web analytics

Cerita Dua Guru Asal Australia Mengajar Siswa SMA di Bandung

22 October 2014   8 views

guruMeski singkat, Nicole Brown dan Lisa Roe sangat terkesan dengan kunjungan mereka ke Indonesia. Singgah di Jakarta dan Denpasar, dua guru Australia ini sangat menikmati budaya Indonesia. Namun, sepekan di Bandung dan berinteraksi dengan para pelajar di sana-lah yang membuat mereka belajar banyak.

Indonesia di mata Nicole, kini, sungguh berbeda dengan Indonesia yang ada dalam pikirannya saat belum menginjakkan kaki di tanah khatulistiwa.

“Saya tahu orang-orang Indonesia terkenal ramah dan menyenangkan, tapi saya cukup kaget ketika mereka cukup tahu banyak soal Australia, dan merupakan sosok yang pekerja keras,” ujarnya kepada ABC.

Ia sendiri tak pernah membayangkan bahwa pertemuannya dengan para pelajar Indonesia akan meninggalkan kesan mendalam.

“Anak-anak mencoba berbicara seperti orang Australia seperti menyapa ‘G’day mate’, mereka juga mempelajari aksen Australia, dan…mereka bahkan menyanyikan lagu kebangsaan Australia dengan benar di depan kami berdua,” urai guru olahraga dan geografi ini dengan tawa renyah.

Adalah ‘Collaborative Teaching Learning”, program pertukaran pengajar dan kerjasama antar-sekolah yang membawa Nicole Brown dan Lisa Roe ke Indonesia.

Program yang digagas Asosiasi Sekolah Katolik Australia Selatan (CESA) bekerjasama dengan Asia Education Foundation yang bernaung di bawah Universitas Melbourne; dan Pemerintah Australia melalui AusAid ini, mengirim dua guru asal Australia Selatan ini ke Jawa Barat untuk melakukan studi banding ke 7 SD dan 1 SMA di Kabupaten dan Kota Bandung, selama 2 pekan.

“Sebelum terjun ke dunia pendidikan, saya sempat bekerja di bidang industri IT selama 7 tahun. Dan kemudian saya mendapatkan kesempatan ini, benar-benar luar biasa,” aku Lisa.

Guru matematika dan fisika di Cardijn College ini mengingat betul bagaimana reaksi siswa-siswi Indonesia ketika ia dan rekannya Nicole datang ke kelas-kelas untuk mengajak mereka berinteraksi.

“Beberapa dari mereka tampak malu-malu, tapi semuanya sangat antusias. Yang paling saya ingat adalah ketika saya mencoba mengajarkan matematika,” ungkapnya kepada Nurina Savitri dari ABC Internasional.

Ia lalu menyambung, “Mereka punya PR lalu saya meminta untuk membahasnya di depan kelas. Mereka menyampaikan soal dalam bahasa Indonesia, dan karena bahasa Indonesia saya sangat trebatas, saya menjawab dalam bahasa Inggris, menarik sekali, dan akhirnya terselesaikan juga.”

Lisa mengaku,  murid-murid Indonesia memiliki kemampuan matematika yang sangat bagus, namun ia memiliki masukan bagi para generasi penerus di negara tetangganya ini. “Mereka benar-benar berusaha keras untuk mendapat nilai yang bagus, saya menyarankan agar siswa SMA Indonesia, mungkin, bisa belajar lebih banyak tentang masalah-masalah yang sebenarnya terjadi di dunia,” kemukanya.

Ia kemudian menuturkan, “Anak SMA di Australia tak mempelajari banyak mata pelajaran, jadi ini memberi mereka kesempatan untuk mengasah kemampuan berpikir kritis. Ini perbedaan utamanya. Mereka juga tak harus menghadapi soal ujian yang berat seperti di Indonesia.”

Mia Damayanti, guru biologi dan Kepala Kerjasama Luar Negeri di SMA Negeri 1 Cisarua, salah satu sekolah yang dikunjungi Nicole dan Lisa, mengatakan, kedatangan dua guru Adelaide ini adalah kesempatan yang sangat berharga bagi murid-muridnya.

“Banyak anak-anak kami yang baru pertama kali bertemu dengan foreigner. Mereka pun bilang ke saya ‘Bu, kok bahasa inggrisnya berbeda dengan guru bahasa inggris di sekolah kita,?’,” kisahnya.

Mia juga mengaku ia sempat khawatir atas kedatangan kedua guru asing itu lantaran merasa toilet di sekolahnya, yang terletak di daerah pinggiran kota, tak sebanding dengan toilet sekolah yang ada di Australia.

