Ali Badak, pemimpin pengeroyokan polisi di Matraman tewas

22 January 2016

PENGEROYOKAN 220116Petugas Polda Metro Jaya membekuk salah seorang pria yang diduga pelaku pengeroyokan terhadap anggota Polsek Senen saat menggerebek bandar narkoba di daerah Matraman Jakarta Timur.

“Pelaku atas nama Ali Badak,” kata Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Polisi Krishna Murti di Jakarta Kamis (21/1) tengah malam.

Krishna mengatakan tersangka Ali Badak tewas karena melakukan perlawanan ketika petugas berupaya menangkapnya.

Saat ini, jasad pelaku telah dibawa ke Rumah Sakit Polri Kramatjati Jakarta Timur guna menjalani otopsi.

Krishna mengungkapkan Ali Badak diduga sebagai pelaku utama pembacokan terhadap Iptu Prabowo dan memimpin penyerangan terhadap anggota Polsek Senen.

Anggota gabungan Polda Metro Jaya juga meringkus seorang pelaku pengeroyokan lainnya.

Sebelumnya, anggota Unit Narkoba Polsek Senen menggerebek rumah yang dicurigai “sarang” bandar narkoba di Jalan Slamet Riyadi Matraman Jakarta Timur pada Senin (18/1) sekitar pukul 15.30 WIB.

Anggota Unit Narkoba itu mendapatkan serangan dari sejumlah warga yang berupaya melindungi bandar narkoba tersebut.

Sejumlah warga bersenjata tajam menyerang anggota hingga beberapa polisi mengalami luka bacok.

Selain itu, seorang anggota kepolisian Bripka Taufik Hidyat dan seorang informan Jefri alias Cibe tewas karena tenggelam di Sungai Ciliwung saat berusaha menyelamatkan diri dari pengeroyokan pelaku.

Jasad kedua korban itu telah ditemukan pada lokasi yang berbeda pada Selasa (19/1).

Sejauh ini, polisi telah meringkus tujuh orang terkait pengeroyokan terhadap anggota Polsek Senen Jakarta Pusat tersebut.

(Antara)

Ledakan Bom di Sarinah: Semua Teroris Akan Dikumpulkan di Lapas Khusus? Cermati Dulu Bahayanya

19 January 2016

TERONGWacana membuat penjara khusus bagi terpidana kasus terorisme dinilai tidak cukup mengubah paham radikalisme.
Berkumpulnya para terpidana pada satu tempat yang sama dikhawatirkan membuat pengaruh radikal semakin kuat.
“Penjara tidak bisa mengubah, karena itu soal pemikiran. Bahkan, mengirim ulama untuk mengajarkan agama dan menggelar pengajian bersama juga kurang efektif,” ujar Wakil Ketua Setara Institute Bonar Tigor Naipospos, di Cikini, Jakarta Pusat, Senin (18/1/2016).
Menurut Bonar, digabungnya para teroris dalam satu penjara yang sama bisa jadi akan melahirkan kelompok-kelompok radikal baru.
Bahkan, aksi teror dapat direncanakan dari dalam penjara.
Bonar mengatakan, yang terpenting adalah memisahkan para narapidana terorisme dari lingkungannya yang lama.
Saat keluar dari penjara, mantan napi kasus terorisme seharusnya dipindahkan dari tempat tinggal sebelumnya.

“Rencana membuat penjara khusus ini salah satu bentuk preventif, tapi yang lebih perlu adalah memotong pengaruh kelompok radikal pada dirinya,” kata Bonar.
Sebelumnya, menanggapi wacana lapas khusus kasus teroris, Wakil Presiden Jusuf Kalla juga menyatakan tidak setuju.
Menurut Kalla, akan sangat membahayakan jika para pelaku teror dikumpulkan dalam satu tempat.

Ia menilai, kasus pengeboman dan penyerangan di kawasan dekat Sarinah yang dilakukan residivis, pada beberapa waktu lalu, membuktikan bahwa ada sistem yang perlu diperbaiki.
Selain hukuman, Kalla juga menekankan mengenai perlunya rehabilitasi terhadap pelaku teror.

(Tribunnews)

Adu Mulut Hingga Membentak, Begini Debat Panas Fahri Hamzah dan Penyidik KPK

16 January 2016

KPKWakil Ketua DPR Fahri Hamzah beradu mulut dengan penyidik KPK AKBP Christian yang membawa anggota Brimob bersenjata laras panjang saat menggeledah ruang kerja anggota Komisi V Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Yudi Widiana. Suasana berlangsung tegang.

