web analytics
indositehost.com

Pengumuman Hasil SBMPTN 2014 Online di www.sbmptn.or.id

16 July 2014   5 views

sbmptnPengumuman hasil SBMPTN 2014 atau Hasil Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri tahun 2014 yang telah digelar di 44 daerah di Indonesia dapat dilihat online di situs www.sbmptn.or.id (sbmptn.or.id) pada hari ini Rabu, 16 Juli 2014 mulai pukul 17.00 WIB.
Seperti tahun – tahun sebelumnya, tahun ini hal yang paling dinantikan oleh para jebolan Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang ingin melanjutkan pendidikan mereka ke bangku perkuliahan adalah pengumuman hasil SBMPTN. Pengumuman yang akan dilakukan besok ini akan diumumkan di situs resmi milik pemerintah yaitu di www.sbmptn.or.id.

Pemerintah memberi calon mahasiswa atau orang tua calon mahasiswa untuk tidak tertipu dengan website – website abal – abal yang juga mengusung tema pengumuman hasil SBMPTN 2014. Meski terkadang situs – situs tersebut memang menyajikan fakta yang sama dengan apa yang dimuat di situs resmi, namun diharapkan untuk langsung mengakses website resmi SBMPTN 2014 agar informasi yang didapat dapat dipertanggung jawabkan.

SBMPTN 2014 telah diikuti 664.509 peserta yang terdiri dari 240.278 peserta kelompok ujian sains dan teknologi (saintek), 258.035 peserta kelompok ujian sosial dan humaniora (soshum) dan 166.196 peserta kelompok ujian campuran. Para calon mahasiswa yang telah mengikuti ujian Tes Kemampuan dan Potensi Akademik (TKPA), Tes Kemampuan Dasar (TKD) Saintek, TKD Soshum tersebut akan memperebutkan 86.000 kursi di 63 Perguruan Tinggi Negeri di seluruh Indonesia.

(sidomi)

19 Peserta Berkebutuhan Khusus Ikut SBMPTN di Bandung

17 June 2014   169 views

SBMPTNSeleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) diikuti 40.899 peserta yang terdiri dari kelompok Saintek 15.822, Soshum 18.037 dan Campuran 7.040. Selain itu, ada 19 peserta yang mengikuti ujian dengan kebutuhan khusus.

Hal itu diungkapkan Sekretaris Eksekutif Panitia Lokal Bandung SBMPTN 2014 Asep Gana Suganda saat ditemui di Kampus Sekretariat SBMPTN Bandung di Kampus ITB, Bandung, Jawa Barat, Selasa, (17/6/2014).

“Ada 19 orang peserta yang memerlukan fasilitas kebutuhan khusus,” kata Asep.

Asep mengungkapkan, ada sembilan peserta tunanetra, lima peserta tunarungu, dua peserta tunawicara, dua peserta tunadaksa dan satu peserta korban kecelakaan.

19 peserta itu mendapatkan pengawasan dan bantuan khusus dari panitia SBMPTB. “Para peserta dengan kebutuhan khusus itu mendapatkan bantuan, pengawalan dari kita, misalnya yang tunanetra, kita bantu untuk membacakan soalnya, begitupun yang lainnya,” kata Asep.

Namun, Asep menegaskan, pihak luar tidak boleh membantu kepada para peserta berkebutuhan khusus ini karena dikhawatirkan akan terjadi kecurangan. “Keluarga hanya mendampingi saja di luar,” kata dia.

Ujian peserta kebutuhan khusus SBMPTN di Bandung dilaksanakan di Kampus ITB, Jalan Ganeca, Bandung, Jawa Barat.
(kompas.com)

Mahasiswa IPB ciptakan “Capres” pencegah obesitas dini

12 June 2014   33 views

20120526obesitas2Tim peneliti mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) menggagas centong digital yang diberi nama “Capres” yakni sebuah centong yang berfungsi sebagai timbangan untuk memastikan jumlah takaran makanan yang pas bagi penderita obesitas atau yang sedang menjalani program diet.

“Capres ini memudahkan penggunanya menyendok sekaligus menimbang 100 gram nasi dalam waktu singkat,” ujar Lely Trijayanti, perwakilan tim peneliti mahasiswa penggagas Capres, dalam siaran persnya kepada Antara di Bogor, Kamis.

Menurut Lely, centong Capres ini multifungsi, selain bisa digunakan untuk menimbang nasi, juga bisa menimbang misalnya tahu, tempe, sayur dan lain-lain.

Lely menjelaskan, gagasan menemukan Capres atau Centong digital tersebut, dalam menjawab kesulitan sejumlah orang dalam menentukan takaran jumlah makanan yang pas agar tidak melebihi kadar kesehatan yang menyebabkan obesitas.

