikenal secara umum dengan sebutan beras plastik.
Namun sejauh ini belum ditemukan rumah produksi maupun distributor beras sintesis tersebut di wilayah Jabar.
“Kami sudah menindaklanjuti adanya temuan beras sintesis di Bekasi kemarin terutama untuk menelusuri penyebarannya di wilayah Jawa Barat. Sejauh ini belum ada,” kata Direktur Reskrimsus Polda Jabar, Kombes Pol Wirdhan Denny, kepada Tribun melalui sambungan telepon, Rabu (20/5) malam.
Dikatakan Wirdhan, tim khusus tersebut juga melakukan penyelidikan ke sejumlah distributor di Kabupaten Karawang. Sebab sesuai informasi yang diterima Ditreskrimsus Polda Jabar, produksi beras sintesis itu berada di wilayah Kabupaten Karawang.
“Kami sudah koordinasi dengan kapolres di kota/kabupaten yang masuk wilayah Polda Jabar khususnya Kabupaten Karawang untuk melakukan penyelidikan,” kata Wirdhan.
Wirdhan menyebut, sejauh ini di Kabupaten Karawang belum ditemukan adanya indikasi rumah pembuatan beras sintesis. Pihaknya masih melakukan pendalaman mengenai informasi pembuatan beras sintesis di Kabupaten Karawang.
“Intinya kami terus melakukan penyelidikan dan masih fokus di daerah Kabupaten Karawang untuk menelusuri tempat produksi pembuatan beras sintesis ini,” kata Wirdhan.

(Tribunjabar)

Sulit Membedakan Beras Asli dengan yang Plastik

20 May 2015

berasPemerintah Kota Bekasi, Jawa Barat, melakukan uji laboratorium terhadap temuan beras yang diduga diproduksi menggunakan bahan baku sintetis di wilayah setempat.

“Sampel beras kita peroleh dari salah satu kios di Pasar Mutiara Gading, Kelurahan Mustikajaya, Kecamatan Mustikajaya, Kota Bekasi,” kata Kepala Bidang Perdagangan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Bekasi, Herbert Panjaitan, di Bekasi, Selasa (19/5/2015).

Menurut dia, sampel beras tersebut akan diuji di salah satu laboratorium selama tiga hari mulai Selasa (19/5).

“Beras itu akan kita uji di laboratorium Badan Pengawas Obat dan Makanan atau Bulog Jakarta,” katanya.

Menurutnya, sampel itu diperoleh dari seorang pedagang beras bernama Sembiring yang kini masih berstatus sebagai saksi di kepolisian setempat.

“Hasil uji laboratorium ini yang akan membuktikan apakah benar beras itu berbahan baku sintetis atau asli beras,” katanya.

Dikatakan Herbert, beras tersebut tidak dapat dibedakan secara kasat mata karena dari fisiknya mirip dengan beras asli.

“Pedagang memperoleh beras itu dari kawasan Karawang, Jawa Barat,” katanya.

Menurut dia, hasil uji sampel tersebut akan dilaporkan ke kepolisian sebagai bahan pertimbangan atas pengusutan dugaan kasus itu.

“Kalau terbukti beras palsu akan kita (Disperindag) buat laporannya ke polisi,” katanya.

Pihaknya mengimbau masyarakat untuk tidak resah dengan kabar tersebut dan tetap teliti dalam membeli beras.

“Kita tunggu hasil uji laboratorium seperti apa hasilnya,” katanya.

(Kompas)

Dugaan Korupsi Stadion, Aher Sebut Pemkot Bandung sebagai Penanggungjawab

16 May 2015

aherGubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan tidak terima disebut sebagai pihak yang bertanggung jawab terhadap pembangunan Stadion Gelora Bandung Lautan Api di Gede Bage, Bandung. Diketahui, penyidik Tindak Pidana Korupsi Badan Reserse Kriminal Polri tengah mengusut dugaan korupsi di dalamnya.

