Sekolah Pariwisata Diburu, Pendaftar Meningkat 20 Persen

16 June 2016

sekolah pariwisataPendaftar Sekolah Tinggi dan Akademi Pariwisata binaan Kemenpar tahun ini meningkat signifikan. Naik sekitar 20 persen dari 8.200 pendaftar pada tahun lalu menjadi 9.800 orang. Sementara daya tampung hanya 4.631 mahasiswa.
“Itu menunjukkan bahwa pamor dan reputasi sekolah-sekolah yang melahirkan professional di bidang pariwisata makin dibutuhkan,” kata Menteri Pariwisata Arief Yahya dalam rilisnya di Jakarta.
Kemenpar membina empat kampus, yaitu STP Bandung yang bakal menerima 3.061 mahasiswa, STP Nusa Dua Bali 720 mahasiswa, Politeknik Pariwisata Negeri Makassar 450 mahasiswa, dan Akademi Pariwisata Medan 400 mahasiswa. Masih ada dua lagi yang baru tahun ini menerima mahasiswa, yakni Politeknik Pariwisata Negeri Palembang akan menerima 208 mahasiswa, dan Politeknik Pariwisata Negeri Lombok dengan 120 mahasiswa.
“Sektor pariwisata memang sedang menjadi trending topic saat ini. Lulusan STP Bandung misalnya, 40% bekerja di luar negeri. Akpar Medan 30% juga direkrut oleh perusahaan asing. Rata-rata dari empat kampus itu 30 persen bekerja di luar negeri. Sisanya, terserap habis di sector Pariwisata, bahkan selalu kekurangan, sehingga mahasiswa yang belum lulus pun sudah menjadi rebutan perusahaan,” kata Arief.
Apa artinya? Pertama, mutu pendidikan di sekolah kepariwisataan negeri itu semakin diakui di dunia kerja. Kedua, sektor pariwisata sendiri semakin hidup, bergairah, dan membutuhkan banyak tenaga terdidik. “Karena itu, system pendidikan dari model rekrutmen atau penerimaan mahasiswa barunya harus betul-betul dijaga agar out put sarjananya tetap memegang teguh standar kualitas yang ditentukan,” ungkap Arief.
Bagaimana implementasinya? Deputi Kelembagaan dan Sumber Daya Manusia, Prof Ahman Sya menjelaskan, mulai tahun ini empat sekolah milik Kemenpar itu diseleksi secara bersama-sama. Namanya, Seleksi Bersama Masuk Sekolah Tinggi, Akademi, dan Politeknik Pariwisata (SBM-STAPP), yang digelar serentak di empat Perguruan Tinggi Pariwisata Negeri. Edisi perdana, empat kampus itu diseleksi bersama ini.
“Tes SBMSTAPP dilaksanakan serentak di empat Perguruan Tinggi Pariwisata Negeri yang berada di bawah Kementerian Pariwisata. Ada Akpar Medan, STP Bandung, STP Nusa Dua Bali dan Poltek Pariwisata Negeri Makassar. Jadi hasilnya pasti lebih fair, lebih standar,” terang Deputi Kelembagaan Kemenpar Ahman Sya.

Dari paparannya, seluruh peserta seleksi harus melewati beragam tes. Dari mulai tes Bahasa Inggris, psikotes, wawancara, hingga tes kesehatan, semua harus dilalui tanpa terkecuali. “Yang lulus, akan didistribusikan ke delapan program studi sesuai dengan bakat dan minatnya,” ujarnya.
Ke delapan program studi itu adalah Manajemen Divisi Kamar, Manajemen tata Hidangan, Manajemen Tata Boga, Administrasi Perhotelan, Manajemen Bisnis Jasa Perjalanan Wisata, Manajemen Bisnis Perjalanan, Manajemen Konvensi dan Perhelatan dan Manajemen Kepariwisataan.
Selain menerima mahasiswa baru melalui SBMSTAPP, Kemenpar juga membuka jalur Seleksi Masuk Mandiri (SMM). Pendaftaran via SMM masih terbuka hingga 18 Juli 2016. “Seperti halnya dengan seleksi bersama, seleksi mandiri ini diperuntukkan bagi siswa SMA, MA, SMK, atau yang setara untuk mengikuti pendidikan tinggi pariwisata,” katanya.
Dalam seleksi mandiri ini disiapkan program bebas tes masuk bagi siswa berprestasi dan bantuan biaya pendidikan bagi calon mahasiswa berprestasi namun tidak mampu dari sisi ekonomi. “Kami akan menyiapkan SDM pariwisata yang siap berkompetisi di level ASEAN, terutama di tengah tantangan global MEA,” ujarnya.

