50 Karung Beras Sintetis Ditemukan di Bogor

23 May 2015

berasPolsek Klapa Nunggal menemukan 50 karung beras yang diduga sintetis dari seorang pedagang, Jumat (22/5/2015) siang. Beras sebanyak itu disimpan di sebuah gudang di Kecamatan Klapa Nunggal, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Polisi mengamankan pemilik beras berinisial AR (45) untuk dimintai keterangan.
Kapolres Bogor, AKBP Suyudi Ario Seto saat dimintai konfirmasi membenarkan temuan 50 karung beras yang diduga mengandung bahan plastik dari sebuah gudang di Kecamatan Klapa Nunggal, Kabupaten Bogor.
“Iya betul, tadi siang Polsek Klapa Nunggal menemukan gudang beras yang diduga sintetis dengan jumlah 50 karung. Saat ini, petugas masih melakukan pengembangan dan memeriksa pemilik beras tersebut,” ujar AKBP Suyudi Ario Seto, Jumat (22/5/2015) malam.
Terungkapnya gudang beras tersebut kata Kapolres bermula dari adanya laporan warga yang mengeluh kalau beras yang dimasaknya tidak kunjung matang.
“Anggota kemudian mendatang rumah warga itu untuk melakukan pengecekan dan mengambil sampel beras yang sudah dimasak,” kata AKBP Suyudi Ario Seto.
Setelah melakukan penyelidikan, petugas berhasil menemukan penjual beras berinisial AR. Pria itu kemudian dibawa ke kantor Polsek Klapa Nunggal untuk menjalani pemeriksaan. Kepada petugas AR mengaku, menyimpan berasnya di sebuah gudang.
“Setelah diperiksa, digudangnya terdapat 50 karung beras. Kemudian kita berkoordinasi dengan Dinas Perdagangan untuk mengecek beras tersebut,” ujar Suyudi.
Guna memastikan apakah beras tersebut mengandung bahan plastik, petugas mengambil sampel untuk diperiksa di laboratorium.”Ini masih dugaan awal, untuk membuktikannya, kita menunggu hasil laboratorium,” katanya.

(Tribunnews)

Sidak Pasar Tradisional, Depok Aman dari Beras Plastik

22 May 2015

berasDua pasar tradisional di Kota Depok dinyatakan nihil dari keberadaan beras plastik. Meski begitu, Pemerintah Kota (Pemkot) Depok tetap memonitoring masuknya beras plastik itu.

“Hari ini kami melakukan sidak (inspeksi mendadak) ke dua pasar yakni Pasar Cisalak, dan Pasar Sukatani, hasilnya nihil (beras plastik),” kata Kepala Bidang Perdagangan Disperindag Kota Depok Martinho di lokasi sidak, Kamis 21 Mei 2015.

Dia juga mengatakan, banyak pedagang yang tidak mengetahui ciri-ciri beras plastik tersebut. Pasalnya, hingga saat ini belum semua penjual dan konsumen mengetahui ciri-ciri beras plastik itu.

“Dari empat toko yang kami periksa tadi ada beberapa penjual yang tidak mengetahui ciri-ciri beras plastik,” katanya.

Sementara, Hilda (55), penjual beras di Pasar Cisalak mengakui, dirinya belum tahu ciri-ciri beras plastik. Dengan adanya pemeriksaan dari beberapa dinas di Depok, kata dia, dirinya merasa terbantu untuk mengetahui beras palsu yang membahayakan masyarakat itu.

“Kalau tidak ada pemeriksaan saya tidak tahu seperti apa beras plastik itu. Karena beras saya banyak juga jenisnya, seperti cap mawar, cap petruk dan lain-lain,” tuturnya.

(Sindonews)

Pasca Penggrebekan, Saritem Masih Menjanjikan.”Tutup, Engke Weh Peting Kadieu Deui”

22 May 2015

saritemPasca jajaran kepolisian dari Polrestabes Bandung melakukan razia terhadap pekerja seks komersial (PSK) pada Rabu (20/5/2015) malam, kawasan Saritem yang berada di Kelurahan Kebon Jeruk, Kecamatan Andir, Kota Bandung, Jawa Barat terlihat warga setempat tidak bersahabat.

Banyak kerumunan orang-orang berbadan kekar di setiap gang area tersebut, penuh curiga terhadap warga asing atau pendatang.