“Ada rekan guru yang bilang ke saya ‘Kenapa mereka diajak ke sini, kan malu?’ eh ternyata mereka malah sudah persiapan sekali, walau memang fasilitas yang kami punya, kalau dibanding Australia, masih jauh lah..soal kebersihan..kamar mandi,” utara perempuan yang sempat tinggal di Adelaide selama 2 tahun ini.

Meski demikian, bagi Mia, program studi banding ini memiliki manfaat yang besar bagi pelajar di sekolahnya dan juga merupakan kesempatan untuk membuktikan diri bagi sekolah yang dikunjungi.

“Sewaktu anak-anak belajar menghafal lagu kebangsaan Australia, mereka mengatakan ‘Syairnya menyentuh hati kami, sederhana tapi makna nasionalisme-nya dalam’. Jadi menurut saya, anak-anak itu belajar tidak hanya dari bahasa Inggrisnya saja, tidak hanya dari metode pengajarannya saja, tapi ada hal lain,” ujar perempuan berjilbab ini.

Sekembalinya Lisa dan Nicole ke Australia, program ini mengharapkan agar para guru di Bandung juga bisa berkunjung ke Adelaide untuk melakukan hal serupa, pada awal tahun 2015.

Pengalaman unik menjadi ‘houseparent’

Selain mengunjungi sekolah-sekolah, Nicole dan Lisa juga tinggal di rumah seorang warga lokal selama studi bandingnya di Bandung.

Mia kebetulan menjadi tuan rumah mereka. Selama dua pekan, keduanya tinggal di rumah Mia dan mencoba beradaptasi dengan suasana ala keluarga Indonesia.

“Mereka tinggal di rumah saya, saya seperti ‘houseparent’, ternyata ga gampang loh. Mereka sepertinya lebih siap, karena ternyata banyak sekali bawaannya, sementara saya sempat bingung mengatur makanan dan sebagainya,” ujarnya kepada ABC.

Ia lantas mengisahkan pengalaman unik saat Idul Adha tiba. “Mereka itu mau ikut solat ied, mereka sudah siapkan syal, baju panjang, mereka juga ikut gerakan solat walau mungkin bingung ya kok gerakannya ganti-ganti tiap berapa detik,” tutur Mia sambil terkekeh.

Tradisi lebaran yang penuh dengan makanan-pun nampaknya memantik cerita lucu dari keduanya. “Lisa dan Nicole kan juga ikut keluarga saya berkunjung ke rumah saudara-saudara. Nah tiap berkunjung ke satu rumah, selalu disediakan makanan. Akhirnya mereka bilang, ‘Mia kalau hari ini mengunjungi 7 rumah berarti kita akan 7 kali makan?’,” kenang Mia tanpa bisa menahan tawanya.

Ia pun berharap agar para guru di Indonesia juga memiliki kesiapan mental untuk menjadi peserta pertukaran pengajar, seperti halnya Nicole dan Lisa yang ia nilai mampu beradaptasi dengan budaya Indonesia.

(tribunnews)

Buku berisi tips pacaran di SMA beredar, ini kata Ridwan Kamil

16 October 2014   6 views

bukuBuku Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan (Penjaskes) untuk SMA dan sederajat kelas XI menuai penolakan. Buku dari Kemendikbud itu menampilkan soal bahaya melakukan seks bebas bagi wanita dan tips berpacaran.

Wali Kota Bandung Ridwan Kamil mengatakan bahwa peredaran buku tersebut harus dikaji ulang. Dia meminta penerbit agar bisa memberikan penyampaian yang tidak mengundang kontroversi di berbagai kalangan.

“Saya titip ke Dinas Pendidikan supaya berhati-hati, ini bisa dikaji,” kata pria yang akrab disapa Emil itu di Balai Kota Bandung, Kamis (16/10).

Dia menambahkan, penerbit harus lebih berhati-hati tentang masalah tersebut. Apa yang ditulis dan disampaikan bisa menjadi berbahaya.

“Apalagi sarana (sekolah) seperti itu seolah-olah memberikan pembenaran, untuk menganjurkan berbuat seperti itu,” terangnya.

Sebelumnya, Federasi Guru Independen Indonesia (FGII) melakukan aksi di depan kantor MUI Jabar Bandung. Bahkan mereka menggunting dan membakar bagian halaman 128-129.