Adu mulut antara Fahri dan penyidik KPK AKBP Christian terjadi di Gedung Nusantara II Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (16/1/2016). Saat itu pihak KPK hendak menggeledah ruang kerja anggota Komisi V Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Yudi Widiana.

Fahri memprotes keras karena anggota Brimob bersenjata laras panjang ikut dalam penggeledahan tersebut. Namun AKBP Christian bergeming. Dia menegaskan ke Fahri bahwa KPK sudah mendapat izin dari Sekretariat Jenderal DPR dan Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) untuk melakukan penggeledahan.

Dalam perdebatan sengit itu, Fahri sempat membentak AKBP Christian. Begini transkrip percakapan keduanya:

Fahri: Mohon maaf, ini gedung parlemen, Pak. Gedung parlemen itu adalah tempat orang menyatakan pendapat secara bebas.

AKBP Christian: Setuju, Pak.

Fahri: Kapolri sejak zaman Pak Tarman sudah ditegor dan sudah minta maaf. Tidak boleh bawa senjata laras panjang ke gedung parlemen.

AKBP Christian: Pak, ini kami yang meminta anggota Brimob untuk…

Fahri: Ya makanya, ini yang saya bilang sering disalahkan…

AKBP Christian: Begini, begini. Kami silahkan dikomplain. Bapak silakan komplain kami. Tapi ini adalah tugas kami.

Fahri: Ya betul, Pak! Saya juga bertugas di sini, saya ngantor di sini dan saya katakan tidak boleh bawa senjata laras panjang ke gedung parlemen ini!

AKBP Christian: Silakan. bapak boleh.

Fahri: Jangan bilang silakan, dong! ini rumah tangga kami!

AKBP Christian: Ini rumah tangga rakyat, Pak.

Fahri: Ya rakyat, rakyat Indonesia! Kami dipilih oleh rakyat! saudara tidak dipilih oleh rakyat!

AKBP Christian: Iya saya tahu, bapak dipilih oleh rakyat, Anda dipilih oleh rakyat.

Fahri: Karena Anda tahu, saudara perlu mengerti etika kelembagaan! Tolong sekarang Brimob dibawa keluar dulu.

AKBP Christian: Tidak! Saya yang mengatakan itu. Silahkan bapak mau menyatakan kepada siapapun!

Fahri: Mana PAMDAL? Pamdal tolong, di sini ada pengamanannya, Pak.

AKBP Christian: Silakan.

Fahri: Di sini ada pengamanannya, Pak. Kalau Anda tidak percaya dengan pengamanan di sini, jangan masuk ke sini.

AKBP Christian: Tidak! Kami punya…

Fahri :Punya apa?

Fahri terlihat merangkul bahu Christian seperti mencoba untuk menyuruhnya keluar. Namun Christian dengan sigap langsung menepis tangan Fahri. Adu mulut antara keduanya pun makin menjadi-jadi dengan suara tinggi. Fahri bahkan sampai membentak Christian.

AKBP Christian: Saya diberi kewenangan oleh Undang-undang untuk melaksanakan tugas saya!

Fahri: Undang-undang apa! Ini gedung parlemen!

AKBP Christian: Saya diberikan kewenangan oleh KUHAP untuk melaksanakan kewenangan saya!

Fahri: KUHAP Apa! Tolong saya minta surat tugasnya!

AKBP Christian: Saya sudah menunjukkan surat tugas saya ke MKD!

Fahri: Jangan mentang-mentang anda pakai pakaian segala macem. Anda masuk sini sembarangan. Tolong ya, Mas, gini aja kita ngomong baik-baik di dalam.

AKBP Christian: Silakan. Saya sudah ngomong dengan MKD dan Biro Hukum, Sekjen. Saya sudah izin, saya tidak ada urusan dengan Anda!

Fahri terus menyatakan bahwa dirinya sebagai pimpinan DPR berhak menolak penggeledahan KPK di Gedung DPR membawa anggota Brimob bersenjata laras panjang. Namun AKBP Christian terus menegaskan dirinya sudah mengantongi izin biro hukum dan MKD. Terdengar ada seorang pria yang turut membela Fahri, menekankan bahwa Fahri adalah pimpinan DPR yang kedudukannya lebih tinggi dari MKD.

Fahri: Tolong, tolong…

AKBP Christian: Bapak boleh komplain kemana saja, kami hanya melaksanakan tugas. Tidak ada urusan!

Fahri: Tolong anda masuk ruangan dulu.

AKBP Christian: Tidak! Tidak! Saya akan melaksanakan tugas saya.

