Kurikulum 2013 Sementara Tidak Dilanjutkan

6 December 2014

AniesMenteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan memutuskan menghentikan pelaksanaan Kurikulum 2013 di seluruh Indonesia. Kurikulum 2013 selanjutnya diperbaiki dan dikembangkan melalui sekolah-sekolah yang sejak Juli 2013 telah menerapkannya.

“Proses penyempurnaan Kurikulum 2013 tidak berhenti, akan diperbaiki dan dikembangkan, serta dilaksanakan di sekolah-sekolah percontohan yang selama ini telah  menggunakan Kurikulum 2013 selama tiga semester terakhir,” kata Mendikbud, Jumat (05/12).

Kurikulum 2013 sendiri telah diterapkan secara bertahap dan terbatas pada Tahun Pelajaran 2013/2014 di 6.221 sekolah di 295 kabupaten/kota seluruh Indonesia. Sekolah tersebut terdiri atas 2.598 sekolah dasar, 1.437 sekolah menengah pertama, 1.165 sekolah menengah atas, dan 1.021 sekolah menengah kejuruan.

Menurut Mendikbud, hanya sekolah-sekolah inilah yang diwajibkan menjalankan kurikulum tersebut sebagai tempat untuk memperbaiki dan mengembangkan Kurikulum 2013 ini. “Bila ada yang merasa tidak siap silakan ajukan pengecualian, tetapi secara umum sudah siap,” katanya.

Saat ini sudah 208 ribu sekolah yang menerapkan Kurikulum 2013.

Mendikbud mengatakan, sekolah percontohan ini kemudian  dievaluasi. Setelah dievaluasi kemudian Kurikulum 2013  diterapkan secara bertahap. Tahapan penerapannya bukan berbasis kepada guru, tetapi kepada sekolah. “Laporannya (basisnya) adalah jumlah sekolah yang menjalankan dan bukan jumlah guru yang melakukan pelatihan,” katanya.

Menteri Anies menyampaikan selain sekolah tersebut, sekolah yang baru menerapkan satu semester Kurikulum 2013 akan tetap menggunakan Kurikulum 2006 sampai mereka benar-benar siap menerapkan Kurikulum 2013.  “Sekolah-sekolah ini supaya kembali menggunakan Kurikulum 2006,” katanya.
Kemdikbud mengambil keputusan ini berdasarkan fakta bahwa sebagian besar sekolah belum siap melaksanakan Kurikulum 2013 karena beberapa hal, antara lain masalah kesiapan buku, sistem penilaian, penataran guru, pendampingan guru dan pelatihan Kepala Sekolah.

Menurut Anies, kurikulum pendidikan nasional  memang harus  terus-menerus dikaji sesuai dengan waktu dan konteks pendidikan di Indonesia untuk mendapat hasil terbaik bagi peserta didik.

“Perbaikan kurikulum ini demi kebaikan semua elemen dalam ekosistem pendidikan terutama peserta didik, anak-anak kita.  Tidak ada niat untuk menjadikan salah satu elemen pendidikan menjadi percobaan apalagi siswa yang menjadi tiang utama masa depan Bangsa,” kata Anies Baswedan.

Menjawab pertanyaan wartawan, tentang digunakannya dua kurikulum secara bersama-sama yang bertentangan dengan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional, Mendikbud mengatakan, saat ini bukan penerapan untuk kurikulum, tetapi uji terhadap sebuah kurikulum baru.

“Meskipun demikian, pada tahun 2006 Indonesia pernah menjalankan dua kurikulum secara bersamaan,” tandas Mendikbud.

(poskota)

Ratusan Guru Honorer Demo

4 December 2014

guruDitengah hujan rintik, ratusan guru honorer melakukan asksi unjukrasa di halaman Balaikota, Jln. Wastukancana, Bandung, Rabu (3/12/2014). Mereka menuntut agar dana hibah untuk guru honorer dari Pemkot Bandung segera dicairkan.

Mereka meneriakkan yel-yel “cairkan dana hibah” pun terdengar disepanjang lokasi aksi. Sementara poster bertuliskan “cairkan dana hibah sekarang juga, gurban menanti” pun menghiasi aksi tersebut.