Usai diperiksa sebagai saksi nyaris sekitar 16 jam di depan gedung Bareskrim Polri, Jumat (15/5/2015) malam, Aher mengatakan bahwa pihak yang bertanggung jawab terhadap pembangunan stadion tersebut sepenuhnya adalah Pemerintah Kota Bandung. Pemerintah Provinsi Jawa Barat, sebut Aher, hanya ikut membantu dari sisi keuangan saja.

“Bantuan keuangan Pemprov Jabar kepada Pemkot Bandung sudah sesuai perundang-undangan. Begitu uang sudah masuk ke rekening Pemkot Bandung, ya sudah tanggung jawab di sana dong,” ujar Aher.

Aher menjelaskan, program pembangunan stadion itu adalah ide Pemkot Bandung, yakni pada tahun 2006, setahun sebelum dirinya menjabat sebagai gubernur. Penggelontoran anggaran secara ‘multi years’ pun mulai dilakukan oleh Pemprov Jabar pada tahun anggaran 2007, 2009, 2011, 2012 dan 2013. Total, Pemprov Jabar menyuntikan dana sebesar Rp 335 miliar atas pembangunan stadion itu.

Aher mengakui, selama lima tahun anggaran itu, pihaknya tidak pernah mendapatkan hasil analisis pembangunan stadion oleh Pemkot Bandung. Hasil analisis baru keluar tahun 2014 di mana menyatakan ada penyimpangan di dalam pelaksanaannya.

Aher juga mengatakan bahwa pembangunan stadion tersebut diawasi penuh oleh sejumlah pihak mulai dari pengawasan umum Pemprov Jabar, Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Aher tidak menyebutkan apa hasil pengawasan itu. Namun, begitu penyidik menduga ada unsur korupsi di dalamnya, Aher pun kecewa.

“Kalau sekarang ada dugaan korupsi, semua kecewa. Jangankan masyarakat, saya saja jadi kecewa. Kita mengidam-idamkan stadion yang akan jadi kebanggaan, tapi kok dalam perjalannya ada penyimpangan,” ujar Aher.

Aher mengatakan, penjelasan itu yang diberi ke penyidik selama hampir 16 jam pemeriksaan di Bareskrim, Jumat ini. Dia mengatakan tidak tepat jika penyidik menyasar Pemprov Jabar yang terlibat dalam korupsi stadion tersebut.

“Itu namanya lompat,” ujar Aher.

Dalam perkara ini sendiri, penyidik telah menetapkan seorang bernama Yayat Ahmad Sudrajat sebagai tersangka dalam kasus dugaan tindak pidana korupsi pembangunan Stadion Gelora Bandung Lautan Api di Gedebage, Bandung. YAS merupakan Sekretaris Dinas Tata Ruang dan Cipta Karya Pemerintah Kota Bandung.

Dalam gelar perkara, penyidik Bareskrim Polri melihat bahwa YAS terlibat aktif dalam praktik dugaan korupsi pembangunan stadion yang menelan biaya sebesar Rp 545 miliar tersebut.

(Kompas)

Telantarkan 5 Anak, Dosen Ini Ditangkap Polda Metro Jaya

15 May 2015

anakPolda Metro Jaya mengamankan pasangan suami istri UP dan NS karena diduga menelatarkan lima anaknya. Selain mengamankan UP dan NS, petugas telah membawa kelima anak kecil tersebut ke rumah aman.

Penangkapan terhadap UP dan NS ini dilakukan petugas di rumahnya di Perumahan Citra Grand Cluster Nusa 2 Blok E Nomor 37, Cibubur, Kota Bekasi. Kanit I Subditumum Jatanras Polda Metro Jaya Kompol Budi Towoliu mengatakan, UP yang merupakan dosen teknik di salah satu kampus swasta di Cileungsi bersama istrinya hanya bisa pasrah ketika petugas membawanya ke Polda Metro Jaya.

“Diduga kuat UP dan NS ini melakukan kekerasan psikis dan menelantarkan kelima anaknya yang berinisial LA (10), CK (10), DI (8), AL (5) dan DIN (4),” kata Budi di Mapolda Metro Jaya, Kamis (14/5/2015).