Sementara itu, trend yang sedang berkembang di masyarakat saat ini adalah gizi berlebih atau obesitas pada anak, bukan lagi gizi buruk. Padahal, obesitas pada anak memiliki resiko yang tinggi terhadap penyakit degeneratif.

Secara umum obesitas disebabkan oleh tidak seimbangnya konsumsi yakni karbohidrat yang terlalu berlebihan dan pengaturan pola makan yang tidak baik.

Hasil penelitian International Task Force (ITF), sebuah badan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa 80 persen anak obesitas dipengaruhi oleh faktor lingkungan, sedangkan 30 persennya di pengaruhi oleh faktor genetik.

Disebutkan, sama halnya dengan masalah gizi lainnya, obesitas tentu dapat di cegah. Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah penyesuaian porsi makan dengan total kalori yang dibutuhkan tubuh menurut jenjang usia. Misalnya jumlah konsumsi nasi yang dianjurkan per satu kali makan adalah 100 gram.

“Tentu sulit bagi kita untuk memastikan jumlah takaran yang pas (100 gram nasi). Selain itu jarang pula orang yang mau menimbang 100 gram nasi menggunakan timbangan biasa,” ujar Lely.

Atas dasar tersebut, lanjut Lely, ia beserta teman-teman seangkatannya dari berbagai departemen melakukan penelitian bersama.

Tim peneliti Capres ini adalah Ida Mursyidah, Lely Trijayanti dan Fatma Putri ST, mahasiswa dari Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) dan Alvin Fatikhunnada dari Departemen Teknik Mesin dan Biosistem Fakultas Teknologi Pertanian (FATETA) serta Hasan Nasrullah dari Departemen Fisika Fakultas Matematika dan IPA (FMIPA) yang mendesain “Capres”, Centong digital untuk mencegah obesitas dini.

Tim peneliti mahasiswa IPB ini mendapat bimbingan dari Prof.Dr.Ir. Ahmad Sulaeman. Mereka menciptakan “centong ajaib” yang bisa mengontrol asupan makanan sehari-hari.

Mahasiswa IPB dari berbagai jurusan ini, tidak hanya merancang bentuk fisik melainkan juga telah memperhitungkan dari segi ekonominya seperti strategi pemasaran, target pasar, hingga harga yang paling tepat saat bisa dijual bebas nanti.

“Capres ini berguna untuk mengefektifkan waktu konsumen dalam menentukan jumlah takaran saji suatu jenis pangan secara akurat sesuai anjuran. Selain itu produk ini juga bisa digunakan oleh konsumen yang sedang menjalankan program diet,” ujar Lely.

Menurut Lely, produk tersebut terbilang sederhana, yang dibutuhkan hanya centong nasi yang dipasangi timbangan dengan flex sensor, baterai dan LCD. Inovasi dari sebuah centong dan timbangan untuk mempermudah dalam penimbangan ini dibanderol seharga Rp 400.000 per unit.

Jika dibandingkan dengan harga timbangan digital lain, lanjut Lely, yang berkisar Rp 150.000 Rp 200.000 per unit, harga “Capres” masih terbilang wajar.

“Karena yang kami tawarkan adalah kepraktisan dalam penggunaan produk kami,” ujarnya.

Lely menambahkan, untuk mengefektifkan program pencegahan obesitas sejak dini, pemakaian “Capres” bisa diterapkan di rumah sakit, dinas kesehatan dan penyedia jasa catering sehat.

“Ke depan, tim akan mengembangkan “Capres” agar bisa mengukur kadar gula, kadar garam pada makanan,” ujarnya.

Sementara itu, berkat inovasinya ini, Lely dan kawan-kawan berhasil menjadi Juara I dalam Innovation Contest 2014 di Yogyakarta pada Mei 2014. Tim IPB ini berhasil mengalahkan kontestan lain yang berasal dari 28 universitas se-tanah air.

“Kini “Capres” sedang dalam tahap pengurusan pengajuan Hak Paten dan segera dipasarkan,” ujar Lely.

(Antara)

Bukan Jalan Instan Putri Pengayuh Becak yang Jadi Wisudawati Terbaik…

12 June 2014   49 views

becakSederhana dan penuh senyum menjadi gambaran ringkas untuk sosok Raeni (21). Dia adalah putri kedua seorang pengayuh becak yang menjadi lulusan terbaik dalam wisuda periode II/2014 Universitas Negeri Semarang di Jawa Tengah.

Kesederhanaan itu pun sudah dimulai dari namanya. “Raeni. (Nama) panjangnya ya Raeniiii…,” ujar pemilik indeks prestasi kumulatif 3,96 ini renyah, saat dijumpai di tempat kosnya di Jalan Kalimasada, Semarang, Jawa Tengah, Rabu (11/6/2014).