Selain minta dana hibah segera cair, mereka juga menuntut Pemkot Bandung untuk memberikan insentif guru honorer sesuai upah minumum kota (UMK). Dan menuntut penghapusan diskriminasi terhadap guru honorer.

(galamedia)

Hari Guru Nasional: Profesionalisme dan Kesejahteraan Guru Jauh dari Harapan

26 November 2014

guru-mengajarHari Guru Nasional yang jatuh setiap tanggal 25 November, perlu dimaknai dari dua sisi. Pertama sisi profesionalisme dan kedua sisi kesejahteraannya.

“Ini karena sampai saat ini tingkat profesionalisme guru masih jauh dari harapan, program sertifikasi guru masih belum cukup mendorong kompetensi guru, sementara kesejahteraan pun masih belum merata dinikmati semua guru,” kata Sekretaris Jenderal Gerakan Indonesia Pintar (GIP) Alpha Amirrachman dalam siaran pers yang diterima, Rabu (26/11/2014).

Menurutnya, hanya 37 persen dari seluruh 3,5 juta guru yang memiliki kualifikasi minimum Sarjana atau Diploma-IV sebagaimana disyaratkan UU Guru dan Dosen 14/2005, sementara 25 persen lainnya, hanya memiliki ijasah SMA dan bahkan di bawahnya.

“Rendahnya kualifikasi guru ini disebabkan bebarapa hal. Yang pertama over supply guru, rendahnya gaji guru dan lemahnya rekrutmen guru. Pendidikan keguruan yang diselenggrakan LPTK (Lembaga Pendidik dan Tenaga Kependidikan) juga tidak merefleksikan inovasi dan cara berpikir terkini, sementara standar pelatihan pun sangat beragam,” ujar Alpha.

Walaupun program sertifikasi guru telah meningkatkan kesejahteraan guru, namun dampaknya pada meningkatnya profesionalisme guru masih belum terlihat. Pada saat yang sama ada banyak guru honorer yang tidak mendapatkan imbalan yang sepadan, padahal mereka seringkali lebih rajin dan kompeten dibanding guru PNS, peran mereka dalam memajukan pendidikan Indonesia patut diapresiasi dan diperhitungkan, demikian Alpha.

“Pemerintah perlu mengatur dengan tegas perekrutan guru kontrak ini supaya mereka tidak diperlakukan semena-mena,” ujarnya.

Alpha mengungkapkan sebuah penelitian di tahun 2011 pada guru-guru yang sudah mengikuti sertifikasi dan yang belum menunjukkan bahwa program sertifikasi guru belum memberikan dampak pada performa siswa. Penelitian lain di tahun 2012 pada 360 sekolah SD dan SMP juga menunjukkan hal yang sama, hanya secara positif membuat guru tidak lagi menyambi pekerjaan lain.

“Reformasi LPTK juga merupakan keharusan, di mana pendidikan karakter guru ditanamkan dengan kuat, misalnya melalui pendidikan guru berasrama. Sementara untuk memperbaiki kondisi yang ada sekarang, pemerintah dapat memberikan penguatan melalui pelatihan guru,” ujar Ketua Gerakan Indonesia Pintar Feber Suhendra.

Namun pelatihan guru konvensional yang ada sekarang sangat boros karena mahal biayanya. Untuk memberikan pelatihan kepada 3.5 juta guru membutuhkan biaya kurang lebih Rp 5 juta per orang, jadi untuk seluruh guru akan membutuhkan Rp. 17,5 triliun.

“Jika satu angkatan lima hari maka per tahun 1000 guru artinya butuh waktu 35 tahun untuk memberikan pelatihan buat seluruh guru yang ada,” kata Feber.

Karena itu perlu ada terobosan, misalnya melakukan pelatihan guru on-line dengan memanfaatkan jaringan Pustekom yang sudah ada, dengan pusat pelatihan ditempatkan di tingkat kabupaten/kota sehingga guru tidak perlu jauh pergi ke LPMP (Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan) di tingkat provinsi untuk mengikuti pelatihan secara konvensional.

“Seharusnya LPMP lebih berfungsi sebagai tempat pelatihan TOT (training of trainer) untuk guru-guru yang akan membimbing pelatihan guru on-line di tingkat kabupaten/kota dan sebagai sumber bahan ajar,” lanjutnya.

