Polres Sukabumi Buru 6 Anggota Geng Motor

19 May 2016

geng motorSatuan Reresese dan Kriminal Polres Sukabumi Kota, Jawa Barat memburu enam anggota geng motor yang melakukan penganiayaan disertai pembacokan terhadap warga yang terjadi beberapa waktu lalu.

“Enam anggota geng motor tersebut sudah masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) dan anggota dari Satuan Reskrim tengah mengejar mereka,” kata Kapolres Sukabumi Kota, AKBP Rustam Mansur kepada, Kamis (19/5).

Menurutnya, pemburuan terhadap enam DPO ini berawal saat gerombolan bermotor menyerang warga yang tengah nongkrong di Jalan Raya Baros, RT 003/003, Kelurahan Jayaraksa, Kecamatan Baros, Kota Sukabumi sekitar pukul 00.30 WIB pada Ahad, (15/5).

Akibat penyerangan ini, dua orang remaja yakni Yoga Permana dan Aditia Priyadi menjadi bulan-bulanan gerombolan tersebut dan harus dilarikan ke RSUD R Syamsudin SH Kota Sukabumi karena luka bacok di bagian kepala, tangan dan bagian tubuh lainnya.

Dari hasil pengembangan, polisi berhasil menangkap dua orang pelaku penganiyaan yang mencoba melarikan diri ke arah Jalan Raya Baors. Di lokasi tersebut polisi menangkap seorang tersangka, yakni Ridwan Hermawan alias Bam.

Selain menangkap tersangka Ridwan, sebelumya pihaknya juga menangkap seorang remaja yakni Hendri di Jalan Perbawati, Kecamatan/Kabupaten Sukabumi. Dari tangan tersangka, polisi menyita sebilah samurai, jaket geng motor XTC, motor Hoda CBR 150 F 5318 TN dan satu botol minuman keras.

“Dari hasil pengembangan ini, kami mendapatkan informasi bahwa ada enam anggota geng motor lainnya yang ikut menganiaya para korban,” tambahnya.

(Republika)

Dua Pria Dipergoki Warga Sedang Menyembelih Kambing Curian Di Bekasi

19 May 2016

KAMBINGDua spesialis pencuri ternak dibekuk warga usai beraksi di Area Cibereum RT 01/06, Desa Lambangjaya, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, Kamis (19/5/2016) dini hari.
Pelaku, Mursin (27) dan Jamhari (24) tak berkutik saat warga memergoki mereka ketika sedang asyik menyembelih dua ekor kambing yang dicuri dari seorang warga bernama Parta Kusuma (36).
Kepala Sub Bagian Humas Polresta Bekasi, AKP Endang Longla mengatakan, kasus pencurian ternak ini terjadi sesaat setelah korban melepaskan dua ekor kambing peliharaannya di lokasi untuk memakan rumput pada petang hari.
Saat itu, korban tak mengawasi hewan peliharannya dan memilih beranjak pulang ke rumah yang tak jauh dari lokasi.
“Selama ini hewan peliharaannya tak pernah hilang, makanya korban tak khawatir saat melepaskan dua ekor kambingnya di lokasi,” ujar Endang, Kamis (19/5/2016).
Namun sekembalinya Parta ke lokasi, korban terkejut dua ekor kambing miliknya telah raib.
Patra sudah berupaya mencari dua hewan peliharaannya itu di sekitar lokasi namun tak kunjung ketemu.

Beberapa saat kemudian, tetangga korban bernama Danu (30) bercerita bahwa warga mengamankan dua terduga pelaku pencurian kambing miliknya.
Warga mencurigai kedua tersangka, karena mereka menyembeli kambing secara diam-diam di kebon kosong.
Selain itu, saat diperhatikan corak dan warna bulu kambing yang disembelih itu mirip dengan kambing milik korban.
“Saat itu juga kedua tersangka diamankan warga dan mereka digelandang anggota Pembinaan Masyarakat (Binmas) Polsek Tambun, Aiptu Heru ke kantor untuk diinterogasi,” kata Endang.
Kepada polisi, tersangka nekat mencuri dua ekor kambing karena tergiur dengan harga daging kambing yang melonjak hingga menembus Rp 130.000 per kilogram menjelang bulan Ramadhan ini.
Adapun daging kambing tersebut akan dijual ke penjual daging di pasar dengan harga Rp 90.000-Rp 100.000 per kilogram.
“Dari pemeriksaan sementara, mereka baru beraksi satu kali. Namun demikian, keterangannya masih kami gali karena bisa saja mereka memberikan keterangan palsu,” jelas Endang.