(Tribunnews)

Mahasiswa IPB kembangkan keset antibakteri dari bambu

15 June 2016

ipb kesetTiga mahasiswa Istitut Pertanian Bogor, Jawa Barat, berhasil mengembangkan keset atau alas kaki antibakteri menggunakan bahan dasar bambu yang mampu menyerap kelembaban air serta berfungsi sebagai dekorasi rumah.

“Keset ini dapat menghambat pertumbuhan bakteri khususnya Escherichia colli dan Staphylococcus aureus,” kata Naufal Bayu Prasetyo, salah satu dari tiga mahasiswa IPB itu di Bogor, Senin.

Naufal dan kedua temannya Laila Fitriyani dan Tiana Rafmiwati merupakan mahasiswa Departemen Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, melakukan penelitian dengan mengembangkan keset antibakteri.

Menurut Naufal, keset tersebut memiliki keunggulan yang tidak dimiliki keset lainnya yang umum dijual di pasaran. Keset hasil penelitiannya bersifat antibakteri karena mengandung flavonaid, tannin, alkohol, dan pennyquinone. “Keset ini mampu menyerap kelembaban air dan bau,” katanya.

Ia mengatakan, pemilihan bambu sebagai bahan dasar keser karena bahan bakunya masih banyak ditemukan di Indonesia dan seringnya hanya dimanfaatkan sebagai alat penopang sementara dalam proses konstruktsi bangunan.

Sementara, lanjutnya, limbah bambu berupa ujung, sisah bilah dan batang bambu tidak digunakan setelah proses konstruksi selesai. Padahal masih dapat dimanfaatkan dengan sentuhan teknologi.

“Dengan beberapa proses, limbah bambu tadi diolah memiliki nilai jual lebih tinggi dari pada kayu bakar,” katanya.

Menurutnya, serat limbah bambu ataupun bambu muda dapat digunakan sebagai dasar produk-produk industri kreatif rumah tangga, maupun kerajinan lainnya.

Kedepan, lanjut Naufal, ia dan timnya akan meningkatkan kemampuan antibakteri keset tersebut agar memiliki daya resistensi lebih tinggi terhadap berbagai jenis mikroba lainnya. Tidak terbatas hanya pada dua bakteri yang disebutkan tadi tetapi jenis bakteri lainnya.

“Kami masih terus melakukan pengembangan terutama meningkatkan daya tahan lebih tinggi terhadap jenis mikroba lainnya. Tidak hanya dua jenis bakter saja, tetapi bakteri lainnya bisa dihambat pertumbuhannya,” katanya.

Ia mengatakan, upaya untuk meningkatkan daya tahan keset antibakteri tersebut dilakukan dengan cara mencari kandungan zat tertentu lainnya yang dapat dijadikan sebagai bahan untuk meningkatkan mutu keset antibakteri.

Naufal menambahkan, pembuatan keset antibakteri mendapat penghargaan dari Sesion Best Paper pada ajang 5th International Conference on Agriculture, Environment and Biological Sciences (ICAEBS-16) yang diselenggarakan oleh International Academy of Arts, Science and Technology di Pattaya, Thailand bulan April lalu.

Ajang tersebut diikuti ilmuwan terkemuka, akademisi dan peneliti internasional yang menyampaikan gagasannya masing-masing yang dapat menyelesaikan berbagai masalah kehidupan di berbagai bidang mulai dari pertanian, lingkungan hidup, dan ilmu biologi.

“Di ajang tersebut kami mempresentasikan abstrack paper dengan judul Utilization of Bamboo (Gigantochloa apus) for Anti-Baterial Mat as Fiber-Based Prospective Produkcts”. Hasilnya kami mendapat penghargaan paper terbaik,” katanya.