(tribunnews)

Gara-gara Rayonisasi, Bupati Bandung Kesal kepada Ridwan Kamil

19 November 2014

emilBupati Bandung Dadang M Naser kembali menumpahkan kekesalannya kepada Ridwan Kamil. Kekesalannya itu ia sampaikan di depan petinggi Universitas Padjadjaran (Unpad), Bank Indonesia, dan petani Pangalengan.

Sumber kekesalan Bupati adalah kebijakan Wali Kota Bandung Ridwan Kamil yang menerapkan sistem rayonisasi pada penerimaan peserta didik baru (PPDB) di Kota Bandung. Dengan sistem ini, kemungkinan warga non-Kota Bandung untuk sekolah di sana sangat tipis.

“Ridwan Kamil sudah menyalahi hadis. Hadis saja mengatakan, tuntutlah ilmu walaupun sampai ke negeri China. Tapi, sekarang anak-anak Kabupaten Bandung tak bisa sekolah di Kota Bandung,” tutur Dadang dalam acara Klaster Agribisnis Sayuran di Desa Margamekar, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Selasa (18/11/2014).

Dadang menjelaskan, banyak warga yang memprotes kebijakan ini. Bahkan, ada warga dari luar Bandung kebingungan menyekolahkan anaknya karena sekolah-sekolah di Kota Bandung tidak menerimanya. Akhirnya, anak tersebut bisa sekolah di Kabupaten Bandung.

Kepada petinggi Unpad, Dadang menyampaikan bahwa mahasiswa yang belajar di Unpad lebih banyak warga Kabupaten Bandung, bukan Kota Bandung. Selama ini, banyak warga Kabupaten Bandung yang sekolah di Kota Bandung.

“Program Unpad nyaah ka (sayang ke) Jawa Barat, itu sudah tepat Pak. Kalau Bapak perhatikan, mahasiswa yang belajar di Unpad, banyaknya warga Kabupaten Bandung,” katanya.

Tak hanya itu, Dadang juga menyampaikan keberhasilan Kabupaten Bandung meningkatkan indeks prestasi manusia (IPM) dalam hal daya beli. Dari semua kabupaten yang ada, Bandung menjadi yang tertinggi. Posisi Kabupaten Bandung hanya berada di bawah Kota Bandung dan Banjar.

(tribunnews)

Sejumlah SDN di Kota Bogor Akan Digabung

18 November 2014

sdnbogorDemi efisiensi manajemen serta peningkatan mutu pendidikan dan memangkas tingginya anggaran di sektor pendidikan, Pemkot Bogor melalui Dinas Pendidikan, akan melakukan merger terhadap sejumlah sekolah dasar negeri (SDN).

Pengabungan beberapa sekolah dalam satu lingkup ni, kini masih dikaji.Tak hanya itu, kompetisi tak sehat yang serng terjadi pada sekolah yang kebetulan berada dalam satu lingkup, juga menjadi alasan lain rencana merger ini.

Sekdakot Bogor, Ade Syarif Hidayat mengatakan, merger dilakukan untuk menunjang mutu pendidikan yang lebih baik di Kota Bogor.”Jaman saya masih Kepala Dinas Pendidikan, sudah saya lakukan sekolah digabung,”kata sekdakot Ade Syarif.

Ia menambahkan, saat ini ada sekitar 260 SDN di Kota Bogor dengan tenaga pengajar tetap yang sudah berstatus pegawai negeri sipil (PNS) 300 orang.”Kalau jumlah semua guru SDN di Kota Bogor ada 3.000 orang. Tapi baru PNS 300. Sisanya tenaga kontrak dan honorer. Nah dengan merger, kami harapkan, ada peningkatan kesejahteraan gurunya,”papar Ade.

Dirinya meminta kepada semua sekolah, agar tidak lagi melakukan pungutan ke siswa dengan dalil apapun.Pasalnya, semua biaya mulai dari buku, LKS dan lain-lainnya telah ditutupi dengan anggaran BOS dari nasional, propinsi dan Kota Bogor sendiri.

“Akan ada sanksi bagi sekolah negeri yang mencoba memungut uang dari siswa. Jangan cari keuntungan dengan memanfaatkan celah,” pintanya.

