Menteri HAM Yaman Akan Melarang Pernikahan Anak di Bawah Umur

by -2 views
Menteri HAM Yaman Huriya Mashur bergabung dengan aktivis tanggal 2 Juni 2013 di Komplek Penjara Sanaa Yaman (photo: AFP)
Menteri HAM Yaman Huriya Mashur bergabung dengan aktivis tanggal 2 Juni 2013 di Komplek Penjara Sanaa Yaman (photo: AFP)

SANAA (Jabarmedia) – Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Yaman mengatakan bahwa ia akan menekan usia pernikahan minimal 18 tahun, setelah dilaporkan kematian seorang gadis muda pada malam pernikahannya.

Seperti dilansir Kantor Berita Perancis AFP, Jumat (14/09/2013), bahwa Rawan (8), dikabarkan meninggal minggu lalu dari pendarahan internal setelah hubungan seksual, pasca-pernikahannya dengan seorang pria berusia 40-an tahun di Provinsi Timur Laut dari Hajja.

Tapi, gubernur provinsi membantah laporan bahwa Rawan telah meninggal .

Huriya Mashur mengatakan kepada AFP dia ingin menghidupkan kembali RUU yang telah “tertidur” sejak tahun 2009. Ia akan menetapkan batas usia minimum pernikahan semula usia 17 tahun naik menjadi usia ke-18 tahun.

Menurut Huriya yang juga aktivis mengatakan RUU itu ditangguhkan ketika anggota parlemen ultrakonservatif dari partai Islam Al-Islah itu diblokir.

“Saya menulis surat kepada presiden majelis deputi untuk “re-file” di dalam agenda parlemen RUU batas usia pernikahan,” katanya. Huriya juga menambahkan bahwa ia akan mempertahankannya di kabinet.

“Kami meminta untuk memperbaiki usia sah menikah pada usia 18, sebagaimana diketahui Yaman adalah negara penandatangan konvensi internasional tentang hak-hak anak”, kata Mashur.

Menteri berbicara sehari setelah pemerintah membentuk sebuah komite untuk menyelidiki laporan tentang kematian gadis itu.

Tapi gubernur provinsi Hajja mengatakan kepada kantor berita resmi SABA pada hari Sabtu bahwa Rawan masih hidup.

Ali al-Qaissi mengatakan kepada SABA, bahwa “gadis muda Rawan Abdu Hattan masih hidup dan tinggal bersama keluarganya seperti biasa ” ujar al-Qaisi (red-menyangkal semu tuduhan kematian Rawan).

Namun dia menambahkan bahwa “gadis muda (red-Rawan) saat ini berada di sebuah pusat perlindungan sosial setelah menjalani tes fisik dan psikologis di rumah sakit umum” di daerah.

Sebelum penolakan dari gubernur, Mashur mengatakan: “Kami tidak memiliki bukti yang cukup saat ini” tentang insiden itu.

“Tapi saya khawatir bahwa kemungkinan ada upaya untuk membungkam masalah ini, terutama karena terjadi di daerah pedesaan terpencil di provinsi Hajja di mana ada kasus serupa sebelumnya”, ujar Mashur.

“Jika dikonfirmasi kasus ditutup-tutupi, maka kejahatan akan lebih parah”, Mashur memperingatkan.

Kepala Kebijakan Luar negeri Uni Eropa Catherine Ashton, mengatakan Jumat bahwa ia ” terkejut” dengan dugaan kematian gadis itu, dan mendesak pemerintah untuk melarang praktek (red-pernikahan usia di bawah umur).

Mashur telah terlibat dalam kampanye melawan pernikahan pengantin anak di Yaman, tapi terganggu dengan tahun-tahun perselisihan dan kemiskinan yang meluas. Tak adanya definisi yang jelas di sebuah negara mengenai pengertian anak, sehingga sulit untuk melawan praktek.

Badan HAM Dunia (Human Rights Watch/HRW) mengatakan pada Rabu bahwa 14 persen anak perempuan di Yaman sudah menikah sebelum usia 15, dan 52 persen sebelum 18, sebgaimana kutipan dari Yaman dan data PBB tahun 2006.

Di daerah pedesaan tertentu, gadis semuda 8 tahun kadang-kadang dikawinkan dengan laki-laki jauh lebih tua dari mereka.

Masalah ini telah menyebabkan kemarahan di seluruh dunia pada tahun 2010, dengan kasus Nujod Mohamed Ali.

Dia telah menikah pada usia 10 tahun dengan seorang pria 20 tahun lebih tua pada tahun 2008, dan bercerai setelah ia mengalami pelecehan seksual dan memukulinya.

Ali terlibat dalam kampanye melawan praktek pernikahan yang dipaksa di bawah umur, sehingga merasa terpanggil untuk melarang perempuan menikah sebelum usia 18 tahun.

Sebelum penyatuan Yaman pada tahun 1990, usia sah pernikahan ditetapkan pada 15 tahun di Utara dan 16 tahun di Selatan. Tapi, undang-undang di negara bersatu tidak menentukan batas usia.