Budi menuturkan, penangkapan terhadap UP dan NS ini berdasarkan laporan masyarakat yang melihat mereka menelantarkan kelima anaknya yang masih kecil-kecil tersebut. Pantauan Sindonews, CK dan DI menjerit histeris dan enggan keluar dari mobil Kijang Innova warna hitam nomor polisi B 2281 SFH.

Diduga kuat dua bocah ini mengalami trauma saat melihat kedua orang tuanya. Oleh petugas Satgas Perlindungan Anak dua bocah tersebut dibujuk hingga akhirnya keluar dan pindah ke mobil petugas Jatanras untuk dievakuasi ke tempat aman.

(Sindonews)

Pasca-eksekusi Mati, Indonesia Harus Siap dengan Kecaman Internasional

29 April 2015

ambulanPengamat hubungan internasional Yasmi Adriansyah, mengatakan, Indonesia perlu mengantisipasi berbagai kecaman dan reaksi masyarakat internasional terkait eksekusi mati terpidana narkoba. Kejaksaan Agung telah mengeksekusi delapan terpidana mati kasus narkoba pada Rabu (29/4/2015) dini hari di Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah.

“Reaksi dunia internasional cenderung menyudutkan Indonesia. Pernyataan bernada keras dari berbagai pemimpin dunia, seperti Presiden Perancis Francois Hollande, Menlu Australia Julie Bishop, dan bahkan Sekjen PBB Ban Ki Moon menunjukkan Indonesia perlu mengantisipasi berbagai kecaman dan reaksi keras itu,” kata Yasmi, seperti dikutip Antara, Rabu pagi.

Kandidat doktor Hubungan Internasional pada Australian National University (ANU) ini, menilai, Indonesia perlu lebih berhati-hati dalam menyampaikan pernyataan kontra-reaksi agar tidak semakin memperkeruh hubungan bilateral dengan negara sahabat.

“Indonesia jangan hanya melihat kasus ini secara sempit dengan sebatas mengantisipasi perkiraan dampak negatif dari negara asal terpidana. Kemarahan Perancis, misalnya, dapat juga berimbas kepada sikap negatif Uni Eropa (UE) terhadap Indonesia,” ujar dia.

Selain itu, kata Yasmi, Belanda yang seorang warganya juga turut dieksekusi sempat menyatakan protes keras akan menarik Dubes Rob Swartbol.

“Baik Perancis mau pun Belanda adalah dua anggota UE yang berpengaruh,” katanya.

Oleh karena itu, ia menyarankan agar hanya Menteri Luar Negeri atau pejabat yang ditunjuk yang diizinkan berbicara kepada media terkait eksekusi mati. Pernyataan sikap tegas Pemerintah RI perlu dibarengi dengan sikap diplomatik yang meredakan ketegangan dan bukan sebaliknya.

“Hal lain yang perlu dilakukan Pemerintah Indonesia secara lebih agresif adalah penyampaian informasi kepada media internasional mengenai dampak narkoba yang sudah sangat membahayakan negeri ini, sehingga mencapai situasi darurat narkoba,” ujar Yasmi.

Pemberitaan media internasional menyoroti aspek HAM terpidana yang akan dieksekusi atau bahkan korupnya praktik hukum di Indonesia. Hal ini dinilai menyudutkan Indonesia.

“Namun informasi mengenai kemudaratan atau kejahatan paling serius (the most serious crimes) yang telah dilakukan para terpidana terhadap Indonesia tidak banyak diangkat media internasional, sehingga HAM dari aspek terpidana juga perlu dikaitkan dengan HAM dari aspek korban itu sendiri, agar adil,” kata Yasmi.

Seperti diberitakan, delapan terpidana mati telah dieksekusi mati secara serentak di Nusakambangan, Jawa Tengah, Rabu (29/4/2015) pukul 00.25 WIB. Mereka adalah Myuran Sukumaran dan Andrew Chan (Australia); Martin Anderson (Ghana); Raheem A Salami, Sylvester Obiekwe, dan Okwudili Oyatanze (Nigeria); Rodrigo Gularte (Brasil); serta Zainal Abidin (Indonesia). Sementara, eksekusi satu terpidana mati asal Filipina Mary Jane ditunda.

(Kompas)

Next Page »