Pantauan di lokasi sejak Kamis (21/5/2015) pukul 09.00 WIB, dengan berjalan kaki gang demi gang yang ditelusuri, tampak segelintir warga yang berada di setiap sela-sela gang menatap dengan penuh kecurigaan yang mendalam terhadap orang asing yang melintas.

Untuk melanjutkan perjalanan penelusuran, sesekali melemparkan senyum menjadi suatu keharusan demi untuk mencairkan suasana kepada beberapa warga.

Namun, mereka hanya terdiam dan memilih tak merespon. Suasana yang tidak nyaman ini pun, membuat pilihan untuk bergegas meninggalkan kawasan.

Namun, selang beberapa jam kemudian, rasa keingintahuan tentang kondisi terbaru lokalisasi Saritem, tepat pukul 15.00 WIB kembali memasuki kawasan.

Kerumunan orang masih saja terlihat di setiap sela-sela gang dengan tatapan sinis, mereka masih memperhatikan dengan penuh kecurigaan terhadap pejalan kaki maupun yang menggunakan kendaraan.

Penelusuran tetap dilanjutkan, terpantau beberapa rumah yang ditenggarai sebagai tempat berkumpulnya para PSK pun, terlihat tertutup rapat baik pintu maupun gorden.

Namun pasca penggrebekan, rumah-rumah yang diduga dijadikan penampuangan PSK itu, tidak terlihat adanya pemasangan garis police line.

Karena rasa ingin tau, lontaran pertaanyaan pun disampaikan kepada salah seorang yang berada di antara kerumanan. Dengan nada pelan. “Bos, buka teu?”

Salah seorang dari kerumunan tersebut itu pun, menjawab dengan cepat sambil tetap memperhatikan orang-orang yang melintas di area tersebut. “Tutup, engke weh peuting kadieu deui (nanti saja malam ke sini lagi),” cetusnya.

Usai bertanya sesaat, penelusuran pun dihentikan dan berbegas kembali meninggalkan area tersebut. Nampak, kerumunan orang-orang tersebut masih memperhatikan orang yang dianggapnya asing ketika bergegas meninggalkan mereka.

Diidentikkan Kota Bandung

Tak bisa dipungkiri, Saritem selalu diidentikkan dengan Kota Bandung. Sama halnya dengan Pasar Kembang di Yogyakarta dan Gang Dolly di Surabaya.

Konon, kawasan ini mulai berkembang sejak awal 1906. Lebih ramai lagi saat zaman pendudukan Jepang. Di sinilah tempat serdadu Jepang dan pria hidung belang melampiaskan hasrat birahinya.

Lokalisasi ini berada di pusaran pusat Kota Bandung, yang dihimpit tiga jalan besar yakni Jalan Gardujati, Jalan Sudirman dan Jalan Kebonjati.

Sejak puluhan tahun yang lalu ratusan perempuan berjejer di sela-sela gang setiap harinya, bisa dibilang 24 jam non stop.

Mereka memperlihatkan kemolekan tubuh yang kemudian dilakukan tawar menawar untuk memuaskan hasrat pria hidung belang.

Ditutup

Kawasan Saritem sebetulnya menurut Perda Kota Bandung No 11/1995, efektif mulai November 2006 semua kompleks lokalisasi akan mulai dihapuskan. Semua kegiatan lokalisasi Saritem akan diakhiri 17 April 2007 pukul 24.00 WIB dan Saritem akan ditutup pada 18 April 2007.

Jelas, ini menjadi PR bersama, biar bagaimana pun disatu sisi berhubungan dengan isi perut seseorang. Alasan tak punya keahlian dan penghasilan yang cukup besar, sudah menjadi hal klise yang membuat mereka para kupu-kupu malam sulit beralih profesi.

Disisi lain? Moralitas manusia tentu dipertanyakan di hadapan Tuhan, bahkan di lingkungan sekitar.

(Galamedia)

Jokowi Ingin LRT Dibangun dari Bogor ke Jakarta

21 May 2015

keretaPresiden Joko Widodo (Jokowi) kembali melakukan rapat membahas rencana pembangunan transportasi Light Rapid Transit (LRT) Jabodetabek. Jokowi ingin LRT dibangun dari Bogor ke Jakarta.

Direktur Utama PT Adhi Karya Tbk, Kiswodarmawan mengatakan, Jokowi meminta Jabodetabek semua dilalui oleh transportasi ini. “Jabodetabek berarti Bogor menuju Jakarta dalamnya lewat Cawang,” kata Kiswo usai rapat di Istana Negara, Jakarta, Rabu (20/5/2015).