Raeni tak membantah capaian prestasinya membuat sebagian hidupnya berubah. Sepanjang Rabu ini saja misalnya, ujar dia, sudah banyak media meminta waktu untuk wawancara.

Pada Rabu malam pun dia sudah harus terbang ke Jakarta untuk tampil di acara talkshow di sebuah stasiun televisi swasta nasional. “Ya capek sebenarnya, sampai tadi nggak sempat makan lalu diambilkan makan sama ibu kos, tapi saya bahagia dan bangga,” kata Raeni dengan tetap tersenyum.

Dengan segala keterbatasan ekonomi keluarganya, Raeni memastikan capaiannya itu bukan didapat secara instan. Dia mengatakan, semua bermula dari didikan disiplin dan tegas dari sang ayah.

Putri pasangan Mugiyono dan Sujamah asal Desa Langenharjo, Kecamatan Kendal, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, ini sudah berprestasi sejak kecil. Mengenyam sekolah di SDN 3 Langenharjo kemudian di SMP 3 Patebon dan SMK N 1 Kendal, Raeni selalu menempati peringkat satu atau dua dalam penilaian kelas.

“Ya Alhamdulillah memang sering dapat ranking satu atau dua gitu,” ujar gadis kelahiran 13 Januari 1993 ini. Manajemen waktu dan disiplin yang diterapkan ayahnya sejak kecil membuatnya terbiasa mengerjakan sesuatu dengan cepat.

Raeni mengaku terbiasa mengatur waktu belajarnya bahkan ketika jeda pergantian jam sekolah dan kuliah. “Pas kuliah (misalnya), kalau ada materi yang nggak tahu saya nanya ke dosen pas jam jeda. Jadi minta penjelasan biar benar-benar ngerti,” kata dia.

Meski belajar dan mengerjakan tugas merupakan hal utama untuk dirinya, Raeni mengaku tetap punya waktu untuk berinteraksi dengan teman-temannya. “Ya tetap bergaul biar banyak teman.”

Selain displin, alumnus Jurusan Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi (FE) Unnes ini mengatakan, orangtuanya selalu mengajarkan kejujuran. Dia pun bertutur saat-saat awal diterima menjadi mahasiswi Unnes.

Raeni mengaku sempat minder menjelang kuliah. Selain banyak saudaranya yang tak kuliah, dia pun sempat malu memiliki ayah yang pekerjaannya adalah pengayuh becak. “Ya sempat minder, orangtua tukang becak. Tapi setelah saya pikir lagi kenapa minder?” ujar dia.

“Beliau orangtua saya, mendidik saya, meski tidak memberi biaya hidup banyak saat kuliah, tapi mendukung saya,” kata Raeni dengan mata berbinar. “Dan jelas sekarang saya sangat bangga.”

Sekarang, Raeni merasa kepercayaan dirinya sudah meningkat dan dia masih menyimpan cita-cita yang lebih tinggi lagi. “Meski belum seberapa, tapi saya sudah membuat bangga dan bahagia orangtua. Ini luar biasa.”

Selama kuliah di Unnes, Raeni juga menjadi asisten laboratorium pendidikan di jurusan maupun fakultasnya. Dia juga bergabung dengan unit kegiatan mahasiswa penelitian. “Saya hobi melakukan penelitian dan karya ilmiah.”

Bagi Raeni, menjadi sarjana adalah awal untuk meraih cita-cita lain yang lebih tinggi. Bercita-cita akhir menjadi seorang guru, dia punya keinginan untuk mewujudkannya dalam waktu dekat. “Saya ingin melanjutkan kuliah di Inggris,” katanya, tetap dengan kata-kata sederhana dan wajah berhias senyum itu.

(Kompas)

9 Prodi Terfavorit di SBMPTN 2014

11 June 2014   46 views

sbmptnSetiap tahun, Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) mencatat program-program studi (prodi) terbanyak atau favorit pilihan peserta. Tahun ini, ada sembilan prodi yang menempati posisi paling banyak diminati. Kira-kira prodi apa aja ya?

Koordinator Sekretariat Pokja SBMPTN 2014, Bambang Hermanto saat dihubungi Okezone, Rabu (11/6/2014) menyebut, ada sembilan prodi yang paling banyak dipilih oleh peserta.

“Secara umum masih prodi Ilmu Komunikasi, Akuntansi, Manajemen, dan Ilmu Hukum untuk kelompok Soshum (IPS),” bebernya.

Bambang melanjutkan, untuk kelompok Saintek (IPA) yang paling digandrungi prodinya adalah prodi Teknik Informatika, Kedokteran, Psikologi, Farmasi, dan Teknik Sipil.