Akibat perbuatannya, kedua tersangka dijerat Pasal 362 tentang pencurian dengan hukuman maksimal lima tahun penjara.

(Tribunnews)

Rektor Unpad Wacanakan Pencoretan Nama Alumni yang Terlibat Korupsi

11 May 2016

REKTOR UNPADRektor Universitas Padjajaran Bandung Prof Tri Hanggono Achmad mengatakan, alumni harus berperan aktif mengatasi permasalahan utama yang dihadapi Indonesia.

Ia menyebutkan, ada tiga persoalan utama yang dihadapi yaitu korupsi, narkoba, dan terorisme.

Hal itu disampaikannya saat menyampaikan sambutan pada serah terima jabatan Ketua Umum Ikatan Alumni (IKA) Unpad periode 2016-2020 dari Dr Sapta Nirwandar kepada Hikmat Kurnia, di Kampus Unpad, Bandung, Selasa (10/5/2016).

Tri menekankan, alumni Unpad diharapkan berperan aktif dalam penanganan korupsi. Ia mewacanakan pencoretan nama alumni Unpad apabila terbukti melakukan tindakan korupsi di kemudian hari.

“Pada saat wisuda mendatang, ikrar lulusan akan ditambah untuk janji tidak melakukan korupsi,” kata Tri.

Oleh karena itu, ia berharap, IKA Unpad berperan aktif mendorong peran perguruan tinggi untuk memberikan dampak positif bagi bangsa.

Ikatan alumni, kata Tri, harus berorientasi output looking daripada input looking.

“Selama garis tangannya merupakan alumni Unpad, pengabdian harus jalan terus,” kata dia.

Ketua IKA Unpad 2012-2016, Sapta Nirwandar mengatakan, alumni harus bersinergi untuk memberikan kontribusi bagi bangsa.

Beragamnya rumpun keilmuan menjadi modal untuk melakukan kolaborasi terintegrasi yang harus diwujudkan dalam aksi nyata.

Unpad, lanjut Sapta, memiliki kekuatan keilmuan di segala bidang, mulai dari sains, kesehatan, budaya, hingga komunikasi dan sosial politik.

(Kompas)

Kepala Pengamanan Lapas Banceuy Bandung Jadi Tersangka

26 April 2016

banceuySeorang Kepala Pengamanan Lembaga Pemasyarakatan (KPLP) berinisial K menyandang status tersangka usai kerusuhan di Lapas Banceuy, Sabtu (23/4/2016) pekan lalu.
Status tersangka disematkan polisi setelah memeriksa tujuh petugas dan satu warga binaan.
“Berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap tujuh orang, tiga petugas dan satu warga binaan sudah dikembalikan. Sementara itu, yang empat petugas kami proses, dan sudah kami naikkan statusnya jadi tersangka,” ujar Kapolrestabes Bandung Kombes Pol Angesta Romano Yoyol saat ditemui di Markas Polda Jawa Barat, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Senin (25/4/2016).
Menurutnya, tiga petugas yang menjadi tersangka berinisial R, G dan L. Mereka ditetapkan sebagai tersangka atas dugaan melakukan penganiayaan terhadap Undang Kosim (54), warga binaan yang tewas di sel pengasingan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Banceuy.
Yoyol mengatakan, pihaknya akan terus melakukan pemeriksaan terhadap empat petugas lapas yang ditetapkan sebagai tersangka.
“Empat orang masih kami proses lanjut sejauh mana keterlibatannya masing-masing, serta perannya masing-masing. Ini kan perlu crosscheck dan pemeriksaan,” katanya seraya menjelaskan, langkah itu sesuai dengan komitmen Lapas dan petuah Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly.
“Sesuai komitmen Lapas dan Pak Menteri (Kemenkumham) siapapun yang bersalah, harus sesuai aturan yang berlaku,” ungkapnya.