Buku itu dinilai tidak edukatif karena merendahkan martabat wanita. Sebab disebutkan dalam buku itu seakan-akan hubungan seks kurang berisiko bagi pria dibanding wanita. Lainnya tips berpacaran bagi siswa ditampilkan. FGII menilai Ini sangat tidak pantas.

(Merdeka)

UI Luncurkan Kapal Pendidikan dan Riset

15 October 2014   2 views

kapal triwitonoFakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI) meluncurkan kapal Triwitono, di Balai Tirta, Balairung UI, Depok, Jawa Barat, Senin (13/10).

Kapal Triwitono ini siap digunakan untuk kebutuhan mini lab, perkuliahan, dan riset. Berkapasitas 30 orang serta dilengkapi pendingin udara dan papan tulis, kapal ini dapat dijadikan sebagai ruang kuliah alternatif sehingga mahasiswa dapat belajar di kapal tersebut sambil mengitari danau UI.

Dosen Program Studi Teknik Perkapalan FTUI, Hadi Tresno Wibowo, yang menerapkan inovasi lambung kapal pelat datar ini, menuturkan, desain kapal sudah didaftarkan paten dengan judul invensi “Kapal dengan Lambung Pelat Datar”, nomor daftar paten PO201304514. Paten diajuka pada 7 November 2013.

Diungkap Hadi, pada Agustus 2012 lalu, kapal nelayan pelat datar telah dimanfaatkan untuk membantu kerja nelayan Mirasa Sejati di Desa Limbangan, Balongan, Indramayu, Jawa Barat.

“Saya lebih suka menyebutnya sebagai kapal pendidikan dan riset. Untuk menciptakan kapal ini kami mendapat sumbangan dari banyak pihak. Satu unit kapal ini seharga Rp 350 juta. Tapi belum termasuk cat dan listriknya,” ujar Hadi kepada SP saat ditemui usai peresmian kapal.

Staf Ahli Panglima TNI, Kolonel C.ba Iman Suroso menyambut baik kehadiran kapal lambung pelat datar ini. Iman menilai, adanya kapal ini dapat digunakan untuk para prajurit TNI di wilayah perbatasan yang jauh dari pusat kota.

“Kapal ini sangat layak. TNI di wilayah perbatasan saja masih memakai kapal krotok yang bermesin kecil dan kadang mesinnya mati lalu dikayuh. Ini sangat memprihatinkan, apalagi medan kami terbilang berat karena di perbatasan dan berada sangat dekat dengan Malaysia,” kata Iman kepada SP.

Diungkap dia, jika menggunakan kapal seperti yang diciptakan FTUI ini, maka diyakini kewibawaan TNI akan semakin meningkat. Apalagi kapal ini adalah karya dari anak bangsa. Iman Suroso meyakini, bila memnfaatkan kapal ini, maka tidak adalagi kendala keterlambatan pengiriman logistik karena masalah waktu.

“Semoga saja pihak UI bisa mempresentasikan ini kepada Panglima TNI. Dengan demikian kapal karya FTUI ini bisa diperbanyak dan digunakan oleh para prajurit TNI di wilayah perbatasan,” tutur Iman.

Menanggapi ini, Hadi Tresno Wibowo menyambut baik dan optimis bahwa kapal ini bisa dimanfaatkan di wilayah perbatasan. “Mengapa tidak? Tentu bisa. Nanti kami bangun di sana. Kalau dikirim repot. Nanti bahan bahan dan para ahlinya membuat langsung di perbatasan untuk para prajurit TNI,” kata Hadi bersemangat.

Sementara itu, Pakar Hukum Maritim Indonesia, Chandra Motik Yusuf, mengatakan, sektor kelautan dan maritim Indonesia masih dihadapkan pada persoalan cawe-cawe yang merugikan sektor ini. Hal yang paling mudah untuk dibenahi sebagai awalan, kata Chandra, adalah membenahi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang berkaitan dengan kelautan dan maritim.

“Penggunaan kapalnya pemerintah yang tentukan. Dengan demikian devisa negara tak akan lari keluar. Jangan ada lagi illegal fishing dan cawe-cawe yang menyebabkan kerugian negara,” ujar Chandra.
(beritasatu.com)

Aneh, Buku Paket Kurikulum 2013 Dijanjikan Gratis ke Siswa Tapi Banyak Dijual di Senen

6 September 2014   13 views

bukuDi saat sebagian siswa sekolah belum menerima buku paket kurikulum 2013 yang dijanjikan gratis bagi para siswa, pedagang-pedagang buku di Senen menjual buku-buku berlogo Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Pantauan Warta Kota ke beberapa pedagang buku di Senen, Jakarta Pusat, Jumat (5/9/2014), buku-buku tersebut memang diperjualbelikan di samping terminal bus Senen itu.