Fahri : Mas, tolong Brimob keluar dulu. Saya yang tanggung jawab sama Kapolri.

AKBP Christian: Tidak! Saya yang tanggung jawab. Kepada siapa pun saya akan bertanggung jawab! Silakan. Brimob tetap di sini. saya yang menggunakan.

Fahri: Tolong ya ini contempt of parliament, saya akan memakai pasal contempt of parliement!

AKBP Christian: Silakan. Pak Fahri silakan.

Fahri: Ke kampus saja tempat saya kuliah tidak boleh bawa senjata! Rumah sakit, parlemen, kampus, tidak boleh bawa senjata.

AKBP Christian: Silakan, bapak boleh mau mengatakan apa saja, kami yang bertugas, kami punya kewenangan.

Fahri: Saya juga bertugas!

AKBP Christian: Silakan.

Fahri dan beberapa rekannya di lokasi terus mencecar AKBP Christian. Penyidik KPK itu ditanya soal surat tugas dan kewenangan membawa Brimob bersenjata saat melakukan penggeledahan. AKBP Christian yang menjawab sedikit terpatah-patah karena terus ditekan pun sempat disoraki ‘huuuu…’. Namun dia terus menegaskan bahwa dirinya dan para penyidik KPK lainnya tak akan beranjak dari lokasi. Suasana pun makin panas.

Fahri : Keluar dulu, kami mau rapat internal dulu…

AKBP Christian: Tidak saya tidak akan keluar! Saya akan melaksanakan tugas saya! Ini tugas negara bukan tugas pribadi!

Fahri: Saya juga tugas negara! Jangan tugas negara terus, seolah-olah kami semua maling di sini!

AKBP Christian: Saya tidak menyatakan itu.

Fahri: Jangan begitu dong!

AKBP Christian: Anda yang menyatakan!

Fahri: Sekarang saya tanya bolehkah saya masuk ke ruangan KPK seenaknya? Kan nggak boleh.

AKBP Christian : Saya punya surat tugas! Saya sudah menunjukkan.

Fahri : Mana?

Fahri : Tolong gini aja. Itu apa namanya obvit (obyek vital) tolong obyektifitasnya. Apa boleh buatlah, tentara aja kalau ada bawa ke sini.

Namun pada akhirnya penyidik KPK bisa masuk ke ruangan Yudi. Ruang kerja Yudi digeledah KPK terkait dengan penangkapan anggota Komisi V DPR dari Fraksi PDIP Damayanti Wisnu Putranti, Rabu (13/1) lalu. Damayanti diduga menerima suap terkait proyek pembangunan jalan di Ambon.

Sebelum menggeledah ruangan Yudi, para penyidik KPK lebih dulu menggeledah ruangan Damayanti di lantai 6 dan menggeledah ruangan anggota Komisi V Fraksi Partai Golkar Budi Supriyanto di lantai 13.

(Detik)

Penganiayaan Bocah oleh Oknum TNI AL Mulai Diselidiki

13 January 2016

BOCAH TNIKorps Marinir menerjunkan tim Polisi Militer TNI-AL untuk menyelidiki kejadian dugaan pemukulan terhadap T bocah ‎berusia 13 tahun oleh oknum TNI. Sehingga, kasus itu bisa segera diselesaikan dengan baik.
“Langsung kami selidiki. Dengan melakukan penyelidikan secara internal,” ujar Kepala Dinas Penerangan Marinir Letnan Kolonel Suwandi ketika dikonfirmasi, Selasa (12/1/2016).
Suwandi mengatakan, tim yang diterjunkan untuk memeriksa sebagaian besar terdiri dari satuan Polisi Militer TNI Angkatan Laut. Mereka akan memeriksa satu persatu anggota di lapangan.
“Tim ini independen dan hasilnya akan kami umumkam ke publik,” katanya.
Menurutnya, dalam aturan korps, tindakan menyakiti orang lain tidak diperbolehkan. Apalagi sampai menyakiti seorang anak yang masih berumur belasan tahun. Pihaknya akan menindaknya secara tegas jika terbukti.
“Hukaman tegas itu bisa berupa sanksi kurungan penjara sampai pemecatan,” katanya.
Meski begitu, tambah Suwandi, dia enggan berspekulasi mengenai adanya kasus pemukulan itu. Sebab, pihaknya belum menerima informasi resmi terkait pemukulan itu. “Saya belum dapat konfirmasi resmi. Jadi tak mau bicara proses hukum,” kata dia.