Keluarga Undang Kosim menilai kematian Undang Kosim janggal. Keluarga yakin Undang tewas disiksa setelah mendapati luka lebam di beberapa bagian tubuh Undang Kosim. Undang Kosim diduga tewas akibat benda tumpul.
Kabid Dokkes Polda Jabar, Kombes Pol Priyok Kuncoro mengatakan, memang ada luka memar dan lecet di tubuh Undang berdasarkan hasil pemeriksaan luar.
Pihaknya juga telah melakukan pemeriksaan dalam dengan membedah bagian tubuhnya.
“Kini kami mencari tahu apakah luka di luar ada kaitannya dengan kenyataan setelah kami bedah,” ujar Priyo.
Priyok menegaskan, penyebab tewasnya Undang diduga akibat trauma benda tumpul dan tersumbatnya jalan nafas sehingga kekurangan oksigen.
Namun soal Undang tewas akibat gantung diri atau hal lain itu masuk ranah penyidikan.
“Kami melihat mati tergantung, sebelum tergantung korban dalam keadaan hidup. Semua sudah kita catat detil soal ukuran dan kedalaman luka,” ujar Priyo.

Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Yasonna Laoly mengatakan, para napi di Lembaga Pemasyarakatan Banceuy segera dipindahkan ke gedung baru yang juga berada di wilayah Banceuy, Bandung.
Pemindahan ini dilakukan pasca-kerusuhan yang terjadi di Lapas Narkoba Kelas II A itu pada Sabtu (23/4/2016) pagi.
“Dipindahkan segera. Di Banceuy juga. Kan ada gedung baru yang dibangun untuk (kapasitas) 400 orang,” kata Yasonna.
Ia menjelaskan, gedung yang terbakar saat kerusuhan beberapa waktu lalu itu sebenarnya masih bisa digunakan. Namun, karena gedung itu bangunan lama, maka sementara ini akan ditutup untuk diperbaiki.
Yasonna mengatakan, kantor lapas untuk sementara akan dipindahkan di aula. Kemudian, untuk pelayanan kunjungan keluarga dari para napi juga sudah dipikirkan.
“Penerimaan tamu akan kami buat tenda nanti di tengah. Karena tetap juga kami hargai hak para napi untuk dikunjungi keluarga. Itu hak, maka kami buat tenda,” ujarnya.
Namun yang jadi persoalan nanti terkait kunjungan keluarga para napi adalah soal penjagaan. Pihak lapas akan memperketat agar tidak terjadi penyelundupan barang atau hal apa pun karena memanfaatkan situasi saat ini.

“Bagaimana barang masuk di dalam, handphone, dan lain-lain memang menjadi ekstra hati-hati karena memang di dalam tenda,” kata Yasonna.
Kerusuhan terjadi di Lapas Banceuy dipicu adanya seorang warga binaan lapas yang diduga tewas akibat bunuh diri setelah mendapatkan kekerasan dari sipir lapas. Napi tersebut bernama Undang Kosim.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Jawa Barat I Wayan Sukerta sebelumnya mengatakan, kematian Undang bukan karena penyiksaan dengan kekerasan oleh petugas lapas.
“Penyebab meninggalnya bukan karena kekerasan. Lebam ada, di paha. Nanti diperiksa sampai di mana kekeliruan yang mereka (petugas) lakukan,” kata dia.

(Tribunnews)

Pangkalan Limusnunggal Jadi Sarang Narkoba

20 April 2016

NARKOBA LIMUSNUNGGALLokalisasi Pangkalan 12 di Kecamatan Limusnunggal kabarnya kerap menjadi tempat transaksi narkoba. Kemarin, Satpol PP Kabupaten Bogor bersama BNNK Bogor merazia kontrakan yang diduga jadi tempat Pekerja Seks Komersial (PSK) di pangkalan Limusnunggal. Satu per satu pintu kamar PSK diketuk. Mulai dari Blok Anggrek hingga Blok Cokelat.

“Kami merazia ke rumah kos di Limusnunggal. Sebab, lokalisasi di Limusnunggal diduga menjadi market peredaran narkotika,” ujar Kepala BBNK Bogor Budi, kemarin. Meski begitu, sambung Budi, razia yang dilakukan sepuluh personel BNNK Bogor dan satu truk Satpol PP itu diduga bocor. “Seluruh kontrakan terkunci dan digembok dari luar. Nihil, tidak ada yang diamankan. Razia sepertinya bocor,” tuturnya.

Dalam waktu dekat, sambung Budi, pihaknya bakal merazia kembali lokalisasi Limusnunggal. Terutama Blok Anggrek, Pule, Cokelat dan Mawar. “Kami akan razia lagi dengan waktu yang mendadak,” katanya.