Adhi Karya merupakan BUMN yang ditunjuk sebagai pelaksana proyek tersebut. Selain Bogor, transportasi ini juga akan tersambung hingga ke Bekasi.

Kiswo mengatakan, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Basuki Hadimuljono sudah memberikan izin agar kereta ini bisa menggunakan tepi jalan tol untuk jalur relnya.

“Bekasi lewat tepinya tol menuju ke tol kota, diharapkan sampai bandara Soekarno-Hatta,” kata Kiswo.

Soal investasi, Kiswo mengatakan, untuk membangun LRT dari Bogor hingga ke Dukuh Atas membutuhkan investasi Rp 24 triliun sepanjang 72 km. Ini belum termasuk bila LRT dibangun hingga Bandara Soetta.

Investasi per km LRT, ujar Kiswo, mencapai Rp 200 miliar-Rp 300 miliar. Investasi ini sudah termasuk kereta dan rel. Rencananya jalur ini akan melayang atau elevated.

Soal kereta LRT, Kiswo mengatakan, sedang diseleksi dari Jepang, Korea, dan China. Bila sudah dipilih, maka pihak yang menang tender kereta harus bekerja sama dengan BUMN produsen kereta, yaitu PT INKA.

Pemancangan tiang pertama alias groundbreaking proyek ini akan dilakukan pada 17 Agustus 2015. Ini untuk rute Bogor-Cawng-Dukuh Atas. Proyek ini ditargetkan selesai 2018. Tarif per kilometer sekitar Rp 1.000.

Untuk mendukung pendanaan, Adhi Karya berharap ada Peraturan Presiden (Perpres) penunjukkan untuk proyek ini. Sehingga BUMN ini mudah mendapatkan pinjaman untuk pendanaan proyek. “Saya berharap Perpres keluar Mei ini,” kata Kiswo.

(Heibogor)

Pencarian Polisi Terhadap Produsen Beras Plastik Masih Gelap

21 May 2015

berasDirektorat Reserse Kriminal Khusus (Ditreskrimsus) Polda Jawa Barat (Jabar) telah menurunkan tim khusus untuk melakukan penyelidikan terkait penyebaran beras sintesis atau yang dikenal secara umum dengan sebutan beras plastik.
Namun sejauh ini belum ditemukan rumah produksi maupun distributor beras sintesis tersebut di wilayah Jabar.
“Kami sudah menindaklanjuti adanya temuan beras sintesis di Bekasi kemarin terutama untuk menelusuri penyebarannya di wilayah Jawa Barat. Sejauh ini belum ada,” kata Direktur Reskrimsus Polda Jabar, Kombes Pol Wirdhan Denny, kepada Tribun melalui sambungan telepon, Rabu (20/5) malam.
Dikatakan Wirdhan, tim khusus tersebut juga melakukan penyelidikan ke sejumlah distributor di Kabupaten Karawang. Sebab sesuai informasi yang diterima Ditreskrimsus Polda Jabar, produksi beras sintesis itu berada di wilayah Kabupaten Karawang.
“Kami sudah koordinasi dengan kapolres di kota/kabupaten yang masuk wilayah Polda Jabar khususnya Kabupaten Karawang untuk melakukan penyelidikan,” kata Wirdhan.
Wirdhan menyebut, sejauh ini di Kabupaten Karawang belum ditemukan adanya indikasi rumah pembuatan beras sintesis. Pihaknya masih melakukan pendalaman mengenai informasi pembuatan beras sintesis di Kabupaten Karawang.
“Intinya kami terus melakukan penyelidikan dan masih fokus di daerah Kabupaten Karawang untuk menelusuri tempat produksi pembuatan beras sintesis ini,” kata Wirdhan.