Seperti diberitakan sebelumnya, T (13) yang merupakan korban penganiayaan TNI masih terbaring lemas di Rumah Sakit Prikasih, Pondok Labu, Jakarta Selatan, Selasa (12/1) malam. Bekas luka di bagian punggung masih terlihat kala T menunjukkan kepada wartawan di rumah sakit.
Memar pada bagian bibir pun masih terlihat di wajah bocah kelas 6 SDN 01 Ciganju‎r itu. Sambil merintih T mengaku bahwa dirinya dituduh mencuri burung di sebuah kompleks perumahan tentara di Pasar Minggu pada Minggu (10/1).
Dia dipukuli oleh lima orang oknum tentara dan sempat ditodong menggunakan pistol. Saat kejadian, dia bersama kedua rekannya mengendarai sebuah sepeda motor.
Namun, ketika berboncengan, tiba-tiba saja dikagetkan dengan adanya layangan putus saat tiba di depan perkomplekan tentara itu. Mereka langsung mengejar layangan tersebut sambil berlari memasuki kompleks.
Akan tetapi, sesampainya di salah satu komplek, dia dituduh mencuri burung.
“Saya langsung lari. Disangkanya saya maling burung di komplek Wibawa. Terus saya bilang saya gak nyuri dan ngambil burung orang lain. Pas saya lihat di sangkar burung, ada dua bulu burung itu. Nah saya disangkanya ngambil burung itu,” kata dia.
Dia pun langsung dibawa oleh anggota tentara yang memiliki burung. Bahkan, dia mendapatkan penganiayaan lainnya dengan penodongan dengan sebuah pistol. Namun, bukannya dilepaskan, dia justru dibawa ke pos.

“Saya bilang jangan Pak, saya takut mati. Pistolnya sudah diginiin (menunjuk tangannya ke kepala). Sampai di pos dia panggil anak buahnya. Lalu dipukuli tiga orang secara bergantian,” ucapnya.
T dipukuli menggunakan selang air yang menggunakan gagang belati. Sedangkan rambutnya pun dijambak sembari terus dipukuli secara bergantian. Kisah serupa juga diutarakan oleh ayah korban yang bernama Purwanto.

Purwanto mengaku saat itu, dia mendengar kabar anaknya dipukuli itu dari salah satu temannya yang bernama Faiz yang juga ikut mengejar layang-layang. “Saya lalu ke komplek. Sampai di komplek saya lihat anak saya sudah diikat di sebuah tiang dan ditelanjangi,” kata Purwanto.
Dia mengungkapkan, saat itu, dia langsung ditegur oleh penyiksa anaknya itu. Bahkan, bukannya dijelaskan soal kondisi anaknya itu, dia justru langsung dihajar perutnya dan disabet menggunakan selang air pula.

(Tribunnews)

Begini Kronologi Terungkapnya Sindikat Pencuri Bagasi di Bandara

5 January 2016

BAGASIPolres Bandara Soekarno-Hatta (BSH) mengungkap pelaku pencurian bagasi di bandara tersebut yang sudah terjadi berulang kali. Pengungkapan berdasarkan pada maraknya keluhan masyarakat.

“Pengungkapan kasus pencurian barang dari tas atau bagasi penumpang pesawat oleh Polresta Bandara Soetta bekerjasama dengan pihak Maskapai penerbangan dan PT. Angkasa Pura II,” kata Kasat Reskrim Polres BSH Kompol Aszhari Kurniawan kepada wartawan, Selasa (5/1/2016).

Pada Jumat (18/12) pukul 16.00 WIB, Polres Bandara mengamankan 3 orang petugas ground handling beserta bukti. Tiga orang itu adalah Madun (29), Angga Jaya Pratama (28) dan Andi Hermanto (29).

“Dari hasil penyelidikan diketahui bahwa ketiganya telah beberapa kali melakukan kerjasama pencurian barang-barang dari dalam tas atau bagasi penumpang dengan cara merusak resleting tas atau koper dan mengambil barang-barang dari para penumpang,” jelas Aszhari.

Dari pengakuan ketiganya, diperoleh beberapa nama lain yang diduga juga ikut bekerja sama di sindikat pencurian bagasi. Pada Senin (28/12) pukul 21.00 WIB, Polres Bandara kemudian menangkap seorang pria yang berprofesi sebagai porter bernama Saefulloh (22).

“Diduga juga sebagai pelaku dalam perkara pencurian dengan modus ‘dodos tas’ bagasi milik penumpang pesawat. Dari pelaku ini mengakui bahwa setelah hampir setahun bekerja sebagai porter pada salah satu maskapai, yang bersangkutan telah lebih dari 13 kali melakukan aksinya,” ungkapnya.