(Metropolitan.id)

Ini Kronologi Penangkapan Bupati Subang dan Dua Jaksa Kejati Jabar

13 April 2016

BUPATI SUBANGKetua KPK Agus Rahardjo mengungkapkan kronologi Operasi Tangkap Tangan (OTT) terhadap Bupati Subang Ojang Sohandi dan dua jaksa di lingkungan Kejaksaan Tingggi Jawa Barat (Kejati Jabar).

“KPK menggelar OTT pada Senin (11/4) sekitar pukul 07.00 WIB di kantor Kejati Jabar dan pada pukul 13.40 WIB di Subang Jabar,” kata Agus dalam konferensi pers di gedung KPK Jakarta, Selasa (12/4).

“Sekitar pukul 07.00 WIB pada Senin (11/4) terjadi penyerahan di ruang DVR lantai 4 Kejati Jabar. LM kemudian keluar Kejati menuju mobil, dan sekitar pukul 07.20 WIB saat masuk ke mobil LM diamankan di parkiran Kejati Jabar,” tambah Agus.

Tim KPK kemudian mengamankan uang Rp528 juta dari kantor Deviyanti di lantai 4 Kejati Jabar. Diduga uang sejumlah Rp 528 juta merupakan uang suap sebagaimana kesepakatan antara LM dan FN (Fahri Nurmallo).

FN adalah salah satu jaksa yang tadinya bertugas di Kejati Jabar, namun minggu sebelumnya sudah dipindahkan ke Jawa Tengah, Semarang. FN adalah ketua tim dari Kejati Jabar yang menangani kasus dugaan tipikor BPJS di Subang.

Uang Rp 528 juta dalam pecarah Rp100 ribu dan Rp50 ribu tersebut berasal dari Bupati Subang Ojang Sohandi. “Uang diduga berasal dari OJS (Ojang Sohandi) yaitu Bupati Subang.

Tujuannya pasti untuk meringankan tuntutan terhadap JAH, terdakwa kasus tindak pidana korupsi BPJS Subang 2014 dan mengamankan agar OJS tidak tersangkut kasus. Selanjutnya tim KPK pada pukul 13.40 menuru Subang untuk mengamankan Ojang.

“Tim mengamankan OJS dan ajudan. Tim menemukan uang sejumlah Rp385 juta di mobil tersangka sebagai dugaan penerimaan OJS sebagai bupati subang,” jelas Agus.

Saat penjemputan tersebut, Ojang diketahui sedang mengikuti rapat Musyawarah Pimpinan Daerah (Muspida) di kantor Komando Distrik Militer (Kodim) setempat.

“Bupati masih ada rapat Muspida yang juga dihadiri oleh Dandim (Komandan distrik militer) dan Kapolres, tapi petugas KPK bicara baik-baik dan Alhamdulilah dengan bantuan Kapolres dan Dandim menyerahkan yang bersangkutan ke KPK dan dibawa ke Jakarta. Petugas KPK meminta izin dan beliau berdua meyakinkan agar bupati ikut petugas KPK ke Jakarta,” kata Wakil Ketua KPK Laode M Syarif dalam acara yang sama.

Atas perbuatan tersebut, Lenih Marliani, Jajang Abdul Kholik dan Ojang Sohandi sebagai tersangka pemberi suap kepada jaksa dan menyangkakan ketiganya melanggar pasal 5 ayat 1 huruf a atau pasal 5 ayat 1 b atau pasal 13 UU No. 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU No. 20 Tahun 2001 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo pasal 55 ayat 1 ke-1.

Ojang juga masih disangkakan pasal 12 B UU No. 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan UU No 20 Tahun 2001 Tentang Perubahan Atas UU No. 31 Tahun 1999 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

(Republika)

Lagi, Komplotan Begal Sadis Digulung Aparat Bekasi

12 April 2016

BEGAL BEKASIKamar pojok di lantai dua kontrakan di RT 02/07, Mustikajaya, itu tak pernah sepi. Hilir mudik pemuda kerap menyambangi penghuni kontrakan. Jumlahnya bisa lebih dari empat orang.

Tapi, Senin (11/4) kemarin suasananya berbeda. Satu persatu para pemuda yang ada di dalam kontrakan itu digiring petugas kepolisian. Setidaknya empat orang digelandang polisi berpakaian sipil ke mobil.