Kadis Pendidikan Kota Bogor, Edgar Suratman menuturkan, keberadaan SD Kawung Luwuk, Bogor Utara, Kota Bogor yang saling berdekatan, perlu digabungkan. Di lokasi tersebut terdapat SD Kawung Luwuk I, II, III dan IV. Untuk itu, pihaknya menilai sebaiknya SD Kawung Luwuk tersebut dijadikan satu nama, yakni SDN Kawung Luwuk saja.

Edgar menambahkan, rencananya ada 52 SD Negeri di Kota Bogor yang akan digabung.Penggabungan juga untuk memenuhi kebutuhan pengajar yang masih kurang di Kota Bogor.

Tenaga pengajar non PNS atau honorer diakui lebih banyak dari guru PNS.Untuk itu, penggabungan SD ini sangat perluan demi biaya tunjangan dan gaji guru cukup tinggi.

(poskota)

Akademi Kimia Analis Bogor Gelar Jurnalika Fair

13 November 2014

kimiaAkademi Kimia Analisis Bogor menggelar Jurnalika Fair yang ke-10 dan puncaknya  dilaksanakan Sabtu (13/12) di aula lantai 3 Kampus Akademi Kimia Analisis Bogor, Jl. Pangeran Sogiri No. 283 Bogor Utara.

Ketua Panitia Jurnalika Fair 10th, Tania, Kamis (13/11), menjelaskan, tema Jurnalika Fair kali ini adalah “Let’s Speak The Truth Even if The World Rejects”. Pada acara puncak akan diumumkan pemenang dari perlombaan yang telah diselenggarakan.

Untuk suksesnya kegiatan itu, panitia bekerjasama dengan sejumlah pihak, di antaranya Forum Aktif Menulis (FAM) Indonesia.

Disebutkan Tania, acara puncak Jurnalika Fair 10th diisi dengan kegiatan talkshow interaktif bersama news anchor dan penyiar radio Tanah Air. Talkshow kali ini akan membahas mengenai dunia jurnalistik dalam bidang publik speaking melalui siaran radio maupun televisi.

Ditambahkan Tania, acara ini diharapkan mampu membuat pelajar, mahasiswa, dan masyarakat luas mengetahui lebih dalam tentang dunia jurnalistik, yang tidak hanya sebatas kepenulisan berita. Pengolahan berita dalam bentuk visual sampai publikasi ke masyarakat juga bagian dari jurnalistik.

“Pelajar dan mahasiswa juga dapat mengasah kemampuan mereka dalam bidang jurnalistik dari lomba-lomba yang diselenggarakan Jurnalika Fair 10,” kata Tania dalam siaran persnya ke poskotanews.com.

(poskota)

Ruang Kelas Tergerus Longsor, Puluhan Pelajar SD Ini Belajar Beralas Tikar

6 November 2014

pensilPuluhan siswa Sekolah Dasar Negeri Purabaya harus belajar beralas tikar. Tiga ruangan sekolah di Desa Ciroyong, Kecamatan Bojonggambir, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat ini baru dibangun setelah kelas yang lama tergerus longsor.

“Kami terpaksa belajar di lantai di depan kelas dulu, karena ruang kelas tidak mampu menampung puluhan siswa yang diungsikan. Tiga ruang kelas nyaris ambruk akibat longsor, sementara pembangunan kelas baru sedang berjalan,” tutur Kepala SDN Purabaya,Yayat Dahiat, Rabu (5/11/2014).

Menurut Yayat, para muridnya belajar beralas tikar ini sudah berlangsung selama dua pekan. Tiga ruang kelas yang rusak dan sedang dibangun kembali adalah untuk kelas 1, 2, dan 3.
Yayat mengatakan cara lain menangani situasi ini adalah dengan membuat jadwal giliran masuk sekolah, dengan sebagian siswa masuk siang.

Tantangan belajar dengan beralas tikar ini juga adalah cuaca. Ketika hujan, para siswa yang belajar di selasar ini pun harus dipindahkan ke dalam kelas. Yayat mengatakan pembangunan kembali ruang kelas yang rusak memakai dana alokasi khusus (DAK) tetapi belum dapat dipastikan kapan bakal rampung penggarapannya.

(kompas)

Cerita Dua Guru Asal Australia Mengajar Siswa SMA di Bandung

22 October 2014

guruMeski singkat, Nicole Brown dan Lisa Roe sangat terkesan dengan kunjungan mereka ke Indonesia. Singgah di Jakarta dan Denpasar, dua guru Australia ini sangat menikmati budaya Indonesia. Namun, sepekan di Bandung dan berinteraksi dengan para pelajar di sana-lah yang membuat mereka belajar banyak.