Kesembilan prodi tersebut, kecuali Teknik Sipil, juga merupakan prodi terfavorit di Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2014. Nah, berikut ini 10 prodi favorit pilihan peserta di SNMPTN 2014:

1. Manajemen (144.374 siswa).
2. Akuntansi (110.851 siswa).
3. Teknik Informatika/Ilmu Komputer/Teknologi Informasi/Sistem Informasi (97.775 siswa).
4. Pendidikan Guru Sekolah Dasar (81.181 siswa).
5. Hukum/Ilmu Hukum (70.310 siswa).
6. Pendidikan Dokter (60.807 siswa).
7. Psikologi/Ilmu Psikologi (59.133 siswa).
8. Ilmu Komunikasi (54.743 siswa).
9. Farmasi (49.598 siswa).
10. Ilmu Kesehatan Masyarakat (48.162 siswa).

(Okezone)

Nicholas Patrick, Peraih Medali Emas OSN 2014 Jadikan Matematika dan Pemrograman Asupan Harian

7 June 2014   45 views

070126_716400_bok_nicolasPERASAAN itu membuncah saat kali pertama bertemu Nicholas Patrick di sekolahnya, SD Kristen Cita Hati, Selasa (3/6).

Itu bukan berarti bocah 11 tahun tersebut pandai melucu dan bertingkah kekanak-kanakan. Tapi, rasa gemas itu muncul begitu melihat Patrick yang smart, lincah, dan ’’vokal’’.

Gaya itulah yang membuat dia jadi ’’idola’’ di sekolah. Saat berbicara, Patrick terlihat ’’dewasa’’, tapi tetap manis di telinga.

’’Hai, Patrick,’’ sapa Elizabetz, public relations SD Kristen Cita Hati, di ruang tamu sekolah.

Dengan badan tegap dan bibir sedikit menyungging, Patrick membalas sapaan tersebut. ’’Hai,’’ katanya hangat. Dia lalu duduk di sofa berwarna merah marun itu.

Di tengah meja persegi panjang di depannya, medali emas matematika dan piala The Best Eksplorasi dari lomba Olimpiade Sains Nasional (OSN) pada 5–9 Mei 2014 tertata rapi. Begitu juga piagam-piagam buah prestasinya selama ini.

Selain OSN, Patrick menyabet juara III International Mathematical Kangaroo Contest 2014 (in Benjamin level-for grade 5 & 6). Prestasi bergengsi tingkat internasional lain yang juga diraihnya pada akhir 2013 lalu adalah juara I American Mathematics Competitions (AMC) grade 8.

’’Saya suka ikut banyak lomba matematika,’’ ujar bocah yang suka mengeja huruf setiap menyebutkan nama seseorang itu.

Namun, semua prestasi yang disabetnya selama ini ternyata bukan puncak tertinggi. Sebab, putra bungsu Jallson Suryo dan Conny Wicaya tersebut belum merasa puas.

Buktinya, selepas meraih medali emas OSN 2014, dia terus mempersiapkan diri untuk lolos penyaringan lomba tingkat internasional lain. Yaitu, International Mathematics and Science Olympiad (IMSO) 2014. ’’Pemenang OSN bakal diseleksi lagi untuk lomba antarnegara. Saya masih belajar terus,’’ ucap Patrick.

Bocah kelahiran 4 April 2003 itu mengaku tertarik dengan matematika dan teknologi sejak kecil. Keduanya seolah menjadi asupan utama otak Patrick sehari-hari.

Sejak usia 9 tahun, dia asyik mempelajari dan membuat program komputer. Yaitu, game dan animasi. Pemrograman yang dipelajari kali pertama adalah scratch (scratch.mit.edu).

Saat ini dia telah membuat lima game online. Yaitu, Flappy Bird, Pong Single Player, Pong Double Players, Sumo Summer, dan Zombi Hunter.

Di antara lima games online tersebut, yang paling disukai adalah Zombie Hunter. Patrick terus melengkapi senjata-senjata di dalam permainan tersebut. Mulai short gun, machine gun, laser, mines, hingga poison gas.

Permainan tersebut dibuat dalam dua hari saja. Itu pun dilakukan saat senggang. Patrick juga selalu asyik bermain games buatannya. Dengan begitu, dia tahu apa yang harus ditambahkan di dalam permainan tersebut.

Aktivitas itu hampir dilakukan saban hari. Ya, begitulah cara Patrick menghabiskan waktu di depan komputer iMac kesayangannya.

Patrick mengaku, ketertarikan pada dunia pemrograman tersebut tidak terlepas dari pengaruh kakaknya, Samuel Alexander, dan ayahnya, Jallson.

Awalnya, dia melihat sang ayah membuat program mainan kucing jalan. Patrick langsung menjajalnya. Sekali mencoba, dia berhasil membuat mainan kucing berputar-putar dengan cepat.