Buku-buku yang dijual pun tersedia lengkap dari kelas 1 SD hingga SMA. Jika Kemdikbud menjanjikan siswa tak perlu keluar uang untuk mendapatkan buku kurikulum 2013, maka di Senen, pembeli harus merogoh kocek Rp 20-40.000 untuk mendapatkan sebuah buku.

Untuk buku SD misalnya, buku berlogo Kemendikbud dijual seharga Rp 25.000 per buku.

Sementara, untuk buku SMP dijual mulai Rp 20.000-Rp 30.000. Dan untuk buku SMA bisa mencapai Rp 40.000 per mata pelajarannya.

Jumlah para pedagang yang menjual buku kurikulum 2013 di Senen pun cukup banyak.

Jika pembeli mencari di salah satu pedagang dan tak menemukan yang dicari, maka si pedagang tersebut akan mencarikan buku yang dicari pembeli di pedagang lainnya.

Maka, bisa dikatakan, hampir semua pedagang melayani pembelian buku kurikulum 2013. Jumlah mereka pun lebih dari 5 pedagang.

“Cari buku kelas berapa? Kurikulum 2013 dengan logo kementerian kita ada, mau SD, tema berapa? Paketan juga bisa,” kata Yon, salah satu pedagang buku kepada Warta Kota.

Yon yang mengenakan kaus cokelat mengatakan bahwa buku-buku kurikulum 2013 yang dijualnya bukanlah buku tiruan.

“Ya nggak ada dong tiruan, ini mah asli, makanya agak mahal, kalau mau yang lama, tuh bekas-bekas, tapi bukan kurikulum 2013,” ujarnya.

Ia juga menceritakan bahwa buku-buku tersebut diperolehnya dari penerbit, oleh karenanya, ia bisa menyatakan bahwa buku-buku tersebut bukan barang rekaan.

Kepada Warta Kota, dirinya mengatakan bahwa jika dibeli dalam jumlah banyak, buku-buku tersebut bisa dikurangi harganya. Namun, jika hanya membeli satu buku, harga tak bisa dikurangi.

Ketika ditanya apakah sudah banyak yang membeli buku kurikulum 2013, pria berkulit cokelat tersebut mengatakan bahwa sejak lebaran, sudah banyak yang mencari buku-buku berlogo Kemdikbud itu.

Ia mengatakan, justru saat ini pembeli buku kurikulum 2013 mulai berkurang.

Pedagang lain yang tak mau menyebut namanya mengatakan hal serupa. Ia yang mengikuti isu bahwa buku kurikulum 2013 belum tiba di sekolah hingga saat ini menyebabkan banyak orangtua yang datang membeli buku kurikulum 2013 di Senen.

“Kalau nungguin buku pemerintah mah kapan turunnya, mending beli di sini, sama aja, ya mahal dikit, karena emang baru, tuh 2013,” katanya sambil menunjukkan logo kurikulum 2013 yang tertera dalam buku.

Selain menjual buku-buku berlogo Kemdikbud, toko buku ini juga menjual buku kurikulum 2013 lainnya, namun tak berlogo Kemdikbud.

“Yang banyak dicari yang ada logonya (Kemdikbud),” kata pria berkaus kuning itu.

(tribunnews)

Mahasiswa Ini Susun Komik Fisika Qur’ani

25 July 2014   12 views

261996_komik-fisika-qur-ani_663_382Fisika merupakan pelajaran ilmu eksak yang sering menjadi monster menakutkan untuk anak sekolah. Mata pelajaran yang 80 persen materinya menggunakan rumus-rumus dan angka ini seringkali dianggap sulit dan abstrak oleh sebagian besar siswa yang sedang mempelajarinya.

Padahal, Ilmu Fisika sangatlah penting dalam penerapan kehidupan sehari-hari, apalagi bagi mereka yang akan melanjutkan pendidikan di bidang eksakta, teknik, maupun kedokteran.

Masalah ini bisa disebabkan karena persepsi banyak orang yang mengatakan fisika sulit, penyampaian guru yang kurang komunikatif dan menarik, buku pelajaran yang membosankan, motivasi yang lemah.

Selain itu, kurangnya pengetahuan mengenai penerapan fisika sederhana dalam kehidupan sehari-hari, yang mengakibatkan siswa mengalami disorientasi dalam mempelajari ilmu fisika.