Tidak hanya itu, aparat juga menggeledah kontrakan tersebut. Hasilnya, sejumlah Senjata Tajam (Sajam) seperti samurai ditemukan. Diduga senjata tajam tersebut digunakan komplotan begal jalanan.

Informasi yang dihimpun Radar Bekasi, penangkapan empat orang di kontrakan itu merupakan hasil pengembangan tertangkapnya pelaku begal motor yang membacok korbannya di Kabupaten Bekasi. Warga menduga kontrakan tersebut dijadikan markas tempat berkumpulnya para pelaku dan komplotannya.

Bayu, salah seorang warga mengatakan, penghuni kontrakan tersebut memang dikenal sering mabuk-mabukan dan membuat onar. Warga kerap merasa ketakutan saat kamar kontrakan yang ditempati pemuda berinisial TR ini, sering dijadikan tempat kumpul pemuda dengan berdandan urakan.

“Warga kuatir tiap hari kamar yang di atas paling pojok kanan itu rame terus. Gak tau anak mana aja yang datang ke situ. Warga mau negor juga takut, tampangnya serem-serem gak ada yang berani,” ucap Bayu.

Bayu melanjutkan, saat petugas kepolisian melakukan penangkapan pemuda yang menyewa kamar tersebut TR sudah melarikan diri sebelum petugas datang. “Ini yang ditangkap teman-temannya. Kalau TR udah keburu pergi duluan sebelum polisi datang. Kayaknya sih udah tau ada polisi yang datang, soalnya di dalam mobil sudah ada satu orang yang ditangkap, kayaknya orang ini yang nunjukin alamat kontrakan ini,” ungkapnya.

Lurah Mustikajaya Iman yang melakukan pendampingan saat penggeladahan mengungkapkan, ditemukan sebilah senjata tajam jenis samurai beserta borgol seperti milik polisi dan satu plastik buah tanaman jenis kecubung yang sedang dikeringkan. Diduga tanaman tersebut bila disalah gunakan dapat memabukan seperti narkoba.

“Setelah empat pemuda tersebut dibawa polisi, warga juga melakukan pengeledahan di dalam kontrakan maupun di luar kontrakan. Takutnya ada narkoba yang disembunyikan,” ujar Iman.

Kejadian tersebut kata Iman harus menjadi pelajaran untuk masyarakat yang harus berani melaporkan ke pihak kelurahan atau ke kepolisian bagi siapa saja yang dianggap mencurigakan. Kalau dibiarkan maka kejadian seperti ini akan terulang kembali.

“Warga juga harus cepat merespon, kalau ada yang mencurigakan langsung lapor ke kami atau ke polisi. Ini jadi pelajaran bagi kami untuk tidak cuek dengan pendatang baru,” kata Iman.

(jabar.pojoksatu.id)

Sikap Indonesia Atas Cina Sesuai Hukum Laut Internasional

24 March 2016

CINASikap Indonesia atas pelanggaran kapal Tiongkok Kway Fee 10078 yang diduga mencuri ikan (illegal fishing) di kawasan Zona Ekonomi Ekslusif (ZEE) dan di landas kontinen sudah sesuai ketentuan hukum laut Internasional.

“Karena berdasarkan Konvensi PBB tentang Hukum Laut (UNCLOS) negara Indonesia memiliki hak berdaulat atas laut teritorial dan ZEE,” kata analis hukum internasional Universitas Airlangga, Intan I Soeparna, Kamis (24/3).

Saat diminta tanggapan atas insiden kapal penangkap ikan KM Kway Fey 10078 dan kapal coastguard atau keamanan laut milik China di kawasan perairan Natuna, Provinsi Kepualuan Riau, ia merinci alasan sikap tepat pemerintah Indonesia.

Menurut dia, berdasarkan pasal 73 UNCLOS Indonesia sebagai coastal state memiliki hak untuk mengekplorasi, ekploitasi, konservasi dan mengkontrol sumber daya alam pada wilayah ZEE.

Indonesia juga berhak untuk melakukan tindakan seperti boarding, inspeksi, penahanan dan melakukan proses hukum untuk menegakkan hukum penangkapan ikan yang sesuai dengan UNCLOS.