Hasil yang didapat beragam karena pencurian dilakukan secara acak. Porter dan sekuriti ini bekerja sama di make up bagasi (pengaturan penempatan bagasi sesuai tujuan penerbangan) dan kompartemen (lambung bagasi pesawat).

Kongkalikong antara porter dan sekuriti membuat semuanya lebih mudah. Porter mengambil barang saat menaikkan maupun menurunkan bagasi. Sekuriti yang tugasnya mengawasi justru mengamankan agar porter tidak ketahuan.

“Selain modus tersebut, modus lainnya adalah dengan ‘mengaburkan’ aksinya di area make-up, misalnya pelaku yang pada hari tersebut ditugaskan meng-handle bagasi penumpang tujuan Medan, namun beraksi dengan mencuri barang bagasi milik penumpang tujuan Makassar, sehingga jika ada komplain kehilangan barang dari penumpang tujuan Makassar, pelaku tidak akan dicurigai,” beber Aszhari.

Empat pelaku itu sudah dipecat oleh Lion Air. Untuk sekuriti, disebut pihak Lion Air berasal dari pihak ketiga yang disewa untuk menjaga keamanan di Bandara Soekarno-Hatta.

(Detik)

Jokowi Tak Gertak Sambal, Polri Ternyata Diperintahkan Cari Reza Chalid

8 December 2015

RIZA CHALIDPresiden Joko Widodo (Jokowi) rupanya tak main-main menyatakan marah besar namanya dicatut di kasus ‘papa minta saham’ yang menyeret Ketua DPR Setya Novanto. Dia telah memerintahkan Polri mencari keberadaan pengusaha minyak Reza Chalid.

Pernyataan itu disampaikan Kapolri Jenderal Badrodin Haiti saat dihubungi detikcom lewat telepon, Selasa (8/12/2015) pagi. Jokowi telah memerintahkan Polri untuk melacak keberadaan Reza.

“Iya sudah ada (perintah dari Jokowi untuk melacak posisi Reza),” kata Badrodin. Menurutnya, Polri sudah mengetahui keberadaan Reza.

“Iya sudah tahu,” imbuh Badrodin. Namun dia enggan mengungkapkan lebih jauh dimana keberadaan sosok penting di kasus ‘papa minta saham’ ini.

“Yaaa… nantilah kita kasih tahu,” ujarnya singkat.

Nama Muhammad Reza Chalid (dalam rekaman disebut MR), disebut ikut dalam pertemuan dengan Setya Novanto dan Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Maroef Sjamsoeddin, tak hadir dalam pemanggilan pertama. MKD memutuskan memanggil Reza untuk kedua kalinya.

“Persidangan dilanjutkan dengan memanggil saksi-saksi yang tersisa, dalam hal ini Reza Chalid atau saksi-saksi yang diperlukan,” ucap ketua MKD Surahman Hidayat membacakan hasil rapat pleno di ruang sidang MKD di Gedung DPR, Jakarta, Senin (7/12/2015) malam.

Surahman belum bisa memastikan tanggal pemanggilan Reza Chalid. Ini karena MKD akan lebih dulu memenuhi untuk meminta rekaman asli dari Maroef Sjamsoeddin yang kini ada di Kejaksaan Agung. Bukti itu akan diuji forensik di laboratorium Polri.

“Setelah sidang saksi, kita melihat apakah sudah cukup atau belum, kita akan (rapat) konsinyering untuk mengkonstruksi perkara ini,” ujar politisi PKS itu.

(Detik)

Polresta Bekasi Tangkap Dua Begal Bersenjata Api

5 December 2015

begalPolresta Bekasi tangkap dua begal bersenjata api di Jalan Inspeksi Kalimalang, Kecamatan Tambun Selatan pada Jumat (4/12/2015).

“Pelaku merupakan residivis berinisial WA (20) dan PAR (19) kita bekuk pada Jumat kemarin beberapa saat setelah beraksi,” kata Kasubag Humas Polresta Bekasi Iptu Makmur di Cikarang, Sabtu (5/12/2015).

Menurut dia, para pelaku beraksi pada Jumat dini hari dengan mengincar sepeda motor korban yang tengah berboncengan tiga orang dengan satu sepeda motor.

“Pelaku datang memepet korban dan menodongkan senjata api. Lalu dengan cepat merampas ponsel dan uang milik korban,” katanya.

Pelaku sempat memepet motor korban dari samping kanan dan menendang kendaraan korban hingga oleng dan terjatuh.