(Tribunjabar)

Ini Dia Kuliner Khas Ceker yang Selalu Diburu Warga Bandung

19 May 2015

cekerSudah cukup familiar dengan ceker? Iya, ceker ini adalah kaki ayam yang juga diolah untuk makanan. Sebenarnya, makanan ini sudah cukup familiar ditemui di angkringan, atau di mie baso yang bisa kita temui di pinggir jalan. Akan tetapi, belakangan bermunculan tempat makan yang menyajikan ceker dengan sajian berbeda. Berikut, beberapa diantaranya.
1. Ceker Midun
Terletak di Jl. Singaperbangsa No. 103C Bandung, tempat ini menyajikan ceker sebagai menu utamanya. Disini, kamu bisa menemukan sajian ceker yang direbus ataupun digoreng dengan rasa pedas atau asin. Tetapi, ada tiga menu yang paling recommended disini, yaitu Cekeran Talaga Bodas, Cekeran Lapindo, dan Cekeran Setan Merapi. Untuk mendapatkan seporsinya cukup merogoh kocek sekitar Rp14.000-16.000. Selain menu ceker, disini juga menyajikan menu sayap ayam loh. Untuk menu selain ceker, harganya berkisar Rp4.000-25.000. Kamu juga bisa memilih seberapa pedas ceker yang ingin kamu nikmati. Setiap levelnya dinamai berdasarkan nama gunung-gunung di Indonesia, seperti Manglayang yang tidak terlalu pedas, Tangkuban Perahu, Gunung Kelud, sampai level Krakatau yang paling pedas.
Tahu nggak? Ternyata dalam satu hari, Ceker Midun menghabiskan sekitar 20kg ceker! Karena tempat ini cukup ramai, sebaiknya kamu meluangkan waktu yang cukup karena pada jam-jam tertentu disini tempatnya suka penuh. Tidak jarang kamu harus mendaftar di waiting list jika hari itu sedang penuh.
2. Ceker Setan
Dari namanya saja, kamu sudah bisa menebak kalo mereka mendagangkan ceker dengan rasa yang sangat pedas! Untuk menu ceker, kamu bisa menemukan beberapa opsi dengan range harga Rp16.000-17.000, sedangkan untuk menu sayap seharga Rp18.000. Dari lima pilihan menu ceker yang disajikan,mayoritas berbumbu kuah pedas. Tapi, ada satu menu baru yang paling beda, yaitu ceker bumbu rujak. Ceker ini digoreng krispi, tetapi didalamnya sangat lembut sehingga tidak sulit untuk dimakan. Ditambah rasa bumbu rujaknya yang asem pedas tapi segar! Untuk menikmati ceker setan ini, kamu bisa langsung ke Jalan Dipati Ukur no. 96, lokasinya persis depan Indomaret point Dipati Ukur.
3. Mie Merapi
Buat kamu yang doyan olahan mie dengan sajian yang berbeda, bisa banget buat ke Mie Merapi yang terletak di Jl. Pahlawan no. 24 dan di Jl Dipatiukur no. 60. Sajian utama disini memang Mie, tetapi, cekernya nggak kalah enak. Rasa Ceker disini pedas, tetapi tidak disajikan dengan kuah. Jadi, setiap helaian cabe dan bijinya langsung kerasa di bibir kamu. Terdapat pilihan Ceker Kuah dan Ceker Merapi seharga Rp12.000 dan Ceker Kuah Bakso dengan harga Rp15.000. Untuk pilihan Ceker Merapi, kamu bisa memilih tingkat pedasnya dalam 5 level. Rasa merapi ini percampuran dari rempah-rempah yang menghasilkan rasa asem, manis, dan gurih sekaligus. Hati-hati dengan rasanya yang cukup pedas, ya!
4. Mie Sabrosa
Meski terbilang baru, tetapi rasa makanan di Mie Sabrosa bisa bersaing dengan restoran mie yang lainnya loh! Meskipun mie disini merupakan salah satu menu utamanya, tetapi disini kamu juga bisa menemukan seblak ceker. Hanya dengan Rp7.500 saja, sajian seblak ceker sudah bisa dinikmati! Rasa yang disajikan pun percampuran antara pedas, gurih, ditambah sedikit asam dari jeruk nipis. Ditambah dengan taburan wijen, bumbu seblak ceker yang agak kental ini nendang abis. Buat menikmati seporsi ceker seblak ini, kamu bisa langsung ke Jl. Sultan Agung no 27.
Setelah membaca ulasan tempat makan ceker diatas, yuk langsung cus berburu kaki-kaki kecil ini. sebelum mereka lari nih!

(Tribunnews)

Penyebab Kebakaran Pasar Lembang Masih Tunggu Hasil Puslabfor Mabes Polri

19 May 2015

pasarlembangPolres Cimahi masih menunggu hasil dari Puslabfor Mabes Polri terkait kebakaran hebat yang terjadi di Pasar Panorama Lembang yang telah meluluhlantakan ratusan kios pedagang pada Kamis (14/5/2015). Polisi juga telah memeriksa saksi-saksi tambahan yang merupakan para pemilik kios.