(Antara)

SBMPTN 2016, Ini Daya Tampung Lima PTN di Bandung

31 May 2016

SBMPTNSebanyak 46.056 peserta ujian Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi (SBMPTN) 2016 yang terdaftar di Panitia Lokal (Panlok) Bandung berebut mendapatkan kursi di lima perguruan tinggi negeri (PTN) yaitu Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Padjadjaran (Unpad), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati (UIN SGD), Universitas Siliwangi (Unsil) Tasikmalaya. Berikut jumlah daya tampung kelima PTN tersebut.

Pelaksanaan kegiatan SBMPTN 2016 berlangsung Rabu (31/5/2016). Kuota masuk lima PTN itu diperebutkan secara nasional melalui seleksi ujian tertulis atau kombinasi ujian tertulis dan ujian keterampilan.

Rektor ITB Kadarsah Suryadi mengatakan pada 2016 ini ITB menerima mahasiswa baru dari jalur SNMPTN dan SBMPTN. “ITB menerima 2.308 calon mahasiswa baru melalui jalur SNMPTN dan mengalokasikan sekitar 1.500 kuota penerimaan mahasiswa baru melalui jalur SBMPTN,” kata Kadarsah saat konferensi pers di Sekretariat Panlok Bandung SBMPTN 2016, kampus ITB, Jalan Ganeca, Kota Bandung, Selasa (31/5/2016).

Unpad pada 2016 menerima mahasiswa baru sebanyak 6.148. Rektor Unpad Tri Hanggono Achmad mengatakan jumlah total daya tampung penerimaan mahasiswa baru itu terdiri 3.074 orang dari jalur SNMPTN dan 3.074 orang melalui jalur SBMPTN.

UIN SGD untuk 2016 ini menerima sebanyak 2.080 orang. Jumlah tersebut meliputi kuota sebanyak 832 orang melalui jalur SNMPTN, 624 orang dari jalur SBMPTN, dan 624 orang jalur Mandiri. “Memang kami paling kecil, tapi kami tetap kualitas menjadi prioritas,” kata Rektor UIN SGD mahmud.

Untuk Siliwangi (Unsil) menampung 2.585 orang terdiri 1.034 dari jalur SNMPTN, 776 melalui jalur SBMPTN, dan 775 lewat jalur Mandiri.

UPI pada penerimaan mahasiswa baru tahun ini menyiapkan total kuota 7.055 orang. Rektor UPI Furqon menjelaskan jumlah tersebut terdiri 2.828 orang dari jalur SNMPTN, 2.123 jalur SBMPTN, dan 2.264 melalui jalur Mandiri. “Untuk tahun ini UPI paling banyak menerima mahasiswa baru,” ucap Furqon.

Sebanyak 46.056 peserta melaksanakan ujian SBMPTN 2016 di Panlok 34 Bandung dengan perincian 43.056 peserta di Sub-panlok Bandung dan 3.000 peserta di Sub-panlok Tasikmalaya.

(Detik)

Mata Air Foundation Gelar Try Out SBMPTN 2016 di 56 Daerah

27 May 2016

BPUN 20163.500 pelajar dan santri di 56 kota/kabupaten mengikuti Try Out SBMPTN yang digelar oleh Mata Air Foundation. Kegiatan ini, dikatakan Muhammad A Idris, Direktur Program Mata Air, merupakan akhir dari pelaksanaan Bimbingan Belajar Pasca Ujian Nasional (BPUN) 2016.

“Para pelajar dan satri ini telah mengikuti program Intensif Camp selama satu setengah bulan di Pondok Pesantren dibekali trik pengerjakan soal agar lulus Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) sekaligus perkuat ilmu agama dan nasionalisme,” katanya, (26/06)

Dikatakan, lokasi program diantaranya Pesantren Asyidiqiyah 10 Cianjur, Pesantren Al Kamal Kunir Blitar, Pesantren Al Hidayat Salaman Magelang, dll. Menurutnya, berbasis camp atau penginapan di pesantren dimaksudkan untuk menciptakan suasana belajar yang kondusif.

“Peserta berasal dari Sekolah Menengah Atas (SMA) dapat kesempatan jadi santri dan peserta asal Madrasah bisa memiliki etos untuk kuliah di PTN dengan jurusan yang kompetitif,” tambahnya.

Harapannya, peserta yang telah mengikuti tryout ini selain lulus, juga nantinya bisa melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi sesuai minat dan bakatnya seperti Informasi Teknologi, Ekonomi, Hukum dan Kedokteran. Dijelaskan juga, pasa peserta merupakan investasi untuk melahirkan generasi unggul yang berasal dari Pesantren.