Indonesia di mata Nicole, kini, sungguh berbeda dengan Indonesia yang ada dalam pikirannya saat belum menginjakkan kaki di tanah khatulistiwa.

“Saya tahu orang-orang Indonesia terkenal ramah dan menyenangkan, tapi saya cukup kaget ketika mereka cukup tahu banyak soal Australia, dan merupakan sosok yang pekerja keras,” ujarnya kepada ABC.

Ia sendiri tak pernah membayangkan bahwa pertemuannya dengan para pelajar Indonesia akan meninggalkan kesan mendalam.

“Anak-anak mencoba berbicara seperti orang Australia seperti menyapa ‘G’day mate’, mereka juga mempelajari aksen Australia, dan…mereka bahkan menyanyikan lagu kebangsaan Australia dengan benar di depan kami berdua,” urai guru olahraga dan geografi ini dengan tawa renyah.

Adalah ‘Collaborative Teaching Learning”, program pertukaran pengajar dan kerjasama antar-sekolah yang membawa Nicole Brown dan Lisa Roe ke Indonesia.

Program yang digagas Asosiasi Sekolah Katolik Australia Selatan (CESA) bekerjasama dengan Asia Education Foundation yang bernaung di bawah Universitas Melbourne; dan Pemerintah Australia melalui AusAid ini, mengirim dua guru asal Australia Selatan ini ke Jawa Barat untuk melakukan studi banding ke 7 SD dan 1 SMA di Kabupaten dan Kota Bandung, selama 2 pekan.

“Sebelum terjun ke dunia pendidikan, saya sempat bekerja di bidang industri IT selama 7 tahun. Dan kemudian saya mendapatkan kesempatan ini, benar-benar luar biasa,” aku Lisa.

Guru matematika dan fisika di Cardijn College ini mengingat betul bagaimana reaksi siswa-siswi Indonesia ketika ia dan rekannya Nicole datang ke kelas-kelas untuk mengajak mereka berinteraksi.

“Beberapa dari mereka tampak malu-malu, tapi semuanya sangat antusias. Yang paling saya ingat adalah ketika saya mencoba mengajarkan matematika,” ungkapnya kepada Nurina Savitri dari ABC Internasional.

Ia lalu menyambung, “Mereka punya PR lalu saya meminta untuk membahasnya di depan kelas. Mereka menyampaikan soal dalam bahasa Indonesia, dan karena bahasa Indonesia saya sangat trebatas, saya menjawab dalam bahasa Inggris, menarik sekali, dan akhirnya terselesaikan juga.”

Lisa mengaku,  murid-murid Indonesia memiliki kemampuan matematika yang sangat bagus, namun ia memiliki masukan bagi para generasi penerus di negara tetangganya ini. “Mereka benar-benar berusaha keras untuk mendapat nilai yang bagus, saya menyarankan agar siswa SMA Indonesia, mungkin, bisa belajar lebih banyak tentang masalah-masalah yang sebenarnya terjadi di dunia,” kemukanya.

Ia kemudian menuturkan, “Anak SMA di Australia tak mempelajari banyak mata pelajaran, jadi ini memberi mereka kesempatan untuk mengasah kemampuan berpikir kritis. Ini perbedaan utamanya. Mereka juga tak harus menghadapi soal ujian yang berat seperti di Indonesia.”

Mia Damayanti, guru biologi dan Kepala Kerjasama Luar Negeri di SMA Negeri 1 Cisarua, salah satu sekolah yang dikunjungi Nicole dan Lisa, mengatakan, kedatangan dua guru Adelaide ini adalah kesempatan yang sangat berharga bagi murid-muridnya.

“Banyak anak-anak kami yang baru pertama kali bertemu dengan foreigner. Mereka pun bilang ke saya ‘Bu, kok bahasa inggrisnya berbeda dengan guru bahasa inggris di sekolah kita,?’,” kisahnya.

Mia juga mengaku ia sempat khawatir atas kedatangan kedua guru asing itu lantaran merasa toilet di sekolahnya, yang terletak di daerah pinggiran kota, tak sebanding dengan toilet sekolah yang ada di Australia.