Hal itu disampaikan Kapolres Cimahi, Bandung Barat, Ajun Komisaris Besar Deddy Kusuma Bakti saat dihubungi detikcom via ponselnya, Senin (19/5/2015).

“Kami masih menunggu hasil dari Puslabfor Mabes Polri. Karena itu akan menjadi dasar penyidikan kami,” ujar Dedy.

Ia mengatakan tim puslabfor masih meneliti sejumlah sampel yang dibawa dari lokasi untuk kemudian dibuatkan resume. “Sampel-sampel yang dibawa saat ini sedang diuji di Jakarta. Hasilnya sepeti outopsi nantinya, misalnya abu mengandung apa. Dan nantinya itu jadi bahan penyidik untuk melakukan penyidikan dan membuat kesimpulan,” jelasnya.

Sebelumnya Polres Cimahi telah memeriksa 10 orang saksi untuk dimintai keterangan terkait kebakaran tersebut. “Setelah 10 orang, kami sudah menambah beberapa orang lagi untuk diperiksa, mereka itu para pedagang, pemilik kios,” kata Dedy.

Kebakaran di Pasar Panaroma Lembang telah menghanguskan 848 kios. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini.

(detik.com)

Hasil Pencarian:

Dugaan Korupsi Stadion, Aher Sebut Pemkot Bandung sebagai Penanggungjawab

16 May 2015

aherGubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan tidak terima disebut sebagai pihak yang bertanggung jawab terhadap pembangunan Stadion Gelora Bandung Lautan Api di Gede Bage, Bandung. Diketahui, penyidik Tindak Pidana Korupsi Badan Reserse Kriminal Polri tengah mengusut dugaan korupsi di dalamnya.

Usai diperiksa sebagai saksi nyaris sekitar 16 jam di depan gedung Bareskrim Polri, Jumat (15/5/2015) malam, Aher mengatakan bahwa pihak yang bertanggung jawab terhadap pembangunan stadion tersebut sepenuhnya adalah Pemerintah Kota Bandung. Pemerintah Provinsi Jawa Barat, sebut Aher, hanya ikut membantu dari sisi keuangan saja.

“Bantuan keuangan Pemprov Jabar kepada Pemkot Bandung sudah sesuai perundang-undangan. Begitu uang sudah masuk ke rekening Pemkot Bandung, ya sudah tanggung jawab di sana dong,” ujar Aher.

Aher menjelaskan, program pembangunan stadion itu adalah ide Pemkot Bandung, yakni pada tahun 2006, setahun sebelum dirinya menjabat sebagai gubernur. Penggelontoran anggaran secara ‘multi years’ pun mulai dilakukan oleh Pemprov Jabar pada tahun anggaran 2007, 2009, 2011, 2012 dan 2013. Total, Pemprov Jabar menyuntikan dana sebesar Rp 335 miliar atas pembangunan stadion itu.

Aher mengakui, selama lima tahun anggaran itu, pihaknya tidak pernah mendapatkan hasil analisis pembangunan stadion oleh Pemkot Bandung. Hasil analisis baru keluar tahun 2014 di mana menyatakan ada penyimpangan di dalam pelaksanaannya.

Aher juga mengatakan bahwa pembangunan stadion tersebut diawasi penuh oleh sejumlah pihak mulai dari pengawasan umum Pemprov Jabar, Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) dan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Aher tidak menyebutkan apa hasil pengawasan itu. Namun, begitu penyidik menduga ada unsur korupsi di dalamnya, Aher pun kecewa.

“Kalau sekarang ada dugaan korupsi, semua kecewa. Jangankan masyarakat, saya saja jadi kecewa. Kita mengidam-idamkan stadion yang akan jadi kebanggaan, tapi kok dalam perjalannya ada penyimpangan,” ujar Aher.

Aher mengatakan, penjelasan itu yang diberi ke penyidik selama hampir 16 jam pemeriksaan di Bareskrim, Jumat ini. Dia mengatakan tidak tepat jika penyidik menyasar Pemprov Jabar yang terlibat dalam korupsi stadion tersebut.

“Itu namanya lompat,” ujar Aher.