’’Waktu itu, saya malah bingung permainan kucing saya terlalu cepat,’’ ceritanya disusul dengan tawa.

Saat ini dia memiliki proyek baru yang ingin diselesaikan dalam waktu dekat. Yaitu, membuat permainan Pong dengan pemrograman javascript. Pong merupakan permainan memantul-mantulkan bola dengan cara menggerakkan kursor.

’’Sekarang saya juga belajar membuat program dan game dengan javascript,’’ katanya.

Kecintaannya pada dunia pemrograman itu berkelindan dengan matematika. Anak kedua dua bersaudara itu mengaku bisa mempraktikkan matematika dalam setiap pemrograman komputer. Keduanya saling bersinggungan. Jadi, tidak ada istilah bermain sia-sia. Itulah Patrick!

Kebiasaannya tersebut sekaligus membentuk kemandirian Patrick. Dia mengerti disiplin dan tanggung jawabnya untuk belajar. Di sekolah, dia termasuk anak yang aktif dan tekun.

’’Kan tidak boleh pintar akademis saja. Kemandirian juga penting. Kalau gak mandiri, malu-maluin,’’ celetuknya.

Untuk mengasah otaknya, Patrick tidak cukup puas belajar di sekolah. Dia sering memanfaatkan teknologi internet. Bukan hanya matematika, pemrograman juga dia pelajari melalui website tertentu. ’’Di internet, kita juga bisa banyak belajar,’’ tambahnya.

Hal tersebut juga dibuktikan Patrick dengan keaktifannya membuat inovasi dalam bentuk program software. Terbaru, dia menciptakan karya sains di bidang teknologi. Yaitu, Happy Plant, alat sensor plus program untuk memperlihatkan ekspresi tanaman. Misalnya, senang, sedih, kedinginan, kepanasan, ataupun kehausan.

Dengan begitu, kegiatan memelihara tanaman menjadi menyenangkan. Seluruh ekspresi tanaman tersebut bisa ditampilkan dengan program komputer yang dibuat dengan dibantu sensor elektronik yang diletakkan di dekat tanaman.

Rencananya, alat sensor dan program itu dilombakan dalam ajang Kalbe Junior Scientist Award (KJSA) 2014.

Ide pembuatan program tersebut didapat saat Samuel (sang kakak) membuat sensor plant protector project dengan ardunio. Dari situlah, Patrick ingin membuat dengan versinya sendiri dengan menambahkan tampilan ekspresi bunga atau tanaman agar lebih kelihatan hidup dan lucu.

Alat sensor yang digunakan adalah scratch sensor board yang memiliki empat resistance input.

Karya sains tersebut sekaligus dapat mempelajari semua tentang tanaman. Yaitu, kebutuhan air (H2O), O2, CO2, cahaya yang cukup serta suhu yang sesuai, fotosintesis, dan bagaimana tanaman bisa tumbuh dengan sehat.

Keahliannya di bidang matematika dan pemrograman membuat Patrick berkeinginan untuk terus mengasahnya. Rasa penasaran itu, tampaknya, tidak cukup didapat di Indonesia. Di usia yang masih sangat belia, Patrick sudah berkeinginan sekolah ke luar negeri. ’’Mungkin kuliah nanti, saya ingin ke Singapura,’’ ungkapnya.

(JPNN)

Pendaftaran SBM PTN Ditutup Malam Ini

6 June 2014   41 views

sbmptnMasa pendaftaran seleksi bersama masuk perguruan tinggi negeri (SBM PTN) sudah memasuki tahap akhir.

 

Sesuai jadwal, panitia menutup pendaftaran ujian tahunan berbasis tes tulis itu malam ini pukul 22.00 WIB. Pelamar yang belum menuntaskan alur pendaftaran, diminta segera mempermanenkan pendaftarannya.

Catatan hingga kemarin siang, sebanyak 730 ribu orang tercatat sudah mengisi borang atau formulir pendaftaran SBM PTN secara online. Namun dari jumlah itu, baru sekitar 590 ribu orang yang sudah menuntaskan atau mempermanenkan pendaftarannya.

Jumlah pelamar yang telah menuntaskan pendaftaran itu, berhasil melampaui seluruh pelamar tuntas SBM PTN 2013 yang berjumlah sekitar 585 ribu orang. Setelah pendaftaran ditutup, tahap berikutnya adalah ujian tulis yang dilaksanakan pada 17 Juni. Pengumuman kelulusan dilaksanakan pada 16 Juli pukul 17.00 WIB.

“Bagi yang sudah mendaftar dengan mengisi borang tetapi belum mempermanenkan pendaftarannya, kami himbau segera menuntaskannya,” ujar Sekretaris Pokja Panitia Pusat SBM PTN Bambang Hermanto kemarin. Pelamar SBM PTN dinyatakan sudah tuntas pendaftarannya ketika sudah membayar biaya pendaftaran di bank Mandiri dan mencetak kartu tanda peserta SBM PTN.