“Menciptakan mahasiswa yang berkualitas. Keilmuannya bagus, rasa nasionalisme dan wawasan kegamaannya dapat diandalkan,” tambahnya.

Ia juga menegaskan, Bimbel tahunan yang dilaksanakan Mata Air disiapkan untuk Pelajar dan Santri pintar yang kurang mampu ekonominya untuk di dampingi agar dapat masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN) jalur SBMPTN. Menurutnya, sudah ada 13.000 lebih alumni Bimbel MataAir yang sudah didampingi hingga masuk Universitas.

“Hanya dengan pendidikan kita bisa mengubah taraf hidup dan memutus mata rantai kemiskinan. Membuka akses pendidikan yang di lakukan Mata Air adalah komitmen untuk mengurai kesenjangan hidup masyarakat Indonesia. Do’anya agar para santri Lulus SBMPTN dan mendapatkan beasiswa Bidik Misi atau Scholarship lainnya,” pungkas Muhammad A Idris.

(jais/jarmed)

Aksi “Bullying” Kini Diganjar dengan Ketidaklulusan

10 May 2016

bullingSanksi bagi enam siswi kelas XII SMAN 3 Jakarta Selatan yang melakukan aksi perundungan atau bullying terhadap adik kelasnya telah dijatuhkan. Mereka dinyatakan tidak lulus sekolah karena dinilai memiliki perilaku yang tidak baik.

“Hasil rapat Dewan Guru memutuskan, sikap mereka yang berenam itu tidak baik karena terjadi pem-bully-an terhadap adik-adiknya sehingga Dewan Guru memutuskan bahwa anak yang terlibat bully itu dinyatakan tidak lulus,” ujar Kepala Sekolah SMAN 3 Jakarta, Ratna Budiarti, Senin (9/5/2016).

Keenam siswi tersebut juga tidak dapat mengulang di SMAN 3 karena pihak sekolah telah mengeluarkan dan mengembalikan mereka kepada orangtuanya. Bahkan, menurut Ratna, mereka tidak dapat mengulang di SMA negeri mana pun di Jakarta.

“Jadi kalau mereka mau mengulang di sekolah lain, di swasta. Karena berdasarkan surat dari Dinas Pendidikan DKI Jakarta, siswa yang terlibat bullying, kekerasan, tawuran, tidak bisa diterima di (sekolah) negeri di DKI Jakarta. Alternatif kedua tidak mengulang tapi ikut ujian Paket C tahun depan, tahun 2017,” kata Ratna.

Sebelum pengumuman kelulusan kelas XII, pihak SMAN 3 sebenarnya telah memutuskan sanksi yang akan mereka berikan terhadap para siswi pelaku bullying. Mulanya sanksi yang diputuskan bukan soal kelulusan, melainkan sebatas penahanan ijazah.

“Sanksinya kita sepakati bersama bahwa yang kelas XII kalau mereka lulus, kan tinggal tunggu pengumuman, ijazahnya kami tahan sampai tidak ada lagi pihak-pihak yang menuntut atas kejadian ini,” ucap Ratna dalam kesempatan berbeda beberapa waktu lalu.

Namun, keputusan itu berubah setelah Dewan Guru mengadakan rapat kelulusan. Pihak sekolah langsung memutuskan bahwa mereka dinyatakan tidak lulus.

Sikap atau perilaku peserta didik kini menjadi salah satu indikator penentu kelulusan. Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta Sopan Adrianto menyatakan ada tiga hal yang menjadi indikator kelulusan.

“Kan kriteria kelulusan itu ada tiga di Permendikbud Nomor 5 Tahun 2015. Yang pertama itu yang bersangkutan sudah menyelesaikan seluruh program pembelajaran. Kedua punya perilaku yang baik. Nah yang ketiga itu lulus ujian sekolah,” ujar Sopan beberapa waktu lalu.

Bullying yang terjadi di SMAN 3 berawal saat para pelajar kelas XII mengetahui ada siswi kelas X yang mengunjungi sebuah kafe yang menyuguhkan penampilan DJ (disc jockey). Bagi mereka, para adik kelasnya itu belum pantas pergi ke tempat tersebut.