Dalam perkara ini sendiri, penyidik telah menetapkan seorang bernama Yayat Ahmad Sudrajat sebagai tersangka dalam kasus dugaan tindak pidana korupsi pembangunan Stadion Gelora Bandung Lautan Api di Gedebage, Bandung. YAS merupakan Sekretaris Dinas Tata Ruang dan Cipta Karya Pemerintah Kota Bandung.

Dalam gelar perkara, penyidik Bareskrim Polri melihat bahwa YAS terlibat aktif dalam praktik dugaan korupsi pembangunan stadion yang menelan biaya sebesar Rp 545 miliar tersebut.

(Kompas)

Pelukan Terakhir Didi Petet untuk Epy Kusnandar

15 May 2015

dedi petetAktor berdarah Sunda, Epy Kusnandar, tak menyangka pertemuannya dengan Didi Petet semalam merupakan perjumpaan terakhir mereka. Usai subuh pagi ini, Jumat (15/5), Didi Petet menutup mata untuk selama-lamanya.

Kamis malam (14/5), Epy bertemu Didi di lokasi syuting Preman Pensiun 2, sinetron yang mereka bintangi dan sedang dipersiapkan tayang. “Tidak ada yang tahu almarhum sakit apa di lokasi syuting. Dia enggak pernah menunjukkan kalau sakit,” kata Epy kepada CNN Indonesia.

Semula Didi Petet mengatakan sehat-sehat saja. Padahal kondisi fisiknya belum pulih sepulangnya dari Milan, Italia. Di sela World Expo Milano 2015, Didi Petet sempat masuk rumah sakit, yakni 6-9 Mei.

“Tapi almarhum memaksakan syuting karena katanya kangen,” ujar Epy.

Kesehatan Didi lantas memburuk di lokasi syuting. “Dia memeluk saya dan berkata lirih, “Py, aing gering euy. (Saya sakit nih)” kata Epy menirukan ucapan Didi kepadanya.

Epy kemudian meminta Didi untuk beristirahat. “Mas Didi belum kuat, istirahat saja,” ujar Epy kepada Didi.

“Tapi saya tak menyangka, pulang dari syuting, Mas Didi pulang selamanya,” kata Epy. Maka pelukan Didi kepadanya di lokasi syuting semalam menjadi yang terakhir.

Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf yang juga ayah penyanyi Sherina Munaf, menyatakan Didi kelelahan di Milan. (Baca: Stage of The World di Milan, Mimpi Didi Petet Sebelum Wafat)

Umur adalah rahasia Ilahi. Menantu Didi, Gauri, mengatakan asam lambung almarhum mertuanya itu naik. Menurut dia, Didi tak punya keluhan sepesifik soal sakitnya sebelum meninggal.

(http://www.cnnindonesia.com)

Telantarkan 5 Anak, Dosen Ini Ditangkap Polda Metro Jaya

15 May 2015

anakPolda Metro Jaya mengamankan pasangan suami istri UP dan NS karena diduga menelatarkan lima anaknya. Selain mengamankan UP dan NS, petugas telah membawa kelima anak kecil tersebut ke rumah aman.

Penangkapan terhadap UP dan NS ini dilakukan petugas di rumahnya di Perumahan Citra Grand Cluster Nusa 2 Blok E Nomor 37, Cibubur, Kota Bekasi. Kanit I Subditumum Jatanras Polda Metro Jaya Kompol Budi Towoliu mengatakan, UP yang merupakan dosen teknik di salah satu kampus swasta di Cileungsi bersama istrinya hanya bisa pasrah ketika petugas membawanya ke Polda Metro Jaya.

“Diduga kuat UP dan NS ini melakukan kekerasan psikis dan menelantarkan kelima anaknya yang berinisial LA (10), CK (10), DI (8), AL (5) dan DIN (4),” kata Budi di Mapolda Metro Jaya, Kamis (14/5/2015).

Budi menuturkan, penangkapan terhadap UP dan NS ini berdasarkan laporan masyarakat yang melihat mereka menelantarkan kelima anaknya yang masih kecil-kecil tersebut. Pantauan Sindonews, CK dan DI menjerit histeris dan enggan keluar dari mobil Kijang Innova warna hitam nomor polisi B 2281 SFH.

Diduga kuat dua bocah ini mengalami trauma saat melihat kedua orang tuanya. Oleh petugas Satgas Perlindungan Anak dua bocah tersebut dibujuk hingga akhirnya keluar dan pindah ke mobil petugas Jatanras untuk dievakuasi ke tempat aman.

(Sindonews)

Next Page »