Bambang mengatakan jomplangnya jumlah pengisi formulir pendaftaran dengan yang sudah menuntaskan pendaftaran bukan disebabkan gangguan teknis. Seperti gangguan koneksi internet atau server panitia yang lemot. Tetapi dia menuturkan, sistem baru yang diterapkan panitia SBM PTN tahun ini, memungkinkan seorang pelamar mendaftar berkali-kali.

“Tetapi tetap yang dibayar di bank itu pilihan final atau pilihan akhirnya,” ujar Bambang. Contohnya si Budi awalnya ingin mendaftar di Universitas Indonesia (UI) dengan prodi A, B, dan C. Di Kemudian hari, si Budi berubah pikiran dan ingin mendaftar di IPB (Institut Pertanian Bogor) dengan prodi yang tentu berbeda lagi.

Nah dengan contoh kasus itu, seorang pelamar SBM PTN bisa terbaca sebagai dua orang pendaftar dalam database panitia. “Kita bahkan pernah membaca ada seorang pelamar yang mendaftar sampai empat kali. Tapi tetap membayarnya satu, sesuai pilihan terakhir,” papar dia.

Sistem baru ini menurut Bambang merupakan “keramahan sosial” panitia SBM PTN. Dengan cara ini, bisa menghindari ada pelamar yang mengoreksi pilihan mereka padahal sudah terlanjur menyetor uang pendaftaran di bank. “Sekarang kami menghimbau supaya pelamar yang sudah mengisi formulir untuk menuntaskan pendaftarannya,” ujarnya.

Imbauan ini dikeluarkan sebagai antisipasi penumpukan traffic finalisasi pendaftaran hari ini. Prediksi Bambang menyebutkan hari ini bakal banyak pelamar SBM PTN yang melakukan pembayaran biaya pendaftaran di bank.

Selanjutnya dalam waktu yang hampir bersamaan, mereka masuk ke website SBM PTN untuk mencetak kartu tanda bukti pendaftar. Nah di saat itulah beban traffic server panitia SBM PTN bisa mengalami penumpukan.

Sementara itu terkait dengan prodi paling diminati, Bambang mengatakan panitia belum melakukan rekapitulasi akhir. Sebab mereka masih menunggu pendaftaran ditutup.

“Saya rasa tidak ada perbedaan dengan tahun-tahun sebelumnya. Prodi-prodi popular masih banyak diminati saat ini,” katanya.

(JPNN)

26 Guru TK JIS Dideportasi

4 June 2014   59 views

JisSebanyak 26 orang guru Taman Kanak-kanak (TK) Jakarta International School (JIS) terancam dideportasi dalam waktu dekat. Mereka akan dipulangkan secara paksa lantaran terindikasi memalsukan izin tinggal di Indonesia.

Hal itu diungkapkan oleh Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (MenkumHAM) Amir Syamsuddin kemarin.

Ia mengatakan, pelanggaran mereka ialah berupa ketidaksesuaian antara keterangan pekerjaan di dokumen izin tinggal dengan yang sebenarnya. Di dokumen, mereka tertera sebagai guru SD padahal mengajar TK.

Atas ancaman KemenkumHAM tersebut, pihak Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menyatakan dukungannya. Wakil Menteri Pendidikan dan Kebudayaan bidang Pendidikan Musliar Kasim menyatakan, masalah ini harus disikapi tegas karena menyangkut harga diri bangsa.

“Kalau seumpama memang menyalahi imigrasi, Kemendikbud mendukung (untuk dideportasi),” ujar Musliar saat ditemui di Jakarta, kemarin.

Menurutnya, guru asing yang ingin bekerja di Indonesia harus mematuhi ketentuan yang telah dibuat oleh pemerintah Indonesia. Tak hanya kompeten saja yang menjadi syarat utama, namun juga taat aturan perundang-undangan yang ada.

“Persoalan keimigrasian harus clear, izin bekerja dari Kemenakertrans, kemudian Kemdikbud, dan juga Kementerian Luar Negeri,” tandasnya.

Ke 26 guru TKI JIS ini diketahui telah melakukan pelanggaran saat diperiksa oleh pihak imigrasi beberapa waktu lalu. HIngga saat ini, pihak imigrasi masih terus melakukan penyelidikan karena ada indikasi para pengajar dan staf TK JIS lain juga melakukan pelanggaran, termasuk didalamnya sang kepala sekolah TK JIS Timoty Carr.