Para pelajar kelas XII kemudian memanggil para pelajar X tersebut. Di sebuah warung di depan sekolahnya, mereka memberikan hukuman kepada adik kelasnya itu. Korban antara lain disiram air teh dari kemasan botol dan abu rokok. Para korban juga mendapat kekerasan verbal.

(Kompas)

SBMPTN 2016 Pakai Dua Sistem, CBT dan PBT

22 April 2016

sbmptn-ilustrasixCalon mahasiswa yang akan mengikuti Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2016, tak perlu bingung dengan dua sistem tes yang ditawarkan. Ya, mulai tahun ini seleksi memakai sistem tes berbasis kertas (PBT) dan berbasis komputerisasi (CBT).

Peserta SBMPTN bebas memilih metode tes yang akan diikuti. Namun, tetap saja mereka tak bisa memilih keduanya sekaligus, pilih saja salah satu sekalipun hari pelaksanaan tes berbeda.

Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Mohamad Nasir, saat peluncuran SNMPTN dan SBMPTN 2016 menyatakan, sejumlah telaah dan review atas seleksi serupa pada 2015, yang sebagian tempat menjadi lokasi uji coba pelaksanaan CBT.

“Beberapa bagian tentu perlu ada yang diperbaiki. Salah satu kendala misalnya dalam hal jaringan. Perbaikan tersebut dilakukan secara berkelanjutan,” papar Nasir, dalam sambutan peluncuran itu, Jumat (15/1/2016).

Apa bedanya?

Bila memilih sistem CBT, semua soal dan pengisian jawaban dilakukan di komputer. Bagi siswa-siswi yang sudah terbiasa dengan Ujian Nasional (UN) berbasis komputerisasi seharusnya mudah beradaptasi dengan sistem ini.

SBMPTN 2016 memang kali pertama CBT digelar secara nasional, sebagai opsi dari pelaksanaan seleksi. Itu pun, tak semua lokasi ujian menyediakan pilihan CBT.

Penggunaan sistem CBT diharapkan bisa menghemat biaya seleksi, terutama dari pencetakan lembar soal dan jawaban ujian beserta distribusinya. Namun, karena belum semua daerah memiliki infrastruktur memadai, PBT tetap ada dan bahkan masih mendominasi SBMPTN 2016.

Tidak usah bingung, pastikan saja mendapatkan informasi yang benar. (kompas.com)

10 Kampus Paling Diminati pada SBMPTN 2015

22 April 2016

sbmptn-ilustrasiSebentar lagi Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) 2016 akan dibuka. Berkaca pada tahun lalu, ada sekitar 74 kampus negeri yang menyediakan kursi bagi calon mahasiswa lewat jalur seleksi ini.

Bagi Anda yang berniat mengikuti SBMPTN tahun ini, sebaiknya perlu tahu kampus negeri mana saja yang pada 2015 dipilih menjadi kampus idaman para calon mahasiswa peserta seleksi. Dikutip dari data panitia SBMPTN 2015, berikut ini daftarnya:

  1. Universitas Padjajaran (Unpad) dengan 85.879 peminat
  2. Universitas Hasanuddin (Unhas) dengan 75.155 peminat
  3. Universitas Brawijaya (UB) dengan 73.558 peminat
  4. Universitas Sumatera Utara (USU) dengan 70.568 peminat
  5. Universitas Indonesia (UI) dengan 67.136 peminat
  6. Universitas Diponegoro (Undip) dengan 62.649 peminat
  7. Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan 62.574 peminat
  8. Universitas Sebelas Maret (UNS) dengan 58.002 peminat
  9. Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dengan 54.889 peminat
  10. Universitas Andalas (Unand) dengan 54.060 peminat

Dari data ini, Anda yang berkeinginan melanjutkan kuliah bisa memperkirakan bobot persaingan yang akan dihadapi. Dari situ, strategi persiapan bisa lebih dimatangkan pula. (Baca juga: Siap-siap, Ada yang Beda di SBMPTN 2016)

Ingat, banyaknya peminat mendaftar ke suatu kampus bisa berdasarkan beragam pertimbangan. Selain kedekatan lokasi, bisa jadi membludaknya jumlah peminat juga ditopang pilihan jurusan yang tersedia.