Sebenarnya, hal ini bisa diatasi dengan memperkenalkan fisika sejak dini melalui contoh-contoh sederhana untuk anak-anak pra-sekolah (Taman Kanak-Kanak) dan sekolah dasar (SD), serta inovasi belajar yang menyenangkan bagi siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA).

Untuk memudahkan pemahaman mata pelajaran fisika pada siswa, sekelompok mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta yaitu Rizki Ageng Mardikawati dan Dewi Yuliana dari prodi pendidikan fisika FMIPA, Muhammad Fajar Romadhonni dari prodi pendidikan matematika dan Geri Wiliansa dari prodi matematika FMIPA serta Mega Setya Gama dari prodi pendidikan seni rupa FBS membuat Komik Fisika Qur’ani.

Komik tersebut menceritakan fisika dan penerapan sederhananya dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut Rizki Ageng Mardikawati, selain menawarkan konsep baru dalam pembelajaran fisika, Komik Fisika Qur’ani memberikan sentuhan moral dan Islami, sehingga siswa dapat dengan mudah termotivasi dan semangat mempelajari fisika, karena ternyata ilmu yang tengah mereka pelajari sangat dekat dengan realita kehidupan dan hikmah sehari-hari.

“Efek lain yang didapatkan adalah adanya peningkatan keimanan keislaman bagi pembacanya,” ujarnya, Kamis 24 Juli 2014.

Hal tersebut, ungkapnya, karena ajaran agama Islam tidak hanya mengatur soal ibadah dan aqidah saja, tetapi segala aspek dalam kehidupan ini, termasuk fenomena fisika.

Dewi Yuliana menambahkan, bahwa Komik Fisika Qur’ani atau disebut Mika-Qu ini dibagi atas Mika-Qu for Kids dan Mika-Qu for Teens.

Mika-Qu for Kids diperuntukkan untuk anak-anak pra sekolah dan Sekolah Dasar dengan materi penerapan fisika sederhana dalam kehidupan sehari-hari, dikaitkan dengan Al-Qur’an dan hikmah. Sedangkan Mika-Qu for Teens diperuntukkan untuk siswa SMP dan SMA.

“Sesuai dengan levelnya, maka akan disajikan penerapan fisika sesuai dengan materi-materi yang relevan di tingkat SMP dan SMA,” tutur Dewi.

Mika-Qu merupakan Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K) yang berhasil meraih dana Dikti.

Menurut Muhammad Fajar Romadhoni produk ini bisa didapatkan dengan harga Rp30 ribu dengan halaman berwarna, dan Rp20 ribu untuk hitam putih.

“Dengan penggabungan yang cantik antara fisika, inspirasi hikmah Al-Qur’an dan penyajian, maka kami optimis usaha ini akan berjalan dan membawa kemanfaatan. Ini karena kami tak hanya menawarkan produk, namun juga solusi untuk permasalahan negeri, terutama permasalahan moral,” katanya.

Mika-Qu bisa didapatkan dengan kontak melalui fanpage facebook Komik Fisika Qur’ani, akun twitter di @mikaqu atau @rizkismile1,blog www.komikfisikaqurani.blogspot.com.

Pengumuman Hasil SBMPTN 2014 Online di www.sbmptn.or.id

16 July 2014   9 views

sbmptnPengumuman hasil SBMPTN 2014 atau Hasil Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri tahun 2014 yang telah digelar di 44 daerah di Indonesia dapat dilihat online di situs www.sbmptn.or.id (sbmptn.or.id) pada hari ini Rabu, 16 Juli 2014 mulai pukul 17.00 WIB.
Seperti tahun – tahun sebelumnya, tahun ini hal yang paling dinantikan oleh para jebolan Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang ingin melanjutkan pendidikan mereka ke bangku perkuliahan adalah pengumuman hasil SBMPTN. Pengumuman yang akan dilakukan besok ini akan diumumkan di situs resmi milik pemerintah yaitu di www.sbmptn.or.id.

Pemerintah memberi calon mahasiswa atau orang tua calon mahasiswa untuk tidak tertipu dengan website – website abal – abal yang juga mengusung tema pengumuman hasil SBMPTN 2014. Meski terkadang situs – situs tersebut memang menyajikan fakta yang sama dengan apa yang dimuat di situs resmi, namun diharapkan untuk langsung mengakses website resmi SBMPTN 2014 agar informasi yang didapat dapat dipertanggung jawabkan.