“Ada rekan guru yang bilang ke saya ‘Kenapa mereka diajak ke sini, kan malu?’ eh ternyata mereka malah sudah persiapan sekali, walau memang fasilitas yang kami punya, kalau dibanding Australia, masih jauh lah..soal kebersihan..kamar mandi,” utara perempuan yang sempat tinggal di Adelaide selama 2 tahun ini.

Meski demikian, bagi Mia, program studi banding ini memiliki manfaat yang besar bagi pelajar di sekolahnya dan juga merupakan kesempatan untuk membuktikan diri bagi sekolah yang dikunjungi.

“Sewaktu anak-anak belajar menghafal lagu kebangsaan Australia, mereka mengatakan ‘Syairnya menyentuh hati kami, sederhana tapi makna nasionalisme-nya dalam’. Jadi menurut saya, anak-anak itu belajar tidak hanya dari bahasa Inggrisnya saja, tidak hanya dari metode pengajarannya saja, tapi ada hal lain,” ujar perempuan berjilbab ini.

Sekembalinya Lisa dan Nicole ke Australia, program ini mengharapkan agar para guru di Bandung juga bisa berkunjung ke Adelaide untuk melakukan hal serupa, pada awal tahun 2015.

Pengalaman unik menjadi ‘houseparent’

Selain mengunjungi sekolah-sekolah, Nicole dan Lisa juga tinggal di rumah seorang warga lokal selama studi bandingnya di Bandung.

Mia kebetulan menjadi tuan rumah mereka. Selama dua pekan, keduanya tinggal di rumah Mia dan mencoba beradaptasi dengan suasana ala keluarga Indonesia.

“Mereka tinggal di rumah saya, saya seperti ‘houseparent’, ternyata ga gampang loh. Mereka sepertinya lebih siap, karena ternyata banyak sekali bawaannya, sementara saya sempat bingung mengatur makanan dan sebagainya,” ujarnya kepada ABC.

Ia lantas mengisahkan pengalaman unik saat Idul Adha tiba. “Mereka itu mau ikut solat ied, mereka sudah siapkan syal, baju panjang, mereka juga ikut gerakan solat walau mungkin bingung ya kok gerakannya ganti-ganti tiap berapa detik,” tutur Mia sambil terkekeh.

Tradisi lebaran yang penuh dengan makanan-pun nampaknya memantik cerita lucu dari keduanya. “Lisa dan Nicole kan juga ikut keluarga saya berkunjung ke rumah saudara-saudara. Nah tiap berkunjung ke satu rumah, selalu disediakan makanan. Akhirnya mereka bilang, ‘Mia kalau hari ini mengunjungi 7 rumah berarti kita akan 7 kali makan?’,” kenang Mia tanpa bisa menahan tawanya.

Ia pun berharap agar para guru di Indonesia juga memiliki kesiapan mental untuk menjadi peserta pertukaran pengajar, seperti halnya Nicole dan Lisa yang ia nilai mampu beradaptasi dengan budaya Indonesia.

(tribunnews)

Buku berisi tips pacaran di SMA beredar, ini kata Ridwan Kamil

16 October 2014

bukuBuku Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan (Penjaskes) untuk SMA dan sederajat kelas XI menuai penolakan. Buku dari Kemendikbud itu menampilkan soal bahaya melakukan seks bebas bagi wanita dan tips berpacaran.

Wali Kota Bandung Ridwan Kamil mengatakan bahwa peredaran buku tersebut harus dikaji ulang. Dia meminta penerbit agar bisa memberikan penyampaian yang tidak mengundang kontroversi di berbagai kalangan.

“Saya titip ke Dinas Pendidikan supaya berhati-hati, ini bisa dikaji,” kata pria yang akrab disapa Emil itu di Balai Kota Bandung, Kamis (16/10).

Dia menambahkan, penerbit harus lebih berhati-hati tentang masalah tersebut. Apa yang ditulis dan disampaikan bisa menjadi berbahaya.

“Apalagi sarana (sekolah) seperti itu seolah-olah memberikan pembenaran, untuk menganjurkan berbuat seperti itu,” terangnya.

Sebelumnya, Federasi Guru Independen Indonesia (FGII) melakukan aksi di depan kantor MUI Jabar Bandung. Bahkan mereka menggunting dan membakar bagian halaman 128-129.