Kepada polisi, pelaku mengaku sudah lima kali melakukan aksi pembegalan di wilayah hukum Kabupaten Bekasi dengan modus yang sama.

Pascakejadia itun, kata Makmur, korban langsung melaporkan kejadian itu kepada polisi.

Polisi pun langsung memburu kedua pembegal tersebut dan mencari lokasi yang dicurigai, yakni Jalan Inspeksi Kalimalang.

“Petugas kami mencurigai gerak-gerik pelaku. Sempat beberapa waktu membuntuti sampai akhirnya melakukan penyergapan di Kalimalang,” katanya.

Barang bukti yang berhasil diamankan, yaitu satu unit sepeda motorB 4089 FAK, satu senjata replika (airsoft gun) jenis revolver, enam butir selongsong peluru, empat telepon genggam dan uang tunai Rp59 ribu.

“Untuk mempertanggungJawabkan atas perbuatannya pelaku diancam dengan pasal 365 KUHP dengan hukuman maksimal 20 tahun penjara,” katanya.

(Galamedia)

Dipolisikan, Habib Rizieq Terancam Lima Tahun Penjara

27 November 2015

ustad kafirPolda Jabar masih terus memproses laporan Angkatan Muda Siliwangi (AMS), terkait dugaan pelanggaran UU No.11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE),  dengan terlapor imam besar Front Pembela Islam (FPI), Rizieq Shihab atau Habib Rizieq. Rizieq dilaporkan ke Polda Jabar karena  memelesetkan kata ‘sampurasun’ menjadi ‘campur racun’ yang rekaman videonya beredar di YouTube.

Rizieq pun dianggap telah melecehkan suku Sunda. Menurut Dir Reskrimsus Polda Jabar, Kombes Pol Wirdhan Denny, ketentuan SARA diatur dalam Pasal 28 ayat 2 UU No.11/2008 tentang ITE. Ancaman hukuman penjara menanti mereka yang terbukti memenuhi unsur pelanggaran hukum.

“Ancaman pasal 28 ayat 2 itu lima tahun (penjara),” ujar Wirdhan saat dihubungi wartawan, Jumat (27/11/2015).

Laporan AMS sendiri masuk dan diterima pihak Polda Jabar pada 24 November 2015 lalu. Laporan memiliki nomor surat LPB/967/XI/2015/JABAR. Saat ini, perkara itu ditangani Subdit II Ditreskrimsus Polda Jabar. Dalam laporannya, AMS melaporkan adanya ucapan Habib Rizieq saat ceramah di Purwakarta soal ‘sampurasun’ diganti jadi ‘campur racun’.

“Laporannya masalah itu,” tambah Wirdhan.

Wirdhan menambahkan, saat ini pihaknya tengah mempelajari laporan yang masuk. Ia menyatakan pihaknya akan bersikap profesional dalam menangani suatu perkara.

“Kasus ini tetap diproses sesuai aturan hukum. Ketika ada laporan masyarakat ,masa kami tidak tindaklanjuti. Sekarang tinggal pembuktiannya saja,” jelasnya.

(Galamedia)

Amankan Kasus Setya Novanto, Anggota MKD Mengaku Disogok Rp20 Miliar Lebih

25 November 2015

setyaWakil Ketua Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD) DPR RI, Junimart Girsang mengungkapkan, dirinya ditawari 20 juta Dolar AS atau setara lebih Rp20 miliar untuk membantu ‘mengamankan’ atau ’86’ kasus etik Ketua DPR, Setya Novanto yang tengah diproses MKD.
“Oh, nggak (SMS), saya ketemu orangnya. Dia datang ke saya. Dia bilang, bisa nggak bang, *@#.. *@1».. Saya bilang, nggak ah, nggak mau guwe. Dia juga nggak bodoh main SMS kan,” beber Junimart di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa (24/11).
“Dia bilang, begini begitu..apa itu bang. Siap nggak buat.. 2 juta (Dolar AS) sudah siap. Guwe bilang nggak bisa guwe,” sambungnya.
Saat ini, MKD dengan keanggotaan 18 orang dari sembilan fraksi parpol KMP dan KIH, tengah memproses laporan Menteri ESDM, Sudirman Said tentang dugaan pelanggaran etik Setya Novanto yang bersama pengusaha minyak M Riza Chalid bertemu Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Maroef Sjamsoeddin, membahas pengurusan perpanjangan kontrak karya PT Freeport Indonesia di Papua.
Sudirman melaporkan, Setnov,-sapaan Setya Novanto, bisa memuluskan renegosiasi perpanjangan kontrak PT Freeport dengan meminta jatah saham 20 persen yang diperuntukkan bagi Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK).
Setnov juga dilaporkan meminta saham suatu proyek listrik yang akan dibangun di Timika, sekaligus meminta agar Freeport menjadi investor dan pembeli tenaga listrik yang dihasilkan.