“Jadi, negara Tiongkok seharusnya menghormati hukum yang berlaku, karena berdasarkan Pasal 58 UNCLOS, negara-negara lain harus menghormati dan melaksanakan aturan yang ditetapkan oleh Indonesia sebagai ‘coastal state’,” kata doktor lulusan Vrije Universiteit Brussel, Belgia itu.

Oleh karena itu, katanya menegaskan, tindakan yang dilakukan oleh kapal keamanan laut Tiongkok yang berusaha menghalangi pihak Indonesia untuk mengamankan kapal Kway Fee adalah melanggar Pasal 58 dan 73 UNCLOS.

Ia juga menilai kapal keamanan laut Tiongkok juga telah melakukan intervensi terhadap usaha Indonesia untuk melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan UNCLOS.

Sedangkan Indonesia, kata dia, dapat melakukan tindakan pengamanan dan penangkapan pada awak buah kapal (ABK) Kway Fee sesuai dengan ketentuan yang diatur oleh Pasal 73 UNCLOS.

Yakni, para awak tersebut diamankan tetapi tidak untuk dipenjarakan atau dihukum, dan para awak Kway Fee harus dilepaskan dengan jaminan dari negara asal.

Dalam hal mengamankan ABK kapal Kway Fee, kata dia, Indonesia juga harus memberitahu negara Tiongkok melalui atase atau kuasa usaha Tiongkok di Indonesia.

Mengenai penabrakan yang dilakukan oleh kapal keamanan laut Tiongkok, ia menyebut sebagai “termasuk tindakan yang dapat menimbulkan kesan bahwa Tiongkok tidak memiliki itikad baik dalam menghormati UNCLOS”.

“Sehingga protes keras yang dilayangkan oleh pemerintah Indonesia dapat dibenarkan,” katanya.

Karena, kata dia, menurut hukum Internasional, itikad baik merupakan landasan utama dalam melaksanakan hukum internasional dan menghormati hukum dari negara-negara lain, termasuk “coastal state”.

Intan melihat bahwa konflik Laut Cina Selatan memang menimbulkan hal yang sangat sensitif dalam hubungan internasional di wilayah laut.

“Sehingga Indonesia meskipun bukan negara pengklaim (claimant state) di Laut Tiongkok Selatan, tetap harus berhati-hati dalam melaksanakan hak dan kewajibannya atas ZEE, agar kemudian tidak menimbulkan preseden buruk dalam upaya ikut menyelesaikan konflik Laut Cina Selatan,” katanya.

(Republika)