Namun isu tersebut langsung ditepis oleh pihak JIS. Juru bicara JIS, Daniarto Wusono memastikan bahwa Carr memiliki Kartu Izin Tinggal Terbatas/Tetap (KITAS) yang sah dan tidak masuk dalam daftar deportasi.

(JPNN)

Mahalnya Kuliah Kedokteran di Kampus Negeri

3 June 2014   43 views

073453_518489_UI_kampus_HLProfesi dokter, masih menjadi favorit calon mahasiswa baru. Tetapi untuk kuliah menjadi dokter, masyarakat harus merogoh dompet dalam-dalam. Meskipun kuliah di kampus negeri yang mendapatkan subsidi besar dari negara, biayanya mencapai puluhan juga rupiah.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) menerapkan sistem uang kuliah tunggal (UKT) sebagai penentu besaran tarif SPP yang dibayar mahasiswa setiap bulannya. Besaran UKT ini terdiri dari beberapa kelompok, mulai dari rendah hingga tertinggi.

Salah satu kampus negeri yang menerapkan SPP tinggi untuk mahasiswa kedokteran adalah Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar. Kampus berlogo ayam jantan itu menetapkan SPP prodi Pendidikan Kedokteran tertinggi yakni Rp 47,5 juta per semester. Uang itu belum termasuk biaya masuk atau uang pangkal maksimal Rp 100 juta untuk sekali selama masa studi.

Jika studi kedoteran diselesaikan selama delapan semester, maka biaya kuliahnya mencapai Rp 480 juta. Rinciannya adalah Rp 380 juta untuk uang SPP selama delapan semester dan sisanya Rp 100 juta untuk uang pangkal.

Mantan rektor Unhas yang merancang UKT 2013 Idrus Paturusi mengelak jika kampusnya dicap sebagai universitas berbiaya mahal. “SPP yang ada di kelompok UKT tertinggi itu untuk mahasiswa yang masuk melalui jalur seleksi mandiri. Jumlahnya setiap angkatan hanya 50 orang,” ujar Idrus.

Dia menegaskan bahwa uang kuliah di Unhas, termasuk untuk menjadi dokter masuk kategori terjangkau. “Rata-ratanya hanya Rp 600 ribu per semester,” katanya. Jumlah itu didapat dari rata-rata mahasiswa yang membayar SPP kelompok terendah hingga tertinggi.

Selama dua periode memimpin Unhas, Idrus mengatakan rata-rata SPP untuk prodi kedokteran berkisar Rp 600 ribu per semester. Dengan rata-rata lama studi empat tahun, Idrus mengatakan total SPP-nya mencapai Rp 4,8 juta. Idrus mengatakan jumlah mahasiswa reguler dari saringan SNM PTN yang tidak dikenai SPP termahal (Rp 47,5 juta) adalah 200 orang.

Inspektur Jenderal (Irjen) Kemendikbud Haryono Umar mengaku prihatin dengan kampus-kampus negeri yang masih menarik SPP tinggi untuk menjadi dokter. Sebab gaji dosen PNS di kampus negeri itu sudah ditanggung negara. Selain itu, kampus negeri juga masih menerima suntikan dana bantuan operasional perguruan tinggi negeri (BOPTN).

Contohnya Universitas Indonesia (UI) mendapatkan BOPTN sebesar Rp 226,7 miliar. Kemudian di Universitas Gadjah Mada (UGM) mendapatkan kucuran BOPTN Rp 170,1 miliar dan di Universitas Brawijaya (Unibraw) mendapatkan Rp 133 miliar.

“Dengan adanya kucuran BOPTN itu, harusnya beban masyarakat (SPP yang dibayar mahasiswa, red) makin turun,” kata Haryono. Tetapi pihak kampus umumnya beralasan bahwa uang dari BOPTN itu tidak cukup untuk menalangi biaya operaisonal, khususnya di prodi kedokteran.

Haryono mengatakan bahwa besaran BOPTN itu masih meng-cover sebagian kebutuhan operasional PTN. Berbeda dengan dana bantuan operasional sekolah (BOS) di SD dan SMP yang sudah meng-cover seluruh kebutuhan sekolah. Sehingga SPP di SD dan SMP penerima dana BOS digratiskan.

Melimpahkan kekurangan biaya operasional ke mahasiswa tentu cara terakhir dan paling mudah dilakukan kampus. Kampus seharusnya memanfaatkan keleluasaan mereka untuk bekerjasama penelitian dengan korporasi atau pemerintah pusat dan daerah untuk menghimpun dana secara sah.

Cara lainnya adalah memanfaatkan aset-aset mereka, seperti tanah dan bangunan, untuk kepentingan komersil. Hasil dari pemanfaatan aset itu, bisa dipakai sebagai cross subsidi. Sehingga beban SPP yang dibayar mahasiswa tidak terlalu mahal. “Intinya saat ini BOPTN belum memenuhi semua anggaran operasional,” tandasnya.