“(Ditawari) 2 juta,” kata Junimart dengan suara meninggi seraya mengangguk anggukkan kepala saat ditanya tawaran uang tersebut dalam bentuk Dolar AS. “Guwe bilang, nggak bisa guwe,” tandasnya.
Junimart mengungkapkan orang yang menemui dan menawarkan uang miliaran rupiah untuk ‘pengamanan’ kasus etik Setnov tersebut adalah salah seorang anggota DPR yang cukup dikenal.
“Kawan-kawan di sini juga,” ungkapnya.
Junimart menduga tawaran uang itu disampaikan secara langsung atau tidak melalui sambungan telepon dan pesan singkat atau SMS agar tidak meninggalkan jejak barang bukti.
Dan SMS pun riskan tersebar ke pihak luar.
“Emangya dia main bodoh apa,” selorohnya.
Junimart pun tidak merekam perbincangan tawaran itu lantaran tidak berniat untuk ‘mengganggunya’.

“Aduh.., bagaimana saya merekam. Masa’.. Nggak bisa lah. Karena kita bukan orang jahat juga kan.”
Informasi yang diperoleh Junimart, tidak hanya dirinya yang mendapatkan tawaran pundi-pundi yang menggiurkan itu. Bahkan, informasi yang didapat, bahwa sejumlah Tenaga Ahli (TA) MKD DPR.
“Justru katanya (dia), termasuk dengan para TA. Coba aja tanya TA.”
Informasi yang diperoleh Junimart, para TA itu mendapatkan tawaran uang tersebut saat Rapat Paripurna DPR.
Namun, beberapa TA yang dikonfirmasi perihal informasi itu justru membantahnya.
“Tanya aja TA. Ternyata dia dibisikin waktu Rapat Paripurna,” kata Junimart.
“Nggak tahu saya (uangnya diserahkan saat Rapat Paripurna atau tidak). Pokoknya mereka bilang, mereka sudah dapat, untuk setya novanto. Lalu, saya panggil dia. Katanya, oh nggak pak, sumpah. Benar nggaknya, dia yang tahu. Guwe nggak mau tahu. Tinggal kroscek saja,” sambungnya.

Junimart menduga tidak hanya seorang yang beroperasi menawarkan dan mendapat tawaran uang ‘pengamanan’ etik Setnov tersebut.
“Yah, banyak lah,” ujarnya.
Sementara itu, beberapa anggota lainnya hingga Ketua MKD Surahman Hidayat membantah adanya tawaran uang pengamanan Rp20 miliar untuk kasus etik Setya Novanto tersebut.
Ramai-ramai membantah
Anggota hingga pimpinan MKD DPR kompak membantah tawaran hingga menerima 20 juta Dolar AS atau lebih dari Rp20 miliar untuk ‘mengamankan’ kasus etik Setya Novanto terkait laporan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Sudirman Said.
Beda halnya Wakil Ketua MKD dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Junimart Girsang yang membenarkan informasi tersebut.
Wakil Ketua MKD dari Partai Gerindra, Sufmi Dasco Ahmad membantah mendapat tawaran sekaligus menerima uang 20 juta Dolar AS untuk mengamankan kasus etik Setya Novanto.

ia menyebut tidak ada suap untuk anggota MKD dalam mengamankan kasus politisi Golkar tersebut.
“Berapa? Mantap yah. Hehehe… Rp 20 miliar tidak ada itu,” kata Dasco diikuti gelak tawanya.
Sepengetahuan anggota MKD dari Partai Hanura, Syarifudin Suding, tidak ada tawaran uang pengamanan kasus etik Setya Novanto kepada anggota dan pimpinan MKD.
Ia pun merasa yakin tidak ada anggota MKD yang mendapat tawaran dan menerima uang pengamanan tersebut.
“Nggak ada, nggak ada, nggak ada yang seperti itu!” kata Suding dengan suara meninggi.
“Mudah-mudahan kami tetap bisa menjaga independensi kami. Mudah-mudahan hal seperti itu tidak terjadi,” sambungnya.
Pun Suding mengaku tidak pernah mendapat tawaran serta menerima uang pengamanan kasus etik Setnov itu.