Namun, ada satu lagi kemungkinan soal jumlah peminat ini, yaitu banyak orang memang mengidam-idamkan belajar di kampus itu. Intinya, yang mana pun alasan di balik jumlah peminat ini, persiapan terbaik dan strategi paling jitu akan jadi penentu lolos atau tidaknya seleksi. (Kompas)

Doa Menjelang Ujian

12 April 2016

DOA UJIANDoa bersama menjelang digelarnya ujian seakan menjadi sebuah tradisi tersendiri di lingkungan sekolah. Hal itu dilakukan sebagai upaya pemantapan mental siswa.

Agar kegiatan doa bersama itu tidak menjadi sekadar rutinitas hendaknya pihak sekolah melalui guru mata pelajaran pendidikan Agama Islam memahamkan kepada siswa tentang pentingnya doa. Sebab kesuksesan, termasuk dalam ujian, tidak ditentukan oleh kecerdasan siswa, melainkan adanya pertolongan Allah SWT (QS an-Nashr [110]: 1).

Siswa yang selalu berdoa –-bukan berdoa ketika lagi butuh– akan terinternalisasi dalam dirinya dan memahami bahwa manusia tidak memiliki kuasa. Manusia hanya dapat berencana dan Tuhan-lah yang menentukan kesuksesan itu, termasuk kesuksesan dalam ujian.

Karenanya sebelum, selama, dan setelah ujian pun siswa hendaknya terus berdoa. Melalui doa, siswa akan lebih tenang, rileks, dan lebih fokus dalam menghadapi ujian.

Terkait hal ini Rasulullah SAW memberikan tuntunan doa mengusir kegelisahan. ”Allahumma inni a’udzubika minal hammi wal hazan, wa a’udzubika minal ’ajzi wal kasal, wa a’udzubika minal jubni wal bukhl, wa a’udzubika min ghalabatid daini wa qahrir rijal.”

”Ya Allah, aku berlindung pada-Mu dari rasa sesak dada dan kesedihan, dan aku berlindung pada-Mu dari ketidakberdayaan dan kemalasan, dan aku berlindung pada-Mu dari sifat pengecut dan kikir, dan aku berlindung pada-Mu dari problem keuangan dan tekanan orang lain.” (HR Abu Dawud).

Pertanyaannya, kapan waktu yang tepat untuk berdoa? Terkait hal ini Rasulullah SAW menginsyaratkan waktu-waktu yang mustajab untuk berdoa.

Di antaranya, yaitu pada sepertiga malam (HR Muslim), pada hari Jumat (HR Bukhari dan Muslim), sesudah shalat lima waktu (HR Tirmidzi), dan waktu antara adzan dan iqamat (HR Abu Dawud dan Tirmidzi).

Selain dengan penguatan melalui doa, siswa hendaknya berusaha (belajar) secara rutin dengan bimbingan guru di sekolah dan orang tua di rumah. Berdoa dan belajar bagi siswa harus dilakukan secara istikamah, bukan musiman.

Setelah itu lakukan tawakal, serahkan hasil akhir (lulus atau tidak lulus dalam UN) sepenuhnya kepada Allah SWT. Di sinilah perlunya internalisasi siswa melalui tradisi DUIT (Doa dan Usaha dilakukan secara Istikamah, lalu Tawakal).

Dan untuk membumikan tradisi tersebut pihak sekolah harus bekerja keras (berjihad) melawan tradisi yang sudah mendarah daging di kalangan siswa, yaitu tradisi SKS (Sistem Kebut Semalaman).

Untuk menghentikan tradisi SKS di lingkungan sekolah, pihak guru (di sekolah), orang tua (di rumah), dan masyarakat sebagai kontrol sosial hendaknya terus mengkampanyekan secara masif DUIT yes, SKS no.

Dengan demikian, jika tradisi DUIT ini dapat mengalahkan tradisi SKS di lingkungan sekolah maka tidak menutup kemungkinan akan dapat mengantarkan kepada kesuksesan siswa dalam menghadapi ujian dengan hasil yang terbaik. Semoga.

(Republika)

Bangganya Siswa SMA yang Karyanya Diangkut NASA dan Cita-cita Jadi Astronot

24 March 2016

SISWA SMA NASARasa bangga terpancar dari siswa-siswa SMA Unggul Del, Toba Samosir, Sumatera Utara. Hasil penelitian mereka dibawa oleh NASA ke luar angkasa dan mereka juga diapresiasi oleh Mendikbud Anies Baswedan.