(JPNN)

Unpad Nyaah Ka Jabar : Memberi Kesempatan Putra Daerah Kuliah

31 May 2014   54 views

unpadUNIVERSITAS Padjadjaran (Unpad) memberlakukan program Unpad Nyaah Ka Jabar. Program digulirkan untuk menambah daya serap mahasiswa baru dari seluruh Jawa Barat yang kuliah di Unpad.

Kebijakan digulirkan sejak tiga tahun terakhir karena warga Jabar yang mengenyam pendidikan di Unpad relatif sedikit. Tahun 2012 mahasiswa asal Jabar yang kuliah di Unpad hanya 49,7 persen.

Salah satu tujuan berdirinya Unpad adalah memberikan kesempatan kepada putra putri Jawa Barat untuk belajar di perguruan tinggi.

Data di laman unpad.ac.id menyebutkan, lima tahun terakhir menunjukkan calon mahasiswa asal Jabar yang diterima di Unpad, semakin berkurang. Itu pun sebagian besar berasal dari Kota Bandung. Karena itu sejak 2013 Unpad meluncurkan program Unpad Nyaah Ka Jabar.

Seleksi program ini melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) atau yang sebelumnya dikenal dengan nama SNMPTN jalur undangan.

Dengan program ini, diharapkan Unpad bisa menerima 2.184 orang mahasiswa asal Jawa Barat yang tersebar dari seluruh kabupaten/kota. Setiap kabupaten/kota setidaknya memiliki 84 kursi dari program studi yang ada di Unpad.

Sebelumnya, Rektor Unpad Prof. Ganjar Kunia mengatakan, Unpad Nyaah Ka Jabar adalah program seleksi masuk khusus untuk warga asal Jabar. Program affirmative action atau keberpihakan yang positif ini memberikan kesempatan kepada putra putri daerah dari seluruh Jabar, untuk diterima menjadi mahasiswa Unpad melalui sistem seleksi di dalam kota/kabupaten masing-masing.

“Setiap calon mahasiswa yang mengikuti program ini hanya akan bersaing dengan peserta dari daerahnya masing-masing. Mereka tidak bersaing dengan peserta dari daerah lain,” ungkap Ganjar, belum lama ini.

Wakil Rektor I Bidang Kurikulum yang juga Panitia SNMPTN 2014 Unpad, Engkus Kuswarno mengatakan, tahun lalu program Unpad Nyaah Ka Jabar berhasil menjaring mahasiswa dari 7 kabupaten/kota. Padahal tahun sebelumnya, mahasiswa yang terjaring hanya berasal dari kota-kota besar di Jabar saja.

“Program ini bertujuan memberikan kesempatan kepada putra putri di Jawa Barat untuk mengecap pendidikan tinggi di Unpad,” ujar Engkus saat dikonfirmasi wartawan, Kamis (29/5).

Melalui program ini calon mahasiswa bersaing terlebih dulu di tingkat sekolah, lalu tingkat kota/kabupaten, kemudian di tingkat nasional. Sehingga kesempatannya jauh lebih besar ketimbang langsung dari sekolah ke skala nasional lewat jalur SNMPTN dan SBMPTN. Sistem seleksi ini berhasil menjaring calon mahasiswa dari berbagai kabupaten/kota yang ada di Jawa Barat.

“Karena sejarahnya Unpad tidak lepas dari Jawa Barat, maka sistem ini mengembalikan Unpad kepada warga Jawa Barat,” tegasnya.

Unpad pun menggelar program Bidik Misi untuk mahasiswa tidak mampu. Tahun pertama program Bidik Misi menerima 900 orang peserta. Tahun kedua bertambah menjadi 1.310 orang. Kemungkinan besar, tahun ini pun akan bertambah.

Engkus menegaskan, tidak ada lagi jalur mandiri dalam sistem seleksi masuk Unpad. Unpad hanya menerima calon mahasiswa lewat jalur SMNPTN, SBMPTN, dan jalur khusus untuk mahasiswa asing. Kuota mahasiswa asing ini sebanyak 125 dan tersebar di berbagai fakultas.

Disinggung soal hasil SMNPTN kemarin, dari 73.000 pendaftar, Unpad menerima 2.600 calon mahasiswa. Jumlah ini setengah dari jumlah total 5.800 kuota yang tersedia. Sisa kuota akan terisi dari jalur SBMPTN.

“Jurusan yang paling banyak dipilih peserta SMPTN tahun ini manajemen dengan persaingan 1:60, disusul akutansi 1:47, hubungan internasional 1:33, ilmu komunikasi 1:29, dan administrasi niaga 1:26,” ujarnya.

(Galamedia)

Next Page »