Narkoba Bertebaran di lapas paledang

16 March 2016

PALEDANGKeheningan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II A Paledang berubah mencekam. Tadi malam, Satuan Tugas Keamanan dan Ketertiban (Satgas Kamtib) pada Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjen PAS) mengobok-obok seisi lapas. Alhasil, napi yang menghuni tempat itu kedapatan memakai narkoba.
Pasca kaburnya tujuh tahanan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas II A Paledang beberapa waktu lalu, Satuan Tugas Keamanan dan Ketertiban (Satgas Kamtib) pada Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Ditjen PAS) mengobrak-abrik seisi Lapas Paledang tadi malam.
Hasilnya ditemukan banyak benda-benda terlarang yang sebenarnya tak diperbolehkan berada di ruang tahanan. Yang lebih parah lagi, lima narapidana (napi) ditemukan positif mengonsumsi narkoba.
Razia dipimpin langsung Direktur Kamtib Ditjen PAS, Sutrisman. Diikuti petugas gabungan dari Kanwil Kemkumham DKI Jakarta, Kanwil Kemkumham Jawa Barat dan petugas Kepolisian dari Polres Bogor Kota. Selain itu, razia kali ini juga melibatkan Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Bogor untuk mengecek indikasi penyalahgunaan narkoba di dalam lapas.
Setelah apel persiapan, petugas masuk ke ruang-ruang tahanan. Mereka memeriksa se­tiap sudut ruangan tahanan. Para napi juga diperiksa dari ujung kaki hingga ujung rambut. Setelah sekitar tiga jam melakukan pemeriksaan, petugas mendapati segudang barang-barang terlarang di dalam ruang tahanan. Dari mulai telepon genggam, speaker aktif ukuran besar dan kecil, dispenser, kompor portable, kipas angin dan barang terlarang lainnya.
Setelah menyisir seisi ruang tahanan, petugas dari BNNK Bogor menggiring para tahanan melakukan tes urine. Secara bergantian, para tahanan memasuki kamar mandi yang telah disediakan dengan membawa wadah untuk diperiksa urinenya. Di sisi lain, petugas BNNK Bogor sibuk memeriksa urine dari para tahanan yang telah menyerahkan urinenya.
Setelah pemeriksaan selesai, petugas akhirnya menemukan lima urine yang terbukti positif narkoba. Urine tersebut berasal dari dua tahanan perempuan dan tiga tahanan laki-laki. “Dari sekitar seratus orang yang kami periksa urinenya, lima orang positif menggunakan narkoba,” kata Kepala BNNK Bogor Nugraha Setya Budi.
Menurut Budi, pihaknya akan melakukan pendalaman terhadap temuan penggunaan narkoba di dalam lapas. Bersama Polres Bogor Kota, dirinya akan menelusuri darima­na dan lewat siapa barang ha­ram itu bisa masuk dalam lapas.
“Kalau dari sipir pasti akan ada sanksi-sanksi tertentu dari Ditjen Lapas. Kalaupun dari luar, kami bersama Polres Bogor akan mendalami dan menelusurinya,” tegas Budi, sapaan akrabnya.
Sementara itu, Direktur Kamtib Ditjen PAS Sutrisman mengatakan, pihaknya akan menelusri darimana barang haram tersebut masuk ke dalam lapas. Dirinya akan bekerja sama dengan pihak-pihak terkait mengusut tuntas temuan tersebut. “Narkoba jelas dilarang masuk lapas, kami akan lakukan penyelidikan lebih lanjut,” kata Sutrisman.
Di samping itu, dirinya juga merasa heran dengan ditemukannya banyak benda terlarang yang tak diperbolehkan masuk ke dalam ruang tahanan. Dirinya berjanji akan memberi sanksi tegas jika ada keterlibatan orang dalam yang membantu menyelundupkan barang-barang tersebut.
“Kalau yang kecil-kecil mungkin bisa diselundupkan lewat pengunjung dengan berbagai modus. Tapi kalau yang besar seperti speaker aktif, tidak mungkin diselundupkan lewat tembok, pasti lewat pintu sel dan harus dibuka. Jelas pasti ada orang yang membantu memasukkannya,” geramnya.
Sutrisman berjanji akan memperketat penjagaan di setiap lapas. Hal itu dilakukan mencegah narkoba dan barang-barang terlarang lainnya masuk ke dalam lapas.
“Ini salah satu komitmen kami membersihkan lapas secara maksimal dari barang-barang terlarang, terlebih narkoba. SDM kami memang kurang makanya kami minta semua pihak terkait bersinergi seperti razia malam ini,” aku Sutrisman.
Soal tahanan yang kabur, Sutrisman akan mengevaluasi sistem penjagaan di Lapas Paledang. Jika nantinya ditemukan adanya kelalaian petugas, ia berjanji akan menindak tegas sesuai aturan. “Kalau terbukti ada kelalaian, sudah pasti diberikan sanksi tegas,” pungkasnya.

(Metropolitan.id)

Buronan Penabrak Dua Anggota Brimob Hingga Tewas Ditangkap di Bogor

5 March 2016

buronanPelaku penabrak dua anggota Satuan Brimob Polda Sumbar hingga meninggal dunia, ditangkap jajaran Polsek Bogor Timur, Polresta Bogor. Tersangka Jum (26 tahun), ditangkap setelah menjadi daftar pencarian orang (DPO) Polres Darmaraya sejak Januari lalu.

‘’Tersangka ditangkap setelah dinyatakan DPO. Tersangka juga pelaku pencurian kepala wasit di daerah Darmaraya,’’kata Kabid Humas Polda Jabar, Kombes Pol Sulistyo Pujo kepada para wartawan, Sabtu (4/3).

Setelah diamankan dengan sejumlah barang buti oleh jajaran Polsek Bogor Timur, tersangka langsung diperiksa.Jajaran Polresta Bogor kemudian melakukan koordinasi dengan Polres Darmaraya, Polda Sumbar.

Kasus ini, kata dia, akan dilimpahkan ke Polres Darmaraya karena tempat kejadian perkara (TKP) berada di sana ‘’Penyidik Polres Darmaraya akan menjemput pelaku ke Polres Bogor Kota,’’imbuh dia.

(Republika)

Next Page »