Dalam telekonferensi di Kantor Kemendikbud, Jl Jenderal Sudirman, Jakarta, Rabu (23/3/2016), Anies bertanya perasaan para siswa karena penelitian mereka dengan nama ‘Micro-Aerobic Fermentation In Space With Micro Gravity’ dibawa ke luar angkasa. Salah satu siswa, Gomos Manalu mengaku bangga karena mereka masih di bangku SMA.

“Kalau dari kami sendiri bangga baru SMA bisa ikut penelitian internasional bahkan peneliti ulung belum tentu ikut seperti ini,” kata Gomos.

Dia merupakan salah satu siswa yang mengikuti test flight bersama peneliti dari Amerika Serikat. Kepada Anies, Gomos mengatakan bahwa sebenarnya orang Indonesia tidak kalah hebat dengan peneliti asing.

“Sebenarnya orang Indonesia hebat tapi alat-alatnya itu susah dan terbatas,” ujarnya.

Anies lalu bertanya ke masing-masing siswa soal cita-cita mereka. Gomos mengaku ingin bekerja di pabrik kimia, ada pula yang ingin berprofesi sebagai electric engineer. Sementara seorang siswa bernama Hagai Raja Sinulingga mengaku ingin tak hanya karyanya yang ke luar angkasa, tapi juga dirinya sendiri.

“Kalau itu (cita-cita jadi astronot), saya. Saya dari kelas 3 SD sering baca buku tentang NASA,” ujar Hagai.

Hagai pun meminta bantuan kepada Anies untuk mewujudkan cita-citanya itu. Anies lalu berpesan bahwa ada tes-tes yang harus dilewati.

“Kalau anda mau jadi astronot, tapi harus lolos dulu seleksi,” tutur Anies.

Penelitian mereka itu bertujuan untuk mempelajari pertumbuhan ragi (yeast) di luar angkasa dalam kondisi near-zero gravity. Ada 10 orang siswa SMA dalam tim ini yang dibagi menjadi tiga yakni untuk konseptor, engineering, dan pemrogram. Eksperimen itu menjadi pijakan untuk penelitian berikutnya yang mereka beri judul ‘How to Grow Tempe in The Space’.

(Detik)

Mahasiswa Tunanetra UNS Ini Hapal 15 Juz Alquran

12 March 2016

MAHASISWANamanya Misbahul Arifin. Mahasiswa Prodi Pendidikan Khusus/ Luar Biasa FKIP UNS angkatan 2015 ini sejak kelas VI Madrasah Ibtidaiyah (SD) menjadi tunanetra. Namun pemuda asal Kudus yang pernah nyantri selama tiga tahun itu saat ini mampu menghapal Alquran (hafizh Qur’an) sebanyak 15 juz.

Misbah – panggilan akrab Misbahul Arifin – tampil sebagai salah satu peserta tasmi’ khataman Alquran yang digelar di Masjid Nurul Huda UNS Surakarta, Jumat (11/3). Acara tersebut dihadiri oleh Menristekdikti Moh Nasir dan mantan Mendiknas M Nuh.

Sungguh kuasa Allah luar biasa. Ayahnya Misbah juga tunanetra hapal Alquran 30 juz.

Bagaimanakah ayah dan anak itu belajar menghapal Alquran, sedangkan keduanya tuna netra. “Ayah belajar menghapal Alquran dengan cara mendengarkan MP3. Saya pun belajar menghapal Alquran dengan mendengarkan MP3 di HP atau laptop,” ujar Misbah.

Lalu, siapakah qari favorit Misbah? “MP3 favorit saya adalaj Syekh Misyari Rasyid, Syekh Bandar Balela dan Syekh Hanik Rifai,” ungkap Misbah yang merupakan alumnus Madrasah Aliyah Al-Mutaqin Pancasila Sakti Kudus.

Kegiatan Khotmil Qur’an dalam rangka lustrum ke-8 UNS dibuka secara resmi oleh Rektor Universitas Sebelas Maret (UNS) Prof Dr Ravik Karsidi MS, Rabu (09/03). Selama tiga hari, secara bergantian 42 mahasiswa UNS yang juga merupakan penghafal Alqurn membacakan surat demi surat dalam Alquran.

Kegiatan semaan ini telah berlangsung selama dua periode, dan diharapkan bisa menjadi tradisi baik dalam kegiatan dies natalis UNS.

(Republika)

Next Page »