SBMPTN 2014 telah diikuti 664.509 peserta yang terdiri dari 240.278 peserta kelompok ujian sains dan teknologi (saintek), 258.035 peserta kelompok ujian sosial dan humaniora (soshum) dan 166.196 peserta kelompok ujian campuran. Para calon mahasiswa yang telah mengikuti ujian Tes Kemampuan dan Potensi Akademik (TKPA), Tes Kemampuan Dasar (TKD) Saintek, TKD Soshum tersebut akan memperebutkan 86.000 kursi di 63 Perguruan Tinggi Negeri di seluruh Indonesia.

(sidomi)

19 Peserta Berkebutuhan Khusus Ikut SBMPTN di Bandung

17 June 2014   169 views

SBMPTNSeleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) diikuti 40.899 peserta yang terdiri dari kelompok Saintek 15.822, Soshum 18.037 dan Campuran 7.040. Selain itu, ada 19 peserta yang mengikuti ujian dengan kebutuhan khusus.

Hal itu diungkapkan Sekretaris Eksekutif Panitia Lokal Bandung SBMPTN 2014 Asep Gana Suganda saat ditemui di Kampus Sekretariat SBMPTN Bandung di Kampus ITB, Bandung, Jawa Barat, Selasa, (17/6/2014).

“Ada 19 orang peserta yang memerlukan fasilitas kebutuhan khusus,” kata Asep.

Asep mengungkapkan, ada sembilan peserta tunanetra, lima peserta tunarungu, dua peserta tunawicara, dua peserta tunadaksa dan satu peserta korban kecelakaan.

19 peserta itu mendapatkan pengawasan dan bantuan khusus dari panitia SBMPTB. “Para peserta dengan kebutuhan khusus itu mendapatkan bantuan, pengawalan dari kita, misalnya yang tunanetra, kita bantu untuk membacakan soalnya, begitupun yang lainnya,” kata Asep.

Namun, Asep menegaskan, pihak luar tidak boleh membantu kepada para peserta berkebutuhan khusus ini karena dikhawatirkan akan terjadi kecurangan. “Keluarga hanya mendampingi saja di luar,” kata dia.

Ujian peserta kebutuhan khusus SBMPTN di Bandung dilaksanakan di Kampus ITB, Jalan Ganeca, Bandung, Jawa Barat.
(kompas.com)

Mahasiswa IPB ciptakan “Capres” pencegah obesitas dini

12 June 2014   34 views

20120526obesitas2Tim peneliti mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) menggagas centong digital yang diberi nama “Capres” yakni sebuah centong yang berfungsi sebagai timbangan untuk memastikan jumlah takaran makanan yang pas bagi penderita obesitas atau yang sedang menjalani program diet.

“Capres ini memudahkan penggunanya menyendok sekaligus menimbang 100 gram nasi dalam waktu singkat,” ujar Lely Trijayanti, perwakilan tim peneliti mahasiswa penggagas Capres, dalam siaran persnya kepada Antara di Bogor, Kamis.

Menurut Lely, centong Capres ini multifungsi, selain bisa digunakan untuk menimbang nasi, juga bisa menimbang misalnya tahu, tempe, sayur dan lain-lain.

Lely menjelaskan, gagasan menemukan Capres atau Centong digital tersebut, dalam menjawab kesulitan sejumlah orang dalam menentukan takaran jumlah makanan yang pas agar tidak melebihi kadar kesehatan yang menyebabkan obesitas.

Sementara itu, trend yang sedang berkembang di masyarakat saat ini adalah gizi berlebih atau obesitas pada anak, bukan lagi gizi buruk. Padahal, obesitas pada anak memiliki resiko yang tinggi terhadap penyakit degeneratif.

Secara umum obesitas disebabkan oleh tidak seimbangnya konsumsi yakni karbohidrat yang terlalu berlebihan dan pengaturan pola makan yang tidak baik.

Hasil penelitian International Task Force (ITF), sebuah badan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa 80 persen anak obesitas dipengaruhi oleh faktor lingkungan, sedangkan 30 persennya di pengaruhi oleh faktor genetik.

Disebutkan, sama halnya dengan masalah gizi lainnya, obesitas tentu dapat di cegah. Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah penyesuaian porsi makan dengan total kalori yang dibutuhkan tubuh menurut jenjang usia. Misalnya jumlah konsumsi nasi yang dianjurkan per satu kali makan adalah 100 gram.

“Tentu sulit bagi kita untuk memastikan jumlah takaran yang pas (100 gram nasi). Selain itu jarang pula orang yang mau menimbang 100 gram nasi menggunakan timbangan biasa,” ujar Lely.