Buku itu dinilai tidak edukatif karena merendahkan martabat wanita. Sebab disebutkan dalam buku itu seakan-akan hubungan seks kurang berisiko bagi pria dibanding wanita. Lainnya tips berpacaran bagi siswa ditampilkan. FGII menilai Ini sangat tidak pantas.

(Merdeka)

UI Luncurkan Kapal Pendidikan dan Riset

15 October 2014

kapal triwitonoFakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) meluncurkan kapal Triwitono, di Balai Tirta, Balairung UI, Depok, Jawa Barat, Senin (13/10).

Kapal Triwitono ini siap digunakan untuk kebutuhan mini lab, perkuliahan, dan riset. Berkapasitas 30 orang serta dilengkapi pendingin udara dan papan tulis, kapal ini dapat dijadikan sebagai ruang kuliah alternatif sehingga mahasiswa dapat belajar di kapal tersebut sambil mengitari danau UI.

Dosen Program Studi Teknik Perkapalan FTUI, Hadi Tresno Wibowo, yang menerapkan inovasi lambung kapal pelat datar ini, menuturkan, desain kapal sudah didaftarkan paten dengan judul invensi “Kapal dengan Lambung Pelat Datar”, nomor daftar paten PO201304514. Paten diajuka pada 7 November 2013.

Diungkap Hadi, pada Agustus 2012 lalu, kapal nelayan pelat datar telah dimanfaatkan untuk membantu kerja nelayan Mirasa Sejati di Desa Limbangan, Balongan, Indramayu, Jawa Barat.

“Saya lebih suka menyebutnya sebagai kapal pendidikan dan riset. Untuk menciptakan kapal ini kami mendapat sumbangan dari banyak pihak. Satu unit kapal ini seharga Rp 350 juta. Tapi belum termasuk cat dan listriknya,” ujar Hadi kepada SP saat ditemui usai peresmian kapal.

Staf Ahli Panglima TNI, Kolonel C.ba Iman Suroso menyambut baik kehadiran kapal lambung pelat datar ini. Iman menilai, adanya kapal ini dapat digunakan untuk para prajurit TNI di wilayah perbatasan yang jauh dari pusat kota.

“Kapal ini sangat layak. TNI di wilayah perbatasan saja masih memakai kapal krotok yang bermesin kecil dan kadang mesinnya mati lalu dikayuh. Ini sangat memprihatinkan, apalagi medan kami terbilang berat karena di perbatasan dan berada sangat dekat dengan Malaysia,” kata Iman kepada SP.

Diungkap dia, jika menggunakan kapal seperti yang diciptakan FTUI ini, maka diyakini kewibawaan TNI akan semakin meningkat. Apalagi kapal ini adalah karya dari anak bangsa. Iman Suroso meyakini, bila memnfaatkan kapal ini, maka tidak adalagi kendala keterlambatan pengiriman logistik karena masalah waktu.

“Semoga saja pihak UI bisa mempresentasikan ini kepada Panglima TNI. Dengan demikian kapal karya FTUI ini bisa diperbanyak dan digunakan oleh para prajurit TNI di wilayah perbatasan,” tutur Iman.

Menanggapi ini, Hadi Tresno Wibowo menyambut baik dan optimis bahwa kapal ini bisa dimanfaatkan di wilayah perbatasan. “Mengapa tidak? Tentu bisa. Nanti kami bangun di sana. Kalau dikirim repot. Nanti bahan bahan dan para ahlinya membuat langsung di perbatasan untuk para prajurit TNI,” kata Hadi bersemangat.

Sementara itu, Pakar Hukum Maritim Indonesia, Chandra Motik Yusuf, mengatakan, sektor kelautan dan maritim Indonesia masih dihadapkan pada persoalan cawe-cawe yang merugikan sektor ini. Hal yang paling mudah untuk dibenahi sebagai awalan, kata Chandra, adalah membenahi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang berkaitan dengan kelautan dan maritim.

“Penggunaan kapalnya pemerintah yang tentukan. Dengan demikian devisa negara tak akan lari keluar. Jangan ada lagi illegal fishing dan cawe-cawe yang menyebabkan kerugian negara,” ujar Chandra.
(beritasatu.com)

Next Page »