“Saya kira, nggak,” kata dia.
Suding merasa yakin tidak ada dari MKD menerima uang pengamanan tersebut lantaran kasus dugaan pelanggaran etik Setya Novanto tengah menjadi sorotan publik.
Anggota dan pimpinan MKD tidak akan ambil risiko terhadap kasus ini.
“Sekali lagi saya katakan, ini adalah pertaruhan kredibilitas Mahkamah Kehormatan Dewan. Mudah-mudahan hal seperti itu tidak terjadi. Karena ekspektasi publik cukup tinggi terhadap persoalan ini.”
Menurutnya, untuk kasus dugaan pelanggaran etik Setnov ini, sesama anggota MKD pun tidak perlu saling memata-matai atau mengawasi terhadap adanya potensi dana pengamanan tersebut.
“Nggak perlu. Ini anggota Dewan, bisa saling mengawasi. Sudah lah… Saya percaya lah dengan kawan-kawan yang lain,” tukasnya.
Sementara, Ketua MKD dari Fraksi PKS, Surahman Hidayat pun mengaku tidak mendapatkan tawaran seperti dialami oleh Junimart Girsang.

Ia pun mempersilakan media massa untuk mengonfirmasi informasi dana pengamanan tersebut kepada anggota dan pimpinan MKD yang diduga mendapatkan tawaran tersebut.
Dan sejauh ini, ia mengaku belum mendapat laporan adanya dana pengamanan kasus dugaan etik Setya Novanto itu.
“Saya sendiri tidak tahu, kecuali malaikat. Kalau saya dapatnya tawaran jadi calon mertua,” kata politisi PKS itu.

(Tribunnews)

Agar Tak Ribut, RS yang Diduga Malapraktik Tawari Keluarga Korban Rp 150 juta

24 November 2015

rumah sakitPolda Metro Jaya terus mendalami kasus dugaan malapraktik yang dilakukan dokter RS Awal Bros Bekasi terhadap seorang bayi berumur 1 tahun bernama Falya Raafani Blegur. Bayi tak berdosa itu diduga meninggal karena sang dokter salah memberikan suntikan. Kemarin, pihak kepolisian menggeledah rumah sakit tersebut.

“Tim Penyidik Direktorat Reserse Kriminal Khusus melakukan penggeledahan untuk mencari bukti dugaan malapraktik RS Awal Bros, Bekasi,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Mohammad Iqbal kepada, Selasa (24/11).

Dalam penggeledahan tersebut, Tim penyidik berhasil menyita beberapa dokumen guna membongkar dugaan skandal malapraktik tersebut. Namun, Iqbal berdalih jika hasil sitaan berupa dokumen masih dalam penyelidikan tim penyidik.

“Kami masih mempelajari dokumen tersebut sebelum menarik kesimpulan,” paparnya.

Sementara itu, paman dari Falya, Yusuf Blegur, menyatakan RS Awal Bros sempat menawarkan uang sebesar Rp 150 juta kepada pihak keluarga Falya.

Rencananya uang tersebut diberikan secara simbolis agar keluarga tidak mengusut kasus malapraktik kepada kepolisian juga diekspos ke media.

“Pihak RS menawarkan sejumlah uang sebanyak Rp 150 juta agar masalah ini tidak tersebar luas,” beber Yusuf beberapa waktu lalu.

Namun keluarga Blegur menolak uang tersebut, Yusuf mengatakan, hanya meminta kepada pihak RS agar menjelaskan kronologi atas meninggalnya bayi mungil itu.

“Kami sekeluarga menolak uang itu. Kami hanya meminta penjelasan secara medis dan keterangan sebenar-benarnya kenapa kondisi Falya menurun dan kritis sampai meninggal,” ujar Yusuf.

Lebih jauh dijelaskan dia, pada saat penawaran Sabtu dua pekan lalu, pertemuan diadakan di ruang Dinas Kesehatan Kota Bekasi dan dihadiri oleh perwakilan Dinas kesehatan Kota Bekasi dan perwakilan RS Awal Bros.

Sampai berita ini diturunkan, keluarga Blegur mengaku belum mendapatkan keterangan langsung dari RS Awal Bros. Keluarga Falya menduga ada kelalaian yang dilakukan oleh RS Awal Bros hingga menyebabkan Falya meninggal dunia.

Sebelumnya, Falya dinyatakan meninggal usai menjalani perawatan di RS Awal Bros. RS Awal Bros sebelumnya menyatakan Falya hanya mengalami dehidrasi ringan. Namun kondisinya makin buruk setelah diberi suntikan antibiotik hingga akhirnya meninggal dunia.

(JPNN)

Next Page »