Atas dasar tersebut, lanjut Lely, ia beserta teman-teman seangkatannya dari berbagai departemen melakukan penelitian bersama.

Tim peneliti Capres ini adalah Ida Mursyidah, Lely Trijayanti dan Fatma Putri ST, mahasiswa dari Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) dan Alvin Fatikhunnada dari Departemen Teknik Mesin dan Biosistem Fakultas Teknologi Pertanian (FATETA) serta Hasan Nasrullah dari Departemen Fisika Fakultas Matematika dan IPA (FMIPA) yang mendesain “Capres”, Centong digital untuk mencegah obesitas dini.

Tim peneliti mahasiswa IPB ini mendapat bimbingan dari Prof.Dr.Ir. Ahmad Sulaeman. Mereka menciptakan “centong ajaib” yang bisa mengontrol asupan makanan sehari-hari.

Mahasiswa IPB dari berbagai jurusan ini, tidak hanya merancang bentuk fisik melainkan juga telah memperhitungkan dari segi ekonominya seperti strategi pemasaran, target pasar, hingga harga yang paling tepat saat bisa dijual bebas nanti.

“Capres ini berguna untuk mengefektifkan waktu konsumen dalam menentukan jumlah takaran saji suatu jenis pangan secara akurat sesuai anjuran. Selain itu produk ini juga bisa digunakan oleh konsumen yang sedang menjalankan program diet,” ujar Lely.

Menurut Lely, produk tersebut terbilang sederhana, yang dibutuhkan hanya centong nasi yang dipasangi timbangan dengan flex sensor, baterai dan LCD. Inovasi dari sebuah centong dan timbangan untuk mempermudah dalam penimbangan ini dibanderol seharga Rp 400.000 per unit.

Jika dibandingkan dengan harga timbangan digital lain, lanjut Lely, yang berkisar Rp 150.000 Rp 200.000 per unit, harga “Capres” masih terbilang wajar.

“Karena yang kami tawarkan adalah kepraktisan dalam penggunaan produk kami,” ujarnya.

Lely menambahkan, untuk mengefektifkan program pencegahan obesitas sejak dini, pemakaian “Capres” bisa diterapkan di rumah sakit, dinas kesehatan dan penyedia jasa catering sehat.

“Ke depan, tim akan mengembangkan “Capres” agar bisa mengukur kadar gula, kadar garam pada makanan,” ujarnya.

Sementara itu, berkat inovasinya ini, Lely dan kawan-kawan berhasil menjadi Juara I dalam Innovation Contest 2014 di Yogyakarta pada Mei 2014. Tim IPB ini berhasil mengalahkan kontestan lain yang berasal dari 28 universitas se-tanah air.

“Kini “Capres” sedang dalam tahap pengurusan pengajuan Hak Paten dan segera dipasarkan,” ujar Lely.

(Antara)

Bukan Jalan Instan Putri Pengayuh Becak yang Jadi Wisudawati Terbaik…

12 June 2014   49 views

becakSederhana dan penuh senyum menjadi gambaran ringkas untuk sosok Raeni (21). Dia adalah putri kedua seorang pengayuh becak yang menjadi lulusan terbaik dalam wisuda periode II/2014 Universitas Negeri Semarang di Jawa Tengah.

Kesederhanaan itu pun sudah dimulai dari namanya. “Raeni. (Nama) panjangnya ya Raeniiii…,” ujar pemilik indeks prestasi kumulatif 3,96 ini renyah, saat dijumpai di tempat kosnya di Jalan Kalimasada, Semarang, Jawa Tengah, Rabu (11/6/2014).

Raeni tak membantah capaian prestasinya membuat sebagian hidupnya berubah. Sepanjang Rabu ini saja misalnya, ujar dia, sudah banyak media meminta waktu untuk wawancara.

Pada Rabu malam pun dia sudah harus terbang ke Jakarta untuk tampil di acara talkshow di sebuah stasiun televisi swasta nasional. “Ya capek sebenarnya, sampai tadi nggak sempat makan lalu diambilkan makan sama ibu kos, tapi saya bahagia dan bangga,” kata Raeni dengan tetap tersenyum.

Dengan segala keterbatasan ekonomi keluarganya, Raeni memastikan capaiannya itu bukan didapat secara instan. Dia mengatakan, semua bermula dari didikan disiplin dan tegas dari sang ayah.

Putri pasangan Mugiyono dan Sujamah asal Desa Langenharjo, Kecamatan Kendal, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah, ini sudah berprestasi sejak kecil. Mengenyam sekolah di SDN 3 Langenharjo kemudian di SMP 3 Patebon dan SMK N 1 Kendal, Raeni selalu menempati peringkat satu atau dua dalam penilaian kelas.

“Ya Alhamdulillah memang sering dapat ranking satu atau dua gitu,” ujar gadis kelahiran 13 Januari 1993 ini. Manajemen waktu dan disiplin yang diterapkan ayahnya sejak kecil membuatnya terbiasa mengerjakan sesuatu dengan cepat.

Raeni mengaku terbiasa mengatur waktu belajarnya bahkan ketika jeda pergantian jam sekolah dan kuliah. “Pas kuliah (misalnya), kalau ada materi yang nggak tahu saya nanya ke dosen pas jam jeda. Jadi minta penjelasan biar benar-benar ngerti,” kata dia.

Meski belajar dan mengerjakan tugas merupakan hal utama untuk dirinya, Raeni mengaku tetap punya waktu untuk berinteraksi dengan teman-temannya. “Ya tetap bergaul biar banyak teman.”

Selain displin, alumnus Jurusan Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi (FE) Unnes ini mengatakan, orangtuanya selalu mengajarkan kejujuran. Dia pun bertutur saat-saat awal diterima menjadi mahasiswi Unnes.

Raeni mengaku sempat minder menjelang kuliah. Selain banyak saudaranya yang tak kuliah, dia pun sempat malu memiliki ayah yang pekerjaannya adalah pengayuh becak. “Ya sempat minder, orangtua tukang becak. Tapi setelah saya pikir lagi kenapa minder?” ujar dia.

“Beliau orangtua saya, mendidik saya, meski tidak memberi biaya hidup banyak saat kuliah, tapi mendukung saya,” kata Raeni dengan mata berbinar. “Dan jelas sekarang saya sangat bangga.”

Sekarang, Raeni merasa kepercayaan dirinya sudah meningkat dan dia masih menyimpan cita-cita yang lebih tinggi lagi. “Meski belum seberapa, tapi saya sudah membuat bangga dan bahagia orangtua. Ini luar biasa.”

Selama kuliah di Unnes, Raeni juga menjadi asisten laboratorium pendidikan di jurusan maupun fakultasnya. Dia juga bergabung dengan unit kegiatan mahasiswa penelitian. “Saya hobi melakukan penelitian dan karya ilmiah.”

Bagi Raeni, menjadi sarjana adalah awal untuk meraih cita-cita lain yang lebih tinggi. Bercita-cita akhir menjadi seorang guru, dia punya keinginan untuk mewujudkannya dalam waktu dekat. “Saya ingin melanjutkan kuliah di Inggris,” katanya, tetap dengan kata-kata sederhana dan wajah berhias senyum itu.

(Kompas)

9 Prodi Terfavorit di SBMPTN 2014

11 June 2014   50 views

sbmptnSetiap tahun, Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) mencatat program-program studi (prodi) terbanyak atau favorit pilihan peserta. Tahun ini, ada sembilan prodi yang menempati posisi paling banyak diminati. Kira-kira prodi apa aja ya?

Koordinator Sekretariat Pokja SBMPTN 2014, Bambang Hermanto saat dihubungi Okezone, Rabu (11/6/2014) menyebut, ada sembilan prodi yang paling banyak dipilih oleh peserta.

“Secara umum masih prodi Ilmu Komunikasi, Akuntansi, Manajemen, dan Ilmu Hukum untuk kelompok Soshum (IPS),” bebernya.

Bambang melanjutkan, untuk kelompok Saintek (IPA) yang paling digandrungi prodinya adalah prodi Teknik Informatika, Kedokteran, Psikologi, Farmasi, dan Teknik Sipil.

Kesembilan prodi tersebut, kecuali Teknik Sipil, juga merupakan prodi terfavorit di Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2014. Nah, berikut ini 10 prodi favorit pilihan peserta di SNMPTN 2014:

1. Manajemen (144.374 siswa).
2. Akuntansi (110.851 siswa).
3. Teknik Informatika/Ilmu Komputer/Teknologi Informasi/Sistem Informasi (97.775 siswa).
4. Pendidikan Guru Sekolah Dasar (81.181 siswa).
5. Hukum/Ilmu Hukum (70.310 siswa).
6. Pendidikan Dokter (60.807 siswa).
7. Psikologi/Ilmu Psikologi (59.133 siswa).
8. Ilmu Komunikasi (54.743 siswa).
9. Farmasi (49.598 siswa).
10. Ilmu Kesehatan Masyarakat (48.162 siswa).

(Okezone)

Next Page »